Pekon Balak, Budaya Lestari

Related Articles

Angin Puncak, itulah nama yang kami pilih sebagai nama angkatan Astacala XIX. Hampir satu setengah tahun kami menjadi anggota Astacala. Dari 12 orang yang lulus Pendidikan Dasar Astacala XIX hanya 6 orang kini yang masih melanjutkan pendidikannya agar dari Anggota Muda (AM) dapat menjadi Anggota biasa (A).

Singkatnya beberapa minggu yang lalu tepatnya 12 – 21 Juni 2012 kami anggota Astacala angkatan Angin Puncak telah selesai melakukan pendidikan lanjut (Diklan) akhir yang biasa disebut Perjalanan Wajib (PW), dengan Pekon Balak sebagai lokasi PW dengan tujuan penelitian antropologi masyarakat setempat.

Pekon Balak yang terletak di Kab. Lampung Barat ini kami pilih karena di desa ini masih terdapat kerajaan yang masih lestari, selain itu tempat ini merupakan asal muasal lahirnya masyarakat Lampung, ditambah belum banyak orang yang mengetahui tentang berbagai potensi yang ada di sini.

Pekon Balak di pinggir jalan utama lintas tengah Sumatera

Sekilas tentang Pekon Balak

Pekon Balak merupakan sebuah pekon (kampung) yang terletak di kaki gunung Pesagi tepatnya di Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, Sumatera, Indonesia.

Pekon Balak yang berada tepat di pinggir jalan utama lintas Sumatera tengah ini merupakan pemekaran dari Kecamatan Belalau yang merupakan pusat pemerintahan kecamatan. Di daerah Pekon Balak terdapat kerajaan yang masih lestari yaitu Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.

Kerajaan yang merupakan saksi bisu adanya perlawanan masyarakat terhadap penjajah seperti Belanda, Inggris dan Jepang inilah yang merupakan tempat awal mulanya muncul masyarakat Lampung. Jadi tidak heran jika di desa ini semua masyarakatnya memang asli orang lampung dan fasih berbahasa Lampung (dialek API).

Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak hampir mewilayahi seluruh daerah di Lampung Barat. Kerajaan ini terbagi kedalam 4 kepaksian yaitu kepaksian Pernong,  kepaksian Belunguh, kepaksian Lapah Diway dan kepaksian Nyerupa, sedangkan Pekon Balak merupakan bagian dari Kerajaan Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong.

Dari seluruh kebuayan yang ada, sistem pemerintahannya masih didominasi oleh sistem kerajaan, dimana gelar Sultan merupakan kedudukan tertinggi dari tatanan struktur di wilayah Lampung Barat.

Darah keturunan merupakan syarat mutlak untuk bisa menjadi Sultan. Jadi tidak heran jika para perangkat kerajaan lainnya juga menggunakan syarat darah keturunan sebagai syarat untuk mewariskan tahta kepada anaknya.

Karena kerajaan yang masih lestari maka tidak heran jika budaya dan adat yang ada masih melekat dan masih selalu digunakan, khususnya setiap ada acara penting seperti upacara adat, upacara pernikahan, kelahiran anak dan khitanan. Hampir diseluruh acara penting didalamnya terdapat rangkaian yang mengharuskan menggunakan pakaian adat, tari –tarian adat, musik – musik adat yang mengiringi pencak silat.

Upacara-upacara adat biasanya hanya dilakukan apabila status adat tuan rumah/pemilik acara cukup tinggi (Sultan, anak Sultan, Raja-raja, anak Raja pewaris tahta). Namun bila status adat dari pemilik acara tidak terlalu tinggi biasanya hanya dilaksanakan tayuhan lunik (pesta kecil) dengan tidak adanya prosesi adat. Acara yang termasuk dalam tayuhan agung (pesta besar) pastilah menjalankan upacara adat, misalnya peringatan hari naiknya tahta sultan (nyemuka dalom), pernikahan anak – anak sultan, upacara syukuran seperti kelahiran bayi dan khitanan.

Gedong Dalom (Keraton) tempat kediaman Sultan

Kekuasaan Sultan mutlak dari segala aspek, kecuali aspek ekonomi, meskipun seluruh tanah dan sumber daya alam yang ada di hampir seluruh Lampung Barat milik sultan namun sultan tidak mengambil keuntungan dari rakyatnya, justru masyarakatlah yang banyak memperoleh keuntungan oleh adanya Sultan.

“Kebijakan Sultan itu selalu menguntungkan buat rakyat, rakyat juga merasa tertolong dengan adanya kerajaan. Setiap ada rakyatnya yang mengalami musibah pastilah Sultan selalu memberikan bantuan dan santunan.” Kata Mariah, 70 tahun. Nenek Mariah merupakan masyarakat biasa yang merupakan orang asli Pekon Balak yang sudah mengalami 3 jaman Sultan yang berbeda, jadi tidak heran jika beliau mengetahui asam manis kehidupan selama 70 tahun kebelakang.

