Jangan Sembarangan Masuk Gua

Related Articles

“Jangan sembarangan masuk ke gua-gua di sekitar sini tanpa didampingi pemandu. Bisa berbahaya sekali,” nasihat seorang wanita setengah tua. Raut wajahnya yang semula cerah mendadak tegang bercampur khawatir begitu mendengar niat kami.

“Jangan sembarangan masuk ke gua-gua di sekitar sini tanpa didampingi pemandu. Bisa berbahaya sekali,” nasihat seorang wanita setengah tua. Raut wajahnya yang semula cerah mendadak tegang bercampur khawatir begitu mendengar niat kami.

Bagi saya, sambutan bernada provokatif dari penduduk di daerah sekitar tempat tujuan kami berpetualang terdengar bagai lagu lama. Kecenderungan itu bisa dipahami. Tentu mereka ingin menunjukkan bahwa mereka lebih mengenal daerah itu ketimbang kami, orang-orang kota yang terkesan sok tahu. Mereka pun pasti tak ingin kesederhanaan alam tempat mereka lahir dikangkangi bahkan dirusak oleh pendatang musiman.

Ketika kaki pertama kali menjejak tanah Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Jawa Barat, matahari belum lama melampaui titik kulminasinya. Teriknya bukan main. Namun, semilir angin laut yang menyusup dari sela-sela nyiur di desa pantai laut selatan ini menerpa wajah dan tubuh. Badan kami berlelehan keringat dan berdebu.

Ranggalawe, Arief, Anset, dan saya bergegas menurunkan ransel-ransel dari atas kap mobil jip berbak terbuka yang baru kami tumpangi. Lewat tengah hari jip-jip ini tak lagi melayani rute Sawarna – Bayah atau sebaliknya. Di Sawarna jumlah jip omprengan itu terbatas. Perannya sebagai alat transportasi ke kota digantikan ojek motor. Melihat penampilannya yang sesuai untuk melewati medan berat, Anset bilang, jip itu lebih mirip kendaraan perang. Penumpang harus pasrah berjejalan dengan jirigen minyak, sayur-mayur, atau barang-barang lain yang diangkut dari Bayah.

Selama 40 menit menuju Sawarna, kendaraan ini membawa kami mulai dari pertigaan Cibawayak, beberapa kilometer sebelah timur Kota Bayah. Waktu tempuh itu diisi perjalanan ajrut-ajrutan melewati jalan tanah berbatu yang naik-turun bukit. Untungnya, rute berat itu diimbangi dengan pemandangan indah dan bervariasi. Perkebunan kelapa, hutan karet, jati, dan hutan campuran yang dikelola Perhutani silih berganti menemani garis pantai laut selatan.

Saat jip melintasi hutan campuran seluas 1.800 ha itu terlihat beberapa jenis burung ataupun lutung asyik bergelayutan di pucuk-pucuk dahan pohon. Kawasan hutan di sisi pantai ini memang masih menyisakan sedikit tempat berteduh bagi satwa liar. Menurut cerita supir jip, mereka sering memergoki babi hutan atau macan kumbang melintas di jalan berbatu itu.

Setelah menurunkan ransel, kami langsung menuju ke kediaman kepala desa. Drs. Hudaya A.T., penerima penghargaan upakarti 1993, yang menjabat kades dua periode terakhir menyambut kami dengan ramah. Kami melapor dan minta izin untuk menelusuri beberapa gua di sekitar desa.

Menurut Hudaya, dibandingkan dengan desa-desa lain di Kecamatan Bayah, di Sawarna memang paling banyak terdapat gua alam. Jumlahnya mungkin belasan. Sayangnya, hanya beberapa yang diketahui pasti letak pintu masuknya. Sebagian pernah dimasuki penduduk, tapi lebih banyak yang keberadaannya terlupakan. Hanya sesekali penduduk masuk gua untuk mengumpulkan kotoran kelelawar sebagai bahan pupuk. Dulu juga ada yang masuk untuk mengunduh sarang walet. Namun seiring dengan hasil yang kian tak jelas dibandingkan dengan risikonya yang besar, kegiatan itu surut perlahan-lahan. Kalaupun masih ada, hanya dilakukan satu dua orang.

Gua itu buntu!

Desa Sawarna meliputi beberapa kampung yang dihuni 5.000-an penduduk. Sebagian besar bekerja sebagai petani, nelayan, atau pengrajin. Topografi wilayahnya tak jauh berbeda dengan daerah lain di pantai selatan Jawa. Pantainya lebar memanjang ditaburi pasir halus berwarna keputihan. Di bagian lain, perbukitan seolah memagari desa. Bukit-bukit itu berujung pada tebing-tebing karang sehingga di beberapa tempat mereka seolah menghunjam ke laut.

Daerah perbukitan yang berbatu kapur itu membersitkan harapan, di sana pasti terdapat sejumlah lubang gelap yang berkelok-kelok menembus perut bumi. Gua-gua alam yang menarik dan menanti untuk ditelusuri.

Pak Karma, lelaki setengah baya yang tinggal di Kampung Cibeas, sempat mengernyitkan kening saat kami mintai kesediaannya untuk menjadi penunjuk jalan. “Sebenarnya, untuk apa kalian masuk ke gua-gua itu?” tanyanya. Ia heran, baginya gua-gua yang gelap mengerikan itu bukan tempat menarik untuk dikunjungi. Setelah kami jelaskan bahwa niat kami hanya ingin menyaksikan dan mengagumi keindahan alam bawah tanah, ia bersedia mengantar kami. Pak Karma tahu beberapa lokasi gua, tapi tak ingat semua namanya

Selama kegiatan penelusuran, Pak Kades menawarkan kediamannya sebagai base camp kami. Sebuah tawaran yang tentu kami terima dengan senang hati. Akomodasi tenda seketika kalah pamor oleh kasur empuk. Namun esoknya, kenyamanan kasur ternyata berakibat buruk, kami bangun kesiangan.

