Rigging Di Gua Macan, Menikmati Ketakutan Pada Pekatnya Kegelapan


“Being frightened is an experience you can’t buy.”
–Anthony Price – Sion Crossing (1984)-

Sembari menarik untaian tali kernmantel statis putih dari dalam dry bag, sekali lagi kuarahkan pandangan mata ke back up anchor itu, sebuah pilar pendek tempat menambatkan carabiner oval yang terpasang pada ikatan simpul delapan. Masih ada sedikit keraguan apakah back up anchor yang telah kubuat itu memiliki perhitungan fall factor yang tepat.

Saat itu aku teringat pada pertanyaan salah seorang instrukturku ketika pendidikan lanjut dulu,

“Mana yang harusnya lebih kuat Mut, main anchor atau back up anchor?”.

Back up anchor, soalnya kalau main anchornya aja gak kuat apalagi back upnya, iya ga sih?” jawabku ketika itu.

“Bikin main anchor sekuat mungkin, dan bikin back up anchornya lebih kuat lagi.”, itulah jawaban yang kudapat dari pertanyaanku. Tidak masuk akal secara teori, namun itulah yang harus aku praktikkan mulai saat itu.

Peralatan

Sekitar dua meter panjang tali kernmantle telah kukeluarkan dari dry bag. Tidak membuang waktu, bergegas kubergerak untuk segera menyelesaikan lintasan SRT (single rope technique) ini. Cepat-cepat kupasang peralatan lain untuk menuruni gua vertikal ini. Sebagai seorang riggingman, pekerjaan rigging baru bisa dikatakan selesai ketika sudah mencoba menuruni dan menaiki sendiri lintasan SRT yang telah dibuat, memastikan bahwa lintasan SRT sudah aman untuk dilalui seluruh anggota tim penelusur.

Menyiapkan tali

Satu set SRT ditambah dua buah carabiner snap dan sling webbing segera saja menempel di badanku. Beberapa alat tambahan ini sengaja kubawa untuk membuat variasi deviation anchor, mencegah terjadinya friksi tali pada tebing gua, dua meter di bawah tempatku berdiri saat itu.

Jumar kutambatkan pada tali kermantle. Kupindahkan carabiner cowstail dari webbing pengaman ke loop main anchor. Mulai kumasukkan tali kernmantle ke dalam descender. Kubuat simpul untuk menguncinya, mencegah agar aku tidak langsung merosot ketika melepas cowstail nanti. Pelan-pelan aku mencoba membebani lintasan. Setelah dirasa cukup kuat, satu per satu kulepas pengaman yang masih terikat, diawali dengan jumar, cowstail, kemudian terakhir simpul pengunci pada autostop. Beban tubuhku kini berpindah sepenuhnya pada descender.

“Huhhh…”, sambil tetap memegang descender, kupakai bahuku untuk menyeka keringat di mukaku. Keringat hampir sepenuhnya membasahi coverall merah yang kupakai. Bukan karena gerah, namun karena kegugupan sudah mulai mendominasi perasaanku saat itu.

Baca juga:   Penelusuran Gua Kraton dan Gua Cikaray

“Kong, liatin talinya, kalo ada yang friksi langsung kasih tau gue!!!”, teriakku pada Engkong yang menjadi second mand dan dari tadi membantuku rigging.

“Sip Muth.”, jawab Engkong. “Bismillah”, ucapku sambil mulai kuturuni lintasan slap ini menuju bibir tebing.

Sesampainya di bibir tebing, aku berhenti. Kubuat simpul pengunci pada descender. Dengan dipandu oleh cahaya headlamp, mataku bergerak untuk menemukan dua buah lubang tembus yang akan kugunakan sebagai tempat menambatkan sling webbing dan carabiner snap, guna membuat deviasi pada lintasan..

Sekitar dua puluh menit kemudian, dua buah carabiner snap telah terpasang pada sling webbing. Aku segera memasukkan tali ke dalam dua buah carabiner itu. Dua buah carabiner yang saling tarik menarik memindahkan arah lintasan menjauhi bibir tebing.

Kutarik sekitar lima meter tali dari dalam dry bag, kubiarkan menggantung begitu saja. Kemudian kubuka pengunci pada autostop, mulai kutekan tuas desecender autostop biru Petzl itu.

Diiringi deras suara aliran sungai bawah tanah di bawah sana, perjalananku segera dimulai. Kegelapan total telah menungguku di bawah sana. Cahaya headlamp tidak mampu mencapai dasar gua. Perlahan dan pasti tubuhku bergerak ke bawah. Sedikit ada hentakan, mulai kuatur ritme turunku. Tangan kiri mengontrol tuas, tangan kanan mengulur tali, sambil sesekali menarik untaian sisanya dari dalam dry bag.

