Sepenggal Perjalanan ke Rinjani


Udah mau liburan nih, enaknya jalan-jalan kemana ya? Bosen nih kalo engga kemana-mana.”. Pertanyaan inilah yang muncul di benak saya saat liburan akan tiba. Awalnya sih pengen pulang ke Jakarta aja, tapi setelah melihat sebuah iklan produk rokok ternama buatan Kudus dan melihat Danau Segara Anak yang indah, tiba-tiba saja saya pengen ke sana. Nah untuk mengisi liburan, akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke Danau Segara Anak yang ada di Gunung Rinjani. Kemudian, saya ngomong ke anak-anak sekre sambil ngajakin. Ternyata banyak juga yang mau ikut. Kami yang berangkat ke Rinjani ini menamai tim kami dengan nama : “Rinjani Trip One” atau RTO yang terdiri dari delapan orang A’ers  (istilah beken untuk anak-anak Astacala) yaitu :  Kresna, Oca, Syifa, Iffa, Rendi, Bram, Ajie, dan saya sendiri (Deta). Serta ada tiga orang teman kami partisipan yaitu : Ussie (seorang anggota KMPA ITB), serta Gianto dan Vicky (mahasiswa IT Telkom).

Perjalanan menuju Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani

Sabtu siang tanggal 25 Juni 2011, Sekretariat Astacala mulai ramai dengan hiruk pikuk packing. Ya, kami mau ke Rinjani. Semua perlengkapan telah dipersiapkan, hanya saja logistiknya belum karena nanti akan dibeli di Klungkung dan Mataram. Singkat cerita, kami sudah siap untuk berangkat. Pukul 19.00 WIB hari itu kami berangkat menuju Stasiun Kiaracondong dan tiba di stasiun tersebut pada pukul 20.00 WIB. Kami membeli tiket kereta api Kahuripan menuju stasiun Lempuyangan Yogjakarta. Kereta berangkat dari Stasiun Kiaracondong pada pukul 20.50 WIB. Tiba di stasiun Lempuyangan Yogjakarta pukul 06.30 WIB di esok harinya. Bergegas membeli tiket kereta api Sritanjung tujuan Banyuwangi. Kereta api Sritanjung pun berangkat dari stasiun Lempuyangan Yogjakarta pukul 08.00 WIB dan tiba di stasiun Banyuwangi Baru pada pukul 23.59 WIB malam.  Sedikit monoton memang perjalanan darat saya ini  di Pulau Jawa untuk menuju Pulau Lombok

Hari berganti lagi, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki  menuju pelabuhan Ketapang. Jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 100 meter. Sebelum naik ferry, kami makan malam sambil istirahat sebentar di depan Pelabuhan Ketapang. Pukul 02.00 WIB kami menyeberang ke Pulau Bali menuju Pelabuhan Gilimanuk. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki bus tanggung menuju Klungkung, sebuah kota kecil di bagian timur pulau dewata. Sampai di Klungkung pukul 11.00 WITA dan langsung menuju rumah Bli (Bahasa Bali yang artinya Abang atau kakak lelaki – red) Komang aka Gejor (rekan kami anggota Astacala dari Klungkung yang sedang berada di Jakarta). Kami bermalam di sana sambil mempersiapkan beberapa logistik yang bisa dibeli di kota tersebut.

Keesokan harinya setelah pamitan dengan keluarga Bli Gejor, kami bertolak ke Pelabuhan Padangbai dan menyeberang menuju Pelabuhan Lembar di Pulau Lombok. Penyeberangan dari Padangbai ke Lembar memakan waktu kurang lebih empat jam. Tiba di Lembar pukul 14.00 WITA dan menyewa mobil menuju Universitas Mataram (UNRAM). Tiba di UNRAM pukul 15.00 WITA, kemudian kami menuju sekretariat Mapala Fakultas Ekonomi UNRAM (Mapala FE UNRAM) yang ada di dalam wilayah kampus. Di Mapala FE ini kami menginap semalam dan membeli logistik yang kurang di Kota Mataram.

Baca juga:   Pendakian Puncak Agung, Tempat Suci Masyarakat Hindu Bali

Pagi hari telah menjelang, dan kami pun sudah siap untuk hari ini. Tak disangka, tim kami bertambah satu orang lagi, yaitu Julet yang merupakan anak Mapala FE yang mau ikut ke Rinjani juga. Lanjut lagi. Kami  bertolak dari sekretariat Mapala FE menggunakan mobil yang telah kami carter menuju ke base camp pendakian Sembalun. Dari UNRAM ke base camp pendakian Sembalun memakan waktu tiga jam melewati jalan pegunungan yang naik turun. Setelah sampai di base camp pendakian Sembalun, kami pun membeli tiket masuk. Kami tidak memulai pendakian dari base camp tersebut, melainkan dari daerah yang bernama Bawaqnao. Berdasarkan informasi yang kami dapat, kalau kita memulai pendakian dari Bawaqnao kita bisa menghemat waktu pendakian kira-kira satu jam. Lumayan kan?

