Ansel Adams – Mengangkat Fotografi ke Jenjang Tertinggi

Related Articles

Berapa harga selembar foto? Kalau Anda ke Pasar Baru, Jakarta, harga selembar foto bintang F4 (F she) ukuran kartu pos adalah lima Rp 5.000. Ini mahal sekali sebab, selain itu semata foto repro alias bajakan, ongkos cetak selembar kartu pos berwarna sebenarnya hanya Rp 1.000. Namun, bagaimana kalau ada foto yang harganya selembar sekitar Rp 300 juta?

Demikianlah foto berjudul Tetons and Snake River, Grand Teton National Park buatan tahun 1942 karya Anssel Adams (20 Februari 1902-22 April 1984) dari Amerika Serikat, cetakan asli, memang berharga segitu. Karya lain Adams yang berjudul Moonrise, Hernandez 1941 juga berharga sama. Foto-foto Adams yang masuk kategori murah pun harganya masih sekitar 10.000 dollar Amerika Serikat alias sekitar Rp 80 juta, seperti Dunes, Oceano, CA, 1963.

Saat ini, di beberapa tempat di AS sedang berlangsung pameran foto peringatan 100 tahun Ansel Adams. Beberapa kantor berita pun mengirim foto-foto Ansel Adams ke koran-koran yang berlangganan kepadanya.

Mengapa foto-foto Ansel Adams dalam bentuk cetakan asli berharga begitu mahal?

Siapa pun yang pernah melihat foto asli karya Ansel Adams, yang umumnya foto pemandangan alam hitam putih, akan sepakat bahwa foto-foto itu sangat luar biasa. Selain alam yang disajikan sangatlah indah, detail dalam foto itu termasuk kontras dan pencahayaannya tidak ada cacatnya. Bisa dikatakan, karya Ansel Adams adalah pencapaian tertinggi dalam seni fotografi.

Ada beberapa orang yang mengatakan, foto-foto Ansel Adams tampak bagus karena alam yang dipotretnya memang sudah bagus. Akan tetapi, sesungguhnya tidaklah demikian. Banyak fotografer mencoba memotret alam yang sama dengan yang dipotret Ansel Adams, dengan sudut yang sama dan pencahayaan yang dirancang semirip mungkin. Hasilnya, umumnya jauh di bawah karya Adams.

Fotografi Ansel Adams adalah karya yang dihasilkan melalui pemikiran yang dalam, pengalaman di laboratorium foto bertahun-tahun, serta kesabaran dan keuletan di lapangan. Sehari ia bekerja 18 jam. Dan, kerja keras ini dijalaninya bertahun-tahun. Adams sama sekali tidak kenal hari libur. Untuk mencapai tempat pemotretan, Ansel Adams sering harus berjalan berjam-jam, bahkan berhari-hari, dengan membawa peralatan sangat berat. Kamera yang digunakan Ansel Adams hampir selalu kamera format besar.

Dari pengalaman lapangannya itu, Adams sudah menelurkan sebuah teori fotografi hitam putih yang sangat terkenal, yaitu Sistem Zona. Dengan sistem ini, tiap nada di alam punya korelasi dengan sebuah kepekatan dalam foto hitam putih. Maka, pada setiap foto Ansel Adams, kita bisa melihat warna putih dan hitam tampil menawan sejajar dengan aneka gradasi abu-abu pada lembar yang sama.

Adams tidak pernah membutuhkan koreksi pencetakan pada semua fotonya. Sekali lagi, semua fotonya. Mencetak foto Ansel Adams adalah mencetak dengan durasi persis sama pada semua foto karena presisi pencahayaan yang dibuat Adams memang setinggi itu. Juga, posisi enlarger (alat cetak foto) selalu tetap, tergantung ukuran kertas yang dipakai saja. Negatif yang dihasilkan Adams adalah hasil final.

Namun, kritik terbesar bagi Adams adalah betapa miskinnya obyek foto yang dipilihnya. Fotografer kondang Henri Cartier Bresson pernah berkata, “Dunia ini sangat beraneka ragam. Tapi, yang dipotret (Ansel) Adams dan (Edward) Weston hanyalah karang dan pohon.”

Ansel Adams lahir dan dibesarkan di San Fransisco. Ayahnya, Charles Hitchcock Adams, adalah seorang pengusaha. Ibunya, Olive Bray, hanya ibu rumah tangga biasa. Sebagai anak tunggal dari orangtua yang terlambat menikah (Ansel lahir saat ibunya hampir berumur 40 tahun), Ansel Adams cukup mendapat perhatian. Sejak kecil ia sudah menampakkan kecerdasan lebih, juga sangat aktif. Dalam sebuah biografi, keaktifan fisik Ansel Adams akan dikategorikan sebagai hiperaktif untuk definisi saat ini. Selain itu, Ansel juga mengidap disleksia (gangguan kesulitan membaca). Akibatnya, Ansel mengalami kesulitan dalam sekolahnya. Akhirnya, pendidikan formal Ansel cuma sampai tingkat delapan di AS, atau kira-kira setara SLTP.

