Serayu di Hati Kami

Related Articles

Memang, tak akan mudah untuk melupakan Sungai Serayu, yang mungkin akan menjadi sejarah khususnya Anggota Muda Lembah Purnama dalam mengakhiri Masa Bimbingannya, dan menuju ke tahap yang lebih tinggi.

Serayu, sampai jumpa di lain waktu.

Astacala!!!

Sebuah Catatan dari Perjalanan Wajib (PW) Olahraga Arus Deras (ORAD) Anggota Muda Lembah Purnama Astacala

Sugeng Siang Serayu

Minggu (20/06/10) siang itu, aku dan Kresna sudah sampai di tepi Sungai Serayu.  Sambil memandangi aliran sungai dari ujung timur sampai ujung barat, layaknya profesional yang sedang scouting jalur, kami berdua pun bergegas menuju Kampung Serayu. Ya, Kampung Serayu adalah base camp satu-satunya provider layanan rekreasi rafting di sungai ini, yaitu Serayu Adventure Indonesia.

Tengok sana tengok sini, aku mencari seseorang yang bernama M. Fajar.  Dia adalah Direktur Serayu Adventure Indonesia (baca : SAI).  Walaupun baru berjumpa dengannya sebulan yang lalu saat survey lokasi, sebenarnya aku agak lupa mukanya seperti apa.  “Cari siapa Mas?”, seorang lelaki tegap bertanya padaku.  Langsung aku jawab dengan pertanyaan saja, “Mas Fajarnya ada gak Mas?”.  Ternyata dia nggak mau kalah.  Dia jawab lagi jawaban yang berupa pertanyaanku lagi dengan sebuah pertanyaan, “Dari mana ya mas?”.  Selayaknya tamu yang menghargai si empunya rumah, aku tak lagi menjawab dengan pertanyaan, “Dari Astacala, Mas”.  Belum lagi dia menjawab, entah mau pakai pertanyaan lagi atau jawaban, aku tidak mau tahu, seseorang lelaki berperawakan cungkring (Bahasa Jawa, yang dalam Bahasa Indonesia mungkin berarti kurus langsing) memotong dialog penuh pertanyaan kami dengan pertanyaan, “Oh, Astacala dari Telkom Bandung ya Mas?”.  Langsung saja aku jawab, “Iya Mas.”.

Sekitar sepuluh menit aku, Kresna, dan Mas Firdaus (Mas yang cungkring tadi) duduk-duduk santai sambil ngobrol tentang perizinan Perjalanan Wajib kami untuk beberapa hari ke depan.  Mas Firdaus langsung memberi kami izin untuk menggunakan Sungai Serayu sebagai lokasi kegiatan kami nantinya, walaupun surat izin kegiatan yang aku kirimkan dua minggu lalu via pos belum sampai di SAI.  Memang sih tidak terlalu ribet mengurus perizinan kegiatan di sini, mungkin karena sudah sebulan ini aku dan Mas Fajar sudah saling contact via SMS tentang kegiatan ini.

Hari itu aku habiskan waktu bersama Kresna. Selain untuk mengurus perizinan lokasi kegiatan, kami juga mencari tempat menginap untuk empat hari ke depan (tentunya dengan bantuan Mas Firdaus).  Kami dapatkan sebuah rumah sederhana yang terletak persis di sebelah jembatan Sungai Serayu, dengan warung soto di depannya.  Ya, rumah milik Pak Tarno, yang sehari-harinya bekerja mengemudikan truk pasir, menjadi base camp kami mulai hari itu.

Senin (21/06/10) pagi, aku dan Kresna bangun agak siang, mungkin karena tadi malam begadang di depan Pasar Banjarnegara sambil menonton pertandingan Piala Dunia.  Sebuah pesan singkat sampai di telepon genggamku.  Ternyata dari Oca.  “To gue udah nyampe Banjarnegara nih, bentar lagi nyampe Singomerto”, mungkin kira-kira begitulah isi pesan singkatnya.  Tak ambil waktu panjang, aku langsung membangunkan Kresna dan segera memanaskan mesin sepeda motorku.