Istirahat selama perjalanan

Matahari kian terik dan kami pun memulai pendakian pada pukul 15.15 WITA. Perjalan dimulai melewati rumah warga dan area persawahan. Berikutnya memasuki hutan dan disambut sabana yang luas tanpa ada pohon-pohon besar untuk berteduh. Untungnya saat itu cuaca berkabut, jadi suhu udara tidak panas. Tidak bisa dibayangkan apabila cuaca sedang cerah, pasti akan terasa panas sekali. Pukul 18.00 WITA kami tiba di Pos 2  dan memutuskan untuk nge-camp. Di Pos 2 ini kita dapat mengambil air, tapi bukan dari mata air, melainkan dari genangan dan endapan sisa air hujan. Airnya pun tidak jernih dan terkesan agak kotor. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan pada pukul 09.30 WITA. Kali ini perjalanan terasa cukup berat karena cuaca yang sangat panas dan jalan yang terus menanjak. Sampai di Pos 3 pada pukul 11.30 WITA. Kami beristirahat sekitar 30 menit dan mengambil air. Sama seperti di Pos 2 sumber air berasal dari genangan dan endapan saja; tapi setidaknya air di Pos 3 ini lebih jernih dan lebih bersih dibandingkan dengan air di Pos 2. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Dari Pos 3 hingga Plawangan Sembalun kami melewati Bukit Penderitaan. Mengapa dinamakan Bukit Penderitaan? Berdasarkan informasi yang kami dapat, dinamakan demikian karena jalurnya menanjak terjal dengan cuaca yang panas dan gersang membuat kulit kering terbakar menjadi kemerah-merahan lalu menghitam legam. Bukit Penderitaan ini juga berdebu membuat para pendaki cepat kelelahan dan haus, ditambah jalurnya menanjak tiada henti hingga Plawangan Sembalun.

Di Plawangan Sembalun

Setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya kami tiba di Plawangan Sembalun pada pukul 16.45 WITA dan ngecamp di tempat itu. Dari sini kita bisa melihat Danau Segara Anak ada di bawah kita. Sempat berfoto-foto sebentar, kami pun mendirikan camp dan memasak. Setelah melakukan aktivitas camp seperti biasa, kami melanjutkan dengan briefing untuk summit attack atau mendaki menuju puncak nanti. Hasil dari briefing itu adalah : berangkat mendaki ke puncak pada pukul 01.00 WITA. Oca, Syifa, Julet, dan saya memilih untuk tidak ikut ke puncak dengan alasan dan pertimbangan masing-masing. Pukul 20.00 WITA mereka yang ingin akan ke puncak pun istirahat. Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WITA. Beberapa persiapan dilakukan, dari membuat minuman hangat hingga mempersiapkan snack, sarung tangan, kupluk, serta jaket tebal untuk persiapan perjalanan menuju Puncak Rinjani. Tepat pukul 01.00 WITA mereka pun berangkat. Saya, Oca, dan Julet ngobrol-ngobrol di depan api ditemani kopi hangat dan rokok. Di dalam dome, Syifa tidur dengan lelapnya. Selesai ngobrol-ngobrol dan mulai mengantuk, kami pun pindah ke dalam dome dan istirahat.

Baca juga:   Menapaki Kerinci, Gunung Berapi Tertinggi di Indonesia
Di Puncak Rinjani

Sinar matahari membuat suhu di dalam dome menjadi panas, saya pun terbangun. Sudah jam tujuh pagi rupanya. Kami yang tidak ikut ke puncak pun mempersiapkan makan pagi. Makanan adi, dan waktu menunjukkan pukul 09.30 WITA. “Kok mereka belom nyampe ya, Kak?” Tanya Syifa pada saya. “Yaelah, palingan juga lagi foto-foto di atas. Haha!”, jawab saya. Tak lama kemudian, mereka sampai juga di camp. Raut muka yang lelah, letih, lesu, dan ngantuk terlihat jelas di wajah mereka. Mereka pun istirahat. Setelah  mereka istirahat, barulah kita menyantap makanan, membereskan tempat camp, dan packing. Pukul 11.25 WITA, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak.

Dari Plawangan Sembalun, lama perjalanan menuju Danau Segara Anak memakan waktu kurang lebih empat jam. Jalan yang dilalui pun cukup curam dan berbatu seperti menuruni tangga batu. Suhu udara yang panas juga menjadi masalah tersendiri. Singkat cerita, empat jam sudah berlalu dan kami tiba di Danau Segara Anak. Pemandangan yang terhampar benar-benar membuat saya takjub akan kebesaran Tuhan. Danau yang dikelilingi gunung ini sungguh luar biasa. Tapi yang sangat disayangkan adalah tepian danau di sekitar camp area sudah tercemar oleh sampah-sampah para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Miris sekali melihatnya. Karena camp area ramai akan pengunjung, maka kami memutuskan untuk tidak bermalam di camp area. Kami mendirikan camp di dekat hutan di jalur menuju Senaru, tapi venuenya tetap di tepi danau. Malam pun tiba. Suasana di Danau Segara anak ini sangat tenang dan sunyi serta penuh kedamaian. Tapi jujur saja, suhu udara di Segara Anak ini lebih dingin dibandingkan di Plawangan Sembalun. Tidak ada satu orang pun dari kami yang mau beranjak dari api. Malam kian larut, kami pun istirahat.

