Penelusuran Gua Kraton dan Gua Cikaray


“Gua, ibarat suatu buku yang merekam berbagai episode geologi-bioarkeologi. Setiap langkah di dalamnya ibarat melintasi halaman yang berisi sejarah dalam bahasa dan ucapan yang memikat.” — R.K.T Ko – Instroduksi Karstospeleologi

Menuruni Lintasan SRT

Kesunyian ini terasa semakin mengerikan saja. Sendirian pada kedalaman  sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah adalah sebuah pengalaman yang baru bagiku. Apalagi terbayang-bayang dalam benakku cerita yang tadi dituturkan oleh Loreng mengenai kemunculan ular jejadian yang menghuni gua ini. “Beuh, semoga aja gak ada apa-apa yang muncul” kataku menenangkan diri sendiri.

Duduk di  teras gua yang hanya selebar 4 meter persegi dengan mengenakan sebuah harness sebagai pengaman semakin membuatku tidak nyaman saja.  “Wid! Widi!!!”, teriakku pada Widi yang berada satu pitch di atasku. “Yo…” , terdengar jawaban Widi beberapa saat kemudian. Rasa ngantuk yang luar biasa besarnya memaksaku untuk selalu berkomunikasi dengan anggota tim yang lain.

Malam itu kami sedang mengadakan penelusuran ke dalam Gua Kraton dalam rangka Pendidikan Lanjut Caving yang sedang aku ikuti. Gua Kraton adalah sebuah gua vertikal dengan kedalaman sekitar 80 – 100 meter yang terletak di daerah Tajur, Bogor. Berangkat dari Bandung pada pagi harinya, kami sampai di lokasi sekitar pukul 15.00. Setelah mengurus perijinan, mendirikan camp, dan makan malam, kami segera saja bergerak memulai penelusuran.

Kami memulai penelusuran sekitar pukul 20.00. Anggota tim yang turun adalah aku, Widi, dan Boleng sebagai instruktur kami. Sedang yang bertugas sebagai tim base camp adalah Kresna, Handung, dan Widdha. Karena Gua Kraton adalah gua vertikal, maka terlebih dahulu dilakukan proses pembuatan anchor/rigging lintasan SRT (Single Rope Technique).  Yang membuat rigging saat itu adalah Boleng dengan Widdha sebagai secondman.

Seusai melakukan rigging, satu per satu kami mulai turun ke bawah. Yang pertama turun adalah Boleng, kemudian aku dan Widi. Karena keterbatasan alat yang kami miliki, kami terpaksa melakukan sistem transfer alat. Satu persatu pitch dengan lancar kami lewati. Namun menginjak pitch ketiga, masalah muncul. Terbentur oleh keadaan gua, sistem transfer tidak dapat dilakukan. Kemudian diputuskan bahwa aku dan Boleng yang selanjutnya meneruskan penelusuran. Namun akhirnya hanya Boleng sendiri yang mencapai dasar gua. Aku sendiri terhenti di pitch 4.

Baca juga:   Perjalanan Menelusuri Gua Terdalam Pulau Jawa

Setelah selesai melakukan penelusuran di bawah, kami segera SRTan naik ke atas. Boleng naik pertama, kemudian Widi, Aku sendiri menjadi orang terakhir yang naik ke atas sembari melakukkan cleaningalat. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi ketika kami memulai pergerakan keluar dari dalam gua.Ketika keluar dari gua, matahari sudah menyingsing di atas kepala kami. Begitu sampai di camp yang terletak di mulut gua, kami segera beristirahat karena malam harinya kami masih akan melakukan penelusuran lagi. Kali ini ke Gua Cikaray. Sebuah  gua horizontal yang letaknya tidak jauh dari situ.

Di Lorong Gua

Berjalan terbungkuk-bungkuk, jongkok, merayap, dan merelakan air membasahi coverall terpaksa kami lakukan untuk dapat menikmati setiap sudut dari Gua Cikaray. Malam ini, kami melanjutkan penelusuran kami di kawasan karst Tajur. Penelusuran sendiri kami mulai sekitar pukul 21.00. Personel penelusuran adalah aku, Kresna, Handung, dan Boleng. Berbeda dengan Gua Kraton, kali ini kami hanya membawa peralatan penelusuran gua horizontal.

Rupanya Boleng sebagai instruktur kami ingin semaksimal mungkin dalam mengeksplor gua ini. Setiap sudut, sekecil dan sesempit mungkin kami jelajahi. Bagi Handung, hal ini terasa sangatlah menakutkan. Maklum saja, ukuran badan Handung memang lumayan besar sehingga menyulitkannya melalui celah-celah sempit. Setelah beberapa lamanya melakukan penelusuran, kami memutuskan untuk segera mengakhirinya. Namun sebelum itu kami akan melakukan sebuah hal yang menyenangkan. Mandi di gua. kami berendam dengan puasnya di sana, apalagi dengan rasa gatal yang sedari tadi telah menyerang kami, berendam terasa sangat menyenangkan.

Kami keluar dari gua pada pukul 01.30. Setelah membersihkan diri, kami segera beristirahat. Paginya, setelah berpamitan, kami memulai perjalanan pulang menuju sekre. Pukul 15.00 kami telah sampai sekre dengan selamat.

Catatan :
Pendidikan Lanjut Caving Jejak Rimba Astacala, 13-15 Februari 2009.

Tulisan oleh Wisnu Angga Firdy
Foto oleh Pendidikan Lanjut Caving Jejak Rimba Astacala

  • Bolenk

    wah..ternyata muncul juga tulisannya,bung..
    mantap!

    Diklanmu,yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2009,akan yang menjadi hari yang tak akan terlupakan seumur hidupku..Maaf,kalo menyisakan banyak masalah.

  • Widi

    mantap nu..!! kata2 yang menggambarkan perasaanmu sebagai pembuka dan kemudian ada sedikit dialog dengan orang lain masih melekat dengan tulisanmu.

    tulisan ini jadi mengingatkanku kalo goa keraton adalah pengalamanku pertama masuk goa dan masih satu2nya goa vertikal yang pernah aku masuki.

  • Pien

    mantap nu,,
    pengalaman pertama masuk goa vertikal..
    sayang dulu diklannya ga bareng..
    -salam

  • edi mulyadi

    tolong di klaripikasi goa keraton itu adanya di desa leuwikaret kec.klapanunggal bogor

    salam edi mulyadi
    tim pelestari goa desa leuwikaret

  • edi mulyadi

    goa kerton keberadaan nya bukan di desa tajur tapi di desa leuwikaret.

  • Mas Edi Mulyadi : Terimakasih atas informasinya.