Sebuah Jurnal – Kisahku di Gunung Kendang

Berjalan dengan carrier dan melihat keindahan alam di sekitar, bermalam di malam yang dingin ditemani api unggun sembari meminum kopi di tengah hutan; itulah yang kupirkan dalam melakukan Pendidikan Lanjut (Diklan) Gunung Hutan ini. Saat itu aku masih berbaring di tempat tidur sekre namun terdengar suara Dyah dan Lisna menyiapkan sesuatu, kulihat keluar jendela matahari belum terbit, “Ah, paling masih jam 4,” batinku kala itu.

Kuambil handphone yang berada di kantong celanaku, berharap waktu menunjukkan pukul empat pagi, aku masih ingin berbaring sejenak karena kami berangkat pukul 06.00 WIB. Namun waktu berkata lain, jam menunjukan pukul 05.30 WIB. Langsung kupaksa badanku berdiri dan kukenakan baju hitam dengan lambang berlatar belakang warna kuning berbentuk bulat melambangkan matahari terbenam yang dapat dilihat pada gunung berwarna biru berpuncak putih salju, melambangkan cita-cita ASTACALA yang suci dan tiga garis melengkung berwarna hijau di depannya, melambangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan gradasi warna hijau melambangkan beragamnya latar belakang anggota ASTACALA, yang tertempel di sebelah kanan lengan bajuku. Kami pun berangkat menujut Desa Tarumajaya sebagai titik start pendakian kami.

Hamparan pucuk daun teh hijau yang berada di Desa Tarumajaya, Kertasari menyegarkan pikiran yang mulai jenuh akibat perjalanan yang kami lakukan sebelumnya. Kami berada di sebelah selatan Kabupaten Bandung. Sebagian besar penduduk di tempat ini merupakan buruh tani di perkebunan teh, kentang, wortel dan beragam jenis sayuran lainnya. Terdapat pula pabrik PT Perkebunan Teh VIII yang berpusat di Desa Sedep.

Kami memulai perjalanan panjang menuju punggungan 1945, tempat camp pertama kami yang berjarak kira-kira tiga karvak dalam peta. Berorientasi di sini bisa dikatakan cukup mudah karena aku masih dapat melihat tujuan kami yaitu Gunung Kendang. Kira-kira kami berjalan selama enam jam melintasi kebun teh Desa Tarumajaya untuk sampai di tempat tujuan.

Sedang beristirahat menikmati pemandangan

Hari ini materinya adalah bivak ponco sendiri-sendiri. Akupun langsung mengambil poncoku dan kuikat kepohon dengan tali rafia. Setelah aku merasa bivak ku cukup aman, kegiatan selanjutnya adalah mencari kayu untuk membuat api unggun. Terkadang Lisna dan Dyah membantu membawa batang pohon yang sudah dipotong ke tempat kami membuat bivak. Memotong kayu adalah hal yang aku sukai di gunung karena aku tidak akan merasa kedinginan di malam hari. Hanya ini kegiatan yang aku sukai di gunung hutan karena aku menganggap gunung hutan sangat melelahkan dan membosankan terutama ketika malam tiba, udara menjadi sangat dingin. Benar, aku memang tidak menyukai kegiatan gunung hutan.

Setelah merasa cukup mencari kayu untuk malam ini, aku membawa kayu-kayu tersebut kembali ke camp dan melihat Lisna memulai memasak serta Dyah mulai menyalakan api dengan pemantik yang baru dia cari. Aku pun mulai memotong kayu yang sudah terpotong tadi untuk menyamakan panjangnya agar dapat disusun dengan mudah didalam api unggun yang akan dibuat nanti. Bivak kami saling berdekatan sehingga kami bertiga dapat merasakan hangatnya api unggun yang akan dibuat, sesekali canda tawa mengiringi kegiatan kami hingga akhirnya kami tertidur setelah melakukan evaluasi dan briefing untuk esok hari.

***

Udara pagi yang dingin terasa menusuk tulang, membangunkanku sesaat sebelum mentari mulai menampakkan wajahnya. Langsung kubangunkan kembali nyala api yang sudah tertidur dengan sedikit menusuk dan memberikan pemantik agar dia kembali bersemangat, api merupakan sahabat baruku di hutan karena dapat melawan dinginnya malam hari yang sangat tidak menyenangkan. Namun timbul pertanyaan dariku kenapa bisa ada api yang timbul dari kayu ketika aku mencoba membangunkan kembali api ini? Kenapa bukan permen atau yang lainnya ketika aku menusuknya dengan kayu? Ternyata api muncul ketika bahan bakar diberikan panas dan akan menghasilkan gas, gas ini bercampur dengan oksigen yang akan menghasilkan api (selingan -red).