Usai sarapan kilat, Lawe – panggilan Ranggalawe – menyiapkan beberapa kepal batu karbit sebagai bahan bakar lampu penerang utama selama di dalam gua nanti. Juga menyiapkan tali, seat, chest harness, dan perlengkapan caving yang terbuat dari aluminium alloy untuk dimasukkan dalam ransel.

Pukul 11.00 kami mulai bergerak. Mulanya memintas pekarangan rumah-rumah penduduk, lumbung padi, dan pematang sawah. Lalu ganti mendaki sebuah bukit lewat jalan setapak. Kami makin menjauhi pantai sampai akhirnya tiba di mulut Gua Sangko.

Bila tak pasang mata baik-baik, orang tak mengira di situ ada liang besar, menganga di permukaan tanah. Mulut gua itu memang tersembunyi di balik semak dan pepohonan. Kami terpaksa merelakan lengan tergores duri-duri sebelum mencapai mulut gua.

Rasa girang mulai menyeruak ketika beberapa meter menuruni gua sudah terpampang pemandangan yang tak habis-habisnya dikagumi para caver. Ornamen-ornamen berbentuk stalaktit (batu kerucut yang menempel di langit-langit gua) terlihat menggantung di atas kepala. Dinding gua penuh ornamen menyerupai batu meleleh. Namun kegembiraan kami tak lama. Setelah mengecek dinding-dinding gua di depan, ternyata tak ada lorong yang bisa ditelusuri. Gua itu buntu!

Sarang dedemit

Apa boleh buat. Kami terpaksa naik kembali ke jalan setapak. Sebuah gua lain yang kami jajaki ternyata sekali tiga uang. Buntu juga. Pak Karma yang sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir pantai, keheranan melihat paras kami kecewa. Inilah buah dari perjalanan tanpa didahului survai!

Lawe, pimpinan perjalanan kali ini, mencoba menjelaskan kenapa kami kecewa, ”Kami mencari gua-gua yang dalam dan panjang. Bukan yang cuma sedalam beberapa puluh meter.”

Pak Karma yang orientasi hidupnya sederhana kali ini harus menampung keluhan beberapa anak muda yang didorong rasa ingin tahu dan memilih perjalanan petualangan sebagai proses mengenal dan kemudian mencintai alam tempatnya berpijak. Tapi kenapa pula harus dengan menelusuri gua-gua gelap dan penuh misteri itu?

Sebagian orang memang enggan mendekati apalagi masuk ke dalam lubang gelap menganga di permukaan bumi. Bagi masyarakat kita, gua sering dipandang sebagai tempat angker. Sarang para dedemit. Namun para caver justru bersikap 180o. Mereka akan masuk gua dengan hati berbunga-bunga meski bercampur rasa khawatir juga. Kalau badan masih bisa lewat dan rasanya aman, penelusuran akan dilanjutkan. Karena itu lorong atau liang sekecil apa pun di dalam gua tak boleh luput dari pengamatan.

Keadaan gelap total sampai tangan sendiri di depan muka pun tak kelihatan, justru menjadi daya tarik tersendiri. Perasaan cemas bergelayut karena sumber cahaya cuma dari lampu yang dibawa. Rasa ingin tahu – milik setiap insan – menyemangati kegiatan ini. Apa sebenarnya yang berada di balik kegelapan itu? Berbahayakah? Adakah kehidupan di sana?

Pendeknya, seorang penelusur gua lebih suka kalau lorong yang sedang dia telusuri tak berakhir begitu saja. Apa yang dicari dari kegiatan ini mungkin terjawab dengan sebaris catatan milik almarhum Norman Edwin. Pionir penelusuran gua modern di Indonesia ini menulis, “… adalah suatu kepuasan tersendiri bagi seorang penelusur gua bila lampu yang dibawanya merupakan sinar pertama yang mengungkapkan pemandangan menakjubkan di bawah tanah ….”

Trauma penduduk

Matahari mulai condong ke barat. Sinarnya yang tadi putih menyilaukan kini melarik kekuningan di sela-sela pepohonan di atas perbukitan. Pak Karma mengajak kami menuruni bukit. Ia mau menunjukkan sebuah gua yang persis berada di tepi pantai. Orang Sawarna menyebutnya Gua Langir. Kami perlu berjalan sejam lagi untuk mencapainya.

Di sekitar mulut gua itu pernah terjadi peristiwa menghebohkan, menebar trauma penduduk Sawarna terhadap kehadiran anak-anak muda kota macam kami. Dikisahkan, saat musim barat beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa hilang di sana. Gara-garanya, ia berusaha seorang diri mencapai lokasi Gua Langir di kaki dinding tebing karang di bibir pantai. Pemuda naas itu terempas gelombang laut selatan yang terkenal ganas. Penyapuan tim SAR dan para penyelam tradisional sia-sia untuk menemukannya. Tiga hari setelah kejadian, helmet-nya terapung-apung di air. Tulang dan sisa tubuhnya baru ditemukan terjepit di sela-sela karang sebulan kemudian.

Melihat dengan mata kepala sendiri, baru kami sadar betapa berbahayanya mendekati mulut gua ini jika air pasang. Apalagi di musim barat, air laut seolah siap menelan siapa saja yang berada di atasnya. Bayangkan saja, garis-garis pasang air laut yang berbekas pada dinding tebing tingginya hampir menutupi gua. Saat air surut begini saja, suara dentuman ombak beradu dengan karang cukup membuat hati berdebar-debar.