Pada tahun 1907, keluarga Adams bangkrut. Dan sejak itu, kesulitan ekonomi memang melanda keluarga ini. Satu-satunya kegembiraan Ansel kecil adalah menikmati alam, dekat jembatan The Golden Gate. Hampir setiap hari ia terlihat bermain-main di sana seusai les piano yang dijalaninya.

Sejak usia belasan, Adams sudah senang memotret dengan kamera Kodak No1 Box Brownie yang diberikan ayahnya. Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan sebuah klub pencinta alam, Sierre Club. Di klub ini pula ia berjumpa dengan istrinya, Virginia Best, yang dinikahinya tahun 1928, yang lalu memberinya dua anak. Walau aktif di kegiatan pencinta alam sambil senang memotret, cita-cita Adams sampai saat ini adalah menjadi pemusik.

Maka, sesungguhnya tahun yang sangat menentukan karier Adams adalah tahun 1927. Pada tahun itu, ia menghasilkan serial foto “Monolith, the Face of Half Dome” di Taman Nasional Yosemite. Pada tahun itu pula, ia mengaku bisa lepas dari bayang-bayang pengaruh Albert M Bender, seorang tokoh seni San Fransisco, sekaligus meninggalkan keinginannya untuk menjadi pemusik.

Titik besar lainnya adalah saat ia berjumpa fotografer Paul Strand pada tahun 1930, juga Alfred Stieglietz. Sejak saat itu Adams bertekad menciptakan straight photography, atau foto yang tanpa manipulasi apa pun, tidak ada dodging dan burning pada prosesnya.

Pada tahun 1927, Adams berjumpa dengan Edward Weston, dan keduanya lalu mendirikan Grup f/64 pada tahun 1932. Grup ini adalah kelompok fotografer yang memotret hanya dengan bukaan diafragma 64 (kecil sekali) untuk mendapatkan ketajaman gambar maksimal. Walau grup ini berjalan dengan setengah main-main, kelompok inilah mendongkrak prestise fotografi seni menjadi seperti sekarang.

Walau foto-fotonya berharga sangat mahal, sampai tahun 1940-an Adams bukanlah fotografer yang kaya. Ia masih sering kesulitan uang, seperti terlihat dalam sebaris suratnya kepada Weston, “Banyak sekali, ya, kerjaanku. Tapi, tetap saja aku miskin.”

Banyak pula buku yang sudah dihasilkannya. Buku otobiografinya tidak selesai dikerjakan karena ia keburu meninggal pada tahun 1984. Namun, bukunya diselesaikan Mary Street Alinder dan terbit tahun 1985.

Buku lainnya adalah The John Muir Trail (1938), Michael and Anne in Yosemite Valley (1941), Born Free and Equal (1944), Illustrated Guide to Yosemite Valley (1946), Camera and Lens (1948), The Negative (1948), Yosemite and the High Sierra (1948), The Print (1950), My Camera in Yosemite Valley (1950), My Camera in the National Parks (1950), The Land of Little Rain (1950), Natural Light Photography (1952), Death Valley (1954), Mission San Xavier del Bac (1954), The Pageant of History in Northern California (1954), dan Artificial Light Photography (1956).

Selain itu juga The Islands of Hawaii (1958), Yosemite Valley (1959), Death Valley and the Creek Called Furnace (1962), These We Inherit: The Parklands of America (1962), Polaroid Land Photography Manual (1963), An Introduction to Hawaii (1964), Fiat Lux: The University of California (1967), The Tetons and the Yellowstone (1970), Ansel Adams (1972), Singular Images (1974), Ansel Adams: Images 1923-1974 (1974), Photographs of the Southwest (1976), The Portfolios of Ansel Adams (1977), Polaroid Land Photography (1978), Yosemite and the Range of Light (1979), The Camera (1980), The Negative (1981), dan The Print (1983). []

Sumber : Kompas Online, Edisi 21 Juli 2003

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Orang-orang Aceh yang Luar Biasa

Di gelap malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang menuju Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat barisan kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka mobil milik LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju dari dan ke Banda Aceh. Dalam gelap saya terisak: merasa tak berarti dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu menyusun hidup baru setelah tsunami merenggut semuanya dari mereka, tiga tahun lalu.

Walhi : Sebagian Besar Kebakaran Hutan Disengaja oleh Perusahaan

Penggiat Hutan dan Perkebunan WALHI, Rully Syumanda, mengatakan, 27,6 juta hektare hutan dan lahan telah terbakar di Pulau Sumatera dan Kalimantan sejak 2001 hingga...

Menikmati Keindahan Danau Gunung Tujuh

Tulisan ini merupakan lanjutan cerita perjalanan sebelumnya bersama Bolenk dan Memet ketika mendaki Gunung Kerinci. Danau Gunung Tujuh Usai mendaki Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di...