Detik-detik Kengerian

Related Articles

* Sebuah catatan dari anggota muda Astacala saat pertama kali mengikuti pendidikan lanjut caving

Detik demi detik kuhitung menunggu waktu tuk turun kedalam lubang sedalam 30 meter…dinginnya malam menemaniku malam itu…dinding entrance gua terlihat rapuh dalam bayangan lilin yang terseok-seok tertiup angin malam…suasana malam itu benar benar BEDA……..

Semua stres. Semua grogi. Belum pernah ada yang membuatku ngeri seperti ini. Sepi malam semakin mencekam. Lilin yang jadi satu-satunya penerangan mulai padam mencair seiring berjalannya waktu. Dalam heningnya malam terdengar suara burung hantu dan anjing hutan bergantian memecah kesunyian pada malam itu.

Tibalah giliran pertama rigging man turun ke dalam lubang yang gelap menakutkan. Lubang yang hanya selebar pinggang manusia.

Clup… Clup… Suara sepatu sang rigging man tenggelam dalam pekatnya lumpur. Setelah mengecek semua peralatan, sang rigging man mulai berjalan dengan hati-hati menuju entrance gua. Dapat kulihat dari wajah sang rigging man terbesit suatu rasa kekhawatiran. Namun ia tutupi dengan senyum kecilnya. Krek… Krek… Suara tali yang bergesekan dengan simple stop.

Perlahan namun pasti sang rigging man turun dengan penuh hati-hati. Kami semua menatap dengan penuh perhatian. Melihat bagaimana sang rigging man turun. Senyum kecil sang rigging man mulai hilang perlahan saat ia sudah satu meter dari lubang entrance.

Sunyi. Sunyi. Selama berberapa waktu tidak terdengar apapun. Kami mulai bertanya-tanya apakah ia masih selamat?

“Rope free!” Sang rigging man berteriak denagn tiba-tiba jauh dari bawah sana yang gelap. Suasana yang seperti pemakaman itu berubah seketika. Tak lain, itu adalah sinyal kepada kami bahwa tali telah aman. Sekaligus tanda untuk kami agar segera turun menyusul.

Lalu satu persatu Anggota Astacala Kawah Asa mengikuti jejak sang rigging man. Semua berbaris rapi dalam safety line. Malam itu begitu membuat adrenalin berdenyut kencang, sedikit mengusir rasa cemas dalam hati kecil ini. Namun rasa cemas masih tampak dari wajah para cavers. Tak lama berselang tibalah giliran cavers dari Kawah Asa untuk turun masuk kedalam entrance gua.

Waktu terasa berjalan sangat lamban. Satu jam. Dua jam. Ya kuhitung-hitung, hampir tiga jam kumenunggu giliranku untuk turun. Akhirnya, tiba giliranku. Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa, kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju lubang entrance.

Kupasang semua pengaman yang kupunya. Dengan berdoa sejenak dalam hati, kumulai perjalanan ekstrim ini. Kulepaskan pijakan kakiku. Terasa sekarang beban tubuhku telah berpindah ke tali. Perlahan namun  pasti, tubuh lemah ini mulai terayun-ayun.

Oh Tuhan, bila ini telah tiba waktuku, ampunilah dosa-dosaku. Ucapku dalam hati.

Kuarahkan pandanganku ke dasar gua. Gelap gulita, tidak dapat terlihat apapun. Sepi. Seram. Takut. Semua bercampur jadi satu. Namun kuberanikan diri untuk mulai menuruni lintasan. Selang dua meter dari entrance, mulailah udara dingin dari mulut gua membelai semua rambutku, seakan mencoba menarikku ke dalam gua yang mengerikan ini. Ditambah bau-bau yang aneh, yang semakin kuat. Pikiran-pikiran aneh mulai merasuk pikiranku.

Hampir kira-kira sepuluh menit aku berada dalam lintasan. Cahaya bulan menerawang tipis masuk ke dalam celah-celah batuan gua. Memantukan ornamen aneh pada dinding gua secara samar-samar. Terlihatlah ruangan besar yang besar sekali, seperti chamber. Berbeda dengan entrancenya yang sempit, ruangan ini sangat luas.

Tak lama suara aliran air mulai terdengar deras. Bergemuruh dalam telingaku. Kurasakan aku sudah dekat dengan dasar gua. Perkiraanku tepat. Lima menit kemudian kakiku mendarat pada lumpur dasar gua.

Clup… Clup… Sepatu bootku masuk dalam lumpur pekat. Ya Tuhan, apakah ini? []

Oleh Jemmy Jessica

Comments

  1. Bah!
    Nulis pake to be continued mulu.
    Ntar pasti ga ada lanjutannya.
    Ga bertanggung jawab kayak tulisan Vio ney!!! :angry:

  2. itu kan cerita spiderman, seru nunggu nya. ya ga bisa disamain sama cerita TWKM yang smp jenggotan nunggu nya.. kl kerja mbok yo yang selesai neng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Menemukan Keteguhan Hati di Gunung Kilimanjaro

Di benakku sempat muncul kekhawatiran akan kegagalan. Tetapi ketika mengingat jauh ke belakang, ekspedisi sudah sejauh ini. Aku tidak mau menyerah dan mengecewakan amanah yang dititipkan kepada kami. Selama tubuh masih dinyatakan mampu, kaki ini harus tetap melangkah.

Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXV

Bandung (10/11/2016) – Pada Selasa, 8 November 2016 telah dilaksanakan upacara pembukaan Pendidikan Dasar Astacala (PDA) XXV di Indoor Student Center (SC) Telkom University. Pendidikan...

A Journey To The Warmest City, Lisbon

Kami tiba malam pukul 11, tanggal 21 Desember di Terminal Lisbon dan tanpa membuang waktu langsung mencari metro ke arah Restaurades, seusai dengan informasi...