Mayoritas masyarakat Pekon Balak bermata-pencaharian sebagai petani kopi dan sebagian kecilnya menanam padi, coklat, lada, kayu manis dan cengkeh. Berbeda dengan daerah – daerah yang kita ketahui, di Pekon Balak ini Semua masyarakatnya mempunyai kebun, jadi tidak heran jika seluruh masyarakatnya bekerja sebagai petani.

Alasan masyarakat memilih kopi sebagai tanaman utama yang ditanam karena selain kopi sudah turun temurun di wariskan oleh para leluhur, kopi juga merupakan tanaman yang perawatannya tergolong cukup mudah. Bayangkan saja masa produktivitas kopi tidak pernah menurun, masa panennya pun selalu konstan, setiap  1 tahun sekali tanaman ini selalu berbuah.

buah kopi matang yang baru dipetik

Cara merawatnya pun tidak sulit, cukup 3 kali dalam setahun para petani pergi untuk berkebun, yang mereka kerjakan adalah nunas/ngeranting. Nunas/ngeranting merupakan kegiatan mencabuti rumput  dan tanaman jalar liar. Umumnya 3-4 bulan sekali meraka ke kebun untuk membersihkan rumput dan tanaman liar, setelah itu biarlah suhu, musim dan lingkungan yang merawat tanaman kopi ini.

Setelah pohon kopi ini berbuah segera para petani mengambil buahnya dan tak lupa memangkas cabang ranting kopi tersebut. Kegiatan memangkas cabang ranting kopi yang telah berbuah ini disebut ngekhau oleh masyarakat. Tahap memangkas ranting/ngekhau inilah yang membuat tumbuhan kopi akan terus berproduksi karena dengan memangkas ranting tua yang sudah mengalami pematangan buah akan menghasilkan ranting baru yang nantinya akan menghasilkan buah –  buah kopi yang sama berkualitas.

Selain sebagai petani ada juga sebagian dari mereka yang memiliki pekerjaan lain sebagai guru, pegawai negeri, ataupun berwirausaha di ibukota propinsi sebagai pekerjaan sampingannya selain menjadi petani.

Pagi sampai sore hari biasanya masyarakat sekitar menghabiskan waktunya untuk berkebun, sedangkan diwaktu malam mereka menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga. jadi tidak heran jika malam hari suasana di desa seperti daerah tak berpenghuni.

Tidak ada yang berbeda dengan cara berpakaian mereka sehari-hari dengan masyarakat pada umumnya kecuali cara berpakaian para istri yang menggunakan kain seperti sarung di bagian bawahnya.

Sedangkan untuk bangunan tempat tinggalnya mayoritas terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung yang dikarenakan dahulu kala daerah tersebut masih terdapat hewan – hewan liar seperti harimau, singa, dll sehingga jika tidak membuat rumah bertingkat akan mudah di mangsa hewan liar. Tapi karena sekarang kayu sangat sulit didapat dan harganya pun terlalu mahal kini masyarakat mulai membangun rumah – rumah yang berpondasi semen dan batu bata.

Tim PW Astacala angkatan Angin Puncak

Namun siapa yang sangka di Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong ini tidak hanya manusia yang mempunyai nama tapi setiap rumah juga mempunyai nama, jadi tidak heran jika setiap kita bertanya alamat kediaman warga sekitar, kita akan kesulitan mencarinya bahkan sampai ditegur jika tidak menyebutkan nama warga beserta nama rumahnya.

Sungguh senang rasanya dapat merasakan suasana tatanan budaya yang masih alami, namun sangat disayangkan dari keempat kepaksian yang ada di kerajaan Paksi Pak Sekala Brak, hanya Kepaksian Pernong kini yang masih mempertahankan dan menggalakkan budaya yang telah di wariskan para leluhurnya dulu.

Semoga kelestarian dan budaya yang ada di Indonesia selalu dipertahankan dan dilestarikan, tak akan terkikis oleh perkembangan jaman, tak akan ternodai oleh bangsa sendiri, sehingga tak akan termakan oleh pengaruh budaya luar.

Tulisan oleh Arnan Tri Arminanto
Foto dari Tim Perjalanan Wajib AP

More on this topic

Comments

Popular stories

Bersantai di Ujung Sumatera

"Ngon, tanyoe tajak keuno santai bek tamita, cit troh keudroe! Gadoh saket ulee nyoe ka na ino." Itulah sepenggal kalimat Bahasa Aceh yang saya...

Dua Belas Matahari Siung

Suara bising yang terdengar di ruangan enam kali lima meter itu masih saja teringat di ingatanku, lalu lalang khususnya para anggota muda Astacala dengan...

Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 2)

  Saya bersama Anatoli Marbun "Bolenk" bersepeda dari Kintamani ke Klungkung. Sebelumnya, kami telah melalui etape pertama dari lima etape yang saya susun. Menyusuri punggungan...