Anggraeni dari Sebelat


“Abu Kamil,” ujar orang yang baru kukenal ini. Kemudian ia mengulurkan tangannya.

“Tadi pagi Pak Aswin bilang kalau akan ada tamu yang mau masuk ke dalam, dan saya disuruh menjemput Bapak, eh…siapa?” lanjutnya. Kusebutkan namaku sambil turut menyambut uluran tanganya. Ia lalu mempersilahkan aku untuk membonceng di motornya.

Tubuhnya cukup gemuk untuk ukuran seorang polisi hutan yang sering keluar masuk hutan sebagai tempatnya bekerja. Seragam hijau tuanya yang khas terlihat agak terlalu sempit. Sepatu kulitnya yang mengkilap sedikit mencolok ketika hendak menghidupkan motor. Groooonnnggg, knalpot motor mengeluarkan asap yang mengepul pekat.

Perkenalan yang singkat ternyata sudah cukup mengakrabkanku padanya sebagai tuan rumah dan aku sebagai tamunya.

“Kita akan masuk ke Pe El Ge. Dari sini sekitar delapan kilo. Tapi sayang, jalannya sudah agak rusak,” ujarnya sambil terus mengendalikan motor di jalanan yang becek dan berlubang. Jalanan berbatu yang dibangun belasan tahun yang lewat. Ini adalah kedatangan pertamaku ke taman nasional.

 

Gajah Sumatera

Beberapa hari yang lalu, aku dinyatakan lolos untuk menjadi volunteer dari FFI, sebuah NGO yang berlokasi di Cambridge, United Kingdom. Pengumuman tentang perekrutan volunteer tersebut aku dapatkan dari seorang teman yang diposting ke forum diskusi Astacala dot org. Volunteer ini dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat terhadap kesadaran konservasi. Sayangnya, untuk daerah Bengkulu, rupanya hanya aku sendiri.

“Karena program seperti ini di pusatkan di Medan, dank arena saudara sendiri yang mengajukan aplikasi dari luar Medan, maka kami memutuskan anda kami tugaskan untuk melakukan perjalanan ke Pusat Latihan Gajah Sebelat. Dan sebagai konsekuensi dari itu, untuk lokasi ini, anda hanya sendirian” tulis sebuah pesan di emailku, kemarin lalu.

Tujuanku, ke PLG (Pusat Latihan Gajah) Sebelat adalah untuk melakukan semacam pengamatan, tentang kegiatan konservasi di Taman Nasional Kerinci Sebelat, dan kebetulan PLG ada di lokasi itu.

Kerikil-kerikil dan debu bertebangan dilindas oleh roda motor yang kami tumpangi. Tidak sembarang pengendara motor yang bisa melewat jalanan seperti ini. Sebab selain berbatu tajam, kadang juga harus berhadapan dengan lubang lumpur yang menganga yang membuat laju kendaraan harus sangat pelan.

Di sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan petani-petani yang berjalan kaki, mereka adalah petani-petani sawit yang pulang-pergi dari dan ke lahan perkebunan sawit.

“Selain sawit, penduduk di sini menanam padi, ada yang menanam jeruk juga karet. Sekarang sedang musim duku,” terang Abu Kamil, suaranya kadang terdengar kadang tidak, di sela deru motor dan desau angin yang cukup kencang.

“Dulu sebelum menjadi polisi hutan, saya ini adalah pawang gajah,” lanjutnya.

“Apa betul gajah itu dapat mendengar orang yang mengejeknya, Pak Abu? Hingga ia kadang datang merusak ladang penduduk?” tanyaku.

Petani di daerah Bengkulu Selatan biasanya tidak mau menyebut kata ‘gajah’ kalau mereka sedang berada di hutan. Di kalangan petani di daerah Bengkulu, khususnya Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan, penyebutan kata ‘gajah’ ketika sedang berada di ladang merupakan suatu hal yang dilarang.

“Ha…ha…, mungkin memang iya, sebab menurut pelatihku dulu, dia orang Thailand. Gajah itu sanggup mendengar suara bumi, jadi bisa saja ia tahu, kalau kita ada yang bermaksud mengejeknya. Suara yang lemah dari jarak puluhan kilo, masih sanggup didengar oleh seekor gajah” Abu Kamil menjelaskan.

