Information Technology Day (IT Day) : Secuil Pengabdian untuk Masyarakat


Nama saya Idul. Cita-cita saya adalah ustad.

Seorang siswa antusias mendengarkan arahan dari Harland, panitia yang mendapatkan tugas mengarahkan praktik komputer

***

Sabtu pagi itu semua berjalan seperti biasa, sebagaimana hari-hari yang lain di bulan Maret. Dampak global warming terasa di bulan ini, cuaca tidak menentu. Kadang hujan seharian, di lain hari kadang matahari terik memanggang bumi seharian. Kadang hujan, tiba-tiba hari menjadi cerah. Kadang pula sebaliknya. Cuaca yang tidak menentu tidak menunjukkan musim yang sedang berlangsung. Dalam buku pelajaran sekolah dasar dijelaskan bahwa bulan Maret adalah akhir dari musim penghujan di Indonesia.

Tetapi pagi ini, cuaca di selatan Bandung terlihat mendung. Menandakan adanya kemungkinan hujan turun hari ini, seperti hari-hari sebelumnya. Angkutan sewaan berwarna oranye itu mulai bergerak. Kendaraan yang ditumpangi oleh sembilan orang anggota Astacala tersebut akan bergerak ke sebuah lokasi untuk melakukan pengenalan komputer kepada anak sekolah dasar.

Setelah melewati tiga jam perjalanan, akhirnya kami tiba di SD Negeri Tangsijaya. Sebuah sekolah dasar yang terletak di Kampung Tangsijaya, Desa Gunung Halu, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Suasana di desa ini masih alami. Persis di belakang sekolah, terdapat Sungai Cidadap yang tak pernah surut dan tak pernah meluap karena sumber airnya di hulu yang berupa hutan lebat masih terjaga dengan sangat baik. Di seberang sungai tersebut terdapat sawah sengkedan milik warga. Hanya beberapa ratus meter dari sungai itu terlihat hutan yang masih belum terjamah oleh manusia. Batas hutan dengan pohon-pohon tinggi yang masih terawat terlihat sangat menggoda untuk dijelajahi.

Kondisi sekolah itu sendiri tidaklah terlalu baik dari segi fasilitasnya. Hanya ada tiga ruangan kelas dengan listrik seadanya. Ternyata, di gedung sekolah tersebut juga diadakan sekolah terbuka untuk tingkat sekolah menengah pertama. Jika pagi harinya bangunan sekolah dipakai untuk kegiatan belajar mengajar murid sekolah dasar, maka di siang hari sampai sore hari ruangan tersebut akan dipakai oleh kakak-kakak kelas mereka di tingkat sekolah menengah pertama.

Ketika kami datang, para guru dan para murid sekolah dasar tersebut sudah menunggu. Setelah beramah tamah dengan para guru, kami langsung dipersilahkan untuk memulai acaranya. Seluruh anggota tim bergerak tanpa menunggu komando dari siapa pun. Semuanya sudah tahu apa yang perlu dipersiapkan. Tanpa perlu membuang waktu, akhirnya acara yang direncanakan pun bisa dimulai.

Baca juga:   Harapan dari Dusun Tangsi Jaya

Acara tersebut adalah bagian dari program kerja Divisi Lingkungan Hidup Astacala. Kegiatan yang dikatagorikan sebagai pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Astacala sebagai bagian dari kampus ini juga tidak lepas dari ketiga tanggung jawab tersebut : Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menjadi wadah bagi anggota Astacala untuk belajar berbagi, berinteraksi, dan untuk lebih peduli lagi kepada lingkungan sekitar, khususnya masyarakat pedesaan yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh kita ketika sibuk dengan rutinitas kampus dan tugas-tugasnya.

Dengan motivasi tersebut, muncullah ide untuk melakukan kegiatan sederhana ini. Ide dasarnya hanya untuk sekedar mengenalkan komputer, kepada anak-anak sekolah dasar di daerah terpencil  yang murid-muridnya belum begitu mengenal komputer.