Mungkin karena aku terlalu berisik, Lisna dan Dyah akhirnya terbangun dan mereka mulai memasak. Aku lebih memilih menjaga api dibandingkan memasak karena terakhir kali aku mencoba memasak sewaktu Pendas, makanan itu terasa seperti parafin. Walu begitu, aku pun tetap mengikuti pembicaraan Dyah dan Lisna yang sudah jelas tidak aku mengerti, tapi itu lebih baik buatku daripada merasa seperti dimusuhi, karena kalau aku diam aku merasakan jarak diantara kami bertiga.

Setelah semua logistik dan perlengkapan kami masukkan ke dalam tas, pada pukul 09.17 WIB kami pun memulai perjalanan kembali. Aku mulai bersemangat karena rasa penasaran akan keindahan yang ditawarkan oleh puncak Gunung Kendang. Bagaimana bentuk lingkungan sekitarnya ketika aku melihatnya dari puncak gunung itu, bagaimana keadaan jalan yang baru aku tempuh nantinya dari puncak gunung itu dan masih banyak rasa penasaran lainnya. Walaupun itu masih terjadi besok pagi aku sudah tidak sabar ingin merasakannya.

Sesekali aku melihat sisa-sisa bivak alam belum dirobohkan selama perjalanan. Bivak alam ini terbuat dari batang kayu pohon yang cukup besar, bukan terbuat dari batang perdu. Aku sempat berpikir kenapa tidak melakukan materi bivak alam saja kemarin malam menggunakan bekas bivak yang bisa dikatakan ada di sepanjang jalan, tinggal mencari daun pakis saja.

Memasak Untuk Makan Siang

Kami berhenti sejenak untuk memasak banyak makanan agar beban yang kami bawa menjadi lebih ringan, banyak sekali menu makanan yang dapat kami buat siang ini. Kami semua mengeluarkan logistik dan memutuskan untuk memasak sarden, mie, dan nasi. Kulihat kondisi sekitar, berniat untuk ikut membantu memasak. Langsung saja kuambil trangia, kuisi kompornya dengan spirtus lalu kuletakkan ketel yang telah penuh berisi air di atas kompor yang sudah menyala. Siap kuseduh kopi untuk melawan rasa dingin yang mulai menyerang.

Setelah makan siang kami bertiga mulai packing dan melanjutkan perjalanan menuju puncakan 2607 tempat camp kedua kami. Ditengah-tengah perjalanan, aku mengalami kesulitan dalam berorientasi karena kami bertiga berhenti dipunggungan 2540. Tidak hanya aku, kami bertiga bingung melihat medan yang ada di depan kami. Kulihat peta yang berada di genggamanku, seharusnya kami berjalan ketimur lagi dengan jalan yang agak landai, tetapi mengapa disekitar kami hanya ada turunan?

“Tempat ini seperti puncakan” pikirku. Lalu kami mendiskusikan masalah ini dan tetap berjalan ke arah timur sesuai dengan jalur yang telah dibuat.

Pendamping kami, Muron, berkata ”Nah…kenapa kenapa bisa ada turunan padahal di peta tadi konturnya bukan puncakan?”

”Gak tau bang, emang kenapa?” kata Dyah.

”Petanya boong kali,” celetukku.

Dan Muron menjelaskan “Itu karena turunan tadi gak terlalu jauh trus naik lagi, makanya konturnya dibuat seperti itu.”

***

Aku melihat sesuatu yang menakjubkan di depanku, kawasan hutan perdu yang sedikit lebih gelap. Ketika kami melintasinya udara yang dingin dapat aku rasakan karena sedikitnya cahaya matahari yang masuk. Di sepanjang perjalanan tempat itu dipenuhi dengan perdu setinggi dua hingga tiga meter, membuat kami sulit berorientasi.

Kami sampai di puncakan 2607 tidak sesuai dengan ROP. Kukeluarkan golok yang berada di tasku dan kutebas perdu yang menutupi puncakan ini agar kami dapat membangun tempat berlindung untuk dapat bermalam disini. Walaupun cukup melelahkan dan juga menyakitkan tangan yang disebabkan tanaman berduri yang terkadang bersembunyi di dalam tumbuhan perdu yang lebat, akhirnya kami berhasil membangun satu bivak ponco yang besar di antara tanaman perdu disini. Kami memutuskan untuk membangun bivak ponco bersama karena daun yang digunakan untuk bivak alam tidak mencukupi untuk melindungi kami dari hujan.

