Perjalanan Si Bolenk (Episode 3: Pemanjatan Tebing Parang Ndog)


Panas matahari terik yang membakar kulit menyambut kehadiran kami di pantai selatan Yogyakarta itu. Saya tak menyangka laut di sini masih begitu bersih dan indah. Suara deburan ombak yang tinggi menciptakan suara membahana di sekitar pesisir tersebut. Hamparan pasir putih seolah memanggil untuk bersantai dan bermain-main sejenak.

Tapi sayang, bukan itu tujuan kami datang ke sini. Tujuan kami adalah untuk melakukan pemanjatan pada tebing yang terdapat di sisi timur pantai ini, atau yang biasa disebut dengan Tebing Parang Ndog.

Foto 1 : Tebing Parang Ndog dilihat dari tepi jalan

Kami tiba di rumah Bu Kartono sekitar pukul satu siang hari.  Sesuai rencana, hari ini kami hanya melakukan pengamatan atau orientasi terhadap jalur. Setelah melakukan orientasi jalur, kami menghabiskan waktu menikmati panorama dari atas landasan pacu yang ada di dekat tebing.

Menurut beberapa sumber di internet, lokasi ini merupakan salah satu tempat terbaik di Indonesia untuk menikmati panorama matahari tenggelam. Kebetulan sekali, cuaca saat itu cerah, dengan sekumpulan awan cumulus di langit bagian timur. Benar saja, panorama matahari tenggelam di sana memang indah. Tampak lebih bulat dan lebih besar. Perlahan-lahan menghilang di ufuk barat, meninggalkan lembayung senja berwarna jingga.

Foto 2 : Sunset di Pantai Parang Tritis, dilihat dari landasan pacu

Profil Tebing Parang Ndog

Tebing parang Ndog terletak di Desa Watu Gupit, Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Lokasi tebing berada di pantai selatan Yogyakarta, tepatnya di sebelah timur pantai Parang Tritis.

Akses menuju lokasi tidaklah terlalu sulit. Dari terminal Giwangan di Jogjakarta,kita bisa menggunakan angkutan bis menuju terminal Parang Tritis. Lamanya perjalanan kurang lebih sekitar sejam. Sesampainya di Parang Tritis, akan terlihat tebing yang tinggi menjulang di sebelah timur, itulah Tebing Parang Ndog. Tinggi tebing ini dari lantai dasarnya sekitar 70 meter.

Batuan pembentuk batuan tebing ini adalah karst atau kapur. Hal ini dapat dimaklumi mengingat sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa merupakan bentangan karst. Sehingga banyak ditemukan gua alam dan tambang kapur di sepanjang pesisir selatan jawa ini.

Baca juga:   Luweng Sampang, Air Terjun Mini di Pelosok Gunungkidul

Di tebing ini terdapat banyak jalur, baik jalur sport maupun artificial. Beberapa diantaranya adalah jalur Kabisat, jalur Semut, jalur Boker, jalur Merah Putih, dan masih banyak lagi yang lainnya. Jalur paling umum yang biasa digunakan untuk mencapai top adalah jalur Boker. Jalur ini terdapat pada sebuah crack besar pada tebing utamanya. Jalur ini merupakan jalur artificial, sehingga jika ingin menggunakan jalur ini harus menggunakan peralatan panjat yang lengkap.

Di sekitar tebing ini, terdapat beberapa tebing kecil lainnya. Seperti yang ada di bawah landasan pacu atau di pinggir jalan menuju Hotel Queen of South(hotel bertaraf internasional yang ada di Parang Tritis). Ada juga jalur sport yang terdapat pada batu besar yang berada di dekat tebing Parang Ndog. Jalur-jalur tersebut lumayan mengasyikkan jika ingin dicoba. Lumayan, 3-5 hanger setiap jalurnya. Rata-rata jalur tersebut berbentuk overhang(kemiringan lebih dari 90 derajat).

Sebelum melakukan pemanjatan, sebaiknya perhatikan dulu kondisi batuan dan hanger yang ada. Maklum, ada beberapa jalur sport yang usianya sudah cukup lama. Hal ini dapat dilihat dari kondisi hanger yang mulai berkarat.

Hari Pemanjatan : Action!!

Esoknya, sekitar pukul delapan pagi, setelah selesai sarapan, kami bersiap untuk memulai pemanjatan.

Pemanjatan kami awali dengan mencoba jalur yang tidak terlalu tinggi, “hanya” sekitar 10 meter dengan 6-7 hanger. Jalurnya cukup menantang.

Pukul sepuluh pagi, kami bersiap untuk melakukan pemanjatan di jalur Boker. Target kami adalah mencapai top(puncak). Disinilah tantangan yang paling berat. Seumur hidup, baru kali ini saya mencoba untuk meraih puncak sebuah tebing. Apalagi pemanjatan kali ini memakai sistem hanging belay. Sebelumnya, saya hanya mencoba hanging belay di dinding panjat milik Astacala. Belum pernah praktik ke tebing langsung.

Setelah di melakukan sharing ilmu dan breafing, pemanjatan pun di mulai. Saya naik pertama sebagai leader,dan Pari sebagai belayer. Awal jalur pemanjatan relatif mudah, karena memanfaatkan crack besar yang menjadi cirri khas dari jalur ini. Begitu juga hingga ke pitch ke-3. Di pitch ke-3, terdapat semacam lorong yang bisa digunakan untuk berteduh dan berisitrahat. Panorama dari sini cukup indah, dengan pantai Parang Tritis sebagai objek utamanya.

Baca juga:   Terima Kasih Hardtop Tua

Foto 3 : Pemandangan dari atas tebing

Pitch ke-3 merupakan pitch terakhir sebelum mencapai puncak, tetapi juga merupakan bagian tersulitnya. Setelah pitch-3, jalur yang dihadapi berbentuk hang, dan jarak ke puncak tebing sekitar 20 meter.

Ketika berada di posisi overhang, rasanya tenaga saya sudah habis. Ingin rasanya berteriak “fall !!” seperti yang biasa dilakukan ketika sedang memanjat di wall. Tapi ini sedang hanging belay, tak mungkin turun ke bawah alias mundur. Apalagi ketika saya mencoba melihat ke bawah, sudah lumayan tinggi kami memanjat. Tak mungkin mundur. Pilihan hanya ada satu : Maju terus! Pantang Mundur!

Akhirnya kami sampai juga di puncak tebing. Mission completed.  Kami tiba di puncak sekitar pukul satu siang hari. Setelah itu, kami beristirahat sampai pukul tiga di warung Bu Mar, warung yang biasa dijadikan basecamp oleh para pemanjat. Jaraknya hanya sekitar 300 meter dari puncak tebing.

Sore harinya, setelah beristirahat di warung, kami masih melanjutkan pemanjatan hingga pukul tujuh malam.

Mission completed.

Baca juga :

Bolenk’s Journey

Mencumbu Tebing Parangndog

 

Penulis : Bolenk Astacala

Sumber foto : Foto 1, Foto 2, Foto 3