Bandung di 2009 (Riwayatmu Kini)


Rringg… Rrringg… Rriing…

Kira-kira begitulah suara tonggeret, yah tidak begitu juga sih suaranya, tapi kira-kira begitu. Yang banyak terdengar di seputaran Bandung dahulu kala. Saya ingat, ketika pertama memasuki Sekolah Dasar alias SD, pepohonan menghiasi seputaran Kota Bandung dan Bandung begitu sejuk. Berjalan kaki pun rasanya tidak begitu lelah, karena udara di sekelilingnya banyak tetumbuhan yang secara biologis menghasilkan oksigen, sehingga bernapas saat berjalan rasanya menyegarkan. Begitu pun suara kendaraan, hanya sesekali motor dan mobil lewat, jalan raya sekali pun. Angkot sih sudah mulai agak banyak, tapi yaah, terkondisikan bahasa mahasiswa mah. Saya ingat sekali, suatu hari pulang les, saya bersama ibu saya sangat sulit mencari angkot, karena jumlah angkot yang tidak begitu banyak, dan kebetulan itu jam pulang kantor. Sopir angkot saat itu pun cukup mentaati peraturan lalu lintas, slengean sedikit ya wajar.

Rringg… Rrringg… Rriing…

Kira-kira begitulah suara tonggeret, yah tidak begitu juga sih suaranya, tapi kira-kira begitu. Yang banyak terdengar di seputaran Bandung dahulu kala. Saya ingat, ketika pertama memasuki Sekolah Dasar alias SD, pepohonan menghiasi seputaran Kota Bandung dan Bandung begitu sejuk. Berjalan kaki pun rasanya tidak begitu lelah, karena udara di sekelilingnya banyak tetumbuhan yang secara biologis menghasilkan oksigen, sehingga bernapas saat berjalan rasanya menyegarkan. Begitu pun suara kendaraan, hanya sesekali motor dan mobil lewat, jalan raya sekali pun. Angkot sih sudah mulai agak banyak, tapi yaah, terkondisikan bahasa mahasiswa mah. Saya ingat sekali, suatu hari pulang les, saya bersama ibu saya sangat sulit mencari angkot, karena jumlah angkot yang tidak begitu banyak, dan kebetulan itu jam pulang kantor. Sopir angkot saat itu pun cukup mentaati peraturan lalu lintas, slengean sedikit ya wajar.

Lalu, pengemis dan pengamen. Kira-kira 14 tahun yang lalu, Bandung bersih dari pengemis. Pengamen pun beberapa saja, dan kebanyakan memang tunawisma yang tidak punya rumah dan butuh makan. Suaranya pun bagus, dengan berbagai alternatif lagu, mulai dari berbahasa Inggris sampai keroncong.

Baca juga:   Peduli Banjir Bandung Selatan

Banyak juga lahan kosong yang berisi berbagai tumbuhan, dan biasa dijadikan lapangan bermain oleh anak-anak kecil, entah bermain bola, engkle, dan voli. Lingkungan di Bandung pun begitu asri dan bersih, belum banyak sampah plastik yang mencemari seputaran pinggir jalan, dan masih banyaknya tempat sampah di sekitar kota Bandung. Sungai-sungai di Bandung pun masih bersih dan jernih.

Kisah unek-unek saya akan dimulai. Seiring perkembangan teknologi dan globalisasi, mobil dan motor semakin banyak. Orang-orang mulai berurbanisasi ke Bandung, dan Program KB makin tidak dilirik.

Akibatnya? Bandung zaman sekarang sangat semrawut! Macet di mana-mana. Apalagi di waktu weekend, di mana warga luar kota, misalnya Jakarta dan sekitar Bandung datang mengunjungi factory outlet dan pusat perbelanjaan di Bandung. Tingkat polusi pun bertambah pesat, seiring dengan penggunaan mobil berbahan bakar bensin, solar, pertamax, yang pastinya menghasilkan gas buang yang mengandung timbal, karbon monoksida, dan karbon dioksida, yang mengandung sifat karsinogen, alias pemicu kanker. Dan efek lebih luas lagi adalah masalah efek rumah kaca yang populer dengan nama pemanasan global.

Seiring bertambahnya arus urbanisasi, penghuni Bandung pun menjadi berjubel, dan berujung pada nasib kehidupan mereka. Rata-rata dari mereka merantau karena alasan ekonomi di kampungnya, yang sebagian besar bekerja di bidang pertanian dan perkebunan. Sedangkan di kampungnya sendiri mereka merasa tidak diperhatikan, dan pada akhirnya merantau. Saat hidup di kota, ada yang berhasil, ada pula yang gagal bertahan hidup. Yang berhasil dapat mrasakan hidup mapan dan tinggal di daerah elite di Bandung, misalnya Tubagus Ismail, Dago, Setiabudi, Ciumbuleuit, dan lainnya. Sedangkan yang gagal akhirnya menjadi pemulung, pengemis, pengamen, dan (maaf) penjaja seks komersial (PSK). Banyak juga dari pengemis itu beranak pinak akibat hubungan seks bebas sehingga menghasilkan lebih banyak lagi manusia-manusia baru. Anak memang anugrah Yang Maha Kuasa, namun hal itu bisa dihindari bukan?

Sekarang pun, di Bandung banyak dilakukan perdagangan anak, terutama untuk kaum pengemis. Misalnya saja, anak-anak dijual untuk menjadi ‘accecories’ dalam profesi mereka, agar oran-orang lebih merasa kasihan dan memberi mereka lebih banyak sumbangan. Tingkat pendidikan yang kurang pun menjadikan mereka tidak mengerti apa yang sedang mereka jalani itu haram, dan pastinya tingkat pendidikan mereka yang kurang itu menjadikan mereka tidak bisa mempunyai pekerjaan yang layak.

Baca juga:   [Video] Pengabdian Masyarakat Astacala untuk Pasir Jambu 2015

Ada pula perantau yang menjajaki profesi menjadi supir angkot. Dan inilah hal yang paling saya sesalkan, mengapa pengaturan angkot di Bandung tidak serapi di Yogyakarta? Ataupun yang paling dekat, Garut? Di Bandung angkot semakin hari semakin banyak, semakin pemarah, dan semakin ugal-ugalan. Kalau mengetem pun rasanya mereka tidak puas hanya dengan 7 penumpang saja. Tidak semua sopir angkot seperti itu, namun kebanyakan sopir angkot bersikap seperti di atas. Mereka dengan seenaknya saja berhenti di tengah jalan, kebut-kebutan sesama rute angkot, dan memacetkan jalan raya dengan jumlahnya yang sangat banyak. Subhanallah.

Saya sendiri membutuhkan angkot untuk pulang pergi kuliah, namun saya pun prihatin dengan keadaan per-angkot-an seperti itu. Entah siapa yang harus disalahkan.

Dampak dari kesemrawutan kota Bandung juga dapat dilihat dari semakin tidak pedulinya warga Bandung tentang kebersihan. Ketidaktersediaan tempat sampah juga memicu warga untuk membuang sampahnya sembarangan. Sungai Citarum, Cikapundung, dan sungai-sungai kecil lainnya menjadi kotor, karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang penuh sampah plastik dan bukan daur ulang memenuhinya. Astagfirullah.

Semakin banyaknya peluang bisnis di Bandung juga mengakibatkan kesemrawutan Bandung. Kafe-kafe di Bandung yang dibangun di Dago misalnya, banyak yang tidak memperhatikan tata kota, penghijauan, dan efek jangka panjangnya. Dapat dilihat dari atas bukit bagaimana gundulnya Dago, bagaimana gersangnya Dago, dan bagaimana banjir dan longsor yang sewaktu-waktu dapat menimpa daerah di bawah Dago.

Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, bukan pula menyalahkan. Tapi, ini hal yang selalu saya perhatikan ketika saya melewati jalan-jalan kota Bandung, di mana dulu segar oleh oksigen, kini penuh polusi. Di mana dulu lengang, sekarang penuh sesak. Di mana dulu damai, sekarang penuh kekacauan. Dan saya tidak akan mengeluh soal Bandung sekarang, saya hanya ingin penghuninya sendiri lebih sadar, lingkungan itu perlu dijaga, orang-orang kecil itu perlu diperhatikan, dan kota saya yang dulu bisa sedikit demi sedikit membaik.