Motor yang kami naiki terus melaju, kadang pelan, kadang cepat, mengikuti alur jalan yang mendaki dan menurun. Menghindari lubang-lubang itu benar-benar memuat perjalanan kami mejadi lebih lama dan panjang. Pada saatnya, kami juga harus merelakan motor berhadapan dengan jalanan yang rusak berat dan harus harus di dorong agar bisa lewat dengan selamat.

“Tunggu di depan saja, saya nggak berani kalau melewati lumpur di depan dengan membonceng orang,” Abu Kamil menyuruhku turun.

Hampir satu jam berjalan. “Itu sudah kelihatan barak PLG kita,” seru Abu Kamil seraya menunjuk ke arah depan.

Dari kejauhan sudah terlihat deretan bangunan-bangunan berwarna hijau muda keputihan. Mirip rumah-rumah peristirahatan. Letaknya yang berada di pinggir tebing membuatnya terlihat jelas dari kejauhan dan mencolok mata karena kesendirian dan keunikannya di tengah hutan belantara.

****

Areal Hutan Gunung Sebelat pada awalnya terhampar luas. Namun, seperti hutan-hutan wilayah Sumatera dan Kalimantan lainnya, luas hutan berangsur-angsur mulai terkikis oleh aksi penebangan pohon yang dilegalkan sejak awal rezim Orde Baru berkuasa.

Bulan Mei 1967, pemerintahan Soeharto menerbitkan Undang-Undang Pokok Kehutanan. Landasan penyusunan undang-undang ini amat mulia. Seperti dimuat dalam butir ‘menimbang’ poin (c) dan (d) konsideran itu.

“Untuk menjamin kepentingan rakyat dan Negara serta untuk menyelesaikan Revolusi Nasional diperlukan adanya Undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan pokok tentang Kehutanan yang bersifat nasional dan merupakan dasar bagi penyusunan Peraturan Perundangan dalam bidang hutan dan Kehutanan.”

“Peraturan-peraturan dalam bidang hutan dan Kehutanan yang berlaku sampai sekarang sebagian besar berasal dari Pemerintah jajahan, bersifat kolonial dan beraneka ragam coraknya, sehingga tidak sesuai lagi dengan tuntutan Revolusi.”

Namun isi pasal dan penjelasannya, pemerintah menguasai hutan-hutan yang ada di luar pulau Jawa, menentukan jenis hutan, luas dan wilayah hutan penebangan. Hutan-hutan ini dibagi-bagi menjadi hutan lindung, produksi, suaka-alam, dan wisata.

Dari sinilah bencana lingkungan di Indonesia dimulai. Saat itu pemerintah menetapkan 143 juta hektare sebagai ‘Kawasan Hutan’. Luas ini sekitar 74 persen total luas daratan Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, luas ini menyusut.

Praktik undang-undang ini tak semulia isinya. Di bawah Soeharto, hutan bukan lagi milik negara. Tapi milik keluarga. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) diberikan kepada kerabat dan teman dekat.

Hasil penelitian David Brown, peneliti di Indonesia-UK Tropical Forest Management Programme, menyebutkan di antara lima perusahaan HPH swasta terbesar, dua di antaranya menyerahkan sebagian saham dan pengelolaan pada keluarga Soeharto. Kedua perusahaan tersebut adalah Kelompok Barito Pasific dan Kelompok Bob Hasan.

Sedangkan kelima perusahaan pemegang konsesi HPH tersebut, Barito Pasific, Djajanti, Alas Kusuma, Kayu Lapis Indonesia (KLI), dan Bob Hasan group. Mereka mengontrol seluas 18 juta dari 62 juta hektare HPH yang dikuasai 585 perusahaan pemegang konsesi hutan di seluruh Indonesia.

Bob Hasan bersama putra-putri Cendana untuk menguasai saham dan menjabat posisi komisaris, komisaris utama dan direktur utama perusahaan pemegang HPH di Sumatera dan Kalimantan. Sigit Harjojudanto, Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto. Probosutedjo dan Sudwikatmno yang merupakan saudara Soeharto juga tak ketinggalan.

