Boyongan Pasar Antik Triwindu – Solo

Related Articles

{nl}

    Jumat (25/09), Jalan Slamet Riyadi ditutup, lantaran akan diadakannya Kirab Boyongan Pedagang Pasar Antik Windujenar. Pasar windujenar, dahulu dikenal dengan Triwindu, merupakan pasar barang-barang antik di Solo yang sudah sangat terkenal. Keberadannya menjadi salah satu ikon budaya kota Solo, bersanding dengan Keraton Kasunanan, Mangkunegaran, Taman Sriwedari, dan lain-lain. Pasar antik ini akan diboyong menempati lokasinya semula di sebelah selatan Keraton Mangkunegaran, setelah sebelumnya dipugar dan untuk sementara direlokasi ke Gedung Bioskop Sriwedari (gd.Srimulat), Taman Sriwedari. Pemugaran tersebut menghabiskan biaya sekitar 3.5 Milyar dari APBD 2008 yang dibagi dalam dua tahap pemugaran.

[more]

{nl}

    Jumat (25/09), Jalan Slamet Riyadi ditutup, lantaran akan diadakannya Kirab Boyongan Pedagang Pasar Antik Windujenar. Pasar windujenar, dahulu dikenal dengan Triwindu, merupakan pasar barang-barang antik di Solo yang sudah sangat terkenal. Keberadannya menjadi salah satu ikon budaya kota Solo, bersanding dengan Keraton Kasunanan, Mangkunegaran, Taman Sriwedari, dan lain-lain. Pasar antik ini akan diboyong menempati lokasinya semula di sebelah selatan Keraton Mangkunegaran, setelah sebelumnya dipugar dan untuk sementara direlokasi ke Gedung Bioskop Sriwedari (gd.Srimulat), Taman Sriwedari. Pemugaran tersebut menghabiskan biaya sekitar 3.5 Milyar dari APBD 2008 yang dibagi dalam dua tahap pemugaran.

    Pasar Windujenar (Triwindu) sejatinya merupakan hadiah ulang tahun ke 24 bagi Gusti Putri Mangkunegara VII, yang bernama Nurul Khamaril pada tahun 1939. Di awal keberadaannya para pedagang disini menggunakan sistem barter, dengan menggelar barang dagangannya di atas meja. Lambat laun pedagang dan pembeli semakin banyak dan berkembang, maka didirikan kios-kios yang mulai marak sejak 1960-an.

    Teringat saya beberapa waktu lalu ketika mengantar seorang kawan yang ingin mengujungi pasar antik Solo, saya ajak ke lokasi lama ternyata sedang direnovasi. Setelah tanya ke warga, akhirnya kami menuju kawasan Sriwedari. Kondisi pasar antik di lokasi sementara itu cukup padat, penerangan juga kurang bagus, barang dagangan ditata sekedarnya sehingga kurang menarik. Sebagian pedagang menempati kios-kios sementara di luar gedung bisokop lawas itu, dengan dinding semi permanen dari papan, bercampur dengan pedagang onderdil kendaraan. Tentu saja kondisi ini kurang menyenangkan bagi pemburu barang antik yang biasanya suka berlama-lama mengamati sebelum membeli barang yang ditaksirnya.

    Pukul 3 sore saya sudah bersiap menyaksikan kirab ini, tak lupa kawan-kawan dihubungi untuk sama-sama menyaksikan kirab dan berburu gambar. Sejam kemudian sudah tampak persiapan kirab di Sriwedari, tepatnya di depan Gedung Wayang Orang. Andong berbaris di belakang, kemudian pasukan keraton Rekso Projo, Jogo Tirto, Kutho Renggo dengan seragam merah dan birunya yang khas, kemudian partisipan dari berbagai pasar tradisional lain di Solo yang turut mengantarkan boyongan. Persiapan keberangkatan diisi dengan hiburan Reog Ponorogo, dengan atraksi dan iringan musiknya mengundang lebih banyak pengunjung yang segera memadati tempat ini. Sementara itu sekelompok pasukan keraton tengah bersiap dan berbaris.

Pasukan keraton mengawali kirab

    Boyongan dimulai, pengunjung dan pemburu gambar sudah bersiap di jalur yang akan dilewati: Jalan Slamet Riyadi, Sriwedari ? Mangkunegaran, sekitar 1,5 km. Kemudian iring-iringan mulai berjalan, dipimpin oleh walikota Solo, Jokowi, kemudian Ka Dinas Pasar Solo, lalu pasukan Rekso Projo, Jogo Tirto, Kutho Renggo, diikuti gamelan Corobalen, disusul sekitar 150 pedagang Windujenar dengan barang dagangan mereka, dan terakhir iringan andong. Momen ini memang bertepatan dengan banyaknya warga yang mudik ke Solo, dan seperti biasanya event seperti ini memang ramai dikunjungi warga yang sangat apresiatif terhadap event seni dan budaya.

Pengunjung memotret riasan unik peserta kirab

    Boyongan tidak selesai disitu, masih ada sambutan di lokasi pasar yang baru, Berupa seremonial laporan Pengurus Pasar dan penampilan tari-tarian dan terakhir pertunjukan wayang. Di dalam pasar sendiri, kesibukan sudah mulai terlihat, beberapa kios sudah buka dan transaksi sudah mulai berjalan kembali. Sementara di pelataran luar pengunjung ramai ngalap berkah dengan berebut Tumpeng yang sudah dijopa-japu dan didoakan, berharap ikut memperoleh berkah dari Yang Maha Kuasa.

Keramaian pengunjung di Pasar Windujenar yang telah direnovasi

Pertunjukan seni tari setelah kirab berakhir

    Sungguh menarik upacara sederhana ini, rasanya seolah kembali ke jaman keraton, dimana setiap kegiatan perlu diadakan selamatan atau ritual khusus, dipilih hari yang baik pula. Kemajuan yang dicapai oleh kepemimpinan Jokowi selaku walikota periode ini memang cukup banyak. Diharapkan lebih banyak lagi event seperti ini untuk menarik wisatawan dan tentu saja nguri-uri kebudayaan Jawa yang adiluhung. Jangan hanya menambah jumlah mall dan gedung pencakar langit di Solo yang kadang dirasa kurang nyambung dengan suasana artistik tata kota asli Solo dengan dua keraton dan arsitektur kuno lainnya.

More on this topic

Comments

Popular stories

Tanggap Bencana Gunung Kelud

Gunung Kelud yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang mengalami erupsi pada tanggal 14 Februari 2014. Oleh karena itu Badan...

Liang Bua, Justru Tenggelam di Negeri Sendiri

Tanpa terasa sudah lebih dari satu pekan saya berada di Pulau Flores, tepatnya di daerah Kabupaten Manggarai. Bukan perjalanan atau destinasi yang saya rencanakan...

Menikmati Kopi Sambil Belajar di Kedai Kopi Malabar

Di dinginnya cuaca Pengalengan, terdapat sebuah pabrik pengolahan kopi beserta 'kedai' kopi yang bisa kita nikmati sambil menambah wawasan kita mengenai kopi.