Anggaraeni Dari Sebelat


Perkenalan yang singkat ternyata sudah cukup mengakrabkanku padanya sebagai tuan rumah dan aku sebagai tamunya. “Kita akan masuk ke PLG. Dari sini sekitar delapan kilo. Tapi sayang, jalannya sudah agak rusak,” ujarnya sambil terus mengendalikan motor di jalan yang berlubang. Jalanan berbatu yang dibangun belasan tahun yang lewat yang kini menghadang perjalananku. Ini kedatangan pertamaku ke taman nasional.

Kerikil-kerikil tajam yang berserakan kadang berhamburan dilindas ban roda motor yang kutumpangi. Di jalanan ini, pengendara motor harus lebih barhati-hati untuk melewati medan ini. Sebab selain berbatu tajam, kadang juga harus berhadapan dengan lubang lumpur yang menganga yang membuat laju kendaraan harus sangat pelan dan hati-hati.

“Abu Kamil,” ujar orang yang baru kukenal ini. Kemudian ia mengulurkan tangannya.

“Tadi pagi Pak Aswin bilang kalau akan ada tamu yang mau masuk ke dalam, dan saya disuruh menjemput Bapak, eh…siapa?” lanjutnya. Kusebutkan namaku sambil turut menyambut uluran tanganya. Ia lalu mempersilahkan aku untuk membonceng di motornya.

Tubuhnya cukup gemuk untuk ukuran seorang polisi hutan yang sering ke hutan sebagai wilayah kerjanya. Seragam hijau tuanya yang khas terlihat agak sempit. Sepatu kulitnya yang mengkilap sedikit mencolok ketika hendak menghidupkan motor.

Perkenalan yang singkat ternyata sudah cukup mengakrabkanku padanya sebagai tuan rumah dan aku sebagai tamunya.

“Kita akan masuk ke PLG. Dari sini sekitar delapan kilo. Tapi sayang, jalannya sudah agak rusak,” ujarnya sambil terus mengendalikan motor di jalan yang berlubang. Jalanan berbatu yang dibangun belasan tahun yang lewat yang kini menghadang perjalananku. Ini kedatangan pertamaku ke taman nasional.

Kerikil-kerikil tajam yang berserakan kadang berhamburan dilindas ban roda motor yang kutumpangi. Di jalanan ini, pengendara motor harus lebih barhati-hati untuk melewati medan ini. Sebab selain berbatu tajam, kadang juga harus berhadapan dengan lubang lumpur yang menganga yang membuat laju kendaraan harus sangat pelan dan hati-hati.

Kadang kami berpapasan dengan kendaraan-kendaraan lain, mereka adalah petani-petani sawit yang pulang-pergi dari dan ke lahan mereka.

“Selain sawit, penduduk di sini menanam padi, ada yang menanam jeruk juga karet. Sekarang sedang musim duku,” terang Abu Kamil, kadang terdengar kadang tidak, di sela deru motor dan desau angin yang cukup mengganggu.

“Dulu sebelum menjadi polisi hutan, saya ini adalah pawang gajah,” lanjutnya.

 

“Apa betul gajah itu dapat mendengar orang yang mengejeknya, Pak Abu? Hingga ia kadang datang merusak ladang penduduk?” tanyaku.

Petani di daerah Bengkulu Selatan biasanya tidak mau menyebut kata ‘gajah’ kalau mereka sedang berada di hutan. Di kalangan petani di daerah Bengkulu, khususnya Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan, penyebutan kata ‘gajah’ ketika sedang berada di ladang merupakan suatu hal yang dilarang.

“Ha…ha…, mungkin memang iya, sebab menurut pelatihku dulu yang dari Thailand, gajah itu katanya sanggup mendengar ’suara bumi’, jadi bisa saja ia tahu, kalau kita ada yang bermaksud mengejeknya,” Abu Kamil tertawa-tawa mendengar pertanyaanku tadi.

Motor yang kami naiki terus melaju, kadang pelan, kadang cepat, mengikuti alur jalan yang mendaki dan menurun. Menghindari lubang-lubang itu membutuhkan keahlian sendiri dalam bermotor. Pada saatnya, kami juga harus merelakan motor berhadapan dengan jalanan yang rusak berat dan harus mengatur strategi agar bisa lewat dengan selamat.