Baca juga:   Anggaraeni Dari Sebelat

Demikian pula Ibnu Hartomo, ipar Soeharto. Ia menjadi menjadi presiden komisaris dan salah satu pemilik saham di PT Maju Jaya Raya milik Alas Kusuma Group, yang menguasai 80,000 hektare HPH di Bengkulu.

Kerusakan akibat praktik penebangan ini bertahun-tahun memangkas luas hutan Sumatera dan Kalimantan. Belakangan diperparah dengan perluasan perkebunan sawit lewat pembakaran hutan.

Berkurangnya luas hutan mempengaruhi habitat hewan liar, termasuk gajah Sumatera di hutan Gunung Sebelat. Hewan ini kehilangan tanaman dan buah-buahan di hutan yang menjadi makanannya.

Mereka terdesak, sulit mencari makan. Belakangan mencari makan ke kebun-kebun penduduk. Alih-alih mendapat perlindungan, hewan berbelalai itu malah dinyatakan sebagai satwa pengganggu bagi kehidupan manusia. Tak sedikit yang mati diburu. Walhasil, populasi gajah semakin berkurang.

Tanggal 21 Oktober 1992, di masa pemerintahan Soeharto, akhirnya mendirikan pusat penjinakan khusus bagi gajah di Hutan Gunung Sebelat. Tujuannya menjinakan binatang-binatang liar itu agar tak berseteru dengan penduduk di sekeliling hutan. Tujuan lainnya adalah untuk melindungi gajah liar dan menyelenggarakan pemanfaatan gajah-gajah terlatih.

Pusat Latihan Gajah Sebelat berada dalam hutan produksi dengan fungsi khusus untuk pemusatan latihan gajah. Ini berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No 685 tahun 1995. Luasnya 6.865 hektar.

Letak pusat latihan binatang raksasa ini ada di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara. Kawasan hutan ini berada pada ketinggian 56 – 113 meter dari permukaan laut. Di hutan kawasan Pusat Latihan Gajah ini mengandung potensi yang relatif kaya seperti kayu unggulan semacam Meranti, Sungkai, jenis-jenis tanaman langka seperti bunga Raflessia (Rafflesia spp) dan bunga Bangkai (Amorphophallus spp), serta bermacam tanaman-tanaman obat.

Kawasan hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat kini masih dihuni satwa-satwa liar yang sudah langka dan hampir punah seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Beruang, Rusa, Tapir, serta jenis-jenis burung seperti Rangkong, Enggang, Kuau, Elang serta Raja Udang.

Selain sebagai habitat satwa liar, hutan Pusat Latihan Gajah juga merupakan indikator penting fungsi hidrologis dengan keberadaan beberapa sungai di dalamnya. Di antara sungai itu adalah Sungai Sebelat.

Karena dampak otonomi daerah, Bengkulu juga mengalami beberapa pemekaran kabupaten. Sehingga hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat kini berada dalam dua wilayah kabupaten yakni Kabupaten Bengkulu Utara, seluas 6.365 hektar, dan Kabupaten Muko-muko, sekitar 500 hektar.

Kawasan ini mirip kawasan hutan yang tersisa yang dipertahankan untuk kepentingan keragaman hayati. Di sekeliling hutan membentang areal-areal perkebunan kelapa sawit milik penduduk dan perusahaan perkebunan besar seperti PT. Alno Agro Utama, PT Agricinal, dan PT. Mitra Puding Emas.

****

Di hadapanku kini membentang sungai Sebelat yang berwarna kuning keruh. Mungkin semalam habis banjir. Tiang-tiang jembatan gantung terlihat terbengkalai tidak berfungsi lagi. Motor yang tadi kutumpangi telah terparkir di depan pos jaga yang sudah kosong di sebelah kanan jalan.

“Sudah lama jembatan ini putus. Padahal baru dua tahun dibangun sama pemerintah, eh sudah ambruk,” terang Pak Abu.

“Kita akan menyeberang naik Tronton,” katanya sambil menunjuk alat penyeberangan mereka satu-satunya saat ini.

