Merayapi Tebing Lawe


“Keberhasilan adalah suatu hadiah dari segala prosesnya”, sepertinya kata?kata itu tertanam di kepalaku untuk perjalanan wajib rock climbing ini. Meskipun gagal mencapai puncak (hadiahnya), tetapi selama menjalani prosesnya sudah didapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Dengan singkat kata, tidak ada sesuatu yang sia?sia dari apapun yang sudah kita lakukan dengan baik.

Viva ASTACALA!!!

Sebuah Catatan dari Perjalanan Wajib Rock Climbing Lembah Purnama

21 juni 2010, setelah sehari sebelumnya tim caving dan rafting berangkat, tiba saatnya tim panjat tebing yang terdiri Dina, Cirit, Bolenk dan aku sendiri Widi, berangkat untuk memulai operasional perjalanan wajib. Tim berangkat dari Sekretariat Astacala pukul 20.15 naik angkot menuju Stasiun Kiara Condong. Pukul 21.30 Kereta Ekonomi Kutojaya Selatan berangkat dari Kiara Condong menuju Kroya, tempat kita turun. Di kereta yang tidak begitu sesak aku menikmati perjalanan dengan nongkrong bersama Cirit di dekat pintu sambil menyeduh kopi dan menghisap rokok. Sementara Dina dan Bolenk tidur terlelap di tempat duduk gerbong paling belakang.

Pemasangan hanger pertama

Esok harinya sekitar pukul 04.30 kereta sampai di Stasiun Kroya. Kami berempat pun turun dan langsung jalan menuju jalan raya untuk naik bus menuju Purwokerto. Di Purwokerto, tujuan utama kita adalah Sekretariat UPL Unsoed. Di sana kami berniat mengakrabkan diri sebagai sesama organisasi pecinta alam serta meminjam beberapa peralatan panjat dari sana. Sekitar pukul setengah sebelas kita meninggalkan Sekre UPL untuk langsung menuju tebing. Sekitar jam dua siang kita sampai di base camp (rumah Pak Marzuki) dan istirahat sejenak sebelum konfirmasi perizinan untuk memulai pemanjatan besok. Tak dikira, ternyata konfirmasi perizinannya masih memerlukan beberapa tahap lagi. Jadi pukul 21.30 aku dan Cirit baru selesai mengurus semua tahap?tahap perizinan tersebut. Setelah briefing dan evaluasi kita nonton bola bareng untuk menunggu rasa kantuk datang.


Instalasi saat hanging camp

Rabu, 23 Juni 2010 pemanjatan hari pertama pun tiba. Eh, waktu sadar ternyata jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh. Setelah sarapan di base camp dan persiapannya kita baru jalan jam delapan pagi untuk menuju tebing. Karena daya lupaku yang tajam, kami sempat tersasar untuk menuju dasar tebing. Sekitar pukul setengah sepuluh kami baru sampai dasar tebing dan langsung melakukan pemanasan sebelum memulai pemanjatan. Dalam perjalanan wajib ini, pemanjatan menggunakan teknik artificial dengan teknik pasang?lepas hanger karena pada Tebing Lawe ini kita menggunakan jalur yang dibuat oleh UPL, dimana di tebingnya sudah terpasang ulir untuk pemasangan hanger. Leader pertama adalah Dina, dia kesulitan memasang hanger pertama karena kondisi jalur yang sulit. Akhirnya Dina digantikan Cirit, ternyata Cirit pun juga tidak sanggup memasangnya. Akhirnya aku yang memasang hanger pertama, untuk selanjutnya pemasangan dilanjutkan Cirit. Sampai hanger ketiga dia kelelahan dan digantikan aku. Dengan belayer Dina, aku melanjutkan pemanjatan sampai di pitch 1. Setelah sampai pitch 1 saya melakukan teknik hanging belay agar Dina bisa naik ke pitch 1. Setelah Dina sampai, aku melanjutkan pemanjatan menuju pitch 2. Tapi baru sekitar 12 meter aku menambah ketinggian hari sudah menjelang sore. Akhirnya aku turun lagi ke pict 1 dan meminta Cirit naik ke pitch 1 untuk cleaning semua hanger yang telah di pasang. Kita putuskan tim pemanjat melakukan hanging camp di pitch 1 karena tujuan utama materi kita adalah untuk mempraktekkan materi hanging camp. Malam itu kita tidur dengan teknik hanging camp di pitch 1.

