Banjir (Lagi) di Dayeuhkolot Bandung (2)


Sore itu (24/03) mendung masih bergelayut di langit Bandung Selatan. Gerimis masih turun. Saat itu saya ikut dengan beberapa rekan dari Astacala dan KSR PMI melakukan assesment ke beberapa titik posko pengungsian banjir di Kecamatan Dayeuhkolot.

Sore Itu, Banjir Masih Setinggi Betis
Sore Itu, Banjir Masih Setinggi Betis

Kantor Kecamatan Dayeuhkolot, Kantor Desa Dayeuhkoot dan Citeureup, Kantor Polsek, Koramil, Kantor PLN, dan Masjid Besar di Dayeuhkolot dipenuhi oleh para pengungsi. “Sedih Dik saya melihat kondisi ini. Lihat saja, ruangan komandan kami juga terpakai untuk menampung para pengungsi”, begitu ungkap salah seorang anggota militer di Kantor Koramil yang kami datangi. Beberapa pengungsi ada yang demam dan flu, dan sebagian besar gatal-gatal. Satu orang setengah baya dikabarkan ditemukan meninggal karena tidak mau meninggalkan rumahnya.

Posko dapur umum yang tiga hari terakhir berdiri di samping Student Center IT Telkom tampak sibuk setiap sore dan subuh. Bisa dibayangkan, di sela-sela kuliah dan tugas-tugas akademik yang padat, para relawan memasak dan membungkus makanan dengan jumlah 1050 bungkus makanan setiap kali masaknya. Kekurangan tenaga terlihat, terutama ketika memnyiapkan bantuan makanan untuk makan pagi yang dimulai ketika tengah malam. Belanja logistik saja dilakukan mulai tengah malam ke Pasar Baleendah yang juga harus menempuh banjir.

Posko Dapur Umum di IT Telkom
Posko Dapur Umum di IT Telkom

Malam itu setelah bantuan makanan disalurkan ke Kantor Kecamatan Dayeuhkolot, hujan turun lagi dengan lebatnya. Angin kencang dan petir menyambar-nyambar. Posko dapur umum mulai kemasukan air yang mengalir. Basah semua. Terpal yang menaungi kompor mulai goyah dan tak sanggup melindungi dari hujan. Beberapa titik tenda dan terpal yang tidak bagus pemasangannya mulai membentuk kubangan-kubagan penampung air dan menyiramkannya keluar ketika penuh. Beberapa membasahi stok logistik. Para relawan itu pun mulai disibukkan lagi untuk memperbaiki tenda kala hujan masih turun dengan lebatnya. Beberapa aktivisnya masih tetap bersemangat dan tak mengeluh. Beberapa lagi mulai terlihat kelelahan secara fisik dan mental.

Kegiatan di Posko Dapur Umum IT Telkom
Kegiatan di Posko Dapur Umum IT Telkom

Jam sepuluh malam hujan mulai reda. Dari kantor kecamatan didapat laporan bahwa dibutuhkan evakuasi. Saya ikut lagi bersama tim assesment. Jalan Sukabirus di belakang Student Center yang tadi sore tidak tergenangi banjir mulai tergenang air setinggi dada orang dewasa. Listrik mati. Saya mulai was-was berjalan mendekati ke arah jembatan. Apalagi pelampung yang saya pakai adalah pelampung oranye ukuran big size yang kurang safety. Beberapa relawan dari Tagana dan Departemen Sosial Bandung juga saya temui di sana.

Baca juga:   Tanggap Bencana Gunung Kelud

Laporan dari beberapa pengurus RT, warga belum mau meninggalkan rumahnya karena ingin menjaga barang-barangnya. Mereka yang terjebak malam itu bertahan di loteng-loteng dan atap rumah. Selama hujan tidak turun malam ini, mereka masih aman. Akhirnya kami tetap siaga untuk dipanggil sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. Perahu dan pelampung di Sekretariat Astacala juga tetap disiagakan.

Walaupun tidak ada mengevakuasi warga, tim assesment sempat pula membantu dua orang mahasiswa yang kosannya terkena banjir. “Kosan kami baru kali ini terkena banjir, selama ini belum pernah kebanjiran. Besok kami akan segera pindah”, begitu kata salah seorang dari mereka sambil mengangkuti beberapa alat elektronik.

Salah Satu Sudut Posko Pengungsian
Salah Satu Sudut Posko Pengungsian

Banjir ini katanya adalah banjir terparah sepuluh tahun terakhir. Yang kita lakukan selama ini kebanyakan adalah evakuasi dan evakuasi. Solusi menyeluruh yang melibatkan semua pihak tentu sangat dibutuhkan supaya banjir tidak terjadi setiap tahun. Mulai dari pengembalian fungsi daerah penyerapan air dan bantaran sungai, maupun pengelolaan sampah yang baik dan benar.

Dan yang paling penting adalah kesadaran yang benar-benar sadar akan isu lingkungan ini oleh pelakunya, masyarakat itu sendiri. Bukan sekedar mengungsi ketika banjir, berebut jatah bantuan, atau pun memanfaatkan kesempatan di dalam bencana.

Esok paginya, di sela-sela kegiatan bungkus-bungkus nasi, yang dilakukan oleh para relawan di sela-sela kegiatan kuliahnya, saya teringat komentar beberapa pengungsi yang duduk-duduk di posko pengungsian. “Kok nasinya lembek?’ atau “Kenapa tidak ada ayamnya?”.

Semoga kita semua sadar akan teguran alam setiap tahun ini. Semoga kita semua sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Semoga banjir tiap tahun ini bisa kita atasi. Semoga. []

Oleh I Komang Gde Subagia