Gua Langir punya entrance (pintu masuk) lega. Tinggi mulutnya sekitar 4 m dan lebarnya 3 m yang menyempit di bagian atas. Kami segera berpencar untuk mencari lorong terusan dari beranda gua yang dalamnya sekitar 10 m. Tapi rupanya hari ini sial bagi kami. Seperti dua gua di bukit tadi, Gua Langir pun tak menyisakan satu celah pun untuk ditelusuri lebih dalam.

Kenyataan ini membuat kami kehilangan mood. Naik-turun bukit ternyata hanya menjadi olahraga belaka. Menghibur diri, saat matahari merapat di horison sebelah barat kami menuju tempat pelelangan ikan (TPI) Desa Sawarna. Letaknya 20 menit jalan kaki menyisir pantai ke arah timur dan menyeberang muara Sungai Cisawarna. Di sana kami mengobrol dengan para nelayan sambil menyeduh kopi. Senja itu mereka sedang bersiap-siap melaut dengan perahu bercadik berkapasitas 2 – 3 orang. Mereka menyebutnya perahu Jaring Rampus.

Penunggunya ular putih

Pagi berikutnya kami bangun dengan semangat mengambang. Ini hari terakhir kami di desa yang mempesona ini. Besok pagi-pagi sekali kami harus sudah pulang. Kali ini alat-alat pemetaan gua seperti kompas, rollmeter, clinometer (alat ukur sudut kemiringan dalam gua), dan kertas film kedap air termasuk dalam daftar yang kami bawa dalam ransel.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Rencana semula, kemarin adalah penjajagan gua. Baru hari ini saat untuk memetakannya sekaligus membuat foto dokumentasi. Namun lain rencana lain kenyataan. Kemarin kami gagal menemukan gua yang layak dipetakan. Berarti hari ini kami harus sedikit berjudi. Jika menemukan gua yang bagus, akan coba langsung kami petakan.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Atas saran Pak Karma, penunjuk jalan kami bertambah satu lagi, yaitu Pak Amad. Pak tua ini berpengalaman puluhan tahun masuk gua. Ia mantan pengunduh sarang walet yang kurang berhasil. Kondisi ekonominya tak terangkat dengan profesi itu. Namun pengalamannya jelas kami butuhkan untuk menunjukkan lokasi gua yang sesuai harapan.

Gua Cicayur tujuan pertama hari ini. Menurut Pak Amad, gua ini sulit ditelusuri karena ada beberapa lubang vertikal di bagian dalamnya. Bila di daerah Jawa Timur lubang-lubang mirip sumur ini populer disebut luweng, di Sawarna dinamai jemblongan.

Gua yang mulutnya dikelilingi pohon-pohon bambu ini konon ada penunggunya. Entah bermaksud menakut-nakuti atau tidak, Pak Amad bercerita, dulu ia dan teman-temannya pernah melihat ular besar berwarna putih di dalam gua. Anehnya, ular itu menghilang ketika dihampiri. Namun, karena sudah berada di muka entrance, kami menguatkan hati agar tak terpengaruh.

Sebelum turun kami membagi tugas. Lawe dan saya bergantian menjadi leader sembari sebisa mungkin melakukan pemetaan. Arief bertugas loading alat dan makanan, sedangkan Anset piket di mulut gua bersama kedua penunjuk jalan.

Komunikasi dengan HT putus

Setelah berdoa, pukul 10.30 kami mulai menuruni mulut Gua Langir yang sempit. Di dalam banyak batu karang yang runcing. Kami harus bergerak hati-hati kalau tak mau kulit tergores batu-batu tajam itu. Lorong menurun terus. Saya mulai menyalakan lampu karbit saat cahaya matahari tidak lagi bisa menembus bagian dalam lorong. Setelah merangkak beberapa meter, lorong di depan kami mulai membesar. Lantai gua berganti dengan tanah gembur menyelingi batu-batu berserakan. Setelah itu lorong menyempit lagi dan mulai berkelok-kelok.

Terkadang penelusuran bisa dilakukan dengan berjalan tegak jika ruangan dalam gua cukup luas dan langit-langitnya tinggi. Namun, tak jarang kami terpaksa melakukan gerakan ducking (jalan jongkok) sebab atap lorong cuma setinggi kolong meja. Di bagian ini Arief beberapa kali tertinggal. Ia kesulitan mengiringi langkah saya dan Lawe. Biang keladinya adalah packsack berisi peralatan dan makanan yang bercokol di pundaknya. Merayap dengan beban bawaan sebesar itu memang cukup merepotkan.

Taktik jalannya pun diubah. Bila di depan ada lorong sempit, mula-mula packsack dia dorong pelan-pelan. Lawe yang ada di depannya membantu dengan tarikan. Setelah packsack lolos, baru Arief menyusul.

Meski miskin ornamen karena tergolong gua berusia muda, Cicayur menyajikan daya tarik lain. Di beberapa bagian, dinding-dinding gua ditempeli butiran-butiran pasir mengandung fosfor. Jika diterpa cahaya, kontan berkilauan seperti manik-manik.

Penelusuran berlanjut dengan mengikuti sebuah lorong lurus yang cukup lebar. Lorong itu berujung pada sebuah lubang vertikal mirip sumur. Kami tak bisa memastikan kedalamannya karena dasarnya tak terjangkau cahaya lampu karbit kami. Dalam keremangan samar-samar kami melihat dua batang bambu bekas dipakai para pengunduh sarang walet saat menuruni jemblongan. Sukar dibayangkan bagaimana bambu-bambu panjang itu bisa dibawa masuk dari permukaan tanah di atas sana, melewati lorong-lorong sempit yang berkelok-kelok.