Kegiatan dimulai dengan sesi pengenalan dasar-dasar pengetahuan tentang komputer untuk sekolah dasar dan manfaat yang dapat diperoleh. Pada sesi yang dibawakan oleh Tegar Pamungkas ini, para murid  dikenalkan pada komputer secara umum dan sederhana. Mereka ternyata cukup antusias untuk mengetahui tentang apa yang disampaikan oleh Tegar. Sebagai alat bantu penyampaian materi, para murid dibagikan modul yang telah dibuatkan oleh panitia. Selain itu, panitia juga menyiapkan proyektor untuk memudahkan penyampaian materi.

Sesi berikutnya adalah sesi peragaan penggunaan komputer. Sesi ini dibawakan oleh Harland Firman. Pada sesi ini, para murid diberi contoh penggunaan komputer secara sederhana : mengetik, menggambar, mendengarkan musik, bahkan menonton video.

Sesi ketiga adalah sesi praktik. Sesi ini masih dibawakan oleh Harland. Di sesi ini, para siswa diajak untuk mempraktikkan secara langsung cara penggunaan komputer. Laptop sejumlah 11 buah yang telah dibawa oleh panitia dari kampus ternyata cukup menarik minat para pelajar muda tersebut. Masalah muncul ketika beberapa laptop tersebut tidak dapat dipakai lagi ketika kondisinya lowbat. Sumber listrik yang dimiliki oleh sekolah tersebut tidak sanggup untuk men-supply kebutuhan energi listrik untuk kegiatan ini, hanya cukup untuk mendukung kebutuhan sebuah infocus saja.

Di sesi ini, para murid diminta untuk mencoba menerapkan materi yang baru saja disampaikan, salah satunya mengetik. Ketika para siswa selesai mengetikkan nama dan cita-cita  mereka, Harland membacakan apa yang telah diketikkan oleh para siswa. Seorang siswa mengetikkan nama dan cita-citanya :

Baca juga:   Sedikit Hadiah dari Kita

“Nama saya Idul.

Cita-cita saya ingin menjadi ustad”

Amin. Semoga cita-citamu tersampaikan, Dik.

Sesi terakhir : hadiah. Di sesi yang dipimpin oleh M. Arif Nasution ini, para siswa akan dibagikan hadiah jika mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh panitia dengan benar. Hadiah yang telah disediakan panitia berupa susu kotak, buku tulis, dan bolpoin. Meskipun berhadiah, kompetisi bukanlah tujuan dari sesi ini, melainkan untuk mengasah keberanian anak-anak berani tampil ke depan dan mengemukakan pikirannya. Pertanyaan yang diberikan oleh panitia juga sangat sederhana, jadi tidak akan menyulitkan para siswa.

Ada kejadian unik pada sesi ini. Ketika seorang panitia bertanya nama pahlawan yang berasal dari Sumatera Utara, ada seorang gadis kecil yang mengacungkan tangan. Tanpa ragu-ragu dan dengan bersemangat, gadis cilik ini tampil ke depan. Dalam sesi ini, ada aturan : murid yang sudah pernah menjawab dengan benar, tidak boleh mengacungkan tangan lagi. Dan gadis ini sangat senang, karena ia termasuk yang terakhir, ia tidak punya “saingan”. Ia tampil ke depan dengan senyuman termanisnya. Ternyata, ketika ditanya jawaban dari pertanyaan tadi, si gadis ini hanya diam saja, menatap mata panitia. Ketika dengan lembut pertanyaannya diulang lagi dan lagi, gadis itu hanya terdiam. Bukan karena gugup, tetapi memang tidak punya jawabannya. Akhirnya, ibu guru berbisik menyebutkan jawaban. Sportif? Jelas tidak. Tetapi ada poin lebih yang membuat gadis ini layak untuk mendapatkan hadiahnya : keberanian, tanpa malu untuk mencoba. Mungkin karena ia melihat teman-temannya sudah mendapatkan hadiah, dan hanya dia sendiri yang belum. Motivasinya sederhana : sekotak susu hadiah dari panitia. Gadis pemberani nan lugu ini masih kelas satu sekolah dasar.

