Selamat Datang Angkatan Baru

Langkah-langkah itu begitu berat, limbung dan kaku. Tatapan mereka begitu layu, seperti tak kuat menahan lelah. Rambut kusut dan baju yang penuh lumpur, seperti ingin membagikan cerita, sepuluh hari penuh perjuangan, penuh derita dan pengalaman yang barangkali berlum pernah dan tak pernah ada dalam benak mereka. Tas carrier yang tak seberapa berat itu seperti menggelantung kuat di pundak-pundak kaku dan lemah itu. Ada yang berusaha menguat-nguatkan diri dengan berdiri lebih tegak, tapi lebih banyak yang menunduk lesu, badan gagah itu sudah tak ada, wajah ceria khas anak muda itu sudah lenyap seketika. Hanya lewat sepuluh hari saja.

Angkatan Lembah Hujan, Astacala

Di kaki yang dingin dan sepatu yang basah, aku berdiri di hadapan mereka, mencoba menerawang apa yang ada dalam benak-benak itu, apa yang ada dalam gelora mereka. Tiba-tiba selintas masa lalu menyilang di pikiranku. Sembilan tahun yang lalu, di tempat yang sama dan dalam posisi yang sama, aku berdua saja berdiri seperti mereka. Mungkin tak ada beda, tapi mungkin juga ada banyak bedanya.

Keletihan, kata orang, jika digabungkan dengan banyak keletihan, maka ia akan menghadirkan sakit tak terangkat. Sebaliknya, semangat jika dirangkum dari berbagai semangat, walau itu sedikit, mampu memberikan efek sehat yang tiada terkira. Sedikit semangat bisa menjelma menjadi segunung harapan jika ia mampu disinergikan dengan tepat. Tak peduli berapa letih tubuh yang menyanggahnya itu.

Buktinya, ketika sedikit demi sedikit mereka menyadari bahwa pagi itu adalah akhir dari jerih dan derita mereka, mata-mata itu mulai bercahaya. Seperti sepercik api, ia menyebar, membesar dan sanggup menghanguskan segala.

Tubuh yang semua lemah, perlahan bangkit, kepada yang semula menunduk pelan dan pasti menegak. Dan semuanya demikian.

Mereka kemudian mengusulkan sebuah nama untuk diri mereka, Lembah Hujan. Sebuah nama yang menurut mereka adalah perlambang yang tepat untuk penderitaan dan kerja keras mereka, sepuluh hari yang lewat.

Ketika giliranku berbicara, entah kenapa kata-kata yang sempat menggaung dalam pikiran itu tidak keluar. Ini sebetulnya yang ingin ku katakan : “Hei, anak muda, tidakah kau sadari, bahwa 10 hari itu hanya sedikit, tapi kalian sudah kalah. Dan dari sepuluh hari itu, tak ada yang kalian dapat, kecuali letih dan lelah, kecuali derita dan sedikit sesal”

Dalam bayanganku itu, aku melihat mereka menunduk seperti malu pada kenyataan, bahwa sebetulnya mereka bisa tak kalah, kalau saja mereka mampu memberi semangat pada diri mereka sendiri, kalau saja mereka bisa menghidupi semangat itu.

Lalu kulanjutkan begini “Lihatlah, ketika mengetahui derita yang kalian anggap perjuangan itu segera berakhir, semangat kalian seperti lahir lagi. Kenapa kalian tertipu? Kenapa kalian kalah oleh keletihan yang bisa dilawan?”

Sepuluh hari yang telah lewat itu, hanyalah awal yang sangat singkat. Hanya uji tak layak untuk melihat, apakah kalian adalah benar dan tahu apa yang hendak kalian masuki? Astacala hanya sebuah tempat, untuk kemudian menjadi rumah bagi mereka yang mengklaim diri mereka sebagai manusia yang sadar alam, sadar lingkungan.

Aku sebetulnya ingin berbicara tentang lingkungan yang semakin rusak oleh ulah manusia, oleh tindakan yang menjadi bagian dari keseharian kita. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tak pernah keluar. Mulutku menjadi kaku.

“Selamat datang, angkatan baru. Jangan sia-siakan slayer merah yang baru tersemat di lehermu itu. Merah itu sederhana, tapi ia perlambang untuk semangat Astacala. Ia tak mati, dan tak akan pernah”

Maka dari itu jagalah.

Kata-kata itu akhirnya tak pernah muncul, persis ketika aku ingat sebuah pepatah, alamlah guru yang terbaik.

Lembah Hujan, biarlah mereka berdiri dari langkah mereka sendiri. Biarlah mereka lahir dari sesuatu yang mereka anggap sebagai rahim ibu mereka sendiri. Biarlah mereka memahami Astacala, ketika mereka sanggup untuk menghuni tempat itu dengan cara dan kesadarannya sendiri.

Tulisan dan Foto oleh Jimi Piter

7 comments

  1. Welcome Lembah Hujan! 😀

    “Kalau kau tak bisa menjadi jalan raya, jadilah jalan setapak yang dapat membawa orang menuju mata air.” -Jimi Piter a.k.a Jimbo-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *