Mengukur Kemampuan Diri Lewat Caving

Related Articles

Banyak cara yang dilakukan orang untuk menghilangkan stres. Dari mulai jalan-jalan ke pantai hingga melakukan aktivitas membahayakan yang bisa mengancam jiwa. Misalnya hobi caving atau menjelajahi gua yang banyak digeluti para pencinta alam.

Salah satunya adalah Cahyo Rahmadi. Staf ahli peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong ini bahkan menjadi seorang peneliti karena hobinya menjelajahi gua.

Menurut dia, caving adalah pekerjaan sekaligus hobi yang bisa menjadi candu dan melepaskan stres sekaligus. Sejak 1996 Cahyo bergabung Matalabiogama (Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Biologi UGM) sekadar untuk petulangan saja.

Lambat laun aktivitasnya itu membuat dia semakin menyukai alam gua dan mulai mempelajari teknik caving seperti single rope technique (SRT), rescue vertical, mapping sebagai modal dasar untuk mendukung kegiatan penelitiannya di gua.

Banyak hal yang membuat Cahyo menjadi kecanduan pada hobi menjelajah gua. Mulai dari pengenalannya dengan kehidupan hewan gua, hingga keindahan ornamennya.

“Terutama tantangannya di mana kita harus pandai manjat, bisa berenang, bisa mendaki gunung, bisa orientasi medan, bisa peta kompas, sampai menyelam semua ada di caving. Itulah yang bikin saya ketagihan,” ujar Cahyo yang mengaku bisa melupakan segala masalahnya dan merasa terlahir kembali setelah merasakan gelap, dingin, lembab serta suara tetesan air dalam gua itu.

Sementara itu, penjelajah gua lainnya, Sulasatama Raharja, geolog di PT. Chevron Pasifik Indonesia mengatakan caving memberikannya pengalaman religius serta pemahaman untuk mengukur sejauh mana kemampuan yang dimilikinya. “Dari caving saya banyak belajar tentang hidup dan juga bisa mengukur sejauh mana kemampuan saya,” ujar dia.

Sulastama menyebutkan pengalaman caving telah memberikan banyak pelajaran untuk menjadi lebih mandiri, berjiwa sosial tinggi, mampu beradaptasi dengan cepat, dan mampu menjadi quick decision maker di saat menghadapi kondisi yang tak terduga.

Ke Negeri Orang

Wilayah jangkau para penjelajah gua mania ini, bukan semata di dalam negeri. Bahkan gua di negeri orang pun tak luput dari jamahan mereka. seperti yang diungkapkan Cahyo yang telah menjelajahi ratusan gua baik dalam dan luar negeri mulai gua di Thailand, Sarawak, dan hampir semua karst di Jawa telah dikunjunginya, termasuk wilayah Sulawesi dan Papua.

Baginya pengalaman caving paling berkesan adalah ketika menjelajahi gua terpanjang di Maros (Sulsel) dan harus mengarungi sungai bawah tanah yang dalam airnya tidak diketahui lebarnya dan panjangnya berkilo-kilo serta harus mendayung menggunakan tangan.

Sebagai olahraga sekaligus hobi yang menantang maut, para caver ini haruslah terus waspada selama menjelajah.

Beragam peralatan haruslah mereka miliki sebelum memasuki wilayah tujuan, seperti helm dengan penerangan, sepatu boot khusus, baju mudah kering (cover all), senter kedap air, perahu karet, single rope tali khusus sejenis webbing atau karmantel seharga Rp3,5 juta, dan makanan yang berenergi tinggi seperti gula merah.

“Yang terpenting adalah kita harus memiliki etika ber-caving yaitu take nothing but pictures, kill nothing but time, leave nothing but footprints, dan cave softly,” jelas Cahyo.

Selain itu, menurut dia, caver pemula harus memiliki pengetahuan dasar bagaimana menelusuri gua horisontal yang aman, jangan pernah masuk gua di musim penghujan. Para penjelajah gua juga harus mengetahui karakteristik gua yang akan dimasukinya, memiliki keterampilan tali-menali (simpul), teknik penelusuran vertikal dengan SRT, dasar-dasar vertical rescue (self rescue) ataupun rescue terpadu.

Pengetahuan tersebut, menurut Cahyo diperuntukkan menghindari risiko kecelakaan yang kemungkinan besar bisa terjadi. Di Indonesia banyak kecelakaan hingga meninggal dunia ketika aktivitas caving dilakukan.

Kebanyakan kasus tersebut terjadi karena kebanjiran seperti kasus di Tasikmalaya, Malang Selatan dan Gua Gudawang beberapa tahun yang lalu. Selain itu kecelakaan bisa terjadi karena jatuh dari tali, human error, faktor alam, atau tertimpa batu.

Menurut Sulasatama, patah tulang karena terjatuh atau cedera tubuh biasanya menjadi risiko yang harus dihadapi para petualang gua ini. Mereka juga harus waspada terhadap berbagai binatang yang biasanya ada di luar mulut gua seperti ular kobra, kalajengking, dan ikan lele.

“Yang terpenting kita mesti menjalani semuanya sesuai prosedur, maka semuanya dipastikan akan aman-aman saja,” ujar Sulasatama yang pernah mengalami kebanjiran saat berada di 300 meter di bawah tanah.

Cara caver ini juga tergabung dalam berbagai komunitas caving yang ada di Tanah Air saat ini seperti Subterra Community, Hikespi (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia), Indocavers Indonesia, ataupun forum karst Gunung Sewu.

Pada ajang inilah biasanya mereka juga membahas tentang menjaga kelestarian gua, dan upaya menjadikan gua sebagai tempat tujuan wisata.

“Keberadaan komunitas dan juga klub ini selain untuk ajang kumpul-kumpul juga untuk membatasi kerusakan alam yang bisa ditimbulkan dari para pencinta alam yang tidak bertanggung jawab,” ujar Sulasatama menjadi salah satu penanggung jawab di komunitas Indocavers Indonesia itu. []

Penulis : Mia Chitra
Sumber : Arthazone

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Kebakaran Hutan dan Asap, Salah Siapa?

Akhir-akhir ini sering terdengar kabar tentang kebakaran hutan dari berbagai daerah. Dampak yang sudah meluas kemana-mana membuat hal ini harusnya tak lagi dipandang sebelah...

Bandung di 2009, Riwayatmu Kini

Rringg... Rrringg... Rriing... Kira-kira begitulah suara tonggeret, yah tidak begitu juga sih suaranya, tapi kira-kira begitu. Yang banyak terdengar di seputaran Bandung dahulu kala. Saya...

Di Negeri Laskar Pelangi

Dari dalam pesawat yang baru terbang puluhan menit dari Jakarta, saya melihat hijaunya Pulau Belitung lengkap dengan beberapa landscape bopeng pertambangan timah di beberapa...