Sang Dewi Rengganis di Puncak Argopuro 3088 Mdpl (Part 2)


Titik awal sebelum memasuki hutan, kami melakukan orientasi lagi guna memastikan punggungan yang tepat untuk didaki. Setelah yakin dan mantap, kaki-kaki kecil ini mulai kupaksa bekerja. Nafas mulai terengah-engah. Paru-paru udah kayak mau jebol. Mungkin gara-gara rokok atau malas latihan fisik. Kondisi yangg sama juga dialami oleh anggota tim yang lain. Biar pelan yang penting stabil. Saya tidak suka kalau sering berhenti karena bisa mengacaukan ROP. Pokoknya target malam ini harus bermalam di Danau Taman Hidup.
Jemmy Jessica, A – 075 – Kawah Asa **

Because it’s there
by George Mallory


Senin, 29 Juni 2009

Pagi subuh ketika matahari mulai muncul dengan malu-malu..kucoba walau dengan berat hati membuka sleeping bag ini. Dinginnya sudah mulai menggila. Sempat terpikir, di kaki gunung sudah  seperti ini, gimana ntar di gunungnya. Hahaha. Malam itu kami bermalam di Pos 1, lebih tepatnya di samping Pos 1. Kulihat sekelilingku. teman-teman masih terlelap nikmat dengan sleeping bag mereka. “Woi Bangun!!!” Teriakku. Dengan sedikit paksaan kecil akhirnya mereka terbangun. Setelah sadar sepenuhnya, kami berbagi tugas. Ada yang mengambil air, ada yang beli sarapan di desa. Saat itu jam menunjukan pukul 7 pagi.
Selang beberapa waktu, tim yg turun membeli sarapan sudah kembali. Gerak tangan ini kupercepat dalam memasukkan barang-barang ke dalam carrier.  Asyik mantap kali sarapan kali ini. Lagi itu setiap dari kami sarapan ditemani nasi hangat dengan lauk mie goreng dan sebuah rendang. “Kuluk… Kuluk… Hahaha… Kami makan dengan lahap, kurang lebih 5 menit sudah habis. Benar-benar beda dengan gaya makan di kota. Kalau di hutan sedikit buas, naluri hewan sedikit muncul. Hihi… Setelah kenyang, kami berkumpul berdoa agar perjalanan ini diberi keselamatan dari awal hingga akhir. And the real journey begins.

Selama 45 menit perjalanan kami, pemandangan didominasi dengan ladang cengkeh dan tembakau milik petani keringat mulai mengucur deras baju mulai basah matahari bersinar dengan teriknya. Perlahan namun pasti, kami perlahan meninggalkan desa. Suara keramaian desa mulai sayup-sayup terdengar. “Break… Break…”, salah seorang dari tim meminta break. Aku yang di depan langsung mencari tempat teduh dan rata agar kami bisa berhenti. Saat berhenti kumanfaatkan untuk berorientasi. Kuajak semua tim untuk membuka peta mereka. Mulai mengamati kontur alam sekitar dan menyamakan orientasi kami masing-masing. Setelah sepakat dengan posisi kami di peta, perjalanan dilanjutkan.

Titik awal sebelum memasuki hutan, kami melakukan orientasi lagi guna memastikan punggungan yang tepat untuk didaki. Setelah yakin dan mantap, kaki-kaki kecil ini mulai kupaksa bekerja. Nafas mulai terengah-engah. Paru-paru udah kayak mau jebol. Mungkin gara-gara rokok atau malas latihan fisik. Kondisi yangg sama juga dialami oleh anggota tim yang lain. Biar pelan yang penting stabil. Saya tidak suka kalau sering berhenti karena bisa mengacaukan ROP. Pokoknya target malam ini harus bermalam di Danau Taman Hidup.

Vegetasi hutan di jalur Bremi didominasi oleh pohon pinus. Perjalanan ini terasa sangat berat, mungkin dikarenakan tidak ada yang latihan fisik sebelumnya, juga medan yang notabene tanjakan. Bonusnya cuma di ladang, dari pintu masuk hutan ke atas. Nanjaknya aje gile, tidak ada bonus. Muka sampai ketemu dengkul, mana carrier rata-rata sampai 25 kg, ditambah air yang full tank. Suasananya seperti ini mirip mirip pendas, cuma bedanya sekarang saya yang bawa nyawa anak orang, hehehe.

Tepat pukul 12 kami berhenti istirahat sebentar sambil menikmati snack yang kami bawa. Sambil orientasi, dan siang itu capeknya perjalanan dikalahkan oleh ramainya senda gurau antara kami.

Perjalanan ini terbilang ngebut, dikarenakan rata-rata setelah melewati 1 karvak baru kita istirahat. Siang itu kami tidak makan siang. Target kami ditambah, yaitu makan siang di Danau Taman Hidup. “Hayooo semangat bruer…” Dengan semangat juang 45 kupaksa jiwa dan raga ini melanjutkan perjalanan. Kalau lihat di peta sih sudah dekat target kami, tinggal 3 karvak lagi sampai. Cuma yang bikin malas kalau melihat konturnya yang rapat-rapat. Langkah kaki kupercepat. Segala macam letih dan gangguan tak kuhiraukan. Hahaha ternyata perkiraanku tepat. Tak lama kami menemukan sebuah sadelan, kami turun sedikit lalu belok kiri. Akhirnya sampailah kami, di sebuah tempat yang disebut danau bernama Danau Taman Hidup. Kulihat jam, pukul 3 sore kami sampai di tempat ini.

Setelah plotting posisi, kami foto-foto alam sekitar dan dokumentasi kegiatan. Kami langsung membagi tugas. Ada yang memasak, ada yang bikin camp, ada yang cari kayu. Pukul 4 sore camp sudah berdiri dengan gagah. Sore itu rasa lelah sudah tidak terasa lagi. Pemandangan sunset di danau sore  itu juga indah. Benar-benar indah. Wuih, pokoknya mantapnya pool.

Baca juga:   Pendakian Gunung Argopuro

Malam itu langit bertabur bintang. Kadang-kadang terlihat bintang jatuh. Sambil menikmati malam itu, kami habiskan waktu untuk beristirahat dan breaffing untuk besok pagi. “Tuhan, terima kasih atas segala berkat dan kuasaMu, bahwa kami boleh sampai di tempat  ini dengan selamat. Berkatilah perjalanan kami besok ya Tuhan”, doaku sebelum tidur.

Selasa 30 Juni 2009

Pagi itu aku dibangunkan oleh lagu “hitamku”, setelah alarm HP  berbunyi kira-kira sepuluh menit baru terbangun. Pagi itu embun membasahi doom dan flysheet kami. Matahari sudah mulai terang, kabut di danau pun sudah mulai menghilang. Pukul delapan pagi, sarapan sudah tersedia. Setelah sarapan kami pun  packing barang. Pukul sembilan tepat, kami sudah siap berangkat. Sebelum berangkat kami breaffing sebentar, tak lupa kami berdoa pula. Target selanjutnya bermalam di Aengkenek. Hihihi… Kali ini perjalanan tidak terasa berat. Mungkin dikarenakan tubuh sudah mulai beradaptasi dan beraklimatisasi dengan alam sekitar. Medan yang terjal dan jalur yang sudah tertutup semak belukar membuat adrenalin kami semakin terpacu. Membuat kami semakin peka dalam hal navigasi .

Beberapa kali pohon tumbang di jalan menghalangi kami. Kadang melintang, kadang menutupi jalur, kami lewati dengan sabar. Jalur pendakian dari Taman Hidup sampai Aengkenek didominasi dengan hutan-hutan pinus yang kering. Mungkin lebih tepatnya bekas kebakaran hutan. Jalur pun kebanyakan melipir punggungan dan menyeberang beberapa sungai kering. Membuat kami harus sering kali membuka peta. Namun itu yang membuat perjalanan ini semakin seru. Pukul dua belas siang kami ishoma. Kami masak bihun kuah. Cocok dengan suasana yang dingin. Sambil menunggu matang, kubuka peta dan kulihat jarak Aengkenek yang masih jauh. Wah ini tidak akan terkejar pikirku. Cuaca siang itu agak berkabut tebal, jarak pandang mungkin hanya tiga meter, membuat kami harus jaga jarak antara depan dan belakang.
Matahari mulai bersinar kemerahan, kulihat jam sudah pukul tiga sore. Masih ada tiga karvak menuju Aengkenek. Kuputuskan untuk terus berjalan hingga pukul lima sore. Tepat pukul lima sore, kami menemukan sebuah pos bernama Cisinyal, diberi nama sesuai dengan namanya. Yoi ditempat itu terdapat sinyal, namun hanya ada sinyal Indosat dan Telkomsel. Mantap dah. Seperti rutinitas biasa, kami berbagi tugas. Pukul enam sore camp sudah berdiri, malam itu bulan terang benderang walau bukan purnama. Terkadang sayup-sayup terdengar suara-suara binatang malam. Malam itu kami pun  beristirahat ditemani dingin dan sunyinya malam itu.

Rabu, 1 Juli 2009

Hari itu salah satu anggota team ada yang sakit, bernama Sigit Fathomy. Kawanku yang satu ini sakit pencernaan, diare tapi mengeluarkan darah. Sebenarnya dari Taman Hidup sudah sakit, tapi Sigit nggak ngomong. Akhirnya diputuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ini sebab Sigit merasa masih kuat. Perjalanan pun kami lanjutkan, namun perjalanan kali ini agak diperlambat, menyesuaikan dengan kondisi fisik SIgit, yang sedikit-sedikit minta berhenti untuk bab. Pukul dua belas siang tibalah kami  di suatu tempat bernama Aengkenek. Di dekatnya ada sebuah sungai, kami manfaatkan untuk mengisi air dan menyegarkan badan. Sungguh sangat segar. Setelah beristirahat, sambil plotting peta kami melanjutkan perjalanan. Target kami harus sampai Cisentor. Kami pun berjalan agak ngebut. Jalan berdebu, kaki yang letih, panas yang terik, tidak mengurangi semangat kami.

Jalur-jalur yang bercabang membuat kami  berhati-hati. Ditambah medan yang tertutup oleh semak belukar, punggungan yang lebar, sabana yang tertutup oleh rumput-rumput gimbal, membuat adrenalin terpompa dengan kuat. Navigasi adalah satu-satunya cara agar kami tidak tersesat. Sambil berjalan kami sedikit-sedikit melakukan dokumentasi. Dengan kamera seadanya kami jepret sana jepret sini layaknya fotografer profesional. Kamera digital biasa kami olah agar tak kalah dengan DSLR. Hahaha. Siang itu wajah para  AM seperti tidak ada beban, beda dengan wajahku yang sedikit menyimpan rasa khawatir. Namun aku tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Jalur Cisinyal – Cisentor didominasi oleh jalur yang melipir punggungan dengan sisi yang sebelahnya jurang yang cukup dalam. Ditambah sedikit sabana dengan rumput gimbalnya. Sore itu pukul tiga, terlihatlah dari kejauhan sebuah pos berbentuk shelter. Kami pun bergerak lebih cepat.

Sesuai dengan dugaan, kami telah sampai di pos bernama Cisentor. Namun di pos itu ada doom yg ditinggal pemiliknya. Dipastikan pemiliknya sedang mendaki puncak dari Pos Cisentor. Kami memutuskan untuk bermalam sedikit ke atas. Tepat di padang lavender kami menemukan sebuah tempat yang pas, dengan kayu bakar melimpah. Malam itu api menyala dengan besar, jadi udara dingin tidak terasa. Malam itu kami semua tertawa lepas sambil bercerita kisah-kisah lucu ketika pendas dulu. Namun ada satu orang yang diam saja, Sigit. Kulihat penderitaan di wajahnya. Badannyapun mulai mengurus. Arghh, aku tidak mau berpikir yang aneh-aneh. Tak lama lelah dan kantuk mengalahkan kami semua. Kami tertidur dengan pulas.


Kamis, 2 Juli 2009

Pukul sembilan pagi perjalanan kami lanjutkan, kali ini target kami adalah Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Sebelumnya kami memastikan kondisi Sigit, apakah masih layak untuk melanjutkan perjalanan. Dan ternyata Sigit masih kuat. Diputuskan kita tetap melanjukan perjalanan bersama-sama. Dari Cisentor menuju puncak kami harus berjalan melewati jalan setapak menanjak yang vegetasinya didominasi oleh bunga edelweis. Sungguh pemandangan yang indah memanjakan mata. Medan perjalanan dihiasi dengan menyeberang beberapa sungai kering dan melewati beberapa sabana dan stepa. Rumput-rumput gimbal kering menari-nari tertiup angin pegunungan seakan-akan menyambut kedatangan kami. Pukul sebelas siang tibalah kami semua di sebuah tempat bernama Rawa Embik. Di tempat inilah kami beristirahat sambil menikmati makan siang. Dalam kesunyian hutan terdengarlah suara-suara burung merak. Sempat beberapa anggota team melihat burung itu terbang. Wah sungguh menambah semangat dan bumbu perjalanan ini.

Pukul dua belas siang kami melanjutkan perjalanan kami dengan hanya menggunakan satu carrier yang berisi logistik, air,  dan bendera. Dari Rawa Embik – Puncak bisa ditempuh dalam waktu dua jam. Pemandangan menuju puncak sangat indah. Kita dapat melihat tebing-tebing batu tegak berdiri. Bunga edelweiss yang mekar, hingga rumput gimbal yang bagus. Namun sayangnya Sigit tidak menikmatinya. Terbesit dari mukanya penderitaan yang teramat dalam. Setiap kali dia melangkah seperti ada yang menusuk-nusuk perutnya. Akhirnya perjalanan sering berhenti. Namun itu tidak melunturkan semangat kami. Sebelum puncak akan bertemu pertigaan. Kalau ke kiri ke Puncak Rengganis, kalau ke kanan ke Puncak Argopuro. Tepat pukul satu siang akhirnya kami mencapai Puncak Argopuro 3088 mdpl. Puncaknya tertutup pepohonan pinus. Ada tugu dari batu yang disusun dengan sedikit sesajen di atasnya. Kami  mengucap syukur bisa diberi kesempatan untuk dapat menikmati keindahanNya. Kami pun niatnya makan siang dengan logistik yang kami bawa.

Namun sialnya, logistik yang mau dimasak tertinggal di bawah. Alhasil kami hanya makan snack dan minum air saja. Jadinya Tape deh. Sudah bawa berat-berat carrier ke atas, tapi cuma bawa alat masaknya saja. Setelah puas foto-foto, kami turun menuju Puncak Rengganis. Di Puncak Rengganis kita bisa melihat beberapa makam dan reruntuhan Candi. Argopuro sendiri berarti seribu candi. Bau belerang masih tercium sedikit. Seakan-akan semua beban dan rasa lelah tidak terasa saat kita melihat indahnya pemandangan dari kedua puncakan. Pokoknya suasana pun mengharu biru, terutama bagi para AM yang newbie alias first time gunung 3000 mereka. Specially Memet.

Baca juga:   Ciremai and Mom , You're Everything

Rasa puas dan bahagia bercampur menjadi satu. Kulihat jam ternyata sudah pukul dua siang. Kami putuskan untuk turun dari Puncak Sang Dewi Rengganis menuju Rawa Embik. Di sana kami mengambil carrier yang sengaja ditinggal. Setelah beristirahat sebentar, kami langsung turun menuju Cisentor. Karena hari mulai gelap kami mempercepat langkah kami.

Tepat pukul lima sore kami bermalan di Cisentor. Tapi kali ini kami bermalam di dalam shelternya. Malam itu dingin sangat terasa karena berada di daerah lembahan. Dinginnya benar-benar menggila. Hahaha . Mantap!

Jumat, 3 Juli 2009

Pagi ini merupakan pagi yang buruk. Kondisi Sigit memburuk. Terlihat dari mukanya yang semakin pucat pertanda kekurangan darah. Perjalanan ini harus berakhir secepatnya, kami memutuskan untuk berjalan secepatnya menuju peradaban. Kami berjalan secepatnya agar sampai langsung ke desa. Tepat pukul sembilan pagi setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan. Cisentor – Cikasur kali ini jalurnya diawali dengan sedikit menanjak lalu landai didominasi padang sabana yang luas dan lebar.

Kira-kira  setelah satu jam cuaca mulai tidak bersahabat. Udara mulai berkabut, firasatku akan hujan. Benar saja, tak lama kemudian hujan mengguyur kami rintik-rintik. Sambil tetap menjaga jarak kami lanjutkan perjalanan. Jalur sabana yang kami lewati sungguh panjang dan luas. Dengan sabar kami turun naik bukit yang bentuknya seperti bentuk bukit teletubbies, khayalku. Hahaha. Tepat pukul dua belas siang, ketika matahari mulai bersahabat, mulai bersinar cerah, sampailah kami di tempat yang terdapat landasan pesawat terbang yang tak lain bernama Cikasur.

Di sana kami hanya beristirahat sejenak. Hanya makan snack, sedikit orientasi medan, dan mengambil air di sungai. Sungai Cikasur terkenal  akan kesegaran airnya , terutama selada airnya. Sangat hijau dan segar memanjakan mata. Namun sayangnya kami harus segera melanjutkan perjalanan ini. Setelah yakin akan arah selanjutnya kami bergegas berangkat. Dengan cepat kupacu langkah ini, berharap malam ini sudah sampai di desa.

Pukul dua siang, sampailah kami di alun-alun kecil. Beristirahat sebentar, lalu berjalan lagi. Sebenarnya kaki  sudah meronta-ronta ingin berhenti. Tapi tetap kupaksa langkah ini, dengan bayang-bayang wajah temanku yang sedang sakit. Satu jam kemudian sampailah kami di Cemoro Panjang. Kami bertemu beberapa offroader yang sedang memacu motornya. Sambil bertanya desa terdekat “Pak, kira-kira  berapa lama lagi sampai di desa?” tanyaku. “Wah masih jauh dik, kira-kira setengah hari lagi” jawabnya. Waduh bisa gawat nih, bisikku dalam hati. Setelah pamit, kami bergegas melanjutkan perjalanan.

Satu jam kemudian kami sampai di pos bernama Mata Air. Di sana kami istirahatkan kaki yang lelah ini. Rasanya mantap sekali. Coba bawa kaki cadangan, tinggal ganti aja nih. Hahaha… Sigit sempat tertawa mendengarku. Setelah merasa cukup beristirahat, kami berjalan lagi. Pukul empat sore sayup-sayup terdengar suara dangdutan desa menambah asa dalam jiwa ini. Langkah kaki kupercepat. Pukul lima sore kami sudah memasuki kebun penduduk. Namun karena tim sudah amat kelelahan, kami memutuskan untuk ngecamp di ladang penduduk. Bayangkan saja Cisentor – ladang penduduk kami tempuh dalam waktu 8 jam. Long march yang gila. Hahaha… Nggak menyangka ternyata kami bisa. Malamnya kami semua terlelap tidur dibuai oleh rasa lelah dan letih yang teramat sangat. Berdoa semoga Sigit bisa bertahan.


Sabtu, 4 Juli 2009

Matahari sudah mulai terik, kulihat jam sudah menunjukan  pukul  sembilan pagi. Setelah sarapan, kami langsung melanjutkan perjalanan. Kali ini sepanjang perjalanan didominasi oleh perkebunan tembakau. Kadang-kadang kami pun bertemu dengan para petani,. Sambil senyum-senyum sedikit kami mengucapkan salam. Jalan di ladang ini sungguh sangat panjang berliku-liku. Menipu. Sigit semakin terlihat lemah, namun ia tetap berjalan dengan pelan tapi pasti. Siang itu cuaca panas terik. Kulit kami terasa terbakar oleh panasnya matahari. Tak lama kemudian sampailah kami di peradapan. Terlihat pos ronda. Di sana kami menaruh carrier untuk beristirahat. Tak disangka ada Pak RT yang baik. Beliau memberi kami satu tandan pisang. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih, sambil berbincang-bincang sejenak. Setelah itu kami mencari warung nasi. Maklumlah udah bosan sama makanan gunung. Pukul satu siang kami makan di warung nasi dengan lauk indomie goreng, telor ceplok, dan es teh. Rasanya seperti makanan hotel. Hihihi.

Sambil berbincang dengan pemilik warung, kami bertanya tentang angkutan yang akan membawa kami ke terminal. “Wah ntar jam tigaan ada dik”, kata ibu penjual. Tak lama angkot yang ditunggu itu pun datang, dengan karat dimana mana. Agak meragukan memang kalau dilihat dari bentuknya, lebih mirip bemo jadul daripada angkot. Setelah pamit kami pun bergegas pulang menuju Terminal Probolinggo dilanjutkan ke Terminal Jember menuju rumah Sigit. Sesampainya di sana kami langsung membersihkan diri. Malamnya team terbagi dua, ada yang pulang ke Bandung untuk SP, dan ada yang ke Bali untuk geladi dan KP.

Baca juga:   Menapaki Kerinci, Gunung Berapi Tertinggi di Indonesia

Ternyata kata istirahat masih terlalu tabu untukku. Bayangkan saja sore sampe Jember, malamnya sudah harus ke Bandung naik kereta ekonomi pula. Sungguh-sungguh perjalanan yang amat melelahkan. Malamnya saya (Monop), Memet, Tumingkel, dan Engkong  melanjutkan perjalanan menuju Bandung.

.   Gunung Argopuro, kisahmu takkan pernah kulupakan dalam sisa hidupku. Engkau telah memberi sebuah tinta warna yang berbeda dalam goresan kisah-kisah perjalananku.

** Anggota ASTACALA, Mahasiswa Pecinta Alam IT TELKOM