Setelah bivak sudah jadi, aku mulai pergi ke kawah tempat persediaan air kami, yang kemudian Lisna dan Dyah mulai mencari kayu bakar agar dapat menghangatkan malam ini. Kusatukan seluruh persediaan air yang ada, tidak terkecuali punya Muron dan yang tersisa tinggal satu sepertiga jirigen. Rasa dahaga selama melakukan perjalanan seharian belum tercukupi, kami memutuskan untuk mulai menghemat air karena air yang ada tidak dapat mencukupi kebutuhan dua hari jika digunakan seperti biasa.

Aku berangkat menuju kawah didampingi dengan Muron karena letaknya yang membingunkan, sekitar empat kontur. Di tengah perjalanan sesekali Muron meninggalkan marker tebas. Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan suatu tanda, untung ada Muron yang ikut mendampingi mengambil air di kawah. Selama perjalanan menuju kawah yang aku lihat hanyalah tanaman perdu yang menutupi jalan, aku tidak dapat menemukan jalan menuju kawah, walaupun kami berdua membawa golok, tidak mungkin kami menebas sepanjang perjalanan menuju kawah karena hari sudah mulai gelap sehingga kami berdua menerobos tanaman perdu sepanjang jalan. Jalanan yang terjal serta tanaman berduri yang terkadang berada di tengah-tengah jalan hampir membuatku depresi, rasa lelah, haus, dan stress menemaniku sepanjang jalan menuju kawah.

“Sampe disana gw bakal minum sebanyak-banyaknya sampe gw kembung,” pikirku.

Dengan perasaan yang ceria kulihat sebuah tempat mirip kawah di kejauhan. Walaupun hari sudah gelap dapat kupastikan akan ada banyak air yang dapat kuminum hingga aku dapat menenggelamkan diri disana, dengan perdu terakhir yang kuinjak agar jalan terbuka akhirnya aku sampai di kawah tempat aku akan minum sebanyak-banyaknya.

Pemandangan yang kulihat di tempatku berdiri ini membuat pikiranku menjadi lebih segar. Dapat kulihat beratus-ratus bintang bertebaran di atas tempatku berdiri, cahaya bintang yang berada di atasku seakan mengajak untuk tersenyum, tapi bukan itu yang kucari di kawah ini. Aku ingin mencari sesuatu yang dapat menyegarkan dahagaku, tidak ada air sepanjang mataku melihat, mungkin masih ada genangan air di ujung kawah lainnya. Hanya rumput setinggi dada yang dapat kulihat di kawah ini, terkadang aku melihat sampah bungkus rokok disini dan aku melihat bekas api unggun yang dibuat seseorang.

“Kawah ini sudah lama kering,” kataku dengan putus asa. Lalu kulihat sesuatu yang bercahaya, sesuatu yang kucari-cari dengan melewati jalan yang terjal dipenuhi tanaman perdu dan duri, sesuatu yang dapat melepaskan dahagaku, walaupun tempat itu tidak dapat kugunakan untuk memasukkan kepalaku agar lebih segar karena lebih mirip seperti genangan air. Ada sesuatu yang aneh dari genangan ini, dengan headlamp yang kupakai di kepalaku kuarahkan cahayanya dalam genangan ini.

Masih berwarna hitam ditengah-tengahnya, apakah genangan ini sangat dalam sehingga sinar cahaya headlamp tidak dapat masuk? Kuperhatikan dengan seksama warna hitam yang kuanggap lubang tadi, ternyata itu bukan lubang, genangan ini dipenuhi dengan hampir seratus ekor kecebong, baru kali ini kulihat begitu banyak kecebong hidup ditempat yang airnya cuma sedikit sehingga kecebong-kecebong tersebut tidak dapat berenang bebas.

“Kaya kota Jakarta aja ini tempat,” kataku.

Muron mencoba memasukkan ranting yang digenggamnya ke dalam air tempat hidup kecebong tersebut, “Mungkin masih ada yang bisa diminum” kata Muron.

Tetapi air itu lengket seperti lendir, kami berdua lebih memilih menahan rasa haus ini daripada meminum air lengket menjijikan yang bisa dipastikan tidak akan dapat menyegarkan rasa haus ini. Mungkin akan ada genangan air yang lebih layak minum daripada genangan air di sini. Aku sempat berpikir mungkin air itu berasal dari keringat kecebong-kecebong yang ada disini. Kami berdua memutuskan untuk mengitari kawah dengan berharap ada genangan air yang dapat diminum, setidaknya untuk membasahi tenggorokanku yang kering namun tidak ada, tidak ada sedikitpun air yang dapat menghibur kami selain kota kecebong yang padatnya seperti jalanan Kota Jakarta.