Setelah semua sesi berakhir, I Komang Gde Subagia, anggota Astacala dan alumni IT Telkom mewakili Astacala untuk menyerahkan beberapa kenang-kenangan untuk sekolah tersebut. Kenang-kenangan berupa peralatan olahraga seperti bola kaki, bola basket, sepasang raket bulu tangkis, dan setabung shuttlecock. Harapannya, semoga alat olah raga tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para murid.

Baca juga:   Aksi Hari Bumi IT Telkom

Diakhir acara, ada foto bersama panitia bersama guru dan murid.

Acara sederhana itu pun akhirnya selesai. Waktu itu pukul dua siang. Hujan kembali turun. Memang hujannya agak kecil, tapi terlalu  deras untuk disebut gerimis. Setelah berbenah dan mengumpulkan semua peralatan, kami disuguhi kopi susu dan sepiring dodol garut beserta gorengan tahu.

Ruangan kelas tersebut masih saja ramai. Siswa sekolah dasar tadi memang telah pulang ke rumah masing-masing, tetapi di dalam ruangan kelas tersebut masih penuh dengan wajah-wajah muda penerus bangsa ini. Wajah-wajah imut dan lucu anak-anak kecil tadi terganti oleh remaja-remaja tanggung yang memenuhi ruangan kelas. Sebagian besar berseragam putih biru, walaupun ada beberapa yang tidak. Ya,saatnya gedung itu mengabdi untuk para siswa sekolah menengah pertama terbuka.

Setelah selesai “menyikat” habis dodol dan gorengan, kami pun pamit untuk pulang. Hujan mulai reda,sudah bisa disebut gerimis.

Ketika pamitan, salah seorang guru bertanya, ”Tidak sekalian SMPnya Mas?”

Maksudnya untuk melakukan pengenalan komputer untuk siswa SMP terbuka tersebut. Dengan sopan kami menjawab untuk lain kali saja, berhubung waktu kami yang terbatas.

Akhirnya, kendaraan yang kami tumpangi kembali melaju di jalan berbatu yang tak beraspal tersebut. Sesekali kami berpapasan dengan anak sekolah dasar yang tadi bermain bersama kami sedang berjalan pulang,tak peduli basah oleh hujan. Beberapa anak Astacala melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Di ujung jalan, seorang gadis kecil berjilbab putih dan berseragam sekolah dasar juga berjalan kaki, basah terkena hujan. Kami kenal wajah itu, wajah yang tadi bermain bersama kami. Dia berjalan bersama temannya sambil membawa sebuah termos yang berisi jualan titipan orang tuanya untuk dijual ke teman-temannya di sekolah. Ketika mendekat, kami melambaikan tangan. Gadis itu tidak balas melambaikan tangan, hanya tersenyum mengangguk-anguk memberi hormat, sambil berucap jelas, “Assalamualaikum…”.

***

Berikut sebagian foto dokumentasi IT Day di SD Negeri Tangsijaya.