Untuk menuruni jemblongan itu, kami memasang anchor untuk tali yang akan dipakai turun. Kami memilih dua batu yang menonjol pada dinding gua sebagai tambatannya. Ujung tali tidak dilempar ke bawah, tetapi sengaja digulung lalu dibawa sembari diulur oleh Lawe yang turun lebih dulu.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Setelah Lawe tiba di bawah, saya dan Arief menyusul turun lewat tali dengan auto-stop descender (alat turun). Pada saat bersamaan hubungan dengan Anset lewat handy talkie yang sejak tadi terputus-putus, kini benar-benar terputus total. Di dalam gua yang berkelok-kelok semestinya memang dibuat beberapa stasiun relay untuk komunikasi radio. Tapi hal itu tidak mungkin kami lakukan kali ini. Berarti kami tinggal bersiap untuk menghadapi kemungkinan apa pun tanpa kontak dengan orang di permukaan bumi.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Megap-megap kurang oksigen

Usai menuruni sebuah jemblongan lagi, kami tiba di sebuah chamber (kamar gua) yang cukup luas. Di sini ada beberapa bentukan ornamen seperti tirai pada dinding gua. Langit-langit gua itu sendiri tak kelihatan karena terlalu tinggi, tak terjangkau cahaya lampu.

Sementara saya dan Arief mengamati sekeliling ruangan, Lawe berinisiatif melakukan survai ke satu-satunya lorong yang bermula dari chamber itu. Lorong horizontal itu panjangnya sekitar 20 m. Namun, beberapa menit kemudian ia muncul kembali dengan tergopoh-gopoh. Begitu sampai di tempat kami, ia langsung menyambar tabung oksigen dan menghirup isinya dalam-dalam. Dua tiga kali ia mengulangi hal itu sebelum buka suara. ”Gila. Di ujung lorong sana ada lubang vertikal lagi. Sebenarnya nggak begitu dalam. Gue sempat lihat sump (genangan air) di dasarnya. Tapi oksigen di situ sedikit sekali. Gue susah bernapas,” katanya sambil tersengal-sengal.

Di chamber ini pun sejak tadi kami sudah merasakan sulitnya bernapas. Dada kami makin lama terasa sesak. Di dalam gua yang berkelok-kelok dan terus menurun ke dalam perut bumi seperti karakter Gua Cicayur ini, memang sangat mungkin terdapat kamar-kamar hampa udara. Apalagi di gua ini tidak terdapat avance (celah atau cerobong angin pada langit-langit gua). Jadi suplai udara ke seluruh lorong gua cuma berasal dari entrance-nya yang berukuran 1 x 2 m di atas sana.

Setelah berembuk sebentar, dengan berat hati kami putuskan untuk menyudahi penelusuran. Bukan apa-apa. Tali tak cukup lagi diulur untuk menuruni jemblongan yang ditemukan Lawe. Tabung oksigen pun cuma ada satu. Risiko besar menghadang jika kami bertiga nekat meneruskan penelusuran.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Kami buru-buru putar haluan kembali ke atas. Tak terasa hampir empat jam kami berada di dalam gua. Lewat sejam lebih dari kesepakatan semula. Begitu kami bertiga muncul ke permukaan, Anset dan kedua penunjuk jalan langsung bertanya bertubi-tubi. Mereka pun ternyata sudah mulai cemas. ”Tadi kami hampir saja turun ke desa mencari bantuan. Habis, dipanggil-panggil lewat HT tak menjawab,” kata Pak Karma.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Satu hal yang paling terasa ketika badan keluar dari permukaan tanah, kami baru merasakan betapa nikmatnya udara yang diberikan Tuhan dalam hidup ini. Ini mungkin hampir tak pernah disadari dalam kehidupan sehari-hari. Kami merasa bersyukur.

Selepas ketegangan tadi, kami masih menjajagi sebuah gua lagi, yaitu Gua Armi. Letaknya masih bertetangga dengan Gua Cicayur. Gua Armi bukan tergolong gua yang terbentuk lewat proses gerusan air dalam waktu yang lama, tetapi karena pergeseran lapisan tanah atau patahan. Terbukti strukturnya terdiri dari bongkahan-bongkahan batu kapur sebesar dinding rumah. Lorong-lorongnya sempit menyerupai celah. Kalau mau lewat harus bergerak menyamping sampai ujung hidung seakan hendak menyentuh dinding gua.

Sesekali kami juga harus bergerak dengan teknik chimney, merayap dengan tumpuan kaki dan tangan menempel pada kedua dinding gua. Kami melakukannya sampai beberapa meter tingginya dari dasar gua sebab celah lorong dekat lantai gua terlalu rapat. Keunikan lain dari Gua Armi adalah air yang terus mengucur dari langit-langitnya yang tinggi. Kami bagai berjalan di tengah gerimis. Di sana-sini cahaya lampu karbit dan headlamp memperlihatkan genangan-genangan air pada lantai gua. Becek. Sayang sekali, karena waktunya kian mepet, penelusuran ini pun harus diakhiri.

Kami pulang namun akan kembali lagi. Masih ada pekerjaan tersisa di sana.

Sumber url http://www.indomedia.com/intisari/1998/april/gua.htm

“Jangan sembarangan masuk ke gua-gua di sekitar sini tanpa didampingi pemandu. Bisa berbahaya sekali,” nasihat seorang wanita setengah tua. Raut wajahnya yang semula cerah mendadak tegang bercampur khawatir begitu mendengar niat kami.

“Jangan sembarangan masuk ke gua-gua di sekitar sini tanpa didampingi pemandu. Bisa berbahaya sekali,” nasihat seorang wanita setengah tua. Raut wajahnya yang semula cerah mendadak tegang bercampur khawatir begitu mendengar niat kami.

Bagi saya, sambutan bernada provokatif dari penduduk di daerah sekitar tempat tujuan kami berpetualang terdengar bagai lagu lama. Kecenderungan itu bisa dipahami. Tentu mereka ingin menunjukkan bahwa mereka lebih mengenal daerah itu ketimbang kami, orang-orang kota yang terkesan sok tahu. Mereka pun pasti tak ingin kesederhanaan alam tempat mereka lahir dikangkangi bahkan dirusak oleh pendatang musiman.