Bus Purwokerto yang kutunggu, kutunggu …..
Tiada yang datang …..
Ku telah lelah berdiri, berdiri …..
Menanti-nanti …..
(Bus Sekolah – Koes Plus)

Ibarat lagu ciptaan Koes Plus di atas, sekitar setengah jam aku dan Kresna menunggu di pertigaan Singomerto, ternyata mereka tak sadar telah melewati kami dan sudah sampai di Terminal Sawangan (dekat Titik Start Arung Jeram Desa Tunggoro, sekitar sepuluh km dari kami berdiri saat itu).  Mau tidak mau mereka harus mencari bus lain yang menuju Singomerto lagi dan dengan terpaksa keluarlah biaya tak terduga.

Pikirku, ”Tak apalah mereka bablas, malah bisa melihat Sungai Serayu dulu sebelum besok berrafting ria”.  Ya, Sungai Serayu memang membujur sejajar dengan jalan raya yang menghubungkan Wonosobo dan Banjarnegara sehingga kita dengan mudah bisa melihatnya walaupun sedang melintas di jalan raya itu.

Oca, Bram, Memet, Tumingkel, Harlan, Sigit, Icung, Yovi sudah mulai bergabung dengan kami berdua mulai pagi menjelang siang hari itu.  Setelah beberapa jam melepas lelah akibat semalaman penuh menempuh jarak Bandung – Banjarnegara yang tentunya sedikit membuat jet lag mereka berdelapan, briefing kecil kami lakukan untuk membagi tugas hari itu.  Aku dan Oca mendapat tugas scouting siang sampai sore ini. Tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, langsung saja kami tancap gas melaksanakan tugas.

Hasil scouting hari itu kami mendapati debit air Sungai Serayu dalam keadaan surut sehingga kemungkinan besar esok hari kami tidak akan menemukan jeram-jeram mengerikan seperti yang ada di cerita-cerita perjalanan orang lain yang kami baca sebelumnya.  Setelah kami ricek ke SAI, Mas Firdaus membenarkan itu.  “Ya, memang seminggu ini airnya agak surut.  Hujan dalam tiga hari ini juga nggak ngaruh ke debitnya karena memang dari mata airnya sudah kecil”, katanya.

Briefing malam itu, kami membagi tim menjadi dua kelompok untuk keesokan harinya.  Perahu pertama berisi lima orang peserta Perjalanan Wajib yaitu Tumingkel, Memet, Harlan, Bram, dan Oca ‘the flipperman‘ sebagai skipernya. Perahu kedua berisi Yovi, Icung, Sigit, Kresna, dan aku sebagai skiper. Pemilihan skiper malam itu beralasan karena hanya aku dan Oca yang sudah pernah melakukan scouting darat langsung sehingga paling tidak dapat memprediksi apa yang harus dilakukan saat esok  kegiatan.

Selasa (22/06/10), teringat akan isi SMS seorang teman kemarin sore, “To, ntar malem gue nyusul tim ORAD, ini mau berangkat bareng tim RC”, dengan cepat tepat senyap aku langsung menambahkan sebuah nama ke barisan pertahanan tim perahu satu yang akan berkegiatan hari ini. Ibnu, alias Syekh Pujo (dipanggil begitu mungkin karena namanya Ibnu Pujo) yang mengirimkan pesan singkat itu ke telepon genggamku.  Belum ada yang tahu pagi itu, mungkin karena sampai jam lima pagi belum ada yang berani melakukan ritual satu kali sit-up alias bangun tidur.

Tiba jam tujuh pagi, hampir tiga jam lebih awal daripada tim yang kemarin datang, Ibnu sudah bergabung dengan kami mulai pagi itu.  Setelah semua sarapan pagi dengan menu ala kadarnya tapi lezat khas Banjarnegara buatan Ibu Tarno yang masih muda nan cantik itu, seluruh anggota tim sudah siap menuju titik start pengarungan.  Sebuah angkot yang telah disewa oleh Memet sehari sebelumnya, telah menunggu di depan warung soto.  Di dalamnya telah lengkap seperangkat alat arung jeram (paddle, pelampung, helm, pompa) lengkap dengan dua buah perahu yang diikatkan di atas kap angkot.  Ya, peralatan arung jeram itu kami sewa dari SAI.  Hasil keterangan yang dihimpun dari Oca dan Tumingkel yang bernegosiasi langsung dengan Mas Firdaus, menyebutkan bahwa SAI memberikan harga khusus (lebih murah) apabila sebuah mapala yang menyewa peralatan mereka.