Tronton adalah semacam rakit dari drum yang dirangkai dengan kawat yang dilas. Di salah satu sudut bagian depannya diikat dengan rantai besar, di hari berikutnya aku menemukan rantai yang serupa yang juga dipakai untuk mengikat gajah. Di ujung rantai diberi katrol yang terhubung langsung dengan tali serat baja yang memotong lurus di atas sungai Sebelat.

Ikatan diletakan di satu sudut depan agar posisi tronton menjadi miring. Tekanan arus yang deras akan mendorong rakit sehingga katrol yang terhubung ke tali secara otomatis akan berputar dan menjalankan rakit hingga ke seberang.

“Alat yang aneh,” gumamku.

“Ini idenya pak Wahdi, ketika kami tidak memiliki alat untuk nyeberang, dulu ada perahu, tapi sudah hanyut. Kami sangat terbantu dengan adanya tronton ini.”

Suara Abu Kamil tetap jelas terdengar di sela gemuruh arus sungai deras. Aku jadi ingat dengan Pak Wahdi, Manajer Progam Conservation Response Unit, yang kini berada di Medan. Berkat dialah aku kini berada di tempat ini.

“Kok kecamatan di sini namanya Putri Hijau Pak, bukan Sebelat?” tanyaku tiba-tiba ingat kalau nama itu terdengar asing.

“Nggak tahu juga kami, memang yang lebih dikenal bahkan sampai ke luar negeri itu adalah Sebelat, Taman Nasional Kerinci Sebelat contohnya, tapi oleh pemerintah kecamatanya diberi nama Putri Hijau.”

****

“Jadi tujuan kamu ke sini untuk melihat semua kegiatan kami ya, terus kemudian memberikan masukan ke Pak Wahdi, untuk kemudian membuat semacam program pengembangan di PLG ini ya? Berarti kamu mata-mata dong,” tanya Dodi, pawang yang membawaku turut bersamanya untuk memindahkan gajah.

“Ya nggak begitu lah, saya kan tidak berhak untuk memata-mati kalian. Tugas saya adalah mengenal PLG Sebelat secara lebih dekat, khususnya kegiatan yang dilakukan oleh CRU (Conservation Respon Unit), masalah yang lainnya aku rasa tak bolehlah kucampuri, ya kan?” sergahku.

Kedatangan ku ke PLG memang atas utusan dari Flora & Fauna International, sebuah lembaga swadaya internasional yang giat melakukan upaya konservasi, termasuk di hutan Indonesia. Salah satu bentuk progam mereka dalam konservasi adalah pembentukan unit respon konservasi (CRU) di PLG Sebelat. Kegiatannya antara lain melakukan patroli di hutan kawasan Pusat Latihan Gajah Sebelat.

“Kedatangan saya ke sini, untuk mengenal lebih dekat kegiatan CRU, kemudian nanti memberikan usulan kepada pak Wahdi untuk pengembangan program yang berada di bawah tanggung jawab FFI. Ya kalau kalian ada masukan, tentu itu akan sangat membantu,” lanjutku.
CRU adalah unit bentukan FFI yang bekerja sama dengan BKSDA Bengkulu. Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara FFI dengan para pawang gajah, polisi hutan, juga dengan penduduk setempat. Bentuk kegiatan yang mereka lakukan antara lain patroli dan monitoring kegiatan illegal loging di hutan kawasan hutan Pusat Latihan Gajah.

Selaian itu, CRU dibentuk untuk meningkatkan peran serta masyarakat luas dalam menjaga kelestarian hutan. Untuk itu, telah juga dilakukan semacam pendidikan konservasi kepada penduduk setempat.

Kami menyusuri sungai Sebelat ke arah hulu, akhirnya kami sampai di tempat mengikat gajah-gajah yang sudah jinak itu.

“Heuh, heuhh, heuuuuuh….” suara Dodi terdengar melengking. Barangkali bahasa yang sudah mereka pahamkan kepada gajah. Aku baru kali ini mendengarnya. Dodi adalah salah satu pawang yang statusnya masih calon pegawai negeri sipil di sini. Keluarganya ia tinggalkan di kota Bengkulu selama 15 hari untuk setiap bulan.