Kami berdua kembali menuju camp dengan jirigen kosong di tangan. Rasanya berat sekali meninggalkan kawah ini menuju jalanan yang sudah dilalui, kembali menuju jalanan terjal namun kali ini perdu dan tanaman berduri lebih sedikit tanpa air. Walaupun kami berdua sedikit bingung berjalan di malam hari menuju camp, tetapi marker yang ditinggalkan Muron menuntun kami menuju camp. Ternyata marker begitu penting disini, tidak bisa kubayangkan apa yang terjadi bila tidak ada Muron disini, pasti aku langsung menuju kawah tanpa meninggalkan marker.

Sesampainya di camp, Dyah dan Lisna menunggu kami berdua ditemani rasa dinginnya udara malam tanpa api. Tenda sudah rapi, mereka belum melakukan apa-apa, untunglah mereka belum memasak karena kami tidak mendapatkan air didalam kawah. Kami mendiskusikan masalah air yang terjadi dan sepakat untuk hanya memasak lauk yang dapat digoreng dengan sedikit nasi tanpa sayur, untungnya kami membawa banyak lauk. Kemudian kami bertiga berbagi tugas malam ini, dan aku bertugas untuk menyalakan api.

Aku tidak pernah berhasil menyalakan api sebelumnya. Ketika pendas aku pernah mencoba menyalakan api namun percobaan aku hanya sampai menyalakan pemantik, tidak pernah lebih besar, dan saat itu juga aku lebih memilih memotong kayu agar tubuh aku tidak dingin.

Menyalakan Api

Dengan arahan Muron aku dapat menyalakan api. Tidak bisa dipercaya menyalakan api begitu mudah, walau aku mengerti bila aku mencoba di lain waktu tanpa bantuan Muron aku tidak akan bisa menyalakan api. Ternyata dalam pembuatan api ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu bahan bakar, panas dan udara. Dengan komposisi dan perbandingan yang tepat kita dapat menyalakan api dengan potensinya yang terbesar. Dengan rasa kering yang hinggap di tenggorokan, kami melakukan evaluasi dan briefing tentang esok hari.

Malam itu aku tertidur paling akhir karena tidak mau meninggalkan hangatnya api unggun di depanku. Walaupun cepat atau lambat aku akan meninggalkan hangatnya panas ini untuk tidur. Berat rasanya untuk meninggalkan hangatnya panas ini dan berpindah ketempat yang dingin untuk tidur, walaupun akhirnya keinginan untuk mendapatkan panas kalah dengan kebutuhan untuk tidur malam ini, aku pun tertidur juga.

***

Tiba-tiba aku terbangun dengan rasa dingin, kulihat sekitarku hari masih gelap serta Dyah dan Lisna masih tertidur dengan nyenyak, bagaimana bisa mereka tertidur dengan lelap ketika rasa dingin yang amat sangat menyerang. Kulihat api unggun berharap masih menyala, namun yang tersisa hanyalah abu dan arang yang sudah menghitam tanpa asap, tidak ada yang bisa dibakar. Setelah melihat bekas api unggun yang sudah habis, kuputuskan untuk tetap mencoba membangunkannya hanya sekedar untuk melawan rasa dingin yang ada, walaupun aku tahu api tersebut tidak akan terbangun kembali.

Kuraih lilin didalam botol dan kupotong kecil-kecil agar dapat masuk dan memberikan panas dalam lubang arang-arang hitam sisa pembakaran yang lalu. Sekilas arang-arang tersebut menampakkan dengan jelas warna merah dan muncul asap dari arang tersebut. Mungkin masih ada harapan agar dia terbangun. Kemudian dengan sekuat tenaga kugunakan alas pan trangia sebagai kipas dan kuayunkan tanganku agar api tersebut muncul. Namun sia-sia tidak ada api yang muncul, yang terjadi hanyalah merahnya nyala bara tanda dia tidak mau dibangunkan. Aku pun melanjutkan tidur kembali dengan tangan kanan yang terasa hangat.

Dingin membuat kaki dan tanganku kram dan seluruh tubuhku kesemutan, aku terbangun dari tidurku yang tidak nyaman. Kulihat Dyah dan Lisna sedang memasak, aku ingin membantu mereka masak tetapi aku malas untuk bergerak dan mengeluarkan sesajen untuk dibakar. Saat-saat seperti ini adalah saat yang menyenangkan di gunung. Ngobrol-ngobrol ringan digunung, bercanda dan saling mengejek, entah kenapa tidak dapat kurasakan pada saat mengalami Pendas. Mungkin aku berlebihan tentang air yang aku rasa kurang untuk melakukan sisa perjalanan ini, rasa haus yang aku tahan sejak kemarin malam belum dapat kulupakan.