Tak terasa hampir setengah jam kami dalam perjalanan, sebuah jembatan bercat putih menanti kami di depan.  Itu adalah Jembatan Tunggoro yang akan menjadi titik start pengarungan kami hari itu.  Harlan, sang kordinator kegiatan kami hari itu, langsung mengkomando kami agar langsung melakukan streching supaya otot-otot badan kami siap ‘digoyang‘ seharian.

Berlembar-lembar mika dan dua buah spidol anti air berbungkus botol air mineral 600 ml menjadi senjata wajib kami saat itu.  Sketsa Jeram yang merupakan salah satu materi PW kami mengharuskan kami menggambar bentukan jeram beserta kondisi lain yang ada dan mempengaruhi di sekitar jeram tersebut.  Hasil sketsa jeram ini akan menjadi referensi berupa data awal kegiatan sejenis ke depannya, sehingga akan sangat membantu dalam perencanaan perjalanan.

Jeram Lontong

Tak seperti biasa saat kami menggambar jeram-jeram, jeram yang satu ini memang lain daripada yang lain.  Jeram yang terletak persis sebelum Pos Randegan ini memiliki cerita lain di otak kami berenam.  Bukan karena bentuk jeramnya yang berbahaya ataupun karena susah melewatinya, akan tetapi karena sejarah kami dalam menamai jeram ini. Saat kami berenam ingin mulai menggambar, tiba-tiba di tepi lain sungai kami berdiri, aku dan Memet melihat seorang kakek setengah baya sedang mengeruk pasir dengan alat seadanya.  Untungnya Bram, yang kebetulan satu-satunya perempuan di tim kami, tidak mau melihat kakek itu yang memang bertelanjang bulat sambil bekerja.  Tanpa dikomando, kami pun satu ekspresi untuk tak bisa menahan tawa yang kurang ajar itu.  Tidak usah dijelaskan panjang lebar lagi alasan mengapa kami menamai jeram itu dengan sebutan Jeram Lontong.

Tak terasa sudah jam tiga sore kami sampai di Kampung Serayu yang merupakan titik finish kegiatan kami hari itu. Banyak cerita dan pengalaman menarik yang kami dapatkan setelah selama kurang lebih 6 jam hidup kami kami habiskan di sungai ini.  Dari Memet yang jatuh di Jeram Tunggoro, perahu satu yang flip di Jeram Ikan Bakar sehingga sebuah throwrope lenyap ‘dimakan’ sungai walaupun Bram sempat rela mengejarnya, sampai Ibnu yang mempunyai feeling seorang goal keeper sehingga nekat melompat dari perahu karena takut flip lagi, dan cerita-cerita lain yang terabadikan manis di brain memory tak terbatas kami.

Rencana pengarungan yang semula diset tiga hari kami ubah menjadi hanya dua hari.  Kondisi sungai yang bersahabat dan pertimbangan tenaga yang akan lebih efektif apabila pengarungan dilakukan dua hari menjadi alasan kuat kami mengubah rencana perjalanan. Pembahasan itulah yang menjadi hot topic dalam briefing kami malam itu selain kabar dari dua tim PW lain yang kami terima via SMS. Dari Boleng yang sendirian menunggui camp tim PW RC karena Cirit ‘terpaksa’ menemani duet Dina dan Pari yang merayap di Tebing Lawe, sampai cerita kurang menyenangkan dari tim PW Caving yang mengalami kerusakan mesin bus di perjalanan menuju Bengkulu, mewarnai gosip ria kami malam itu.

Rabu (23/06/10), tim sudah siap berangkat, perlengkapan sudah beres seperti hari sebelumnya, hanya Syekh Pujo yang akan absen di pengarungan kali ini karena katanya mau ke Kebumen sowan ke tempat saudaranya. Seperti kemarin, tak banyak yang berbeda dalam persiapan kami hari ini.  Mungkin hanya sendi dan otot kami yang terasa agak pegal hasil ‘menunggangi’ riverboat kemarin.