Pemanjatan menuju pitch 2

Pukul setengah tujuh pagi aku terbangun dari tidurku dengan badan terasa pegal karena posisi tidur yang kurang nyaman saat hanging camp semalam. Tak lama kemudian Bolenk datang dari base camp membawakan sarapan buat pemanjat yang merupakan tugasnya sebagai tim base camp. Setelah sarapan, kita melanjutkan pemanjatan sekitar pukul Sembilan pagi. Pemanjat pertama adalah Dina, karena dia di hari sebelumnya belum menjadi leader. Tapi dia gagal menambah ketinggian, akhirnya dia aku gantikan. Setelah mencoba beberapa kali aku gagal juga menambah ketinggian karena jalur yang sangat sulit. Keadaan jalur berupa overhang dan blank. Kita istirahat siang sejenak sekitar pukul setengah satu di pitch 1. Setelah istirahat siang, Cirit akhirnya bisa menambah satu runner setelah beberapa kali mencoba. Pukul dua siang tiba?tiba hujan lebat datang dari arah selatan menuju ke kami. Aku sebagai komandan hari itu memutuskan untuk semua pemanjat turun ke dasar tebing karena pemanjatan sangat tidak aman jika dilakukan saat hujan lebat. Pukul tiga kita semua sudah di dasar tebing dan langsung merapikan peralatan. Pukul empat sore aku putuskan malam ini tim tidur di base camp karena cuaca sangat tidak mendukung jika melakukan hanging camp lagi. Malam itu kita tidur di base camp sambil menikmati tontonan piala dunia.

Jummaring ke pitch 1

Jumat pagi pukul 05.30 aku bangun dan langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah sholat subuh. Setelah sholat kubuat kopi hangat untuk menikmatkan rasa rokok yang kuhisap. Setelah sarapan tim berangkat menuju ke tebing lagi. Aku, disusul Dina kemudian Cirit melakukan teknik jumaring untuk menuju pitch 1 melalui tali statis yang sudah dipasang fix anchor di pemanjatan hari pertama. Jam tanganku menunjukkan pukul sebelas ketika aku melakukan pemanjatan dari pitch 1. Setelah mencoba beberapa kali, aku mampu menambah dua runner. Setelah istirahat siang Dina menggantikanku untuk menjadi leader. Beberapa kali dia berusaha mencoba, tetap saja masih gagal menambah ketinggian. Aku meminta Cirit untuk mencoba memanjat jalur sebelah kirinya untuk menambah ketinggian karena menurut analisaku jalur tersebut lebih mudah dari jalur sebelah kanan. Dengan memanjat jalur sebelah kiri Cirit mampu memasang beberapa runner dan menambah ketinggian. Hari pun akhirnya beranjak sore dan kita bersiap melakukan hanging camp lagi di pitch 1 dengan cuaca yang sangat berkabut. Sore semakin gelap, ternyata gerimis makin lebat dan sekitar pukul setengah tujuh akhirnya kita putuskan turun ke bawah tebing karena dirasa sangat tidak aman jika cuaca seperti ini terus berlanjut. Malam itu akhirnya kita ngecamp di dasar tebing dengan atap flysheet dan beralaskan ponco. Di malam itu tim memutuskan bahwa besok adalah cleaning semua pengaman. Di rencana operasional besok kita harusnya sudah mencapai puncak. Karena sampai hari itu pemanjatan belum sampai pitch 2, maka dalam briefing malam itu diputuskan bahwa besok adalah pemanjatan terakhir. Operasional pemanjatan dalam perjalanan wajib rock climbing dinilai sudah cukup karena semua materi dari perjalanan ini sudah dipraktikkan.