Baca juga:   Melirik Peran dan Daya Guna Taman Konservasi Gajah di Lampung

Rantai sepanjang sepuluh meter kemudian ia lepas. Bekas-bekas aktivitas gajah selama semalaman terlihat sangat kentara, rumput-rumput yang tercerabut, pohon-pohon kecil yang bertumbangan. Dodi lalu mulai menggiring gajah-gajah itu untuk mulai bergerak, mencari tempat baru yang masih banyak makanan untuk gajahnya.

“Tugas kami setiap hari ya begini, pagi sampai siang memindahkan gajah. Mencari tempat yang banyak makanannya, mengikat gajah-gajah ini, kemudian pulang ke barak. Dan besoknya begitu lagi. He…he… bosan,” terangnya sambil mengajakku untuk mengikutinya, menggiring gajah sampai tempat yang tepat untuk mengikat mereka. Hewan bertubuh besar dan tinggi lebih dari dua meter itu bergerak manut terhadap perintah pawangnya.

“Setiap pawang diberi tanggung jawab satu ekor gajah, cuma karena kebetulan ada temanku yang sedang cuti, jadi aku kebagian memelihara gajahnya. Nah, yang ini namanya Anggraeni, sedang yang itu namanya Megawati”

Tawaku hampir saja meledak mendengar nama-nama gajah itu, cantik-cantik sekali nama mereka, seperti nama manusia adanya. Gajah-gajah jinak ini masing-masing memiliki nama, yang betina diberi nama-nama yang cantik seperti nama perempuan. Sedang yang jantan diberi pula nama seperti nama seorang laki-laki.

****

“Apa pak Aswin nggak bilang kapan kembali ke sini?” tanya Mahyudin, koordinator pawang, ketika kami sedang beristirahat di dapur umum barak para pawang. Pak Aswin adalah koordinator Pusat Latihan Gajah Sebelat ini. Sudah lebih satu tahun bujangan ini mengemban tugas yang cukup unik ini.

“Ya, nggak sih Pak. Memangnya dia ke Bengkulu ada urusan apa?”

“Kemarin kita melakukan penangkapan penebang kayu, ya mungkin ngurus itu juga. Susah!”

Ia kemudian bercerita tentang kondisi mereka di PLG, sebagai anggota dari CRU yang juga berhak menangkap siapa saja yang melakukan penjarahan di di kawasan hutan PLG.

Dari keterangan yang kudapat dari Pak Aswin kemudian, lebih dari 400 hektar hutan Pusat Latihan Gajah telah diserobot. Kabar terakhir dari dia, ada puluhan kepala keluarga yang berasal dari Pekan Baru yang membuka lahan di kawasan hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat.

Bahkan menurut keterangan yang diberikan oleh Ir. Sugito, Kepala Dinas Kehutanan tahun 2004 kepada harian Suara Pembaruan, bahwa berdasarkan investigasi pihaknya di lapangan, pembabatan hutan di Pusat Latihan Gajah Sebelat diduga kuat dibeking oleh salah satu perusahaan perkebunan yang ada di daerah itu.
“Sebetulnya dengan adanya CRU, penebangan kayu di sini sudah lumayan berkurang, dan imbasnya pada masyarakat, mereka tidak terlalu berani lagi mencuri kayu di kawasan. Tapi sayangnya, kita sudah melakukan penangkapan, cuma kita tidak bisa lebih jauh dari itu, untuk ngurus sampai ke persidangan kita nggak sanggup, nggak ada dana dan tenaga. Sekarang ini kita juga sedang mengurus masalah tapal batas hutan PLG, sebab ada perusahaan perkebunan yang ternyata kelewatan membabat hutan hingga masuk ke hutan PLG.”

Kenyataan seperti ini memang sering dialami oleh para pawang dan polisi hutan di kawasan PLG. Hal senada lebih jelas aku ketahui setelah bertemu dengan Pak Aswin beberapa hari kemudian. Bahkan aku melihat sendiri ada polisi hutan yang ketakutan, sebab tersangka yang mereka tangkap belum disidangkan, ia dan keluarganya merasa diteror.

Akibat menyusutnya lahan hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat maka gajah-gajah liar yang ada di sekitar Pusat Latihan Gajah Sebelat sering muncul di sekitar pemukiman penduduk dan tak sering merusak perkebunan milik masyarakat setempat.