Sprint, head-to-head, Down River Race, dan slalom menjadi tantangan kami hari itu.  Memet, sang skiper perahu satu, tampak begitu bersemangat dalam materi sprint ini.  Memang, sprint mengharuskan perahu melaju sekencang-kencangnya untuk mendapatkan waktu tercepat di suatu kejuaraan.  Bram, sang skiper perahu satu di materi selanjutnya, yaitu head-to-head, akan beradu cepat dengan skiper perahu dua, yaitu Icung.  Ibarat di cerita komik, keduanya tampak saling mau adu jotos layaknya dua atlet tinju yang berfoto sebelum naik ring.  Walaupun perahu yang dinahkodai Bram tampak selalu kalah di lintasan, karena sering menghampiri kedua tepi sungai dan terjebak di ‘perkampungan’ batu, tetapi perahu satu tiba terlebih dahulu di Randegan (finish head-to-head).

Kedua perahu sudah tertambat di sisi selatan sungai di Pos Randegan, kami berenam pun bergegas berjalan kaki menuju Jeram Ikan Bakar, sekitar lima puluh meter di depan.  Ya, kami akan melakukan sketsa jeram ini karena kemarin kami tidak sempat menggambarnya dikarenakan perahu satu terguling disini dan perahu dua yang berniat menolong malah hampir bernasib sama.

Bojanegara

Siang hari terasa lebih sejuk dari biasanya saat kami sedang menikmati nasi ayam sambal yang dipacking dengan sebuah kotak karton di bawah rindangnya pohon kelapa Bojanegara.  Dua hari ini memang kami selalu beristirahat sambil makan di sini karena dilihat dari jarak start dan finish pengarungan, Desa Bojanegara sangat pas dijadikan rest area.  Kalau kemarin aku dan Icung yang menjemput nasi-nasi kotak itu, hari ini giliran Oca dan Memet yang melakukannya.

Setelah puas melepas lelah di Bojanegara, sesuai Rencana Operasional Perjalanan, kami pun sepakat melanjutkan kegiatan.  Materi berikutnya adalah Down River Race (DRR). DRR menuntut tim untuk melakukan pengarungan jarak jauh dengan keterampilan dan kecepatan yang akan membuat tim menghasilkan waktu yang lebih baik dari tim lainnya.  Selama kurang lebih dua jam ke depan Tumingkel (Perahu 1) dan Yovi (Perahu 2) akan sering membelok-belokkan perahu yang didayung oleh awak masing-masing perahu.

Slalom

Sebuah jembatan yang sudah kami anggap familiar, paling tidak dalam tiga hari ini, sudah terlihat beberapa puluh meter lagi. Ya, itu adalah jembatan dekat base camp kami.  Di baliknya pasti akan terlihat Kampung Serayu. Namun, ada satu hal yang sedikit berbeda ketika kami akan melintas di bawah jembatan ini. Dua buah gawang yang terbuat dari pralon (pipa air) dengan ukuran yang sedikit lebih lebar dari riverboat kami, tergantung sejajar di bawah jembatan.  Kami akan mencoba melewati kedua gawang itu.  Pertama melewati gawang sebelah kanan secara downstream, setelah itu kami akan berbalik arah mencoba masuk gawang satunya secara upstream.

Perahu pertama hampir sukses melewati tantangan pertama, hanya saja kami menyentuh salah satu tiang yang tergantung.  Perahu kedua nasibnya tidak jauh beda dengan kami.  Tantangan kedua lebih berat karena usaha dayung maju yang kami lakukan sia-sia karena kami terus-terusan dihantam arus sungai dari arah berlawanan. Tak mau langsung menyerah, seperti yang dilakukan tim perahu kedua yang “mengibarkan bendera putih”  dan langsung menuju dermaga Kampung Serayu, kami masih mencoba berbagai cara termasuk memutar lagi arah perahu ke arah hilir dan langsung melakukan dayung mundur.  Walaupun tak lazim, tapi cara ini terbukti efektif untuk setidaknya mendekatkan perahu ke gawang kedua.  Sampai kira-kira tinggal beberapa meter lagi, Tumingkel memutar arah perahu kami lagi dan langsung berkomando, “Dayung Maju!!!”.  Dan kami pun berhasil.