Foto bareng Keluarga Bapak Marzuki (base camp)

Sabtu tanggal 19 Juli 2010 saya bertugas cleaning semua pengaman. Dengan teknik rappelling sistem tiga tali atau sering disebut juga simpul lepas, aku cleaning semua pengaman. Saat cleaning aku menjatuhkan satu baut ukuran 12 dan meninggalkan dua hanger untuk teknik rappelling sistem tiga tali ini. Pukul satu siang aku selesai cleaning dan langsung cek peralatan untuk kemudian dibawa ke base camp. Pukul setengah tiga sore tim sampai di base camp dan langsung istirahat. Setelah membersihkan diri dan makan kita melakukan briefing dan evaluasi, dari kendala?kendala selama empat hari pemanjatan. Malamnya kita tetap menikmati serunya pertandingan piala dunia sebelum tidur terlelap.

Foto bareng anak-anak UPL MPA Unsoed

Esok harinya pukul delapan pagi aku baru bangun, saat itu badan terasa pegal semua. Sepertinya kelelahan selama pemanjatan menumpuk di pagi itu. Pukul 10.00 kami meninggalkan base camp untuk menuju Purwokerto dan mengembalikan alat ke Sekre UPL. Siang hari itu aku hubungi seniorku di Astacala, Diah Ayu Puspitarini alias Indun (A?067?AU) agar bisa jalan?jalan bareng selagi kami ada di Purwokerto. Setelah aku selesai mencuci alat yang dipinjam, Indun bersama temannya datang menjemput ke Sekre UPL dengan mengendarai “Ford Ranger”nya. Malam itu kita diajak makan dan keliling kota Purwokerto dengan kendaraan gagahnya. Setelah jalan?jalan kita menuju rumah Indun untuk menginap di sana. Siaran pertandingan piala dunia lagi?lagi menjadi hiburan malam kami.

Baca juga:   Kebersamaan di Tebing Gunung Batu

Senin pagi jam delapan, setelah sarapan kita meninggalkan rumah Indun untuk pulang ke Bandung menggunakan transportasi yang sama saat kita berangkat. Pukul setengah enam sore kita akhirnya sampai di Sekretariat Astacala tercinta. Sampai sekarang aku berpikir betapa banyaknya pengalaman yang kudapat dalam perjalanan ini. Dari mulai pra sampai pasca operasional merupakan suatu proses pembelajaran yang jarang aku dapatkan ketika melakukan perjalanan biasa. “Keberhasilan adalah suatu hadiah dari segala prosesnya”, sepertinya kata?kata itu tertanam di kepalaku untuk perjalanan wajib rock climbing ini. Meskipun gagal mencapai puncak (hadiahnya), tetapi selama menjalani prosesnya sudah didapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Dengan singkat kata, tidak ada sesuatu yang sia?sia dari apapun yang sudah kita lakukan dengan baik.

Viva ASTACALA!!!

  • petege

    Mantap… tinggal satu tim lagi! 🙂

  • Taka

    Selamat guys. semoga banyak manfaat yang dipetik dari sini.

  • Bli Komang

    “Meskipun gagal mencapai puncak (hadiahnya), tetapi selama menjalani prosesnya sudah didapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Dengan singkat kata, tidak ada sesuatu yang sia–sia dari apapun yang sudah kita lakukan dengan baik.” <br /> <br />Like this Gan! Makin bijaksana saja. :laughing:

  • Bli Komang

    Jadi teringat Belanda yang kalah di final Piala Dunia. :tongue:

  • Gepeng

    Keberanian terasa sangat menyiksa
    Dasar jurang mengusik mata langkahku
    Kusaksikan betapa rapuh jiwaku
    Dari beku cengkeramku
    Getar ujung pijakku
    Hampir tak ku kenali diriku
    Ya aku di puncak ini
    Terikat pada batu
    Hampir tak kulihat apa-apa
    Kesabaran membasuh hari-hariku
    Hitamnya batu hitam dasar sukmaku
    Kurasakan kuasaMu dalam diam

    Iwan Fals – Pada Batu Dalam Diam
    viva ASTACALA!!!