Beberapa murid laki-laki sedang memperhatikan pengarahan dari anggota Astacala. Anak-anak ini sangat mudah untuk diakrabi. Tampak dengan kabur di balik jendela hutan kaki Gunung Kendang yang masih lebat.
Handung Dwipayana duduk berbaur dengan para murid. Tampak dalam gambar Handung ikut meneriakkan jargon : ”IT Day...!!! Ai... Ti... Dei...!!!”. Handung yang dikenal supel di antara anak Astacala mampu membaur dengan baik dan cepat dengan anak-anak kecil ini. Hal ini dapat dilihat dari sikap para murid yang sudah tidak canggung lagi dengan kakak yang satu ini.
Lanang sedang menjelaskan kepada para murid cara menggunakan komputer. Interaksi sosial antara mahasiswa dan masyarakat seperti yang dilakukan di kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepedulian sosial di generasi muda.
Seorang murid sedang mencoba menggunakan komputer, ditemani oleh Lanang. Sementara I Komang Gde "Gejor" sedang mendokumentasikan karya anak tersebut. Faktor ekonomi yang tergolong menengah ke bawah dan faktor geografis yang sulit diakses oleh transportasi menjadi sebagian penyebab kesenjangan fasilitas pendidikan di Indonesia.
I Komang Gde "Gejor" sedang menyerahkan kenang-kenangan dari Astacala kepada pihak sekolah disaksikan oleh guru-guru yang lain dan dihadapan para siswa. Kegiatan seperti ini diharapkan lebih sering lagi untuk semakin berbaur dan mengabdi kepada masyarakat.
Bolenk bersama seorang siswa yang menerima hadiah. Awalnya, siswa putri yang manis ini tidak punya jawabannya, tetapi dengan penuh percaya diri tampil ke depan demi mendapatkan hadiah susu kotak seperti teman-temannya yang sudah mendapatkannya. Keberanian, adalah alasan atas hadiah yang ia peroleh. Keberanian dalam usisanya yang masih lugu.
Beberapa orang siswa tampak berdiri di pintu kelas, mereka tampak antusias. Awalnya, kegiatan ini (sesuai pilihan pihak sekolah) hanya ditujukan untuk siswa kelas 5 dan 6. Sehingga siswa kelas lainnya tidak memperoleh kesempatan untuk ikut kegiatan ini. Tetapi di tengah acara, panitia mengijinkan mereka untuk ikut, setelah berdiskusi dengan pihak sekolah.
Salah seorang siswa SMP terbuka. Sekolahnya baru akan dimulai pukul satu siang hari, tetapi remaja tanggung ini datang jauh sebelum waktunya tiba. Hanya semangat dan rasa haus akan ilmu lah yang menjadi alasannya untuk melakukan itu semua. Kondisi ekonomi dan akses transportasi yang buruk dan jauh menjadi hambatan bagi remaja-remaja ini untuk menuntut ilmu di sekolah dengan fasilitas yang lebih lengkap. ”Ada 37 orang siswa yang terdaftar di sekolah terbuka kami”, demikian kata ibu wakil kepala sekolah.
Tegar sedang memberikan penjelasan di depan kelas. Meskipun menggunakan infocus, penyampaian materi ini agak terhambat oleh kurangnya pasokan listrik yang ada. Listrik di sekolah ini hanya mampu mendukung untuk sebuah infocus saja. Sementara dari 11 laptop yang disiapkan oleh panitia, 2 diantaranya tidak dapat menyala tanpa sambungan listrik secara lansung(tanpa baterai), sisanya kehabisan energi di awal kegiatan. Pada akhirnya hanya ada 5 laptop yang bisa dipergunakan sampai akhir, meskipun harus batal menonton satu video terakhir dikarenakan semua laptop telah kehabisan energi.

 

Tulisan dan Foto oleh Bolenk Astacala

  • Wanjritt… Aktual sekali. Selang beberapa jam dari Tangsijaya, beritanya langsung keluar. Salut lah buat Om Bolenk Astacala.

  • Harland

    buruan lulus om, ntar gw recommendasikan k detik.com :), lo jd penulis aja

  • Falaq17

    hahaha…
    kalah cepet gw. gw aja baru niat nulis.
    salut buat om boleng…

  • Memet

    mantap
    semoga acara ini bisa berlangsung secara periodik

  • Onie

    Ini baru Boleng, tp jgn lupa nulis untuk buku TA ya B-)

  • Susi

    mantap….. tingkatkan gannn… ckckckc

  • Prayogo

    Wah,, artikelnya boleh jg nih,,, boleh lah di terbitin,, hehehe

  • Lisna

    pengen ikutan.. 😀