Ketika kaki pertama kali menjejak tanah Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Jawa Barat, matahari belum lama melampaui titik kulminasinya. Teriknya bukan main. Namun, semilir angin laut yang menyusup dari sela-sela nyiur di desa pantai laut selatan ini menerpa wajah dan tubuh. Badan kami berlelehan keringat dan berdebu.

Ranggalawe, Arief, Anset, dan saya bergegas menurunkan ransel-ransel dari atas kap mobil jip berbak terbuka yang baru kami tumpangi. Lewat tengah hari jip-jip ini tak lagi melayani rute Sawarna – Bayah atau sebaliknya. Di Sawarna jumlah jip omprengan itu terbatas. Perannya sebagai alat transportasi ke kota digantikan ojek motor. Melihat penampilannya yang sesuai untuk melewati medan berat, Anset bilang, jip itu lebih mirip kendaraan perang. Penumpang harus pasrah berjejalan dengan jirigen minyak, sayur-mayur, atau barang-barang lain yang diangkut dari Bayah.

Selama 40 menit menuju Sawarna, kendaraan ini membawa kami mulai dari pertigaan Cibawayak, beberapa kilometer sebelah timur Kota Bayah. Waktu tempuh itu diisi perjalanan ajrut-ajrutan melewati jalan tanah berbatu yang naik-turun bukit. Untungnya, rute berat itu diimbangi dengan pemandangan indah dan bervariasi. Perkebunan kelapa, hutan karet, jati, dan hutan campuran yang dikelola Perhutani silih berganti menemani garis pantai laut selatan.

Saat jip melintasi hutan campuran seluas 1.800 ha itu terlihat beberapa jenis burung ataupun lutung asyik bergelayutan di pucuk-pucuk dahan pohon. Kawasan hutan di sisi pantai ini memang masih menyisakan sedikit tempat berteduh bagi satwa liar. Menurut cerita supir jip, mereka sering memergoki babi hutan atau macan kumbang melintas di jalan berbatu itu.

Setelah menurunkan ransel, kami langsung menuju ke kediaman kepala desa. Drs. Hudaya A.T., penerima penghargaan upakarti 1993, yang menjabat kades dua periode terakhir menyambut kami dengan ramah. Kami melapor dan minta izin untuk menelusuri beberapa gua di sekitar desa.

Menurut Hudaya, dibandingkan dengan desa-desa lain di Kecamatan Bayah, di Sawarna memang paling banyak terdapat gua alam. Jumlahnya mungkin belasan. Sayangnya, hanya beberapa yang diketahui pasti letak pintu masuknya. Sebagian pernah dimasuki penduduk, tapi lebih banyak yang keberadaannya terlupakan. Hanya sesekali penduduk masuk gua untuk mengumpulkan kotoran kelelawar sebagai bahan pupuk. Dulu juga ada yang masuk untuk mengunduh sarang walet. Namun seiring dengan hasil yang kian tak jelas dibandingkan dengan risikonya yang besar, kegiatan itu surut perlahan-lahan. Kalaupun masih ada, hanya dilakukan satu dua orang.

Gua itu buntu!

Desa Sawarna meliputi beberapa kampung yang dihuni 5.000-an penduduk. Sebagian besar bekerja sebagai petani, nelayan, atau pengrajin. Topografi wilayahnya tak jauh berbeda dengan daerah lain di pantai selatan Jawa. Pantainya lebar memanjang ditaburi pasir halus berwarna keputihan. Di bagian lain, perbukitan seolah memagari desa. Bukit-bukit itu berujung pada tebing-tebing karang sehingga di beberapa tempat mereka seolah menghunjam ke laut.

Daerah perbukitan yang berbatu kapur itu membersitkan harapan, di sana pasti terdapat sejumlah lubang gelap yang berkelok-kelok menembus perut bumi. Gua-gua alam yang menarik dan menanti untuk ditelusuri.

Pak Karma, lelaki setengah baya yang tinggal di Kampung Cibeas, sempat mengernyitkan kening saat kami mintai kesediaannya untuk menjadi penunjuk jalan. “Sebenarnya, untuk apa kalian masuk ke gua-gua itu?” tanyanya. Ia heran, baginya gua-gua yang gelap mengerikan itu bukan tempat menarik untuk dikunjungi. Setelah kami jelaskan bahwa niat kami hanya ingin menyaksikan dan mengagumi keindahan alam bawah tanah, ia bersedia mengantar kami. Pak Karma tahu beberapa lokasi gua, tapi tak ingat semua namanya

Selama kegiatan penelusuran, Pak Kades menawarkan kediamannya sebagai base camp kami. Sebuah tawaran yang tentu kami terima dengan senang hati. Akomodasi tenda seketika kalah pamor oleh kasur empuk. Namun esoknya, kenyamanan kasur ternyata berakibat buruk, kami bangun kesiangan.

Usai sarapan kilat, Lawe – panggilan Ranggalawe – menyiapkan beberapa kepal batu karbit sebagai bahan bakar lampu penerang utama selama di dalam gua nanti. Juga menyiapkan tali, seat, chest harness, dan perlengkapan caving yang terbuat dari aluminium alloy untuk dimasukkan dalam ransel.

Pukul 11.00 kami mulai bergerak. Mulanya memintas pekarangan rumah-rumah penduduk, lumbung padi, dan pematang sawah. Lalu ganti mendaki sebuah bukit lewat jalan setapak. Kami makin menjauhi pantai sampai akhirnya tiba di mulut Gua Sangko.

Bila tak pasang mata baik-baik, orang tak mengira di situ ada liang besar, menganga di permukaan tanah. Mulut gua itu memang tersembunyi di balik semak dan pepohonan. Kami terpaksa merelakan lengan tergores duri-duri sebelum mencapai mulut gua.