  • Gepeng

    Angin datang dari mana ?
    Merayapi lembah gunung
    Ada luka dalam duka
    Dilempar kedalam kawah

    Memanjat tebing tebing sunyi
    ;Memasuki pintu misteri
    Menggores batu batu
    Dengan kata sederhana
    Dengan doa sederhana

    Merenung seperti gunung
    Mengurai hidup dari langit
    Jejak jejak yang tertinggal
    ;Menyimpan rahasia hidup

    Selamat jalan saudaraku
    Pergilah bersama nasibmu
    ;Pertemuan dan perpisahan
    Dimana awal akhirny
    Dimana bedanya
    Dimana bedanya

    Iwan Fals-Doa dalam sunyi

    viva ASTACALA!!!
    honje26

  • Wawan

    :wink
    Selamat dan sukses Pari
    maaf ga bisa nengok

  • Kebluk

    Sekumpulan anak muda, usia dalam kisaran 17 – 20 tahun, berjalan-jalan di seputaran kota Bandung. Salah satu tujuannya adalah Mal terbesar di tengah kota. Sekedar cuci mata, sebenarnya, tapi mereka kemudain lama berhenti di salah satu toko yang menjual peralatan Outdoor Activity.

    Mata mereka berbinar melihat bermacam peralatan yang ada di sana. Tak semua peralatan mereka ketahui namanya, apalagi fungsi dan kegunaannya. Kekaguman juga tampak saat mereka melihat-lihat poster dan foto yang dipasang di dinding toko. Foto yang menceritakan aktifitas pendakian tebing. Tampak indah dan “cool”, ketika seorang pemanjat sedang beraksi merayapi dinding batu. Perlengkapan dan peralatan di sekitar tubuh pemanjat dalam foto itu menyampaikan pesan bahwa olahraga yang direkam dalam foto itu bukan kegiatan sembarangan. Butuh lebih dari sekedar semangat dan mimpi untuk mewujudkannya. Terbayang juga proses latihan panjang dan melelahkan sebelum bisa merayapi tebing-tabing tinggi seperti atlit di foto itu.

    Ketika itu, sekumpulan anak muda yang tak bisa pelan saat bicara itu, hanya bisa berucap setengah teriak, “Keren banget,” atau komentar semacam itu lainnya. Namun mereka tampaknya sadar, mimpi dan cita-cita mereka hanya bisa diwariskan pada sekumpulan anak muda lainnya yang akan datang di belakang mereka. “Kayaknya masih jauh untuk bisa kayak mereka,” ucap salah satu anak muda itu. Ah, betapa mimpi memang selalu berakhir pahit, saat itu. Kendala dana, mau tak mau menjadi halangan untuk mewujudkan mimpi, selain skil dan kecakapan yang belum dimiliki. Barangkali puluhan tahun baru bisa terwujud.

    Tapi melihat foto-foto di sini, serta membaca sedikit ulasan kegiatannya, saya mendapati kenyataan baru. Mimpi itu ternyata tak jauh-jauh amat. Hanya butuh waktu belasan tahun untuk mewujudkannya. Alhamdulillah sebelum mati saya masih sempat melihatnya terwujud. Mata ini terasa panas sebelum menjadi basah melihat kenyataan bahwa mimpi itu ternyata terpelihara dengan baik, walau mungkin tak pernah terucap untuk mewariskannya. Tentu sekumpulan anak muda yang kemudian jarang sekali jalan-jalan di Mal tengah kota itu, tak pernah merasakan sendiri aktifitas semacam ini. Sebagian dari mereka bahkan telah mengubur dalam-dalam mimpi itu. Tapi generasi penerus mereka ternyata sangat kreatif mengolah sumber daya dan menapak dalam irama waktu, hingga mampu mewujudkannya seperti saat ini.

    Salut.
    Bravo Astacala.

  • kali ini kami punya mimpi untuk bisa menjejakkan kaki di everest!

  • Air55

    kata penulis buku N5M itu, perbedaan juara dunia lari dengan yang bukan hanya 0,00000….detik. Tidak terlalu jauh, bahkan sangat dekat. Yang dibutuhkan hanya ‘sedikit’ kerja keras dari orang yang bekerja paling keras…