Hutan Kritis Terluas di Sumbar Terdapat di Kabupaten Solok

Related Articles

        Kawasan hutan kritis terluas di Sumatera Barat terdapat pada Kabupaten{nl}Solok mencapai 44.810 hektare dari total 214.580 hektar hutan kritis di{nl}provinsi ini.{nl}{nl}

[more]

        Padang – Kawasan hutan kritis terluas di Sumatera Barat terdapat pada Kabupaten Solok mencapai 44.810 hektare dari total 214.580 hektar hutan kritis di provinsi ini.

        Lahan kritis di Kabupaten Solok itu terdiri dari 20.090 hektar dalam kawasan hutan dan 24.720 hektar telah berada di luar kawasan hutan, kata Gubernur Sumbar, H Gamawan Fauzi dalam penjelasan tertulis di Padang, Selasa (8/8).

        Jumlah lahan kritis di seluruh Sumbar saat ini diperkirakan mencapai 551.387 hektar namun yang telah disurvei baru 214.580 hektar.

        Sebagian wilayah Kabupaten Solok tersebut justru masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

        Setelah Solok, Kabupaten dengan hutan kritis terluas kedua adalah Sawahlunto Sijunjung yang mencapai 41.630 hektar, disusul 50 kota (36.650), Tanah Datar (20.210), Pesisir Selatan (17.020), Pasaman (16.010), Padang Pariaman (15.160), Agam (14.600) dan Kota Padang (8.490).

        Sedangkan lahan kritis di kabupaten Kepulauan Mentawai belum terdata oleh pihak-pihak terkait di daerah ini.

        Dari total 214.580 hektar lahan kritis yang telah disurvey di Sumbar itu, 137.490 hektar telah berada di luar kawasan hutan dan 77.090 hektar dalam kawasan hutan.

        Sementara itu, total luas hutan Sumbar tercatat 2.600.286 hektar atau mencapai 61,48 persen dari total luas wilayah provinsi ini.

        2.600.286 hektar hutan tersebut terdiri dari hutan suaka alam dan wisata seluas 846.175 hektar atau mencapai 32,54 persen, hutan lindung 910.533 hektar (35,02 persen).

        Selanjutnya, hutan produksi tetap 407.849 hektar (15,68 persen), hutan produksi terbatas 246.383 hektar (9,48 persen) dan hutan produksi yang data dikonvensi seluas 189.346 hektare atau mencapai 7,28 persen.

        Lebih lanjut, Gubernur Sumbar menjelaskan, dari perkiraan luas 551.387 hektar hutan Sumbar yang telah kritis, 114.654 hektare diantaranya telah direhabilitasi melalui berbagai kegiatan sejak tahun 1976 hingga 2006.

        Kegiatan rehabilitasi itu meliputi Instruksi Presiden (Inpres) selama tahun 1976 hingga 1999 pada hutan kritis seluas 55.668 hektare, Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL) dari tahun 2003 hingga 2005 dengan luas hutan yang direhabilitasi mencapai 43.986 hektar.

        Program lainnya adalah yang dibiayai dana alokasi khusus dana reboisasi (DAK-DR) dari tahun 2001 hingga 2006 dan telah merehabilitasi 15.000 hektar hutan Sumbar.

Sumber : Antara, Edisi 9 Agustus 2006{nl}{nl}

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Siasat Hijau di Belantara Beton Jakarta

        Mimpi menjadi kenyataan, demikian kata yang bisa terukir dari{nl}masyarakat Banjarsari dan Rawajati mewujudkan kampung hijau nan asri di{nl}tengah gegap gempita gedung-gedung Jakarta.{nl}{nl}{nl}    ...

Banjir Jakarta Akibat Resapan Air Kurang

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, mengatakan penyebab utama banjir di Jakarta adalah berkurangnya lahan resapan air akibat pendirian bangunan secara besar-besaran. “Terlalu banyak...

KDKL Makassar 2010

Pada bulan Juli 2010 lalu, Hikespi melaksanakan suatu kegiatan pelatihan di Makassar, yaitu Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan (KDKL) Makassar 2010. Astacala mengirimkan dua...