Nonton Bareng di Kafe Tiesto

Setelah briefing dan evaluasi kegiatan hari ini, jam sembilan malam tepat, kami memutuskan “nyari angin malam” sebentar. Sesuai instruksi Icung, yang kemarin sempat meminjam motorku entah dibawa kemana, kami sepakat menuju sebuah SPBU yang terletak sekitar tiga ratus meter sebelah barat pertigaan Singomerto. SPBU terbaik se-Jateng&DIY yang memang terlihat bersih, rapi, dan lengkap fasilitasnya itu bernama SPBU Hiu. Namun, bukan karena alasan itu kami ke sana.  Sebuah kafe kecil bernama Kafe Tiesto berdiri megah di sudut area SPBU.  Yang menjadi daya tarik kami menuju kesana adalah sebuah layar lebar berukuran 2×2 meter dipasang di kafe itu dan menyiarkan pertandingan World Cup 2010. Kebetulan malam ini yang bertanding adalah tim favoritku, Inggris.  Maka berlipatgandalah semangatku menuju ke sana walaupun harus berjalan kaki. Dan Inggris pun menang.

Hari Terakhir

Kamis (24/06/10), hari yang menjadi akhir kegiatan kami di Sungai Serayu.  Setelah berpamitan dengan Pak Tarno sekeluarga, baru kami sadari ternyata foto gadis cantik layaknya model papan atas Indonesia yang terpasang manis di dinding ruang kami menginap adalah foto istri Pak Tarno.  Wow….

Setelah meninggalkan rumah Pak Tarno, kami menuju Kampung Serayu untuk segera berpamitan dengan segenap keluarga besar SAI yang telah membantu kami dalam segala urusan yang menyangkut Sungai Serayu. Akhirnya tim terpecah jadi dua. Sembilan orang naik bus menuju Purwokerto, dua orang lagi naik motor menuju Magelang. Perpisahan yang mungkin akan terasa indah andai tidak ada throwrope yang hanyut, sebuah paddle patah di hari pertama, dan sebuah paddle lagi bengkok di hari kedua. Tapi tak mengapa, mungkin ini adalah sebuah proses pembelajaran yang kadang-kadang membutuhkan pengorbanan.

Wis tak coba …
Nglaliake …
Jenengmu soko atiku …
Sak tenane aku ora ngapusi …
Isih tresno sliramu …
(Sewu Kuta – Didi Kempot)

Memang, tak akan mudah untuk melupakan Sungai Serayu, yang mungkin akan menjadi sejarah khususnya Anggota Muda Lembah Purnama dalam mengakhiri Masa Bimbingannya, dan menuju ke tahap yang lebih tinggi.

Serayu, sampai jumpa di lain waktu.

Astacala!!! []

Oleh Afriyanto Yanuarista

Comments

  1. “Dari Boleng yang sendirian menunggu camp tim PW RC karena Cirit ‘terpaksa’ menemani duet Dina dan Pari yang merayap di Tebing Lawe, sampai cerita kurang menyenangkan dari tim PW Caving yang mengalami kerusakan mesin bus di perjalanan menuju Bengkulu, mewarnai gosip ria kami malam itu.”

    salut akan perjalanan dan pencarian ilmu barunya. hanya saja kurang foto-foto nih Kang.
    tim panjat tebing dan susur gua cemen nih tidak ada ceritanya.
    sukses terus untuk tim arung jeram ASTACALA.

  2. “Kisah Kasih Diserayu Dengan si dia <br /> Tiada masa paling indah…. <br /> kisah kasih diserayu….” <br /> <br />* gak mau kalah ama TSnya, nembangnya oke…Mantap

  3. iya kemarin dah dicoba oca di tapi dia gak tau cara upload nya…
    ntar mw dicoba lg katanya…
    sory saya lg g d bdg, hiihihihiii…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Emas Putih di Pulau Salangane

{nl}         Dari sisi speleologi, gua merupakan fenomena alam yang mempunyai banyak nilai, yang tidak dapat dinikmati oleh setiap orang. Luweng Ombo dan Luweng...

Siapa Bilang Harimau Jawa Punah?

Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau...

13.450 Hektare Hutan Talang Mamak Dialihfungsikan

        Sebanyak 13.450 hektare hutan alam tempat bermukimnya komunitas suku{nl}terasing Talang Mamak di Kecamatan Peranap dan Rakit Kulim, Indragiri{nl}Hulu, Riau dirambah liar sejak...