“Tunggu di depan saja, saya nggak berani kalau melewati lumpur di depan dengan membonceng orang,” Abu Kamil menyuruhku turun.

Hampir satu jam berjalan. “Itu sudah kelihatan barak PLG kita,” seru Abu Kamil seraya menunjuk ke arah depan.

Dari kejauhan sudah terlihat deretan bangunan-bangunan berwarna hijau muda keputihan. Mirip rumah-rumah peristirahatan. Letaknya yang berada di pinggir tebing membuatnya terlihat jelas dari kejauhan dan mencolok mata karena kesendirian dan keunikannya di tengah hutan belantara.

****

Areal Hutan Gunung Sebelat pada awalnya terhampar luas. Namun, seperti hutan-hutan wilayah Sumatera dan Kalimantan lainnya, luas hutan berangsur-angsur mulai terkikis oleh aksi penebangan pohon yang dilegalkan sejak awal rezim Orde Baru berkuasa.

Bulan Mei 1967, pemerintahan Soeharto menerbitkan Undang-Undang Pokok Kehutanan. Landasan penyusunan undang-undang ini amat mulia. Seperti dimuat dalam butir ‘menimbang’ poin (c) dan (d) konsideran itu.

“Untuk menjamin kepentingan rakyat dan Negara serta untuk menyelesaikan Revolusi Nasional diperlukan adanya Undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan pokok tentang Kehutanan yang bersifat nasional dan merupakan dasar bagi penyusunan Peraturan Perundangan dalam bidang hutan dan Kehutanan.”

“Peraturan-peraturan dalam bidang hutan dan Kehutanan yang berlaku sampai sekarang sebagian besar berasal dari Pemerintah jajahan, bersifat kolonial dan beraneka ragam coraknya, sehingga tidak sesuai lagi dengan tuntutan Revolusi.”

Namun isi pasal dan penjelasannya, pemerintah menguasai hutan-hutan yang ada di luar pulau Jawa, menentukan jenis hutan, luas dan wilayah hutan penebangan. Hutan-hutan ini dibagi-bagi menjadi hutan lindung, produksi, suaka-alam, dan wisata.

Dari sinilah bencana lingkungan di Indonesia dimulai. Saat itu pemerintah menetapkan 143 juta hektare sebagai ‘Kawasan Hutan’. Luas ini sekitar 74 persen total luas daratan Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, luas ini menyusut.

Praktik undang-undang ini tak semulia isinya. Di bawah Soeharto, hutan bukan lagi milik negara. Tapi milik keluarga. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) diberikan kepada kerabat dan teman dekat.

Hasil penelitian David Brown, peneliti di Indonesia-UK Tropical Forest Management Programme, menyebutkan di antara lima perusahaan HPH swasta terbesar, dua di antaranya menyerahkan sebagian saham dan pengelolaan pada keluarga Soeharto. Kedua perusahaan tersebut adalah Kelompok Barito Pasific dan Kelompok Bob Hasan.

Sedangkan kelima perusahaan pemegang konsesi HPH tersebut, Barito Pasific, Djajanti, Alas Kusuma, Kayu Lapis Indonesia (KLI), dan Bob Hasan group. Mereka mengontrol seluas 18 juta dari 62 juta hektare HPH yang dikuasai 585 perusahaan pemegang konsesi hutan di seluruh Indonesia. Bob Hasan bersama putra-putri Cendana untuk menguasai saham dan menjabat posisi komisaris, komisaris utama dan direktur utama perusahaan pemegang HPH di Sumatera dan Kalimantan. Sigit Harjojudanto, Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto. Probosutedjo dan Sudwikatmno yang merupakan saudara Soeharto juga tak ketinggalan. Demikian pula Ibnu Hartomo, ipar Soeharto. Ia menjadi menjadi  presiden komisaris dan salah satu pemilik saham di PT Maju Jaya Raya milik Alas Kusuma Group, yang menguasai 80,000 hektare HPH di Bengkulu.