Rasa girang mulai menyeruak ketika beberapa meter menuruni gua sudah terpampang pemandangan yang tak habis-habisnya dikagumi para caver. Ornamen-ornamen berbentuk stalaktit (batu kerucut yang menempel di langit-langit gua) terlihat menggantung di atas kepala. Dinding gua penuh ornamen menyerupai batu meleleh. Namun kegembiraan kami tak lama. Setelah mengecek dinding-dinding gua di depan, ternyata tak ada lorong yang bisa ditelusuri. Gua itu buntu!

Sarang dedemit

Apa boleh buat. Kami terpaksa naik kembali ke jalan setapak. Sebuah gua lain yang kami jajaki ternyata sekali tiga uang. Buntu juga. Pak Karma yang sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir pantai, keheranan melihat paras kami kecewa. Inilah buah dari perjalanan tanpa didahului survai!

Lawe, pimpinan perjalanan kali ini, mencoba menjelaskan kenapa kami kecewa, ”Kami mencari gua-gua yang dalam dan panjang. Bukan yang cuma sedalam beberapa puluh meter.”

Pak Karma yang orientasi hidupnya sederhana kali ini harus menampung keluhan beberapa anak muda yang didorong rasa ingin tahu dan memilih perjalanan petualangan sebagai proses mengenal dan kemudian mencintai alam tempatnya berpijak. Tapi kenapa pula harus dengan menelusuri gua-gua gelap dan penuh misteri itu?

Sebagian orang memang enggan mendekati apalagi masuk ke dalam lubang gelap menganga di permukaan bumi. Bagi masyarakat kita, gua sering dipandang sebagai tempat angker. Sarang para dedemit. Namun para caver justru bersikap 180o. Mereka akan masuk gua dengan hati berbunga-bunga meski bercampur rasa khawatir juga. Kalau badan masih bisa lewat dan rasanya aman, penelusuran akan dilanjutkan. Karena itu lorong atau liang sekecil apa pun di dalam gua tak boleh luput dari pengamatan.

Keadaan gelap total sampai tangan sendiri di depan muka pun tak kelihatan, justru menjadi daya tarik tersendiri. Perasaan cemas bergelayut karena sumber cahaya cuma dari lampu yang dibawa. Rasa ingin tahu – milik setiap insan – menyemangati kegiatan ini. Apa sebenarnya yang berada di balik kegelapan itu? Berbahayakah? Adakah kehidupan di sana?

Pendeknya, seorang penelusur gua lebih suka kalau lorong yang sedang dia telusuri tak berakhir begitu saja. Apa yang dicari dari kegiatan ini mungkin terjawab dengan sebaris catatan milik almarhum Norman Edwin. Pionir penelusuran gua modern di Indonesia ini menulis, “… adalah suatu kepuasan tersendiri bagi seorang penelusur gua bila lampu yang dibawanya merupakan sinar pertama yang mengungkapkan pemandangan menakjubkan di bawah tanah ….”

Trauma penduduk

Matahari mulai condong ke barat. Sinarnya yang tadi putih menyilaukan kini melarik kekuningan di sela-sela pepohonan di atas perbukitan. Pak Karma mengajak kami menuruni bukit. Ia mau menunjukkan sebuah gua yang persis berada di tepi pantai. Orang Sawarna menyebutnya Gua Langir. Kami perlu berjalan sejam lagi untuk mencapainya.

Di sekitar mulut gua itu pernah terjadi peristiwa menghebohkan, menebar trauma penduduk Sawarna terhadap kehadiran anak-anak muda kota macam kami. Dikisahkan, saat musim barat beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa hilang di sana. Gara-garanya, ia berusaha seorang diri mencapai lokasi Gua Langir di kaki dinding tebing karang di bibir pantai. Pemuda naas itu terempas gelombang laut selatan yang terkenal ganas. Penyapuan tim SAR dan para penyelam tradisional sia-sia untuk menemukannya. Tiga hari setelah kejadian, helmet-nya terapung-apung di air. Tulang dan sisa tubuhnya baru ditemukan terjepit di sela-sela karang sebulan kemudian.

Melihat dengan mata kepala sendiri, baru kami sadar betapa berbahayanya mendekati mulut gua ini jika air pasang. Apalagi di musim barat, air laut seolah siap menelan siapa saja yang berada di atasnya. Bayangkan saja, garis-garis pasang air laut yang berbekas pada dinding tebing tingginya hampir menutupi gua. Saat air surut begini saja, suara dentuman ombak beradu dengan karang cukup membuat hati berdebar-debar.

Gua Langir punya entrance (pintu masuk) lega. Tinggi mulutnya sekitar 4 m dan lebarnya 3 m yang menyempit di bagian atas. Kami segera berpencar untuk mencari lorong terusan dari beranda gua yang dalamnya sekitar 10 m. Tapi rupanya hari ini sial bagi kami. Seperti dua gua di bukit tadi, Gua Langir pun tak menyisakan satu celah pun untuk ditelusuri lebih dalam.

Kenyataan ini membuat kami kehilangan mood. Naik-turun bukit ternyata hanya menjadi olahraga belaka. Menghibur diri, saat matahari merapat di horison sebelah barat kami menuju tempat pelelangan ikan (TPI) Desa Sawarna. Letaknya 20 menit jalan kaki menyisir pantai ke arah timur dan menyeberang muara Sungai Cisawarna. Di sana kami mengobrol dengan para nelayan sambil menyeduh kopi. Senja itu mereka sedang bersiap-siap melaut dengan perahu bercadik berkapasitas 2 – 3 orang. Mereka menyebutnya perahu Jaring Rampus.

