Ully Sigar Rusady – Penyanyi Sekaligus Aktivis lingkungan


{nl}        Siapa yang tidak mengenal penyanyi konservasi alam kondang, Ully Sigar Rusady, yang kini lebih suka dipanggil Ully ‘Hary’ Sigar Rusady. Hary adalah nama sang suami yang sejak sebelum menikah sudah akrab dan sama-sama “gila” naik turun gunung dan keluar masuk hutan rimba di hampir seluruh kepulauan Nusantara. Peraih penghargaan Kalpataru pada tahun 2001 lalu ini, sepertinya memiliki magma tersendiri dalam upaya pemberdayaan lingkungan. Lama tak muncul di blantika musik Indonesia, benarkah Ully kini telah berpaling dari dunia menyanyi? {nl}

[more]

{nl}

        Siapa yang tidak mengenal penyanyi konservasi alam kondang, Ully Sigar Rusady, yang kini lebih suka dipanggil Ully ‘Hary’ Sigar Rusady. Hary adalah nama sang suami yang sejak sebelum menikah sudah akrab dan sama-sama “gila” naik turun gunung dan keluar masuk hutan rimba di hampir seluruh kepulauan Nusantara. Peraih penghargaan Kalpataru pada tahun 2001 lalu ini, sepertinya memiliki magma tersendiri dalam upaya pemberdayaan lingkungan. Lama tak muncul di blantika musik Indonesia, benarkah Ully kini telah berpaling dari dunia menyanyi?

        “Saya masih menyanyi, tapi memang tidak seperti dulu, sudah tinggal beberapa persen saja,” kata wanita kelahiran Garut, Jawa Barat, 4 Januari 1952 lalu ini seraya menambahkan, “sekarang memang lebih banyak di hutan, tetapi bukan berarti saya sama sekali meninggalkan dunia seni menyanyi.”

        Meski usia telah memasuki setengah abad lebih, semangatnya “menghijaukan” Indonesia tak pernah susut. Penyanyi yang pernah menetaskan album Rimba Gelap (Irama Studio), Pelita Dalam Gulita (Jackson Record), Pengakuan (Jackson Record), Rajawali (Pelita Board Studio), Merah Putih Sepanjang Masa (USR Associates) ini, memang sudah menyukai alam sejak kecil. Tak ayal lagi kiprahnya pun banyak berkaitan dengan alam. Dari pemeliharaan alam sampai menjadikan hutan sebagai rumah kita. Berbagai penghargaan telah diterimanya, baik dari dalam maupun luar negeri. Antara lain, penghargaan Asean Development Citra Awards 1999-2000 dan Piagam Penghargaan Global 500 dari Badan PBB UNEP 1988. Sebagai penyanyi yang konsen dengan tema lingkungan, kakak kandung artis Paramitha Rusady ini memang telah berjuang cukup gigih untuk mengajak masyarakat lebih mencintai dan peduli dengan alam sekitarnya. Kepeduliannya dengan perkembangan dunia juga tertuang dengan keterlibatannya sebagai anggota organisasi yang berorientasi untuk pengabdian alam serta lingkungannya, yaitu Yayasan Garuda Nusantara (YGN).

        Sejak mendirikan YGN tahun 1985 lalu, Ully terus mengepakkan sayap dengan membuka kelompok-kelompok pencinta alam dan lingkungan. Pandu Lingkungan Hidup (PLH) merupakan salah satu kelompok pecinta lingkungan yang pertama kali dibentuk dan berada di Balikpapan. Selanjutnya YGN terus berkelana membentuk kelompok serupa. “Kami menyadari betul, kalau penegakan lingkungan hidup di Indonesia masih sangat lemah. Karena itu, kehadiran kelompok-kelompok seperti PLH di Balikpapan akan sangat membantu,” kata Ully yang bernama lengkap Rulany Indra Gartika Rusady Wirahaditenaya.

