Mencumbu Tebing Parangndog

Related Articles

“Memanjat tebing yang belum pernah aku panjat!”, itulah kalimat pertama yang terlintas di kepalaku menjelang liburan panjang semester genap ini. Permasalahannya, siapa yang mau menjadi partner untuk menemaniku menggenggam tonjolan-tonjolan pada batuan vertikal baru ini. Beberapa saudara di sekretariat sudah mempunyai rencana masing-masing untuk mendaki gunung. Sisanya kurasa tidak tertarik merayapi tebing karena tidak ada yang memastikan diri ketika kutawari ajakan ini. Tetapi akhirnya niatku ternyata terkabul pada TWKM XXIII di Medan, di mana saya dikirimkan menjadi wakil dari Astacala untuk menjadi peserta Kenal Medan Panjat Tebing di acara tersebut. Tidak sampai di situ saja niatku itu terlaksanakan, ketika perjalanan pulang dari Medan, tiba-tiba saja nama Bolenk tampak di pesan masuk handphoneku yang berisi ajakan memanjat di tebing Jogja. Saat itu dia memberikan pilihan Tebing Parangndog atau Tebing Siung. Tanpa pikir panjang jari-jariku langsung mengetikkan kata-kata “Parangndog saja, sepertinya lebih asyik!” untuk membalas pesan tersebut. Ya, itu karena aku sudah pernah memanjat Tebing Siung di tahun 2009 lalu.

Tebing Parangndog

Minggu malam, tanggal 24 Juli 2011 aku bersama Bolenk berangkat menuju Jogja menggunakan jasa Kereta Api Kahuripan. Malam itu kereta sangat penuh sehingga untuk meletakkan perlengkapan perjalanan saja tidak ada tempat. Akhirnya barang bawaan kami kuletakkan di toilet salah satu gerbong yang terletak di pinggir pintu masuk kami naik kereta. Sementara itu, kami hanya dapat space berdiri di depan pintu toilet tersebut. Rencana beristirahat dengan nyaman di kereta pun­ sirna karena untuk memejamkan mata sejenak saja selalu terganggu dengan lalu lalang orang yang keluar masuk toilet maupun yang naik turun kereta.

Senin pagi seusai sarapan pagi di sebuah warung angkringan di depan Stasiun Lempuyangan Jogja dan melengkapi logistik, kami langsung menuju halte Bus Trans Jogja untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan utama kami. Sekitar pukul sebelas siang kami sudah sampai di daerah Parangndog. Turun dari bus, mataku langsung tertuju di  jajaran tebing yang memanjang di sebelah timur. Setelah beberapa lama kami berjalan dan bertanya-tanya kepada warga sekitar, kami sampai di base camp tebing. Di sekitar tebing ini, ternyata terdapat dua tempat yang biasa digunakan para pemanjat sebagai base camp. Kedua base camp ini merupakan rumah warga sekitar yang sama-sama memiliki warung, yaitu rumah Ibu Maryati dan Ibu Kartono. Siang itu kami istirahat di rumah Ibu Kartono karena warung ini yang pertama kami temui saat perut kami keroncongan selama perjalanan. Saat itu kami memutuskan untuk istirahat sampai sore untuk membayar tidur kemarin malam di kereta yang sangat kurang. Baru di sore hari kami melakukan observasi  tebing untuk pemilihan jalur yang akan dipanjat.

Pukul delapan pagi esok harinya, kami berangkat menuju tebing yang kami observasi jalurnya di hari sebelumnya. Sesampainya di depan jalur yang akan dipanjat, kami memulai pemanasan dan menyiapkan peralatan yang akan mengamankan kami sampai ke puncak tebing. Sekitar setengah jam kemudian  saya sudah siap merintis jalur artificial di tebing dengan batuan karst ini. Empat jam kemudian dengan sistem pemanjatan multi pitch kami sudah sampai di puncak tebing dengan pemandangan yang menakjubkan di batuan berketinggian 60 meter ini. Di jalur yang sering di sebut crack besar ini, kami menggunakan piton, camp/ friend, dan lubang tembus serta akar-akar dari pohon yang terdapat di tebing ini sebagai pengaman. Dari puncak kami turun melalui jalur belakang untuk istirahat di base camp Ibu Maryati yang lebih dekat jarak tempuhnya. Sore hari kami baru melanjutkan pemanjatan di jalur lain dari tebing tersebut karena saat lewat tengah hari sangatlah tidak nyaman memanjat tebing yang permukaannya menghadap ke barat ini. Jalur lain yang kami panjat berupa jalur sport yang terdapat 6 hanger dengan lekukan batuan yang membutuhkan keseimbangan badan untuk meraih tiap pegangannya. Menjelang gelap kami baru kembali ke base camp untuk meregangkan otot-otot yang dibuat tegang selama pemanjatan hari ini.

Rabu pagi kami bergegas kembali menuju tebing untuk memanjat jalur-jalur sport yang belum sempat kami coba di hari sebelumnya. Dua jalur masing-masing terdapat 8 hanger yang berada di sisi tebing sebelah kanan jalan kampung di bawah tempat take off olahraga aerosport di kawasan ini. Satu jalur lagi berada di sebelah kiri tempat kami memulai pemanjatan kemarin. Tiga jalur telah kami panjat sampai tengah hari karena setelah istirahat kami akan menuju ke Kota Jogja untuk melanjutkan perjalanan ke rencana masing-masing. Bolenk berencana melanjutkan perjalanan ke Pulau Dewata Bali, sementara saya sendiri berencana untuk berkunjung ke sekretariat mapala di Jogja dan kemudian kembali ke Bandung. Dalam perjalanan merayapi tebing ini membuat liburanku semakin lengkap setelah meliuk-liukkan badan di Tebing Simarsolpa. Semoga semangat pemanjat di Astacala tetap membara untuk merayapi tebing-tebing lain yang menjadi keinginannyan. Kalau ada niat, pasti ada jalan!

Tulisan oleh Widi Widayat

Comments

  1. buat atas ane:alay lu!manjat kok buat ‘get love’ tok..manjat ya manjat,jangan dicampur adukkan dengan kepentingan ‘get love’.Be pure,bro..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Banjir, Kerusakan Hutan, dan Kemiskinan

        Rasa-rasanya, di Indonesia sudah{nl}tidak ada lagi tempat yang aman dari bencana banjir bandang. Belum usai{nl}evakuasi korban di delapan kabupaten di Sulawesi Selatan,...

Perjalanan SAR ke Aceh, Sebuah Cerita dari Bencana Alam Tsunami Aceh 2004

Siang hari kami mencoba memulai mengevakuasi mayat dengan lokasi di Pasar Aceh dan sekitar penjara. Dengan semangat yang masih gegap gemita kami di bawa...

Kebulatan Tekad untuk Citatah 48

Tebing Citatah 48 adalah salah satu tebing di kawasan Citatah yang biasa digunakan sebagai tempat berlatih bagi para pamanjat tebing di seputaran Bandung. Tebing...