Natal di Puncak Salak I

Natal di Puncak Salak I

Gunung Salak, siapa yang tak kenal. Informasi gunung ini beberapa kali masuk di media baik cetak maupun elektronik dengan isi berita pendaki hilang di kawasannya.

Sekilas informasi mengenai Gunung Salak menurut selebaran yang dibagikan di pos pendakian, Gunung Salak ditetapkan sebagai taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Ini tertuang dalam SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003 yang merupakan perubahan fungsi kawasan eks Perum Perhutani atau eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luasan ±113.357 ha.

Berdasar luasan tersebut, terdapat dua puncak yang dinamai Gunung Salak, yaitu Puncak Salak I dengan ketinggian 2210 mdpl dan Puncak Salak II dengan ketinggian 2180 mdpl. Dan memang dari bentukan geografisnya kedua puncak ini berlokasi dalam satu gunung.

Gunung Salak dari Google Earth

Hari Selasa itu, 20 Desember 2011 resmi keluar pengumunan bahwa tanggal 26 Desember 2011 adalah hari libur, artinya ada waktu yang cukup untuk melakukan perjalanan. Keputusan untuk ikut merayakan Natal di puncak salak sepertinya tepat bagi saya.

Mulai merencanakan perjalanan tersebut dengan mencari informasi jalur pendakian. Secara resmi TNGHS mengumumkan ada dua jalur pendakian ke Puncak Salak. Yang pertama adalah jalur pendakian melalui arah barat laut dari Puncak Salak I, yaitu Jalur Resmi Pasir Rengit. Kemudian yang kedua adalah melalui arah selatan dari Puncak Salak I juga, yaitu Jalur Resmi Cakuang. Selain dua jalur pendakian tersebut, ada beberapa jalur pendakian lain yang diklaim oleh TNGHS sebagai jalur ilegal, di antaranya Jalur Giri Jaya, Jalur Cimelati, dan masih ada beberapa lagi. Desas desusnya jalur jalur tersebut adalah hasil dari rintisan para organisasi pecinta alam yang suka melakukan pendidikan dasar di area Gunung Salak.

Untuk perjalanan kali ini saya putuskan akan mendaki melalui Jalur Resmi Cakuang, pemilihan jalur ini dipengaruhi oleh jumlah tim saat itu. Karena bisa dibilang ide perjalannya cukup mendadak, alhasil anggota tim hanya satu orang, yaitu saya sendiri. Maka Jalur Resmi Cakuang menjadi pilihan untuk pendakian karena jalur ini yang paling ramai penggunanya, disamping pendataannya yang ketat.

Baca juga:   Gunung Cikuray 2818 Mdpl

Untuk mencapai titik awal pendakian jalur ini, dari Terminal Lebak Bulus Jakarta menggunakan bus jurusan Sukabumi, turun di Stasiun Cicurug (Pasar Cicurug), keberangkatan hari Sabtu 24 Desember 2011 dari Lebak Bulus pukul 08.00 WIB, dengan ongkos Rp 18.000,00. Kemudian dilanjutkan menggunakan angkutan kota warna putih jurusan Pasar Cicurug – Cidahu, turun di Cidahu ditarik ongkos oleh sang sopir Rp 5.000,00. Selanjutnya untuk mencapai titik awal pendakian, yaitu Bumi Perkemahan Cakuang diputuskan menumpang ojek dengan ditukar uang sebesar Rp 15.000,00 dan ini menurut informasi dari penduduk setempat terlalu mahal. Biasanya dengan uang Rp 10.000,00 mereka sudah bisa menumpang ojek dari Cidahu – Cakuang. Sebenarnya ada alternatif lebih murah untuk menempuh jarak Cidahu ke Cakuang, yaitu dengan mencarter angkot, apabila tim pendaki lebih dari tiga orang.

Sesampainya di pos, diwajibkan untuk mendaftar, baik akan melakukan pendakian ataupun sekedar berkemah di kawasan tersebut. Untuk biaya pendakian perjalanan kali ini, penjaga memberikan tarif Rp 12.500,00 dengan rincian dua malam berada di kawasan, yaitu Rp 5.000,00 per malam per orang dan retribusi Rp 2.500,00 per orang. Sedikit mengalami masalah ketika penjaga mengetahui anggota tim hanya satu orang, namun karena saat itu ada pendakian masal yang sudah berangkat dari pagi hari dari pos sebanyak 60 orang serta pertimbangan peralatan pendakian yang saya bawa, akhirnya diperbolehkan untuk melakukan pendakian.

Jalur Resmi Gunung Salak

Dengan target mengejar rombongan pendakian masal, tepat pukul 12.00 WIB dengan penuh semangat saya meninggalkan pos perizinan. Beberapa kali bertemu tim lain yang turun dari Kawah Ratu, yang kebanyakan keluarga ditemani dengan penunjuk jalan dari pihak TNGHS. Jarum jam tangan menunjukkan pukul 14.10 WIB saat sampai di Pertigaan Bajuri sekitar 4 km dari pos perizinan. Pertigaan Bajuri adalah sebutan pertigaan ke arah Kawah Ratu dan puncak. Di situ rombongan pendakian masal mendirikan camp, menurut informasi dari salah seorang partisipannya mereka akan melanjutkan perjalanan ke puncak tengah malam.

Memastikan posisi pada peta, menghitung ulang waktu perjalanan, mendasari diputuskan untuk mendahului rombongan pendakian masal. Hujan terus mengiringi perjalanan dari awal masuk hutan. Satu jam kemudian (S 06°43’25.1”; E 106°42’56.4”) sekitar 2 km dari Pertigaan Bajuri, terdapat tempat nyaman untuk membuat camp, cukup untuk satu buah tenda doom isi 4 orang. Dan tempat tersebut saya tetapkan untuk menikmati malam Natal 2011. Malam yang dihiasi hujan.

Baca juga:   Gunung Gede, Sebuah Kisah Keramahan Ramadhan

Keesokan harinya, pukul 06.30 WIB semua sudah rapi masuk kembali dalam carrier. Sarapan bubur instan cukup menambah semangat yang meluap-luap untuk mencapai puncak. Air hangat dalam termos pun ikut mengawal semangat menuju puncak saat itu. Banyak titik-titik terjal selepas dari Pertigaan Bajuri, beberapa kali melakukan free climbing, layaknya bouldering di batu dengan ketinggian 3 m dengan tingkat kesulitan 4 , terdapat alat bantu berupa webbing yang sudah disimpulkan pada anchor.

Pukul 09.50 WIB, saat melihat papan bertuliskan Puncak Salak I 2210 mdpl. Tepat 25 Desember 2011 kaum Nasrani merayakan Hari Natal, dan saat itu pertama kalinya seorang Andi Wirawan mengunjungi Puncak Salak I.

Andi Wirawan di Puncak Salak I

Tulisan dan Foto oleh Andi Wirawan