****

Di PLG saat ini, selain aku yang bukan pawang gajah atau polisi hutan, ada juga seorang mahasiswa doctoral dari UMASS (US). Ia sedang melakukan penelitian untuk kebutuhan disertasinya tentang pakan gajah. Namanya Arnold, asli Medan.

Sehari-hari ia bersama seorang pawang gajah akan mengikuti kemana saja gajah yang telah ditentukan itu pergi. Ia akan mengamati makanan gajah itu, kemudian mengambil sample tumbuhan yang di makan itu.

Malam harinya, kami akan berkumpul di depan kamar Pak Arnold, untuk membantunya mengidentifikasi jenis tumbuhan yang dimakan gajah yang telah didapatkan.

“Ini apa ya?” tanya Arnold, sambil memperlihatkan tumbuhan yang berakar.

“Akar telur mungkin pak?” jawabku tak sengaja.

“Oh benar, itu akar telur, akarnya sangat kuat dan bagus kalau mau dijadikan bahan pengikat” lanjut Pak Mahyudin, yang juga ikut membantu.

“Kamu kok tahu jim?” tanya balik Pak Arnold kepadaku.

“Ya di daerahku di Kedurang, banyak sekali tanaman seperti ini. Kebetulan kakekku juga seorang tabib, jadi dari kakekku, aku sedikit banyak tahu, nama-nama tumbuhan langka, khususnya tanaman obat. Juga fungsinya” ucapku sedikit berbangga.

“Itu ilalang pak, kalau daun beserta akarnya ditumbuk, bisa dijadikan sebagai obat luka luar, untuk menghambat keluarnya darah lebih banyak” kataku ketika pak Arnold mengambil sejumput ilalang dari tumpukan makan gajah itu.

Hutan Bengkulu memang kaya dengan tanaman obat. Di daerah Bengkulu Selatan, penggunakan tanaman sebagai obat alternatif masih sering digunakan.

****

Siang itu tiba-tiba, Mahyudin mengabarkan bahwa ada telepon dari Pak Aswin untuk memerintahkan kepada beberapa pawang melakukan pengusiran gajah liar yang merusak perkebunan sawit milik perusahaan swasta.

“Kamu ikut ya, kata Pak Aswin nanti ketemu dia di lokasi pengusiran. Siapkan barang-barangmu, sore ini kita berangkat,” perintah Mahyudin padaku sambil memilih nama-nama pawang yang akan ikut. Jumlahnya enam orang dengan aku, dua lagi akan menyusul besok pagi.

Sore itu hujan mengguyur cukup deras. Di lokasi yang telah ditentukan, yakni di dekat tiang jembatan gantung, gajah-gajah terpilih sudah dikumpulkan, semuanya ada tiga ekor. Di bawah hujan yang sudah gerimis, kami mulai melakukan perjalanan yang diperkirakan memakan waktu sampai dua jam lebih

Kami menyusuri sungai Sebelat ke arah hilir, Anggraeni, gajah yang kutunggangi membelok ke arah sungai, begitu juga dengan kedua gajah di depan. “Kita akan menyeberang,” tukas Mahyudin yang bertindak sebagai pemimpin rombongan di depan.

“Busyet!” pikirku. Air Sungai Sebelat sedang banjir besar, warnanya kuning kehitam-hitaman mengalirkan lumpur pekat dari hulu. Kalau bukan dengan bantuan gajah, derasnya sungai dalam keadaan banjir seperti ini tidak mungkin dilewati.

Dengan tenang gajah-gajah itu mulai memasuki sugai. Dimulai dari gajah paling depan yang ditumpangi oleh pak Mahyudin.Posisi badan gajah agak menyerong ke hulu, membelah sungai. Pelan tapi pasti, gajah kedua akan memposisikan diri di samping sebelah hilir gajah pertama. Dan terakhir, Anggraeni yang kutunggangi mensejajarkan tubuhnya di paling hilir. Serasi sekali, ayunan langkah gajah itu pelan mulai memasuki sungai. Lututku mulai menyentuh air, kemudian pinggang, tak lama kemudian bajuku akhirnya harus terendam juga ke dalam sungai yang dalam mengikuti gajah yang kini hanya terlihat moncong belalainya saja.