Bersiap-siap Untuk Melanjutkan Perjalanan

Setelah aku packing dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, aku kembali bersemangat untuk melakukan perjalanan. Aku membayangkan suasana Hutan Kendang yang indah disekitar puncaknya, bagaimana rasanya ketika aku melihat suasana disekitar puncak dan jalan yang baru saja kutempuh, pasti dapat aku lihat hingga keujung mata memandang. Kami berjalan menuju selatan sekitar setengah karvak namun yang dapat dilihat hanyalah perdu dan perdu tinggi yang banyak. Benar-benar perjalanan yang tidak bisa dinikmati, tidak ada pemandangan indah yang ditawarkan selama perjalanan.

Sesampainya di sebuah pertigaan kami berhenti untuk berorientasi dan memilih salah satu dari dua jalan di depan kami, jika arah kiri kami akan menanjak menuju puncak Kendang, jika kami lurus kami akan melipir melewati puncak Kendang. Tentu saja aku berkata untuk menuju ke kiri, tetapi satu anggota kami tampak tidak setuju dan memilih untuk berjalan lurus. Aku mengerti kenapa dia berkata begitu, rasa lelah berputar-putar dan haus serta persediaan yang sedikit membuat kita harus dengan cepat sampai di titik camp ketiga. Walaupun dengan rasa sedikit kecewa kami pun berjalan ke arah depan kami dan memutuskan untuk melipir, kuanggap ini sebagai hutangku di Gunung Kendang, mungkin lain kali ketika aku mendampingi kelompok lain aku akan melewati puncak Gunung Kendang dan melihat bagaimana suasana disana.

Perjalanan berputar-putar tanpa bisa melihat pemandangan dikejauan membuat saya lelah, hanya perdu dan awan serta tanah yang dipijak yang bisa dilihat menambah rasa lelah saya sehingga tanpa disadari kami sampai di puncakan 2540. Terdapat dua jalan disini, menuju timur dan menuju selatan, seharusnya kami berjalan menuju barat daya, tetapi tidak ada jalan menuju kesana. Setelah kami berdiskusi ringan karena tidak mau berlama-lama disini dan kami memilih jalan menuju timur.

Melewati medan yang sangat terjal membuat saya merasa seperti bukan ini jalan menuju titik camp kami, walaupun banyak bekas tanda tebasan di pohon sepanjang aku melintasi jalan ini. Arah jalan dan medan yang terjal tidak seperti ke arah titik yang kami tuju kami pun memutuskan kembali dan memilih jalan satunya lagi, tiba-tiba saya berpikiran ke arah barat daya dengan cara menerobos tanaman perdu. Tidak ada yang keberatan tentang ideku, kami pun mencoba berjalan ke arah barat daya.

Walaupun dengan rasa lelah kami tetap berjalan menerobos tanaman perdu dan terkadang rasa perih karena tertancap duri hinggap di punggung tanganku, itu semua tidak aku hiraukan karena jalan ini adalah jalan yang aku pilih, setidaknya aku tidak mau mengeluh di perjalanan ini.

Namun kudengar seseorang berkata “Mau sampai kapan kita begini? Mending lewat punggungan aja lebih cepet,” kata-kata itu membuatku berhenti dan menyadarkanku dari rasa sakit di tangan. Sepertinya pikiran persediaan air yang tersisa membuatku berpikir untuk sampai di titik camp dengan cepat. Kami pun berdiskusi keadaan yang ada dan kami putuskan untuk kembali ke puncakan sebelumnya memilih jalan yang menuju ke arah selatan. Walaupun terdapat sepetak jalur di jalan yang kami pilih, tetap saja jalan ini berujung ke jalan yang dipenuhi perdu seperti jalan yang kami pilih sebelumnya. Tidak ada jalan kembali karena kami sudah mencoba seluruh jalan dan akhirnya menerobos tanaman perdu serta pakis. Aku berjalan dengan rasa stress dan depresi, tidak ada air untuk diminum sepuasnya tetapi itu semua tidak bisa kutunjukkan karena takut akan mempengaruhi mental kelompok kami.

