Sebuah Coretan untuk Direnungkan


ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!

* * *

Oknum yang bertanya itu adalah Singo. Suaranya lantang, tanpa ragu, tanpa basa-basi, tegas, dan jelas.

“Apakah mereka layak menjadi saudara kita?”

Aku kaget mendengar pertanyaan yang bernada ragu itu. Komandan Latihan dan para panitia pun bingung untuk menjawab, sejenak mereka saling pandang. Setelah semua penderitaan ini, mengapa pertanyaan itu yang muncul? Aku mengharapkan yang lebih baik.

Sebelas hari bukanlah waktu yang singkat untuk dilupakan. Setelah melewati long march, materi kelas, praktik gunung hutan, direndam, disiram, dikoprol, dipush up, beberapa hari survival, sampai tidur kalong yang menyebalkan, masih saja dapat pertanyaan itu. Bahkan, di menit-menit akhir penutupan pun, kami masih diminta push up 15 seri, kami masih sanggup. Push up yang tak jelas esensinya apa. Tetapi mengapa harus pertanyaan itu?

Hari itu adalah hari yang bersejarah buatku, 28 Januari 2007.

Angkatan Kawah Asa, Astacala

* * *

Sejak itu, 18 orang resmi menjadi anggota PMPA Astacala IT Telkom. Tak terasa, sudah 5 tahun berlalu sejak hari itu. Tak sedikit yang terjadi selama rentang waktu itu. Seharusnya, waktu yang 5 tahun itu sudah cukup untuk membuat perubahan besar dalam hidup seseorang. Mereka yang dulu berdiri dengan topi rimba dan slayer oranye seharusnya sudah tidak sama lagi, sudah menjadi manusia-manusia yang memiiki jiwa Astacala yang tangguh.

Namun demikian, semangat, ambisi, dan obsesi akan petualangan menakjubkan yang kurasakan sekarang masih sama dengan 5 tahun lalu. Berbagai kegagalan silih berganti sudah dialami. Ekspedisi Sumatera, Ekspedisi Tebing Sepikul, pendakian Gunung Slamet dan Argopuro, pendakian 5 puncak di 5 pulau, sampai tidak lulusnya beberapa orang adik dalam Sidang Anggota Muda adalah bukti nyata banyaknya kegagalan yang kualami. Masih banyak lagi kegagalan yang lain. Tak ada catatan bagus yang bisa membuatku puas atau tersenyum bangga. Sementara gletser di Cartenz mulai mencair, tak mau menunggu.

Sudah lima tahun, tapi aku belum puas dengan pencapaian yang ada.

* * *

Sebuah pertanyaan : setelah masuk Astacala, apa yang seharusnya diperoleh?

Baca juga:   Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 1)

Hanya sedikit referensi tertulis di Astacala yang bisa memberikan jawabannya. Salah satunya ada di Anggaran Dasar. Dalam Anggaran Dasar Astacala, dituliskan bahwa tujuan Astacala adalah untuk melaksanakan Peran Perguruan Tinggi sebagai pusat pengembangan dan penelitian ilmu pengetahuan, tempat pengabdian masyarakat serta tempat mendidik manusia agar mempunyai jiwa yang jujur, bertanggung jawab, percaya kepada diri sendiri, bersusila, mempunyai keseimbangan mental dan fisik, penuh pengabdian kepada masyarakat, mempunyai jiwa korsa serta bijaksana”.

Selain itu, juga dituliskan “bertujuan turut serta meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang  Maha Esa, mengembangkan kepribadian anggota hingga tumbuh rasa percaya kepada diri sendiri, berani menghadapi kenyataan, cinta tanah air dan mempererat rasa persaudaraan di antara sesama anggota pada khususnya dan pada masyarakat tanpa membedakan suku, ras, golongan, agama, dan kepercayaan masing-masing”.

Sudahkah hal itu tercapai? Sudahkah setiap anggota Astacala memiliki jiwa itu? Sudahkah pendidikan dasar yang beradu sangar, kehidupan sekretariat yang berat, dan perjalanan panjang yang mengharu-biru itu membuat kita menjadi lebih baik?

* * *

Mereka yang sudah 5 tahun atau sudah selesai dari kampus ini,seharusnya sudah memiliki itu. Setidaknya sebagian.

ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!

* * *

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Tulisan oleh Bolenk Astacala
Foto dari Dokumentasi Astacala
Puisi dari OST Gie – Cahaya Bulan