Baca juga:   Melirik Peran dan Daya Guna Taman Konservasi Gajah di Lampung

Aku mulai khawatir dan ketakutan, jangan-jangan gajah yang kunaiki ini tidak sanggup untuk menyeberangi sungai yang sangat deras ini. Namun tidak demikian dengan gajah-gajah dan para pawangnya itu, mereka terlihat tenang sekali. Yang terlihat sekarang hanya sedikit punggung gajah saja, belalainya mengarah ke atas menghindari air, yang ia gunakan sebagai snorkel atau pipa pernafasan.

Dari jauh, kami terlihat seperti enam orang yang mengambang di permukaan air. Ayunan gerak gajah yang berirama menggoyang-goyangkan badan kami, serasi dan seirama, seperti gerak jalan bebas yang kompak. Badan gajah itu berbejejer, kakinya bergerak sedikit demi sedikit, mirip seperti orang kalau melangkah ke arah samping. Dua kaki kiri terlebih dahulu bau kemudian dua kaki kanan.

“Tenang saja, gajah-gajah ini sudah biasa menyeberangi sungai bahkan yang lebih besar dan deras dari yang seperti ini,” Mahyudin menenangkanku. Aku mulai bisa bernafas lega ketika posisi gajah sedikit demi sedikit berada di bagian sungai yang surut.

“Alhamdulillah…” ucapku lega.

Setelah menyeberangi sungai, medan di depan adalah bukit-bukit yang curam. Dan ajaibnya itupun dengan mudah dilewati gajah-gajah yang berjalan tenang sambil tak lupa belalainya meraih dedaunan yang ada di pinggir jalan. Ketika bertemu dengan rumpun bambu, gajah-gajah itu berhenti dan memakan daun-daun bambu itu. Gajah merupakan mamalia terresterial yang aktif setiap saat, ia bisa menghabiskan waktu 16-18 jam setiap hari untuk mencari makan sambil berjalan.

“Bambu memang makanan kesukaan binatang ini,” ujar salah satu pawang.

****

Hari sudah mulai gelap, dan gerimis sudah pergi, kami mulai memasuki kawasan perkebunan, dan jalanan sudah relatif datar. Pantatku sudah terasa bengkak karena bergesekan terus menerus cukup lama dengan punggung gajah yang keras dan tidak rata. Suara gemuruh lenguh gajah seperti mesin diesel saja, membahana menjadi hiburan satu-satunya di menjelang malam yang kian senyap. Di sepanjang pemandangan hanya terhampar tanaman sawit yang menghitam dari kejauhan, ada juga tanah-tanah yang baru digarap.

“Inilah yang kami maksud, perkebunan terus bertambah sehingga gajah-gajah itu tidak memiliki habitat yang cukup untuk hidup mereka. Kalau sudah begini siapa yang salah? Bingung kan?” Mahyudin bercerita sambil menyusuri jalan yang baru saja diratakan dengan boulduzer yang terlihat samar-samar. Di sekitarku masih cukup jelas, lahan-lahan baru yang akan dijadikan sebagai kebun kelapa sawit, pembuatannya menggunakan alat berat.

Gajah merupakan satwa yang memiliki persyaratan untuk hidup di alam, naungan hutan sangat mereka butuhkan ketika hewan berdarah panas ini untuk menstabilkan suhu tubuhnya sesuai lingkungan, sehingga tempat yang cocok untuk satwa ini adalah hutan dengan vegetasi tumbuhan yang rimbun. Gajah juga merupakan hewan herbivora yang membutuhkan ketersediaan makanan yang cukup. Gajah membutuhkan habitat yang bervegetasi pohon untuk makanan pelengkap dalam memenuhi kebutuhan kalsium untuk memperkuat tulang, gigi dan gadingnya. Ia membutuhkan makanan yang sangat banyak yakni 200-300 kg setiap hari untuk setiap satu ekor gajah dewasa atau 5-10 persen dari berat badanya.

