Luweng Sampang, Air Terjun Mini di Pelosok Gunungkidul

Related Articles

Meskipun nyasar adalah akibat realistis yang mungkin harus saya terima, tetap saja hal tersebut jauh lebih menggiurkan daripada hanya menghabiskan waktu di rumah seharian. Maka dengan berbekal segelintir informasi yang kemarin sempat saya baca, saya putuskan untuk tetap berangkat ke Luweng Sampang. Lagipula kamera DSLR yang sudah saya bawa dari Bandung pun terlalu sayang untuk dianggurkan begitu saja.

Begitu motor selesai dipanaskan, perjalanan saya pun dimulai. Kali ini saya sengaja memilih untuk lewat jalan pedesaan saja. Selain bisa lebih santai, rasanya jauh lebih menyenangkan melihat suasana perkampungan daripada melintas jalan raya dengan mobil dan asap kendaraannya.

Dari Kalasan –rumah saya–, motor saya arahkan ke Klaten. Setelah sekitar 20 menit perjalanan melewati beberapa desa, sampailah saya di pertigaan Gantiwarno. Kalau dari Jalan Solo, pertigaan Gantiwarno ini terletak sekitar lima kilometer dari perbatasan Jawa Tengah – DIJ ke arah Klaten. Menurut informasi yang sempat saya baca, dari pertigaan Gantiwarno ini untuk menuju ke Luweng Sampang, bisa mengambil jalan terus ke arah selatan, yaitu ke daerah Gunungkidul.

Sepanjang jalan, banyak plang yang menunjuk ke arah Sendang Maria Giri Ningsih. Saya pun jadi berpikir bahwa Luweng Sampang yang akan saya datangi ini terletak satu kompleks dengan tempat tersebut. Karena malas bertanya, langsung saja motor saya arahkan  mengikuti jalan yang ditunjuk oleh plang tersebut.

Begitu sampai di lokasi Sendang Maria Giri Ningsih, motor segera saya parkir dan kemudian menghampiri seorang penduduk untuk bertanya dimana lokasi Luweng Sampang.

“Pak, mau nanya kalau Luweng Sampang tempatnya dimana ya?”

“Kalau di daerah sini nggak ada dek. Adanya Sendang Maria,  tempatnya di atas sana.”, jawab si bapak mendengar pertanyaan saya sambil menunjuk ke arah tanjakan jalan.

Kecut rasanya mendengar jawaban tersebut, karena ternyata dugaan saya sebelumnya terbukti salah. Kombinasi antara minim informasi dan malas bertanya terbukti tepat menyebabkan saya kesasar.

Setelah mengucap terimakasih, saya pun meninggalkan bapak tersebut dan menuju sebuah warung guna mencari info lebih lanjut mengenai keberadaan Luweng Sampang. Dari obrolan singkat dengan pemilik warung dan beberapa pengunjung, saya disarankan untuk menuju Desa Jogoprayan karena Luweng Sampang terletak tidak jauh dari tempat tersebut.

Karena sudah terlanjur salah arah, maka perjalanan saya pun terasa makin seru. Beberapa kali bertanya dan bahkan offroad menyusuri jalan persawahan, sampai juga saya di Desa Jogoprayan. Saya pun kembali menanyakan hal yang sama, kali ini kepada seorang ibu yang sedang bersantai di depan rumahnya.

“Permisi Bu, kalau Luweng Sampang di daerah mana ya?”

Setelah sempat berpikir sejenak, ibu yang saya tanya pun menjawab.

“Oo, kalau Sampang bukan di sini Mas. Di sini dusun Jogoprayan. Ke Sampang lurus aja ngikutin jalan. Balai desanya ada di pinggir jalan. Dekat kok mas. Paling sekitar lima menit.”

Saya pun kembali memacu motor saya mengikuti instruksi Ibu tersebut. Lima menit motor saya berjalan, sampai juga saya di Balai Desa Sampang. Ternyata Desa Sampang ini bukan termasuk wilayah Klaten, melainkan sudah berada di wilayah administratif Kabupaten Gunungkidul, tepatnya berada di Kecamatan Gedangsari.

Akhirnya setelah beberapa puluh meter berjalan dari balai desa, sampai juga saya di titik finish perjalanan hari ini, Luweng Sampang. Rasa puas pun menyeruak mengingat beberapa kali kejadian kesasar dalam pencarian saya menuju tempat ini.

Tempat yang disebut Luweng Sampang ini tampak sepi. Hal yang wajar mengingat tempat ini memang bukanlah sebuah destinasi wisata. Bahkan saya yakin bahwa sebagian besar masyarakat Jogja belum pernah mendengar mengenai tempat ini.

Luweng Sampang merupakan sebuah air terjun yang memiliki karakteristik cukup unik. Tingginya memang terhitung cukup pendek, sekitar lima meter saja. Namun komposisi dari batuan di sekitarnya terlihat sangat menarik, berupa dinding batu yang tergerus oleh air, persis seperti di Grand Canyon, hanya dengan skala yang jauh lebih kecil.

Puas bermain, saya pun menyudahi kegiatan saya di air terjun. Di atas, secara kebetulan saya bertemu dengan Pak Legiman. Beliau adalah juru kunci dari Luweng Sampang. Menurut beliau, Luweng Sampang ini merupakan petilasan dari Sunan Kalijaga, salah seorang anggota dari Wali Sanga.

Wali Sanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 15. Sesuai namanya, wali ini berjumlah sembilan orang, dimana salah satunya adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga terkenal sebagai wali yang nguri-uri kebudayaan Jawa. Beliau menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk.

Menurut Pak Wagiman, banyak orang yang datang ke Luweng Sampang untuk melakukan ziarah dengan berbagai macam tujuan tertentu. Bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa, kepercayaan terhadap kekeramatan sebuah tempat memang sudah menjadi budaya yang sulit dilepaskan. Tidak jarang saya menemui orang orang yang rela blusukan ke tempat tempat terpelosok yang aksesnya sulit dijangkau dengan alasan untuk melakukan ziarah ke tempat tersebut.

Terlepas dari beberapa cerita yang melingkupi tempat ini, Luweng Sampang adalah salah satu destinasi wisata alam di daerah Jogjakarta yang cukup menarik.  Dan bagi para pengemar air terjun yang mendambakan indahnya pemandangan air yang jatuh menghujam ke permukaan tanah, Luweng Sampang jelas sangat layak untuk dikunjungi.

Tulisan dan Foto oleh Angga Wisnu Firdy

Comments

  1. Biarin aja kali Bro kalau ada bahasa Jawa atau daerah, lebih berjiwa jadinya. 😀

    Tinggal tambahin catatan kaki atau terjemahannya di dalam kurung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Hutan Hancur Karena Dikelola dengan “Otak Kayu”

Rusaknya hutan Indonesia ditandai degradasi kawasan mencapai 59 juta hektare saat ini, karena dalam dua dekade sebelumnya pengelolaan hutan dilakukan dengan menggunakan “otak kayu”. Menteri...

Napak Tilas Sumpah Pemuda

Delapan puluh lima tahun silam, 28 Oktober 1928, tanpa teknologi telekomunikasi, transportasi yang tak mudah, serta dalammasa penjajahan, para pemuda nusantara mampu mengatasi ego...

Ully Sigar Rusady – Penyanyi Sekaligus Aktivis lingkungan

Siapa yang tidak mengenal penyanyi konservasi alam kondang, Ully Sigar Rusady, yang kini lebih suka dipanggil Ully ‘Hary’ Sigar Rusady. Hary adalah nama sang...