Baca juga:   Melirik Peran dan Daya Guna Taman Konservasi Gajah di Lampung

Kerusakan akibat praktik penebangan ini bertahun-tahun memangkas luas hutan Sumatera dan Kalimantan. Belakangan diperparah dengan perluasan perkebunan sawit lewat pembakaran hutan. Berkurangnya luas hutan mempengaruhi habitat hewan liar, termasuk gajah Sumatera di hutan Gunung Sebelat. Hewan ini kehilangan tanaman dan buah-buahan di hutan yang menjadi makanannya. Mereka terdesak, sulit mencari makan. Belakangan mencari makan ke kebun-kebun penduduk. Alih-alih mendapat perlindungan, hewan berbelalai itu malah dinyatakan sebagai satwa pengganggu bagi kehidupan manusia. Tak sedikit yang mati diburu. Walhasil, populasi gajah semakin berkurang.

Tanggal 21 Oktober 1992, di masa pemerintahan Soeharto, akhirnya mendirikan pusat penjinakan khusus para gajah di Hutan Gunung Sebelat. Tujuannya menjinakan binatang-binatang liar itu agar tak berseteru dengan penduduk di sekeliling hutan. Tujuan lainnya adalah untuk melindungi gajah liar dan menyelenggarakan pemanfaatan gajah-gajah terlatih.

Pusat Latihan Gajah Sebelat berada dalam hutan produksi dengan fungsi khusus untuk pemusatan latihan gajah. Ini berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No 685 tahun 1995. Luasnya 6.865 hektar. Letak pusat latihan binatang raksasa ini ada di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara. Kawasan hutan ini berada pada ketinggian 56 – 113 meter dari permukaan laut. Di hutan kawasan Pusat Latihan Gajah ini mengandung potensi yang relatif kaya seperti kayu unggulan semacam Meranti, Sungkai, jenis-jenis tanaman langka seperti bunga Raflessia (Rafflesia spp) dan bunga Bangkai (Amorphophallus spp), serta bermacam tanaman-tanaman obat.

Kawasan hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat kini masih dihuni satwa-satwa liar yang sudah langka dan hampir punah seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Beruang, Rusa, Tapir, serta jenis-jenis burung seperti Rangkong, Enggang, Kuau, Elang serta Raja Udang.

Selain sebagai habitat satwa liar, hutan Pusat Latihan Gajah juga merupakan indikator penting fungsi hidrologis dengan keberadaan beberapa sungai di dalamnya. Di antara sungai itu adalah Sungai Sebelat.

Karena dampak otonomi daerah, Bengkulu juga mengalami beberapa pemekaran kabupaten. Sehingga hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat kini berada dalam dua wilayah kabupaten yakni Kabupaten Bengkulu Utara, seluas 6.365 hektar, dan Kabupaten Muko-muko, sekitar 500 hektar.

Kawasan ini mirip kawasan hutan yang tersisa yang dipertahankan untuk kepentingan keragaman hayati. Di sekeliling hutan membentang areal-areal perkebunan kelapa sawit milik penduduk dan perusahaan perkebunan besar seperti PT. Alno Agro Utama, PT Agricinal, dan PT. Mitra Puding Emas.
****

Di hadapanku kini membentang sungai Sebelat yang berwarna kuning keruh. Mungkin semalam habis banjir. Tiang-tiang jembatan gantung terlihat terbengkalai tidak berfungsi lagi. Motor yang tadi kutumpangi telah terparkir di depan pos jaga yang sudah kosong di sebeah kanan jalan.

“Sudah lama jembatan ini putus. Baru dua tahun dibangun sama pemerintah, eh sudah ambruk,” terang Pak Abu.

“Kita akan menyeberang naik Tronton,” katanya sambil menunjuk alat penyeberangan mereka satu-satunya saat ini.

Tronton adalah semacam rakit dari drum yang dirangkai dengan kawat yang dilas. Di salah satu sudut bagian depannya diikat dengan rantai besar, rantai yang biasa juga dipakai untuk mengikat gajah. Di ujung rantai diberi katrol yang terhubung langsung dengan tali serat baja yang memotong lurus di atas sungai Sebelat.

Ikatan diletakan di satu sudut depan agar posisi tronton menjadi miring. Tekanan arus yang deras akan mendorong rakit sehingga katrol yang terhubung ke tali secara otomatis akan berputar dan menjalankan rakit hingga ke seberang.

“Alat yang aneh,” gumamku.

 

“Ini idenya pak Wahdi, ketika kami tidak memiliki alat untuk nyeberang, dulu ada perahu, tapi sudah hanyut. Kami sangat terbantu dengan adanya tronton ini.”