Gajah memiliki wilayah jelajah yang sangat luas. Untuk gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) memiliki ukuran wilayah jelajah yang bervariasi antara 32,4 – 166,9 km2. Gajah umumnya hidup berkelompok dengan anggotanya antara 2-8 ekor dan 9-45 ekor. Menurut data dari Departemen Kehutanan, populasi gajah Sumatera pada tahun 1993 tinggal 44 kelompok, 2 kelompok diantaranya ada di hutan di Propinsi Bengkulu. Oleh karena berkurangnya kuantitas habibat inilah sehingga tidak terhindarkan munculnya gangguan gajah pada daerah penduduk baik itu pemukiman maupun perkebunan.

Hari hamper menunjukkan jam tujuh malam, akhirnya kami sampai di titik pertemuan, sambil mendengarkan keterangan dari penduduk kami menunggu kedatangan Pak Aswin bersama tim Mitigasi Konflik Manusia dan Gajah, satu tim yang menangani konflik antara gajah dan manusia.

Malam kian melarut, setelah tadi Pak Aswin dan teman-teman tiba, obrolan kami lanjutkan dengan persiapan untuk strategi pengusiran esok. Dari Pak Aswin aku lebih jauh mengetahui kondisi di Pusat Latihan Gajah Sebelat sebenarnya.

“Inilah Pe eL Ge, dengan berbagai masalah yang kami hadapi, dengan berbagai kekurangan yang kami miliki, yang jelas kita harus tetap bertahan. Conservation Response Unit sudah cukup banyak membantu kami, tapi rasanya kalau seperti ini terus, kami akan sangat sulit bertahan. Manajeman yang kurang bagus, mungkin. Yang paling kami butuhkan adalah dukungan tim advokasi sehingga ketika kami melakukan penangkapan tersangka penebang liar, yang kami lakukan itu tidak berhenti di tengah jalan. Jadi kerja kami tidak sia-sia, iya kan?”

“Walaupun demikian, kami cukup bangga, bahwa Pe eL Ge Sebelat cukup dinilai positif menyenangkan oleh kawan-kawan pemerhati gajah. Terutama kondisi habitat yang masih cukup bagus. Ya, memang kita kurang dalam menangani kesehatan gajah, seperti kurang aktifnya dokter hewan. Kita ada dokter hewan, tapi jarang datang PLG,” lanjut Pak Aswin lagi.

****

Malam tak terasa telah mendekati pagi, kawan-kawanku yang akan bergerak besok sudah tertidur pulas dilelap mimpinya sendiri-sendiri. Kupejamkan mataku, mengenangkan pengalaman ajaib yang baru saja lewat. Aku ingat pawang-pawang itu, pegawai negeri sipil dan calon pegawai negeri sipil yang mengabdi di tempat terpencil seperti Pusat Latihan Gajah Sebelat, keluarga mereka tinggalkan minimal lima belas hari setiap bulan. Segala permasalahan mereka menjadi warna yang yang indah dalam benak ini.

Aku juga ingat tentang pemahaman kita tentang konservasi yang belum menemukan bentuk, ingat segala keruwetan yang terselesaikan seadanya saja. Dan yang lebih mengesankan, tentang gajah-gajah manis itu. Lenguh suaranya dan kasar kulit punggungnya, menghadirkan kerinduan tersendiri yang sulit untuk ditolak. Kudengar lenguh yang membahana dari luar bangunan, mungkin itu adalah desah Anggraeni, gajah yang menemaniku sepanjang hari ini[]

Tulisan oleh Jimi Piter

* Tulisan ini telah dimuat di situs www.pantau.or.id dan www.acehfeature.org

* Contoh gambar diambil dari Okezone

 

 

  • Bro,

    Bukannya tulisanmu ini sudah dimuat juga di ORG beberapa tahun yang lalu? Kenapa upload dobel?

    https://astacala.org/wp/?p=108

  • Jimbo

    biar dibaca lg sama yg baru, ini sudah diedit sedikit bahasanya.

    lagian yg lama itu, kayaknya bnyk yg error tuh

  • Tian

    Sintong dan Heri, nama dua gajah pertama yg dikirim dari luar Bengkulu untuk PLG. Beruntung saya sudah menaiki keduanya, sekarang kedua gajah itu sudah mati.

  • Jimbo

    @Tian, kapan Sintong n Heri mati? naiknya dimana pak? Salam kenal ya