Penunggunya ular putih

Pagi berikutnya kami bangun dengan semangat mengambang. Ini hari terakhir kami di desa yang mempesona ini. Besok pagi-pagi sekali kami harus sudah pulang. Kali ini alat-alat pemetaan gua seperti kompas, rollmeter, clinometer (alat ukur sudut kemiringan dalam gua), dan kertas film kedap air termasuk dalam daftar yang kami bawa dalam ransel.

Rencana semula, kemarin adalah penjajagan gua. Baru hari ini saat untuk memetakannya sekaligus membuat foto dokumentasi. Namun lain rencana lain kenyataan. Kemarin kami gagal menemukan gua yang layak dipetakan. Berarti hari ini kami harus sedikit berjudi. Jika menemukan gua yang bagus, akan coba langsung kami petakan.

Atas saran Pak Karma, penunjuk jalan kami bertambah satu lagi, yaitu Pak Amad. Pak tua ini berpengalaman puluhan tahun masuk gua. Ia mantan pengunduh sarang walet yang kurang berhasil. Kondisi ekonominya tak terangkat dengan profesi itu. Namun pengalamannya jelas kami butuhkan untuk menunjukkan lokasi gua yang sesuai harapan.

Gua Cicayur tujuan pertama hari ini. Menurut Pak Amad, gua ini sulit ditelusuri karena ada beberapa lubang vertikal di bagian dalamnya. Bila di daerah Jawa Timur lubang-lubang mirip sumur ini populer disebut luweng, di Sawarna dinamai jemblongan.

Gua yang mulutnya dikelilingi pohon-pohon bambu ini konon ada penunggunya. Entah bermaksud menakut-nakuti atau tidak, Pak Amad bercerita, dulu ia dan teman-temannya pernah melihat ular besar berwarna putih di dalam gua. Anehnya, ular itu menghilang ketika dihampiri. Namun, karena sudah berada di muka entrance, kami menguatkan hati agar tak terpengaruh.

Sebelum turun kami membagi tugas. Lawe dan saya bergantian menjadi leader sembari sebisa mungkin melakukan pemetaan. Arief bertugas loading alat dan makanan, sedangkan Anset piket di mulut gua bersama kedua penunjuk jalan.

Komunikasi dengan HT putus

Setelah berdoa, pukul 10.30 kami mulai menuruni mulut Gua Langir yang sempit. Di dalam banyak batu karang yang runcing. Kami harus bergerak hati-hati kalau tak mau kulit tergores batu-batu tajam itu. Lorong menurun terus. Saya mulai menyalakan lampu karbit saat cahaya matahari tidak lagi bisa menembus bagian dalam lorong. Setelah merangkak beberapa meter, lorong di depan kami mulai membesar. Lantai gua berganti dengan tanah gembur menyelingi batu-batu berserakan. Setelah itu lorong menyempit lagi dan mulai berkelok-kelok.

Terkadang penelusuran bisa dilakukan dengan berjalan tegak jika ruangan dalam gua cukup luas dan langit-langitnya tinggi. Namun, tak jarang kami terpaksa melakukan gerakan ducking (jalan jongkok) sebab atap lorong cuma setinggi kolong meja. Di bagian ini Arief beberapa kali tertinggal. Ia kesulitan mengiringi langkah saya dan Lawe. Biang keladinya adalah packsack berisi peralatan dan makanan yang bercokol di pundaknya. Merayap dengan beban bawaan sebesar itu memang cukup merepotkan.

Taktik jalannya pun diubah. Bila di depan ada lorong sempit, mula-mula packsack dia dorong pelan-pelan. Lawe yang ada di depannya membantu dengan tarikan. Setelah packsack lolos, baru Arief menyusul.

Meski miskin ornamen karena tergolong gua berusia muda, Cicayur menyajikan daya tarik lain. Di beberapa bagian, dinding-dinding gua ditempeli butiran-butiran pasir mengandung fosfor. Jika diterpa cahaya, kontan berkilauan seperti manik-manik.

Penelusuran berlanjut dengan mengikuti sebuah lorong lurus yang cukup lebar. Lorong itu berujung pada sebuah lubang vertikal mirip sumur. Kami tak bisa memastikan kedalamannya karena dasarnya tak terjangkau cahaya lampu karbit kami. Dalam keremangan samar-samar kami melihat dua batang bambu bekas dipakai para pengunduh sarang walet saat menuruni jemblongan. Sukar dibayangkan bagaimana bambu-bambu panjang itu bisa dibawa masuk dari permukaan tanah di atas sana, melewati lorong-lorong sempit yang berkelok-kelok.

Untuk menuruni jemblongan itu, kami memasang anchor untuk tali yang akan dipakai turun. Kami memilih dua batu yang menonjol pada dinding gua sebagai tambatannya. Ujung tali tidak dilempar ke bawah, tetapi sengaja digulung lalu dibawa sembari diulur oleh Lawe yang turun lebih dulu.

Setelah Lawe tiba di bawah, saya dan Arief menyusul turun lewat tali dengan auto-stop descender (alat turun). Pada saat bersamaan hubungan dengan Anset lewat handy talkie yang sejak tadi terputus-putus, kini benar-benar terputus total. Di dalam gua yang berkelok-kelok semestinya memang dibuat beberapa stasiun relay untuk komunikasi radio. Tapi hal itu tidak mungkin kami lakukan kali ini. Berarti kami tinggal bersiap untuk menghadapi kemungkinan apa pun tanpa kontak dengan orang di permukaan bumi.

Megap-megap kurang oksigen

Usai menuruni sebuah jemblongan lagi, kami tiba di sebuah chamber (kamar gua) yang cukup luas. Di sini ada beberapa bentukan ornamen seperti tirai pada dinding gua. Langit-langit gua itu sendiri tak kelihatan karena terlalu tinggi, tak terjangkau cahaya lampu.