Suara Abu Kamil tetap jelas terdengar di sela gemuruh arus sungai deras. Aku jadi ingat dengan Pak Wahdi, Manajer Progam Conservation Response Unit, yang kini berada di Medan. Berkat dialah aku kini berada di tempat ini.

“Kok kecamatan di sini namanya Putri Hijau Pak, bukan Sebelat?” tanyaku tiba-tiba ingat kalau nama itu terdengar asing.

“Nggak tahu juga kami, memang yang lebih dikenal bahkan sampai ke luar negeri itu adalah Sebelat, Taman Nasional Kerinci Sebelat contohnya, tapi oleh pemerintah kecamatanya diberi nama Putri Hijau.”

****

“Jadi tujuan kamu ke sini untuk melihat semua kegiatan kami ya, terus kemudian memberikan masukan ke Pak Wahdi, untuk kemudian membuat semacam program pengembangan di PLG ini ya? Berarti kamu mata-mata dong,” tanya Dodi, pawang yang membawaku turut bersamanya untuk memindahkan gajah.

“Ya nggak begitu lah, saya kan tidak berhak untuk memata-mati kalian. Tugas saya adalah mengenal PLG Sebelat secara lebih dekat, khususnya kegiatan yang dilakukan oleh CRU (Conservation Respon Unit), masalah yang lainnya aku rasa tak bolehlah kucampuri, ya kan?” sergahku.

Kedatangan ku ke PLG memang atas utusan dari Flora & Fauna International, sebuah lembaga swadaya internasional yang giat melakukan upaya konservasi, termasuk di hutan Indonesia. Salah satu bentuk progam mereka dalam konservasi adalah pembentukan unit respon konservasi (CRU) di PLG Sebelat. Kegiatannya antara lain melakukan patroli di hutan kawasan Pusat Latihan Gajah Sebelat.

“Kedatangan saya ke sini, untuk mengenal lebih dekat kegiatan CRU, kemudian nanti memberikan usulan kepada pak Wahdi untuk pengembangan program yang berada di bawah tanggung jawab FFI. Ya kalau kalian ada masukan, tentu itu akan sangat membantu,” lanjutku.

Baca juga:   Teungku Krueng Meureubo

CRU adalah unit bentukan FFI yang bekerja sama dengan BKSDA Bengkulu. Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara FFI dengan para pawang gajah, polisi hutan, juga dengan penduduk setempat. Bentuk kegiatan yang mereka lakukan antara lain patroli dan monitoring kegiatan illegal loging di hutan kawasan hutan Pusat Latihan Gajah.

Selaian itu, CRU dibentuk untuk meningkatkan peran serta masyarakat luas dalam menjaga kelestarian hutan. Untuk itu, telah juga dilakukan semacam pendidikan konservasi kepada penduduk setempat. Kami menyusuri sungai Sebelat ke arah hulu, akhirnya kami sampai di tempat mengikat gajah-gajah yang sudah jinak itu.

 

“Heuh, heuhh, heuuuuuh….” suara Dodi terdengar melengking. Barangkali bahasa yang sudah mereka pahamkan kepada gajah. Aku baru kali ini mendengarnya. Dodi adalah salah satu pawang yang statusnya masih calon pegawai negeri sipil di sini. Keluarganya ia tinggalkan di kota Bengkulu selama 15 hari untuk setiap bulan.

Rantai sepanjang sepuluh meter kemudian ia lepas. Bekas-bekas aktivitas gajah selama semalaman terlihat sangat kentara, rumput-rumput yang tercerabut, pohon-pohon kecil yang bertumbangan. Dodi lalu mulai menggiring gajah-gajah itu untuk mulai bergerak, mencari tempat baru yang masih banyak makanan untuk gajahnya.

“Tugas kami setiap hari ya begini, pagi sampai siang memindahkan gajah. Mencari tempat yang banyak makanannya, mengikat gajah-gajah ini, kemudian pulang ke barak. Dan besoknya begitu lagi. He…he… bosan,” terangnya sambil mengajakku untuk mengikutinya, menggiring gajah sampai tempat yang tepat untuk mengikat mereka. Hewan bertubuh besar dan tinggi lebih dari dua meter itu bergerak manut terhadap perintah pawangnya.

“Setiap pawang diberi tanggung jawab satu ekor gajah, cuma karena kebetulan ada temanku yang sedang cuti, jadi aku kebagian memelihara gajahnya. Nah, yang ini namanya Anggraeni, sedang ya.. itu.”

