Dingin Dingin Dihujanin – Catatan Perjalanan Diklan GH

Related Articles

Awan hitam terlihat di langit. Hembusan angin semakin keras dan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Aku, Falaq, Ulil, dan Ocul sibuk mencari posisi kami di peta. Langit pun semakin gelap untuk meneruskan perjalanan. Kami telah menaruh carrier dan keliling di daerah itu untuk berorientasi, tetapi posisi kami tetap tidak diketahui. Suhu tubuhku mulai menurun.

Api Yang Menyala

Air hujan menetes di lembaran petaku yang terlindungi oleh plastik. Awan melepaskan bebannya, hujan turun semakin deras saja. Pakaianku menjadi basah kuyup yang membuat tubuhku mengigil. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di bawah deras hujan, dengan dibantu oleh penjelasan dari Toshio, Bang Pari dan Kak Ifa, akhirnya kami menemukan dimana posisi kami berada.

Kami pun meneruskan perjalanan yang hari itu dikoordinatori oleh Ulil. Badanku terasa lebih nyaman setelah bergerak kembali. Namun karena hari semakin malam, kami tidak sempat mencapai titik camp yang direncanakan. Kami pun secepatnya bergerak mencari sejumput lahan untuk mendirikan camp.

Begitu carrier diletakkan kami segera membuat bivak sendiri – sendiri. Hujan pun masih mengguyur deras, dan aku tetap merasa dingin. Karena sampai lokasi camp agak malam maka untuk mencari kayu bakar menjadi makin sulit, apalagi untuk membuat api masing-masing. Pasrah untuk mencari kayu, aku pun hanya bisa membantu yang sedang masak untuk menghangatkan diri atau membantu yang sudah siap untuk menyalakan api. Aku hanya bisa berharap kalau apinya pendamping bisa nyala walaupun mereka juga tampak mengalami kesulitan. Badanku pun mulai terasa letih dan persendian-persendian mulai terasa sedikit keram.

Di Depan Bivak Alam

Waktu tidur pun tiba. Masih ada yang berusaha untuk menyalakan api, aku menuju ke camp dan hanya bisa mengganti pakaian. Aku merasa lebih baik menggunakan pakaian kering, karena memang pakaian basah membuat tubuhku susah menahan panas. Aku pun berusaha untuk tidur dalam keadaan kedinginan dan rasa takut atas hipotermia. Walaupun aku berhasil tidur, tetapi bukanlah tidur yang nyeyak.

Alhamdulillah pada hari selanjutnya tidak ada lagi hujan deras. Ini memang sebuah pengalaman yang tidak akan kulupakan, mengingatkanku pada kejadian di masa pendas-ku dulu. Memang pendas telah mempersiapkanku untuk kejadian semacam ini, tetapi bila tidak mempunyai persiapan maka tetap saja akan mengalami kedinginan. Ini merupakan pelajaran bagiku agar ke depannya mempersiapkan diri lebih matang dalam melakukan sebuah perjalanan, seperti misalnya saja membawa raincoat ataupun memakai ponco.

Aku telah merasakan suhu udara di bawah nol derajat, juga hembusan angin yang sangat dingin, tetapi ternyata itu tidak sebanding dengan rasanya kehujanan di ketinggian dua ribu meter.

Brrrrr !!!

Tulisan oleh Firman Aldiorija
Foto dari Tim GH Gunung Lima

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular stories

Sejarah Hari Bumi

Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, menandai hari jadi lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan tahun 1970-an. Hari Bumi lahir diprakarsai...

Air Yang Tidak Beriak, Gelombang Yang Tak Pernah Diam

Kawan! Berartikah kita ketika melempar sebuah tanya? Berada pada apakah kita pada saat masa menjadi hening? Atau apa artinya ketika jawab terucap dari bibir yang...

Kita Panggil Dia Kartini

Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar daripada menolong...