Sementara saya dan Arief mengamati sekeliling ruangan, Lawe berinisiatif melakukan survai ke satu-satunya lorong yang bermula dari chamber itu. Lorong horizontal itu panjangnya sekitar 20 m. Namun, beberapa menit kemudian ia muncul kembali dengan tergopoh-gopoh. Begitu sampai di tempat kami, ia langsung menyambar tabung oksigen dan menghirup isinya dalam-dalam. Dua tiga kali ia mengulangi hal itu sebelum buka suara. ”Gila. Di ujung lorong sana ada lubang vertikal lagi. Sebenarnya nggak begitu dalam. Gue sempat lihat sump (genangan air) di dasarnya. Tapi oksigen di situ sedikit sekali. Gue susah bernapas,” katanya sambil tersengal-sengal.

Di chamber ini pun sejak tadi kami sudah merasakan sulitnya bernapas. Dada kami makin lama terasa sesak. Di dalam gua yang berkelok-kelok dan terus menurun ke dalam perut bumi seperti karakter Gua Cicayur ini, memang sangat mungkin terdapat kamar-kamar hampa udara. Apalagi di gua ini tidak terdapat avance (celah atau cerobong angin pada langit-langit gua). Jadi suplai udara ke seluruh lorong gua cuma berasal dari entrance-nya yang berukuran 1 x 2 m di atas sana.

Setelah berembuk sebentar, dengan berat hati kami putuskan untuk menyudahi penelusuran. Bukan apa-apa. Tali tak cukup lagi diulur untuk menuruni jemblongan yang ditemukan Lawe. Tabung oksigen pun cuma ada satu. Risiko besar menghadang jika kami bertiga nekat meneruskan penelusuran.

Kami buru-buru putar haluan kembali ke atas. Tak terasa hampir empat jam kami berada di dalam gua. Lewat sejam lebih dari kesepakatan semula. Begitu kami bertiga muncul ke permukaan, Anset dan kedua penunjuk jalan langsung bertanya bertubi-tubi. Mereka pun ternyata sudah mulai cemas. ”Tadi kami hampir saja turun ke desa mencari bantuan. Habis, dipanggil-panggil lewat HT tak menjawab,” kata Pak Karma.

Satu hal yang paling terasa ketika badan keluar dari permukaan tanah, kami baru merasakan betapa nikmatnya udara yang diberikan Tuhan dalam hidup ini. Ini mungkin hampir tak pernah disadari dalam kehidupan sehari-hari. Kami merasa bersyukur.

Selepas ketegangan tadi, kami masih menjajagi sebuah gua lagi, yaitu Gua Armi. Letaknya masih bertetangga dengan Gua Cicayur. Gua Armi bukan tergolong gua yang terbentuk lewat proses gerusan air dalam waktu yang lama, tetapi karena pergeseran lapisan tanah atau patahan. Terbukti strukturnya terdiri dari bongkahan-bongkahan batu kapur sebesar dinding rumah. Lorong-lorongnya sempit menyerupai celah. Kalau mau lewat harus bergerak menyamping sampai ujung hidung seakan hendak menyentuh dinding gua.

Sesekali kami juga harus bergerak dengan teknik chimney, merayap dengan tumpuan kaki dan tangan menempel pada kedua dinding gua. Kami melakukannya sampai beberapa meter tingginya dari dasar gua sebab celah lorong dekat lantai gua terlalu rapat. Keunikan lain dari Gua Armi adalah air yang terus mengucur dari langit-langitnya yang tinggi. Kami bagai berjalan di tengah gerimis. Di sana-sini cahaya lampu karbit dan headlamp memperlihatkan genangan-genangan air pada lantai gua. Becek. Sayang sekali, karena waktunya kian mepet, penelusuran ini pun harus diakhiri.

Kami pulang namun akan kembali lagi. Masih ada pekerjaan tersisa di sana.

Sumber url http://www.indomedia.com/intisari/1998/april/gua.htm

Comments

  1. aku juga…………mau ikut donk……….gmn mang adek????bersediakah jd guide????ataw porter????? :laughing: :laughing: :laughing:

  2. woi….baca baek2 tuh… <br />ada sumbernya kan url bla bla bla… <br /> <br />bukan aku noh yang punya cerita.. <br />doain aja, bisa jalan sama caver astacala sooner yak…

  3. suprise nemu artikel ini… hehehe tengkyu udah di posting di sini,(foto saya, itu yang pake lampu karbit kaos putih hehehe) 🙂 beneran ada yang mau kesini? pantainya keren banget loh..hehehe buat anak asta, salam yah kenal.. dan salam kangen sayah buat Hasto,.. apa kabar yah dia… tegar

  4. welcometothejungle…… <br /> <br />tegar…. loe kalo nanya hasto ndak ada yang kenal, tapi gepeng mreka taunya, loe dimana skrg…???

  5. hahahah.. sorry peng, yang gw tau itu khan dari dulu HASTO CORO.. hehehe keep contact yah,.. sekarang masih di tempat yang lama, udah mulai bosen, dan pengen cabut.. ada tawarankah? hahah kapan2 maen lah ke depok… banyak cerita nanti.. tegar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

13 Saran Buat Para Aktivis Gerakan

Ini adalah kritik atas hal-hal yang menghalangi kita untuk membangun gerakan aktual. Banyak orang yang merasa bersalah dengan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, termasuk...

Hari Pohon Internasional

Pada hakikatnya, Pohon merupakan salah satu makhluk hidup yang sangat penting untuk manusia. Selain sebagai penyaring udara, pohon juga menyerap gas yang ada di...

Binaiya (Bagian 3: Kota Musik dan Trauma Masa Lalu)

Ambon City of Music. Walaupun saya membacanya terbalik, tulisan raksasa itu seperti menyambut. Posisinya membelakangi saya. Itu terlihat di tepi pantai Teluk Ambon, saat...