Tawaku hampir saja meledak mendengar nama-nama gajah itu, cantik-cantik sekali nama mereka, seperti nama manusia adanya.

****

“Apa pak Aswin nggak bilang kapan kembali ke sini?” tanya Mahyudin, koordinator pawang, ketika kami sedang beristirahat di dapur umum barak para pawang. Pak Aswin adalah koordinator Pusat Latihan Gajah Sebelat ini. Sudah lebih satu tahun bujangan ini mengemban tugas yang cukup unik ini.

“Ya, nggak sih Pak. Memangnya dia ke Bengkulu ada urusan apa?”

“Kemarin kita melakukan penangkapan penebang kayu, ya mungkin ngurus itu juga. Susah!”

Ia kemudian bercerita tentang kondisi mereka di PLG, sebagai anggota dari CRU yang juga berhak menangkap siapa saja yang melakukan penjarahan di di kawasan hutan PLG.

Dari keterangan yang kudapat dari Pak Aswin kemudian, lebih dari 400 hektar hutan Pusat Latihan Gajah telah diserobot. Kabar terakhir dari dia, ada puluhan kepala keluarga yang berasal dari Pekan Baru yang membuka lahan di kawasan hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat.

Bahkan menurut keterangan yang diberikan oleh Ir. Sugito, Kepala Dinas Kehutanan tahun 2004 kepada harian Suara Pembaruan, bahwa berdasarkan investigasi pihaknya di lapangan, pembabatan hutan di Pusat Latihan Gajah Sebelat diduga kuat dibeking oleh salah satu perusahaan perkebunan yang ada di daerah itu.

“Sebetulnya dengan adanya CRU, penebangan kayu di sini sudah lumayan berkurang, dan imbasnya pada masyarakat, mereka tidak terlalu berani lagi mencuri kayu di kawasan. Tapi sayangnya, kita sudah melakukan penangkapan, cuma kita tidak bisa lebih jauh dari itu, untuk ngurus sampai ke persidangan kita nggak sanggup, nggak ada dana dan tenaga. Sekarang ini kita juga sedang mengurus masalah tapal batas hutan PLG, sebab ada perusahaan perkebunan yang ternyata kelewatan membabat hutan hingga masuk ke hutan PLG.”

Kenyataan seperti ini memang sering dialami oleh para pawang dan polisi hutan di kawasan PLG. Hal senada lebih jelas aku ketahui setelah bertemu dengan Pak Aswin beberapa hari kemudian. Bahkan aku melihat sendiri ada polisi hutan yang ketakutan, sebab tersangka yang mereka tangkap belum disidangkan, ia dan keluarganya merasa diteror.

Akibat menyusutnya lahan hutan Pusat Latihan Gajah Sebelat maka gajah-gajah liar yang ada di sekitar Pusat Latihan Gajah Sebelat sering muncul di sekitar pemukiman penduduk dan tak sering merusak perkebunan milik masyarakat setempat.

****

Siang itu tiba-tiba, Mahyudin mengabarkan bahwa ada telepon dari Pak Aswin untuk memerintahkan kepada beberapa pawang melakukan pengusiran gajah liar yang merusak perkebunan sawit milik perusahaan swasta.

“Kamu ikut ya, kata Pak Aswin nanti ketemu dia di lokasi pengusiran. Siapkan barang-barangmu, sore ini kita berangkat,” perintah Mahyudin padaku sambil memilih nama-nama pawang yang akan ikut. Jumlahnya enam orang dengan aku, dua lagi akan menyusul besok pagi.

Sore itu hujan mengguyur cukup deras. Di lokasi yang telah ditentukan, yakni di dekat tiang jembatan gantung, gajah-gajah terpilih sudah dikumpulkan, semuanya ada tiga ekor. Di bawah hujan yang sudah gerimis, kami mulai melakukan perjalanan yang diperkirakan memakan waktu sampai dua jam lebih

Kami menyusuri sungai Sebelat ke arah hilir, tiba-tiba gajah yang kutunggangi membelok ke arah sungai, begitu juga dengan kedua gajah di depan. “Kita akan menyeberang,” tukas Mahyudin yang bertindak sebagai pemimpin di depan.