Kami berjalan dengan susah payah selama hampir empat jam, terdapat bekas pohon tumbang di sisi kami, kami duduk sejenak untuk melepaskan lelah yang ada di bahu kami. Menikmati roti dengan madu sambil melihat ke pemandangan hutan yang tenang benar-benar momen yang tidak mudah dilupakan, kami pun mendiskusikan keadaan kami yang tidak dapat mencapai camp ketiga dengan tepat waktu. Kami akan berhenti untuk membangun shelter pukul 17.00 WIB sekitar tiga puluh menit lagi. Setelah kami selesai memakan roti madu, kami bersiap-siap dan melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba perutku terasa lapar, aku baru sadar terakhir kali kami makan adalah sarapan telur dadar yang ditaburi sosis dan ikan asin dicampur dengan sedikit nasi. Mungkin kami terlalu sibuk jalan yang kami tempuh tadi siang sehingga kami lupa dengan makan siang. Setengah jam berlalu kami pun belum sampai di titik camp yang akan kami tuju dan terpaksa berhenti di sebuah tanah datar yang ditutupi perdu. Kami sepakat untuk membuka area disini dan menggunakan perdunya sebagai kerangka untuk membangun bivak alam, aku mulai menebas perdu dan memotong dahan-dahannya agar dapat digunakan sebagai kerangka bivak, lalu aku pergi keluar untuk mencari bahan untuk membuat api unggun.

Akhirnya kegiatan yang dapat menenangkan pikiran aku, perasaan lapar dan lelah serta luka ditangan mengingatkanku terhadap tanggal 14 Januari 2012 saat melakukan survival. Saat itu aku sedang memotong kayu yang sebesar sekitar empat hingga lima meter, aku memotong dibagian sepertiga bagian pohon tumbang tersebut lalu tiba-tiba Wisnu datang dan berkata “Kamu mau bawa kayu yang mana?” aku pun menunjuk kearah kayu yang terpotong lebih panjang tanpa sadar. Setelah Wisnu pergi aku pun bingung dengan apa yang kulakukan, bagaimana bisa aku membawa pohon sebesar itu? Bahkan dengan tenaga tiga orang, kayu itu akan sulit dibawa di medan yang licin dan berlumpur ini.

Ketika aku bernostalgia dengan Pendasku tiba-tiba Muron dan berkata “Gimana persediaan air? Mau ke sungai gak ngambil air?” Aku pun langsung menyetujui dan pergi ke camp untuk mengambil jirigen dan headlamp. Hari sudah mulai gelap kira-kira jam 17.30 WIB. Kami mulai turun menuju lembahan dan menghampiri sungai, tepat seperti dugaanku perdu dan pakis lagi, bayangan air yang dapat menyegarkan pikiran aku membuat aku ingin menuju ke lembahan tersebut. Di tengah jalan air hujan turun sedikit demi sedikit. Pemikiran bahwa hujan akan segera turun membuatku senang. Hari sudah mulai gelap dan kami merasa sudah tidak aman berada disini, kami kembali setengah jalan dan berharap hujan lebat nanti malam.

***

Aku kembali ke camp dengan perasaan senang menyambut gerimis. Langsung aku kembali ketempat dimana tadi aku menebang pohon untuk memindahkannya dekat dengan shelter. Benar-benar mengingatkanku terhadap survival hari pertama ketika Pendas, memotong kayu untuk melawan rasa dingin disertai lapar dan lelah.

Aku dan Lisna menuju depan shelter untuk membuat api, kali ini tidak ada bimbingan dari sang pendamping Muron namun aku ditemani Lisna untuk membuat api. Saat itu hujan telah berhenti, aku mengingat tips-tips yang telah diberikan Muron pada hari sebelumnya, walaupun sulit tetap ada Lisna yang ikut membantu membuat api dan akhirnya kami berdua berhasil membuat api unggun, tidak cukup bagus namun kehadirannya sendiri dapat menenangkan pikiran kami dan membuat tubuh kami sedikit hangat. Api telah jadi, kami pun bersiap untuk makan, dan menu kali ini adalah sosis, baso, ikan asin dan telur ditemani sedikit nasi, seperti biasa kami bertiga membahas tentang sesuatu yang tidak jelas. Rasa lapar yang ditahan dari siang hari terbayar sudah dengan rasa kenyang karena porsi yang dibuat cukup banyak.

Lalu tiba-tiba Muron bertanya tentang materi tidur kalong yang belum dilakukan. Aku sempat lupa dengan materi tidur kalong dan berharap tidak mempraktekannya karena aku ingin cepat-cepat tidur, dan terutama bukan diantara batang batang pohon yang tinggi. Tetapi kalau bukan hari ini kapan lagi, karena besok adalah hari terakhir kami di Gunung Kendang. Aku mencoba tidur dengan lilin di tangan walaupun sulit, rasa panasnya lilin membuat tidur bertambah sulit. Beberapa jam berlalu, kami kembali menuju bivak yang telah kami buat dan tidur setelah evaluasi dan briefing untuk esok hari.

***

Pagi ini aku bangun telat, aku bangun sekitar pukul 07.30 WIB. Kudengar suara Dyah dan Lisna yang sedang memasak, kuakui tanpa mereka berdua Diklan ini akan terasa sulit. Aku pun bangun dengan rasa malas tidak mau meninggalkan tempat tidurku dan meraih sebuah kotak di saku. Kuambil sesuatu yang panjang berwarna putih dan beracun dari kotak hitamku itu. Sambil meletakannya di ujung bibir, kubakar ujungnya lalu kuhirup kuat-kuat. Benar-benar kenikmatan tiada tara. Lalu aku membantu sedikit Dyah dan Lisna memasak, aku tidak bisa bilang membantu banyak.

Setelah kami bertiga makan dengan nikmat, kami pun memasukkan sisa logistik serta perkap kedalam carrier. Kami bertiga melanjutkan perjalanan. Kuakui aku masih tidak dapat melihat jalan disini dan seperti biasa aku langsung menarik garis lurus sesuai arah mata angin yang ada di kompas, menuju barat daya.

Sekali lagi kami harus menerobos perdu dan pakis, tiba-tiba Lisna berpendapat “Lewat sini aja to ada jalannya”.

Akupun melihat arah yang ditunjuk Lisna dan melihat memang benar itu jalan setapak walaupun samar-samar ditutupi tanaman. Tidak dapat dipercaya Lisna dapat melihat jalan setapak itu, dan kami putuskan Lisna berjalan di depan untuk mengarahkan kami. Selama perjalanan Lisna mengarahkan kami di jalan punggungan menuju kebun teh. Kuakui dia mahir memilih jalan, semua jalan yang tidak terlihat olehku dilihat olehnya. Muron memberikan tips kalau ingin melihat jalan setapak yang ditutupi oleh tanaman dengan membungkuk dan membuka tanaman yang menutupi jalan serta melihatnya dengan seksama, tetapi semua terlihat sama bagiku, semua terlihat seperti jalan setapak.

Kami berjalan hingga hampir lima jam ketika aku melihat sebuah ladang milik warga. Aku pun berteriak dengan gembira karena kami sudah dekat dengan sebuah desa terdekat, Desa Cibatarua. Selama perjalanan aku memikirkan transportasi apa yang akan kami gunakan agar kami dapat kembali ke Sekretariat Astacala hari ini, transportasi terakhir menuju Pangalengan berangkat pukul 06.00 WIB dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB.

Kira-kira dua jam berlalu dan akhirnya kami sampai di jalan besar perkebunan teh. Senang rasanya bisa keluar dari gunung hutan tersebut, terdapat pucuk daun teh di sepanjang mata melihat. Walaupun jalan berbatu dan rasa lapar kurasa, aku tetap bersemangat ke Desa Cibatarua untuk membeli indomie double pake telor.

Sseperti apa ya rasanya makan mie setelah berlama-lama menahan lelah dan haus, pasti rasanya berbeda. Selama hampir dua jam kami berjalan dan bertanya tentang arah Desa Cibatarua kepada warga, kami berhenti di sebuah jalan besar dimana kami dapat melihat Desa Cibatarua, “Sebentar lagi,” pikirku senang. Sambil makan sisa snack yang kami bawa, kami melihat desa itu dengan perasaan senang.

Lalu tiba-tiba suara truk terdengar dan Muron berpendapat untuk menumpang truk itu, langsung saja kunaikkan jempol tangan ku dan berteriak “Pak Numpang pak”, dan truk itu berhenti dan ternyata truk itu berhenti di Desa Sedep, pabrik teh PTPN VIII yang menghasilkan produk teh walini. Langsung saja kami setuju karena untuk pergi ke Pangalengan melewati Desa Sedep, mungkin disana akan ada truk yang dapat kami tumpangi menuju Pangalengan.

