Tegal Panjang, Padang Sabana di Balik Gunung Papandayan

Sunyi dan menenangkan. Itulah yang saya rasakan begitu sampai di daerah yang terletak di pedalaman Bandung bagian selatan ini. Rasa lelah yang terakumulasi selama perjalanan panjang kemarin rasanya terbayar tuntas dengan apa yang terlihat di depan mata, hamparan padang rumput berlatarkan beberapa puncakan yang menjulang dengan gagah di belakangnya. Dengan meniti jalan setapak yang berlanjut dari tempat saya berdiri saat itu, kami berjalan melintasi areal tersebut untuk mencari tempat mendirikan kemah.

Tegal Panjang

Pada akhir bulan Oktober yang masih basah, rumput ilalang belum tumbuh terlalu dewasa, kurang lebih baru sekitar setengah hasta saja tingginya. Sementara permukaan tanah tampak menghitam oleh bekas abu sisa hasil pembakaran. Di tengahnya, terdapat cekungan sedalam lima meter yang dialiri sebuah sungai kecil, berkelak kelok mengular membelah dari utara ke selatan.

Di batas hutan sejauh terlihat oleh pandangan, jejeran batang pohon berdiri tegak, dengan dahan yang dipenuhi oleh batang tumbuhan menjalar. Di salah satu sisi yang lain, sebatang pohon pakis dengan anggun berdiri sendirian. Tersembunyi di antara beberapa punggungan, Tegal Panjang menyajikan kecantikan yang memanjakan mata, sebuah padang rumput berketinggian 2052 meter yang berada di kawasan Gunung Papandayan.

***

Minggu pagi yang berhiaskan mendung, dengan mengendarai dua buah sepeda motor, kami berempat berangkat dari Bandung melalui daerah Ciparay menuju Desa Cibatarua sebagai titik awal perjalanan kami menuju Tegal Panjang. Berkendara menembus deras hujan dan jalan raya yang kondisi mengenaskan, kami membutuhkan waktu hampir empat jam untuk mencapai Desa Cibatarua. Dari informasi warga setempat, ternyata untuk menuju Desa Cibatarua, dapat pula ditempuh melalui daerah Pengalengan, yang kondisi jalannya lebih bagus dan terawat.

Lewat tengah hari, seusai meminta izin dan menitipkan motor di kediaman Pak RT, kami pun memulai perjalanan menuju Tegal Panjang. Dari pintu desa kami berjalan melintasi jalur setapak yang ada di antara perkebunan teh. Sejauh mata memandang, tampak tanaman teh ada dimana mana. Satu dua orang penduduk, dengan tenggok bambu tergendong di belakang punggung berlalu lalang sekitar kami lewat. Beberapa saat berjalan melewati ladang penduduk, dengan mengikuti sebuah punggungan kami pun memasuki daerah hutan. Kondisi hutan terlihat cukup lebat, dan terutama basah, khas hutan di daerah Jawa Barat.

Pukul lima sore, kami berhenti dan mendirikan kemah untuk hari itu. Perjalanan masih lumayan jauh dan kami tidak ingin mengambil resiko dengan pergerakan malam hari. Sewaktu sedang mendirikan kemah, kami bertemu dengan beberapa warga yang sedang berburu. Menurut mereka, di hutan sekitar memang masih sering ditemui beberapa hewan liar seperti rusa dan babi hutan. Tidak begitu jauh dari lokasi kami bermalam mengalir sebuah sungai kecil. Airnya sangat jernih dan belum tercemar. Menyegarkan.

Keesokan harinya, setelah menembus semak belukar hutan kami pun sampai di Tegal Panjang. Dahulu, jalur Tegal Panjang ini sering dilalui warga masyarakat untuk menuju daerah Garut atau sebaliknya. Namun seiring berlalunya waktu, sudah jarang ada penduduk yang melalui tempat ini sehingga jalurnya sedikit tertutup oleh rimbunnya pepohonan.

Di atas bukit, sejenak kami berhenti untuk menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Tempat pertama yang terlintas di pikiran saya ketika melihat Tegal Panjang, adalah Oro Oro Ombo, sebuah padang rumput di Gunung Semeru. Beberapa padang rumput serupa yang terkenal di Indonesia antara lain adalah Lembah Cikasur dan Gunung Rinjani. Keindahan alam Indonesia yang kelestariannya wajib kita jaga bersama.

Untuk mencegah kebakaran, setiap beberapa waktu, terutama pada musim kemarau, rumput rumput di Tegal Panjang yang sudah tinggi dan mulai mengering akan dibakar oleh warga. Tak heran kami banyak menemui abu bekas bekas pembakaran di sepanjang tempat ini.

Menjelang sore hari, kabut perlahan mulai turun. Mendung mulai menyaput birunya langit, perlahan tetes hujan pun turun kembali. Di bawah naungan fly sheet dan tenda dome, kami pun melawatkan dinginnya malam Tegal Panjang kala itu.

***

Sekitar satu bulan berselang, saya kembali mengunjungi Tegal Panjang. Kali ini melalui jalur Gunung Papandayan. Dari area parkir kawasan wisata Gunung Papandayan, kita berjalan melewati Kawah Papandayan menuju Pintu Angin (Lawang Angin). Tidak jauh dari Pintu Angin, mengambil jalan ke arah kanan, menembus kawasan hutan menuju ke lokasi Tegal Panjang.

Dari area parkir, kami membutuhkan waktu kurang dari lima jam untuk sampai di Tegal Panjang. Relatif lebih dekat dan cepat bila dibandingkan melalui Desa Cibatarua sehingga bisa menjadi salah satu pilihan bagi anda yang memiliki waktu berkegiatan lebih singkat.

Bandung, Akhir Tahun 2011

Tulisan oleh Angga Wisnu Firdy
Foto dari Dokumentasi Astacala

  • Aditsetyadi

    Dari kalimat pertama udah keliatan tulisannya siapa. hahaha.

  • AF

    what the maksud dit? hha