“Busyet!” pikirku. Air Sungai Sebelat sedang meluap, warnanya kuning kehitam-hitaman mengalirkan lumpur pekat dari hulu. Dengan tenang gajah-gajah itu mulai memasuki sugai, lututku mulai kena air, kemudian pinggang, tak lama kemudian bajuku akhirnya harus terendam juga ke dalam sungai yang dalam mengikuti gajah yang kini hanya terlihat moncong belalainya saja.

Aku mulai khawatir dan ketakutan, jangan-jangan gajah yang kunaiki ini tidak sanggup untuk menyeberangi sungai yang sangat deras ini. Namun tidak demikian dengan gajah-gajah dan para pawangnya itu, mereka terlihat tenang sekali. Yang terlihat sekarang hanya sedikit punggung gajah saja, belalainya mengarah ke atas menghindari air, yang ia gunakan sebagai snorkel atau pipa pernafasan.

Baca juga:   Gunung Kerinci 3805 Mdpl

Dari jauh, kami terlihat seperti enam orang yang mengambang di permukaan air. Ayunan gerak gajah yang berirama menggoyang-goyangkan badan kami, serasi dan seoarang, seperti gerak jalan bebas yang kompak. Badan gajah itu berbejejer agak condong ke arah hulu, kakinya bergerak sedikit demi sedikit, mirip seperti orang kalau melangkah ke arah samping. Dua kaki kiri terlebih dahulu bau kemudian dua kaki kanan.

“Tenang saja, gajah-gajah ini sudah biasa menyeberangi sungai seperti in,” Mahyudin menenangkanku. Aku mulai bisa bernafas lega ketika posisi gajah sedikit demi sedikit berada di bagian sungai yang surut.

“Alhamdulillah…” ucapku lega.

Setelah menyeberangi sungai, medan di depan adalah bukit-bukit yang curam. Dan ajaibnya itupun dengan mudah dilewati gajah-gajah yang berjalan tenang sambil tak lupa belalainya meraih dedaunan yang ada di pinggir jalan. Ketika bertemu dengan rumpun bambu, gajah-gajah itu berhenti dan memakan daun-daun bambu itu. Gajah merupakan mamalia terresterial yang aktif setiap saat, ia bisa menghabiskan waktu 16-18 jam setiap hari untuk mencari makan sambil berjalan.

“Bambu memang makanan kesukaan binatang ini,” ujar salah satu pawang.

Hari sudah mulai gelap, dan gerimis sudah pergi, kami mulai memasuki kawasan perkebunan, dan jalanan sudah relatif datar. Pantatku sudah terasa bengkak karena bergesekan terus menerus cukup lama dengan punggung gajah yang keras dan tidak rata. Suara gemuruh lenguh gajah seperti mesin membahana menjadi hiburan satu-satunya di menjelang malam yang sudah senyap itu. Di sepanjang pemandangan hanya terhampar tanaman sawit yang menghitam dari kejauhan, ada juga tanah-tanah yang baru digarap.

“Inilah yang kami maksud, perkebunan terus bertambah sehingga gajah-gajah itu tidak memiliki habitat yang cukup untuk hidup mereka. Kalau sudah begini siapa yang salah? Bingung kan?” Mahyudin bercerita sambil menyusuri jalan yang baru saja diratakan dengan boulduzer yang terlihat samar-samar. Di sekitarku masih cukup jelas, lahan-lahan baru yang akan dijadikan sebagai kebun kelapa sawit, pembuatannya menggunakan alat berat.

Gajah merupakan satwa yang memiliki persyaratan untuk hidup di alam, naungan sangat mereka butuhkan ketika tubuh hewan berdarah panas ini untuk menstabilkan suhu tubuhnya sesuai lingkungan, sehingga tempat yang cocok untuk satwa ini adalah hutan dengan vegetasi tumbuhan yang rimbun. Gajah juga merupakan hewan herbivora yang membutuhkan ketersediaan makanan yang cukup. Gajah membutuhkan habitat yang bervegetasi pohon untuk makanan pelengkap dalam memenuhi kebutuhan kalsium untuk memperkuat tulang, gigi dan gadingnya. Ia membutuhkan makanan yang sangat banyak yakni 200-300 kg setiap hari untuk setiap satu ekor gajah dewasa atau 5-10 persen dari berat badanya.