Kira-kira tiga puluh menit kami mengendarai truk dan tiba di Desa Sedep, pertama-tama yang kami lakukan adalah pergi ke tempat pos satpam untuk beristirahat dan mencari abang tukang bakso terdekat. Walaupun tidak ada indomie double pake telor, bakso pun jadi. Ternyata benar, ada rasa yang lebih ketika memakan bakso setelah melewati rintangan Gunung Kendang, aku merasakan rasa senang, bangga, dan terharu seperti sudah memenangkan sebuah piala nomor satu, tidak lupa juga rasa manis dan pedas khas bakso ini. Setelah kenyang memakan bakso penuh rasa ini, kami kembali ke pos satpam untuk mengambil carrier yang telah kami titipkan sebelumnya dan berjalan menuju Pangalengan dan berharap akan ada truk yang lewat.

Benar saja, kudengar suara truk mendekat dan menoleh kebelakang, aku melihat truk tangki yang mengangkut susu, seperti biasa kunaikkan jempol tanganku dan kuberteriak, walaupun sudah penuh kami tetap bersikeras meminta bantuan dan naik disamping truk tersebut. Kami berdiri disamping tangki dan berpegangan pada pipa-pipanya menggunakan carrier, memang sedikit berbahaya karena perjalanan yang akan kami lakukan memakan waktu hampir dua jam.

Di tengah perjalanan aku melihat proses pengangkutan susu menuju tangkinya, ternyata tidak asal masuk ada proses seleksi disana dengan menggunakan sebuah sensor, yang aku tidak ketahui sensor apa yang digunakan, sensor tingkat kadar keasaman susu mungkin. Setelah kami menunggu cukup lama agar truk tersebut berjalan, seorang supir truk berkata kepada kami untuk pindah ke mobil sewaan warga yang menuju Pangalengan, “Naik sekali” pikirku. Dia mau bersusah payah mencari tumpangan yang lebih nyaman untuk kami menuju Pangalengan, kami pun langsung setuju dan memasukkan carrier yang kami bawa ke dalam mobil.

Memang ditengah perjalanan aku merasa sungguh lelah, namun suasana kebun teh ini tetap membuatku terjaga, aku sungguh menikmati pemandangan ini, tidak ada yang kupikirkan selain keindahan dan sejuknya perkebunan ini, tidak seperti di gunung yang baru saja aku lalui karena sebagian besar tertutup perdu yang lebat. Dua jam berlalu sejak aku melihat proses pengangkutan susu, kami tiba di Pangalengan. Kulihat mini bus Isuzu Elf yang menuju Bandung, langsung saja kami menuju mini bus tersebut dan duduk didalamnya.

Aku duduk sendiri didepan disamping Pak Sopir, sebenarnya aku ingin tidur sejenak untuk beristirahat disana, namun kejadian-kejadian tiga hari yang lalu seakan muncul kembali, seolah mengatakan bahwa kejadian itu baru terjadi lima menit yang lalu. Kelap-kelip lampu di kejauhan dan tawa canda cerita Dyah, Lisna, dan Muron yang duduk dibelakang seakan menemaniku mengingat rasa lelah saat aku mendaki, rasa sakit ketika tumbuhan duri-duri menyanyat kulit tanganku serta lutut yang nyeri ketika menuruni bukit, rasa haus yang kutahan agar kami masih mempunyai persediaan air untuk memasak nasi.

Aku mulai mengerti kenapa gunung hutan menyenangkan, mungkin rasa yang dirasakan setelah melewati semua itu yang membuat gunung hutan digemari, dan akhirnya kami berempat sampai dengan selamat di Sekretariat Astacala pukul 21.15 WIB.

So long Kendang !!!

Tulisan Oleh Gianto Sibarani
Foto Oleh Dokumentasi Astacala

  • Ini bukan Gunung Kendang yang di Gunung Halu kan ya? Kalau yang di Gunung Kendang di Gunung Halu, yang di dekat tempat IT Day tempo hari, di puncaknya ada kawah mati yang cukup besar. Tapi kok tembus ke Cibatarua? 🙂

  • Gianto

    ini Gunung Kendang yang deket Gunung Papandayan bli, sebelah utaranya kalo gk salah

  • 008ap

    panjang bener tulisanya bro..
    manstab.

  • pengen nyoba kesini

  • mas komentar yang bagus apaan yak

  • Ini yang komen pake nama saya siapa ya?
    Semoga bukan A’ers, kalo A’ers masak nulis nama sendiri aja ga berani. 🙂

  • Anak Astacala

    ceritanya lucu coyy.. palagi yg inget motong kayu saat pendas

  • Phermana

    jadi teringat saat tahun 1988 saya dan 5 orang teman mendaki gunung ini, pada jaman itu belum ada teknologi GPS dan Ponsel apalagi panduan tapi kami berhasil kepuncak dengan berjalan nonstop 12 jam tanpa istirahat. alam pegunungan Pangalengan memang tiada duanya Asri dan alami