Waktu seakan berjalan melambat, setiap detik terasa begitu lama. Ketakutan yang tak beralasan mulai menyapaku.

Gua Macan

Setelah sekitar 20 meter kutiti lintasan, autostop mulai panas karena bergesekan dengan tali. Kuputuskan untuk berhenti sejenak. Kutarik nafas panjang, mencoba menghilangkan rasa ketakutanku. Kupalingkan mata dari tebing yang masih lamat-lamat terlihat di depanku. Aku melihat sekeliling, gelap. Kutengok ke bawah, tidak tampak apa pun juga. Kemudian kutengadahkan kepala ke atas, hanya terlihat seutas tali, seutas kernmantle putih berdiameter 10.5 mm tempatku bergantung saat itu.

Kumatikan headlamp dalam kesendirian kegelapan yang pekat ini. Aku menyukai perasaan ini, sensasi yang semenjak dulu memang selalu aku cari. Ketakutan yang murni. Karena aku selalu percaya bahwa Tuhan memang sengaja memberikan rasa takut pada diri manusia agar mereka semakin berani, karena keberanian hanya akan muncul pada setiap hamba yang mampu mengalahkan rasa takutnya.

Baca juga:   Sekolah Caving Lembah Purnama

1 detik…
10 detik…
100 detik…
Cukup lama aku menikmati kegelapan ini…

Kunyalakan kembali headlamp, kubuka simpul pengunci pada autostop, segera kulanjutkan perjalanan menuruni lintasan. Sekitar 10 meter kemudian simpul tali tempat menyambungkan static hijau telah keluar dari drybag. “Okelah 5 meter lagi nyampai bawah.”, kataku pada diri sendiri. Memang kernmantle yang saat itu aku pakai kurang panjang untuk mencapai dasar gua sehingga harus disambung dengan kernmantle yang lain.

Dengan bantuan jumar, chest, dan foot loop, cepat saja kulewati dua buah simpul penyambung itu. Disambut dengan derasnya bunyi aliran sungai  bawah gua ini, sejurus kemudian kakiku akhirnya menapak dasar gua. “Alhamdulillah” ucapku bersyukur kala itu.

Sungai bawah tanah

Tidak membuang waktu terlalu lama di dasar gua, kupasang sebuah hand ascender hijau bermerk Atlas. Berikut kemudian kukaitkan chest ascender kuning Petzl ke lintasan. Aku mulai menaiki lintasan yang baru saja kuturuni ini.

Sedikit terengah-engah, sekitar dua belas menit kemudian aku telah sampai di atas lagi. Kulihat Engkong dan Sigit duduk di sekitar anchor.

“Gimana Kong, enggak ada friksi kan waktu gue turun tadi?” tanyaku pada Engkong.

“Nggak ada kok Muth.”, jawaban yang kuharapkan muncul dari mulut Engkong.

“Alhamdulillah.”, ucapku bersyukur telah menyelesaikan riggingku.

Namun setelah tiga kali dipakai turun, ternyata ada sedikit friksi pada tali. Deviation anchor yang kubuat tidak mampu sepenuhnya menjaga arah pembelokan tali. Deviasi tidak mampu menahan goyangan yang terjadi bila menanggung beban yang terlalu berat. Akhirnya penelusuran dilanjutkan dengan menggunakan lintasan lain yang juga telah selesai pembuatannya.

Meskipun sudah beberapa kali aku bertindak sebagai riggingman, ternyata hari itu ada kesalahan yang kubuat dalam pembuatan anchor. Ada rasa penyesalan, karena sedikit saja kesalahan perhitungan yang kulakukan mungkin saja berakibat fatal.

Aku sadar, dalam caving yang dibutuhkan bukanlah pengalaman semata, tetapi juga perhitungan yang tanpa cela. Seperti kata salah seorang instruktur padaku dulu, “Caving tidak mengenal toleransi kesalahan sekecil apapun, yang ada hanyalah zero error tolerance“.

Baca juga:   Jejak Kami di Perut Bumi

Catatan :
Ditulis pada Juni 2010. Berdasarkan pengalaman penulis ketika melakukan rigging di Gua Macan pada Sekolah Caving Lembah Purnama Astacala, 12-14 Maret 2010.

Tulisan oleh Wisnu Angga Firdy
Foto oleh Tim Sekolah Caving Astacala Angkatan Lembah Purnama

  • Gelap

    boleh ah sedikit komen..
    penggunaan talinya bener 12mm?
    soalnya dengan tali 11 mm aja klo pake aotostop terus berat badan kurang dari 60kg itu biasanya akan kesulitan untuk turun bahkan cenderung bloking… trims buat infonya…

  • AF

    Terimakasih atas komennya.
    Barusan abis dicheck lagi, ternyata statisnya 10.5