Gajah memiliki wilayah jelajah yang sangat luas. Untuk gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) memiliki ukuran wilayah jelajah yang bervariasi antara 32,4 – 166,9 km2. Gajah umumnya hidup berkelompok dengan anggotanya antara 2-8 ekor dan 9-45 ekor. Menurut data dari Departemen Kehutanan, populasi gajah Sumatera pada tahun 1993 tinggal 44 kelompok, 2 kelompok diantaranya ada di hutan di Propinsi Bengkulu. Oleh karena berkurangnya kuantitas habibat inilah sehingga kemudian menimbulkan gangguan gajah pada daerah penduduk baik itu pemukiman, perkebunan dan perladangan.

Hampir jam tujuh malam, akhirnya kami sampai di titik pertemuan, sambil mendengarkan keterangan dari penduduk kami menunggu kedatangan Pak Aswin bersama tim Mitigasi Konflik Manusia dan Gajah, satu tim yang menangani konflik antara gajah dan manusia.

Malam kian melarut, setelah tadi Pak Aswin dan teman-teman tiba, obrolan kami lanjutkan dengan persiapan untuk strategi pengusiran esok. Dari Pak Aswin aku lebih jauh mengetahui kondisi di Pusat Latihan Gajah Sebelat sebenarnya.

“Inilah Pe eL Ge, dengan berbagai masalah yang kami hadapi, dengan berbagai kekurangan yang kami miliki, yang jelas kita harus tetap bertahan. Conservation Response Unit sudah cukup banyak membantu kami, tapi rasanya kalau seperti ini terus, kami akan sangat sulit bertahan. Manajeman yang kurang bagus, mungkin. Yang paling kami butuhkan adalah dukungan tim advokasi sehingga ketika kami melakukan penangkapan tersangka penebang liar, yang kami lakukan itu tidak berhenti di tengah jalan. Jadi kerja kami tidak sia-sia, iya kan?”

“Walaupun demikian, kami cukup bangga, bahwa Pe eL Ge Sebelat cukup dinilai positif menyenangkan oleh kawan-kawan pemerhati gajah. Terutama kondisi habitat yang masih cukup bagus. Ya, memang kita kurang dalam menangani kesehatan gajah, seperti kurang aktifnya dokter hewan. Kita ada dokter hewan, tapi jarang datang PLG,” lanjut Pak Aswin lagi.

****

Malam hampir menuju pagi, kawan-kawan yang akan bergerak besok sudah tertidur pulas dilelap mimpi sendiri-sendiri. Kupejamkan mataku, mengenangkan pengalaman ajaib yang baru saja lewat. Aku ingat pawang-pawang itu, pegawai negeri sipil dan calon pegawai negeri sipil yang mengabdi di tempat terpencil seperti Pusat Latihan Gajah Sebelat, keluarga mereka tinggalkan minimal lima belas hari setiap bulan. Segala permasalahan mereka menjadi warna yang yang indah dalam benak ini.

Aku ingat Pak Arnold, mahasiswa S3 dari sebuah Universitas di Amerika Serikat yang sedang melakukan penelitian tentang pakan gajah di PLG. Aku juga ingat tentang pemahaman kita tentang konservasi yang belum menemukan bentuk, ingat segala keruwetan yang terselesaikan seadanya saja. Dan yang lebih mengesankan, tentang gajah-gajah manis itu. Lenguh suaranya dan kasar kulit punggungnya, menghadirkan kerinduan tersendiri yang sulit untuk ditolak.

 

  • Gejor

    Beugh… Ilegal loging memang menyebalkan. <br />Beberapa waktu lalu baca di Kompas, katanya ilegal loging di Sumatera udah mulai berkurang. Tapi penyebabnya bukan karena para penebang itu udah sadar atau udah diadili. Melainkan karena hutannya untuk diilegal loging udah makin nggak ada. <br />Kasihan gajah-gajah itu. Apalagi harimau sumatera. 🙁 <br /> <br />Nice story. Mantap euy… :smile:. <br />Apalagi pengalaman naik gajahnya, terutama ketika menyeberang sungai . :wassat: <br /> <br />Btw, kok sepertinya ceritanya belum berakhir. Lanjutannya gimana nih bos? <br /> :laughing:

  • leo

    Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul ” Anggaraeni Dari Sebelat ” .
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis dan mungkin anda minati. Anda dapat mengunjungi di Indonesia by Universitas Gunadarma