Sebuah Perjalanan Kecil Mengalunkan Kemerdekaan


Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah perjuangan yang panjang. Alam Indonesia, sebagai salah satu entitas yang diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa ini, telah menjadi sebuah tempat bagi mereka para pejuang, untuk mengabdikan segenap jiwa dan raga di saat berkecamuknya perjuangan meraih kemerdekaan. Sebagai seorang insan yang menghargai itu, sungguh layak bagi kita untuk menghayati bahkan mencari cara untuk lebih menghadirkan makna “perjuangan” di benak diri. Maka tak ayal kami akhirnya memutuskan untuk mencoba lebih memahaminya dengan merasakan sebuah perjuangan. Perjuangan kecil yang kami tujukan untuk tanah air ini, yaitu pendakian Gunung Semeru.

Pos Perijinan Ranupane

Pendakian gunung yang terletak di Kabupaten Malang dan Lumajang adalah salah satu gerakan kecil kami untuk mengejawantahkan kata “perjuangan” tersebut. Adalah suatu hal rutin yang jamak dilakukan beberapa khayalak umum dan kalangan pecinta alam bahwa setiap tanggal 17 Agustus di Gunung Semeru, diadakan sebuah upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi kami sendiri, ini adalah pendakian pertama kami ke Gunung Semeru, gunung yang terkenal menghadirkan panorama yang “eksklusif” bagi para pendakinya.

Butuh banyak hal yang harus kami persiapkan dalam pendakian Gunung Semeru ini. Karena perencanaan yang matang tentu akan berpengaruh besar dalam kelancaran sebuah kegiatan pendakian, misalnya dalam mengatur perlengkapan dan logistik. Selain itu dalam mengurus proses perizinan di balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kami harus menyediakan surat keterangan sehat dan melampirkan fotocopy tanda pengenal. Dalam pendakian ini, kami memilih untuk melalui rute umum, yaitu melalui lereng bagian melewati Ranu Pane dan Ranu Kumbolo.

Perjalanan dimulai dari terminal Kota Malang menuju Desa Tumpang yang dapat di akses dengan angkutan umum dengan biaya sekitar Rp 5.000,00 per orang. Kemudian dari Tumpang perjalanan dilanjutkan menuju Pos Ranu Pane, yang hanya bisa dilalui oleh jip atau truk sayuran. Dua kendaraan ini dapat dijumpai di belakang Pasar Tumpang, dengan ongkos Rp 30.000,00 per orang. Dengan angkutan ini para pendaki akan diantar ke pos perizinan pertama, di mana para pendaki harus menyerahkan surat surat yang perlu dipersiapkan dalam proses perizinan memasuki TNBTS. Di pos ini pula kita membayar karcis masuk TNBTS sebesar Rp 2.500,00 dan asuransi Rp 2.000,00 per orang. Ada pula biaya charge bagi para pendaki yang membawa kamera pribadi sebesar Rp 5.000,00 dan tenda dengan biaya Rp 20.000,00 Kemudian disini kita akan diberi surat-surat untuk ditunjukkan di Pos Ranu Pane. Setelah dari pos perizinan ini, jip akan melanjutkan perjalanan hingga Pos Ranu Pane.

Baca juga:   Sekali Mendaki Fuji, Puncak Tertinggi Negeri Matahari Terbit
Panorama Ranu Kumbolo

Perjalanan dilanjutkan dari Pos Ranu Pane dengan berjalan kaki sekitar 13 km ke arah barat daya melalui jalan setapak yang melipir bukit-bukit dengan vegetasi yang rimbun. Namun sepanjang tiga kilometer di awal jalur ini, jalur setapak yang akan dilewati telah berupa jalan dari coran semen.

Dalam perjalanan dari Pos Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo terdapat tiga pos kecil yang akan dilewati. Ranu Kumbolo merupakan tempat camp istirahat bagi para pendaki di hari pertama setelah melakukan perjalanan 3 sampai 4 jam dari Pos Ranu Pane. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang berada di ketinggian 2400 mdpl. Sebuah danau yang dikelilingi bukit-bukit sabana yang ditumbuhi pohon-pohon cemara. Danau ini juga biasa dijadikan tempat untuk memancing oleh para pendaki maupun penduduk sekitar. Sesuai perencanaan, kami mendirikan camp hari pertama di Ranu Kumbolo.