        Menurut Ully, tujuan utama dibentuk kelompok pecinta alam tentu saja untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Dan, hasil akhir yang diharapkan adalah perubahan perilaku setiap manusia terhadap lingkungannya. “Yang tersulit adalah mengubah perilaku manusia terhadap lingkungan yang telah memberi kehidupan pada kita semua,” kata penyanyi yang mendapat ‘Certifikat of Merit Having’ dan menjadi friend trough music best dresser prize di Tokyo pada even Festival World Pop Song tahun 1978 silam.

        Ully juga mengakui, dana kampanye lingkungan yang disediakan pemerintah sangat sedikit dan untuk mengelola YGN sangat diperlukan dana cukup besar. Oleh sebab itu YGN pun terus menggalang hubungan dengan donatur-donatur, seperti adiknya sendiri artis Paramitha Rusady dan Production House (PH) tertentu yang konsern terhadap masalah lingkungan alam. Salah satu produksi sinetronnya adalah Anak-anak Angin dengan bintang utama adiknya sendiri, Paramitha Rusadi.

        Sinetron yang berjumlah 12 episode ini terbilang cukup menarik. Selain banyak mengambil tema masalah lingkungan hidup, lokasi pengambilan gambar adalah Gunung Pancar, Desa Cimandala, Bogor, Jawa Barat. Lokasi itu milik Ully sendiri yang dibuat jadi laboratorium pelestarian alam. Di Gunung Pancar ini pula, sejak tahun 1985 Ully melatih sekitar 30.000 orang muda dari seluruh Indonesia untuk mencintai alam.

Perusakan Alam

        Saat ditanya banyaknya perusakan alam yang terjadi di mana-mana, bagi Ully tidak perlu terlalu dipermasalahkan siapa yang melakukannya. ”Kalau ditanya mengenai kerusakan hutan di Garut, saya sudah tidak bisa lagi berkomentar. Kerusakan sudah demikian parahnya, tapi itu tidak hanya terjadi di Garut. Kita tidak usah bertanya lagi siapa yang merusak hutan, yang penting sekarang kita berpikir, apa yang harus kita lakukan,” tegas penyanyi yang tangannya selalu dililit puluhan gelang dari berbagai daerah itu.

        ”Yang kita butuhkan sekarang adalah perubahan perilaku di masyarakat dalam hal perlindungan alam dan lingkungan. Masyarakat ini bisa termasuk pengusaha dan kita semua. Perubahan perilaku ini harus segera dilakukan. Percuma saja kita melakukan banyak seminar tentang masalah ini tanpa mengubah perilaku,” ujarnya.

        Ully juga menunjukkan keheranannya karena saat ini seolah ada tren saling menyalahkan, baik di masyarakat atau di kalangan pemerintah. ”Entah kenapa, ujug-ujug menjadi tren, orang saling meyalahkan, hobi mencari polemik. Seharusnya, rakyat atas nama ketulusan mencoba membantu penyelamatan lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri dan keluarga,” tuturnya.

        ”Jadi, jangan berharap dari pemerintah terus, rakyat dulu (yang harus melakukannya). Dengan catatan, pemerintah juga harus banyak memperbaiki konsep-konsep yang tidak berjalan. Sekarang kita jangan lagi ‘jemput bola’, tapi harus ‘kejar bola’,” tegas artis yang pernah memperoleh Tanda Kehormatan “Bintang Jasa Pratama” dari Presiden RI Abdurrahman Wahid dibidang Lingkungan Hidup 2000.

           Ully juga menegaskan, kita jangan hanya menyalahkan masyarakat perambah karena sebenarnya yang salah adalah kita semua. ”Ada saling keterkaitan dalam masalah ini. Misalnya, ada orang yang tahu hutan dirusak, tetapi diam saja, itu adalah perbuatan salah. Jadi yang salah itu bukan hanya yang menebang hutan, tetapi orang yang tahu namun diam saja juga salah,” paparnya.

Penulis : Rahmawati
Sumber : Gemari Online, Edisi 41/V/2004