Danau Segara Anak

Hari ini sudah tanggal 2 Juli 2011 pukul tujuh pagi. Ketika saya terbangun, teman-teman sudah bersiap memasak dan memancing. Memang susah mendapatkan ikan di danau ini melihat ‘senjata’ yang kami bawa memang biasa-biasa saja. Tidak seperti para pendaki lainnya yang memang sengaja mengunjungi danau ini memang untuk memancing. Selesai makan pagi, tiba-tiba suhu udara di siang hari kian memanas. Saya memutuskan untuk berenang di Danau Segara Anak. Wow, rasanya segar sekali. Ini pertama kalinya saya berenang di danau di ketinggian 2069 mdpl, dan itu benar-benar luar biasa. Di sekitar danau ini juga terdapat hot spring alami. Jaraknya kurang lebih 300 meter ke arah utara. Kresna, Oca, Aji, Julet, dan Vicky memutuskan untuk berendam di sana. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WITA, udara sudah mulai dingin dan kabut sudah turun, kami mulai membuat api dan memasak untuk makan malam. Menu makan malam kali ini tidak seperti biasa. Makanan yang memang ditunggu-tinggu oleh kami semua dari awal perjalanan, yaitu spagheti!. Wow, kami pesta malam ini. Perut terasa kenyang dan benar-benar nikmat sekali. Setelah itu kami menghabiskan waktu di depan api sambil ngopi dan ngerumpi. Malam sudah larut dan kami harus istirahat mempersiapkan fisik untuk perjalanan turun besok.

Baca juga:   Sebuah Perjalanan Kecil Mengalunkan Kemerdekaan

Pagi menyambut dengan udara yang dingin dan cahaya matahari belum menyapa. Teman-teman yang lain mempersiapkan sarapan pagi, saya dan Rendy mengambil air. Ketika mengambil air, saya bertemu dengan pendaki lain yang menyapa saya. “Dari mana Mas?” tanyanya. “Saya dari Bandung Mas, IT Telkom Bandung”, jawab saya. “Oh, IT Telkom yang ASTACALA itu ya?” tanyanya lagi. “Iya Mas. Kok tau Mas? Mas dari Bandung juga?” Tanya saya. “Iya lah, siapa yang nggak tau ASTACALA. Hehehe. Saya dari Bandung juga. Sarua A’, selow wae. Hahaha. Kayaknya satu kota nyerbu Rinjani nih. ”, jawabnya. “Oohh, dari Bandung juga ternyata. Hahaha.”, jawab saya tertawa. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, dia pun bergegas menuju camp nya lagi dan saya pun demikian. Di jalan saya berpikir Eksis juga ya organisasi saya ini sampai tu orang ngomong gitu. Hehehe. gumam saya dalam hati. Tak lama kemudian, saya tiba di tempat camp, dan sudah siap untuk makan pagi. Selesai  makan pagi, kami pun bergegas packing. Selesai packing kami siap turun lewat jalur Senaru. Dari Segara Anak menuju Plawangan Senaru kita dihadapkan oleh tanjakan yang cukup panjang dan melipir di tebing yang tinggi. Berangkat dari Segara Anak pada pukul 10.30 WITA dan tiba di Plawangan Senaru pukul 13.00 WITA. Istirahat sejenak, lalu menelepon mobil carteran yang sudah disepakati menunggu kita di base camp awal pendakian jalur Senaru (ternyata ada sinyal telekomunikasi di gunung ini – red). Lanjut lagi. Perjalanan dari Plawangan senaru hingga ke base camp awal Senaru sudah turunan terus, tidak ada tanjakan lagi. Jalan berpasir sebelum masuk hutan. Di hutan Senaru, kita akan melihat hutannya seperti hutan di Jawa Barat pada umumnya, yaitu agak sedikit basah. Lama perjalanan dari Plawangan Senaru ke basecamp pendakian Senaru memakan waktu kira-kira enam jam. Kami tiba di base camp pendakian Senaru pada pukul 19.45 WITA. Di sana kita sudah ditunggu mobil yang akan kita naiki menuju UNRAM lagi. Tiba di UNRAM pukul 21.10 WITA. Lalu kami istirahat sebentar, kemudian kami pun berpamitan ke anak Mapala FE UNRAM. Kami menuju Lembar dan menyeberang menuju Padangbai. Tiba di Padangbai pukul 05.40 WITA dan langsung bergegas menuju ke Klungkung. Di Klungkung kami menuju rumah Bli Gejor yang sudah datang dari Jakarta dan menunggu kami di sana.

Tulisan oleh Riwandeta Muhammad
Foto dari Dokumentasi Tim Perjalanan Rinjani