Kemudian perjalanan dilanjutkan di hari esoknya menuju Kalimati. Dari Ranu Kumbolo kami langsung dihadapikan oleh tanjakan yang lumayan terjal dengan terik matahari yang menyengat. Tanjakan ini sangat populer di kalangan para pendaki dengan sebutan Tanjakan Cinta. Ada sebuah mitos yang terkenal bahwa jika seorang pendaki berhasil mendaki sampai ujung tanjakan ini tanpa menolehkan kepala ke belakang, maka rasa cintanya pada seseorang akan tersampaikan.

Jalur Oro-oro Ombo

Setelah sampai di ujung Tanjakan Cinta, kami dihadapkan dengan sebuah daerah datar sangat luas yang dinamai Oro-oro Ombo. Daerah ini ditumbuhi rumput-rumput kering dan ilalang yang tinggi, mulai dari mata kaki hingga melebihi tinggi orang dewasa. Rute yang harus dilalui untuk melewati Oro-oro Ombo ini adalah melipir, menuruni punggungan Gunung Kumbolo. Kondisi tanah yang gersang, membuat setiap derap langkah kami selalu memunculkan kumpulan debu yang berterbangan. Hal inilah yang biasanya membuat nafas para pendaki sesak dan kering, sehingga dapat membuat kondisi fisik mengalami keletihan.

Kemudian jalur perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Kepolo dengan melewati hutan cemara yang dinamakan Cemoro Kandang. Setelah melewati rute yang mendaki, pohon-pohon edelweis pun mulai terlihat di Gunung Kepolo ini. Banyak pula tumbuh rumput-rumput cokelat yang kami lewati. Hamparan rumput ini menghiasi perjalanan kami menuju Pos Kalimati.

Baca juga:   Sang Dewi Rengganis di Puncak Argopuro 3088 Mdpl (Part 2)

Setelah sedikit lagi melewati hutan cemara, sampai juga kami di Pos Kalimati, sebuah pos yang terletak pada ketinggian 2700 mdpl. Kondisi di Pos Kalimati ini adalah sebuah padang rumput luas yang terik dan dikelilingi hutan cemara.

Pos Kalimati

Sehari sebelum hari peringatan kemerdekaan itu, di Pos Kalimati telah terlihat banyak tim SAR dan RANGER. Menurut selentingan kabar, mereka ditugaskan menjaga para pendaki agar tidak melanjutkan pendakiannya ke Puncak Mahameru untuk melakukan upacara dikarenakan kondisiGgunung Semeru yang sedang dalam kondisi waspada.

Menjelang sore hari, kabut tebal mulai turun di Kalimati, dan tiada sedikitp un berkurang sampai waktu tengah malam. Bahkan ketika malam hari, turun hujan disertai angin kencang, sehingga tanpa keberadaan tim SAR dan RANGER pun malam ini sungguh tidak memungkinkan bagi para pendaki untuk melakukan perjalanan ke Puncak Mahameru. Kondisi ini terjadi hingga sekitar pukul empat pagi.

Pagi yang cerah pun tiba setelah hujan yang turun semalaman. Akhirnya upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2011 pun dilaksanakan, bertempat di Kalimati. Tetapi hal ini tidak menerpa semangat para peserta upacara yang awalnya berniat melaksanakan prosesi tersebut di Puncak Mahameru.

Perlahan lagu “Indonesia Raya” pun berkumandang dengan gagahnya di tempat tersebut. Peserta upacara saat itu berasal dari suku-suku yang berbeda, namun suara kami menyatu serempak mengalunkan beberapa lagu kebangsaan Indonesia.

Suasana Upacara HUT RI

Tujuan dari perjuangan yang kami lakukan ini hanyalah sebuah hal yang sangat kecil, yaitu mengumandangkan lagu Indonesia Raya di puncak tertinggi di Pulau Jawa, walau pada akhirnya hanya tercapai di Kalimati. Tetapi kami yakin suara dan semangat kami akan menjulang melewati tingginya Puncak Mahameru.

“Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia bersatu.. “ (Indonesia Raya).

Tulisan oleh Ilfan Firqad
Foto oleh Tim Pendakian Semeru 17 Agustus 2011