Hidrologi Karst : Memahami Karakteristik Sungai Bawah Tanah

Related Articles

{nl}

Pengetahuan{nl}tentang karakteristik sungai bawah tanah, lanjut Bagus, sebaiknya lebih{nl}ditekankan saat pendidikan dan latihan dasar para penelusur goa.{nl}Mempelajari ilmu-ilmu pendukung dalam speleologi memang tidak menarik{nl}kalau pendekatannya akademis. Ilmu hidrologi akan lebih menarik bila{nl}disampaikan melalui studi kasus musibah banjir di dalam goa.

[more]

Oleh AGUNG SETYAHADI

Aliran{nl}air akibat hujan lebat itu mengalir deras masuk ke dalam sebuah goa{nl}vertikal, membentuk air terjun dengan suara bergemuruh. Film{nl}dokumentasi itu memperjelas potensi bahaya penelusuran goa di musim{nl}hujan. Penelusur goa dipastikan tidak bisa keluar karena mulut goa{nl}dikepung air terjun.

Film{nl}dokumentasi itu diputar oleh Tjahyo Nugroho Adjie MScTech, pakar{nl}hidrologi karst dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Senin{nl}(20/3). Data visual itu digunakannya untuk mengawali penjelasan tentang{nl}karakteristik hidrologi sungai bawah tanah. Sumber air sungai bawah{nl}tanah bisa berasal dari berbagai sumber, sungai permukaan yang masuk ke{nl}dalam tanah, rekahan batuan, maupun mulut goa vertikal seperti dalam{nl}film tersebut. Sumber-sumber air itu akan bermuara para satu aliran{nl}utama dan memengaruhi debit airnya.

Adjie{nl}mencontohkan sungai bawah tanah di Goa Gremeng, Dusun Belimbing,{nl}Umbulrejo, Ponjong, Gunung Kidul. Pada dasarnya, Sungai Gremeng adalah{nl}sungai permukaan yang numpang lewat di Goa Gremeng. Hulu sungai ini{nl}berasal dari perbukitan nonkarst yang disebut Panggung Masif. Batuan di{nl}hulu sungai adalah berksi (batuan) vulkanik. Batuan vulkanik{nl}menyebabkan air hujan banyak yang menjadi aliran permukaan. Jika hujan{nl}datang, debit air Sungai Gremeng akan cepat naik dan menjadi banjir.

Karakteristik{nl}Sungai Gremeng itu sudah diteliti oleh Drs Eko Haryono MSi, pakar karst{nl}dari Fakultas Geografi UGM. Data debit aliran enam sungai di Gunung{nl}Kidul ia tampilkan dalam bentuk grafik. Debit Sungai Gremeng dan sumber{nl}air Selonjono sangat responsif pada suplai air hujan, yang ditunjukkan{nl}pada grafik puncak banjir yang cepat. Sedangkan sumber air Teleng,{nl}Ponjong, Bendungan, dan Gedaren, memiliki jeda waktu antara hujan dan{nl}puncak aliran air. Jeda waktu bervariasi dari dua hingga enam bulan.

“Sungai{nl}bawah tanah yang berada di perbatasan antara batuan karst dan batuan{nl}vulkanik, kenaikan airnya cenderung cepat. Sedangkan sungai bawah tanah{nl}yang sistemnya ada di batuan karst cenderung lambat. Karakteristik{nl}sungai inilah yang harus dipahami oleh para penelusur goa,” tutur{nl}Adjie.

Kunci{nl}utama untuk mengetahui karakteristik sungai bawah tanah adalah banyak{nl}membaca hasil penelitian. Kalau tidak mampu, sediakanlah waktu untuk{nl}diskusi dengan para pakar hidrologi karst di perguruan tinggi maupun{nl}komunitas-komunitas pemerhati karst dan speleologi. Sistem Sungai{nl}Gremeng sebenarnya sudah dibahas dalam buku Stasiun Nol Teknik-teknik{nl}Pemetaan dan Survei Hidrologi Goa karya Erlangga Esa Laksmana, peneliti{nl}pada Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta. Sungai Gremeng{nl}merupakan muara dari Sungai Banyu Sumurup, Jelok, Seropan, Plalar,{nl}Kedung Pengaron, dan aliran dari Goa Tlogo.

“Peta{nl}jaringan sungai bawah tanah itu bisa digunakan sebagai bekal pemahaman{nl}karakteristik sungai. Juga, relatif memudahkan untuk melakukan{nl}penyelamatan melalui lorong-lorong goa yang sudah dipetakan. Dalam{nl}kasus di Gremeng, evakuasi yang relatif aman melalui Goa Tlogo,” ujar{nl}Bagus Yulianto, petualang penelusuran goa pada ASC.

Peta{nl}jaringan sungai bawah tanah itu menunjukkan bahwa sumber air Sungai{nl}Gremeng berasal dari daerah yang jauh. Meskipun daerah di sekitar goa{nl}tidak hujan, banjir sangat mungkin terjadi jika di daerah hulu turun{nl}hujan.

“Berdasarkan{nl}pengalamanku, sungai bawah tanah yang akan banjir airnya menjadi{nl}hangat, arus bertambah deras, dan air keruh. Kalau memungkinkan,{nl}penelusur goa sebaiknya segera ke luar atau mencari cerukan-cerukan{nl}yang aman dari aliran air. Lokasi yang aman biasanya tempat itu bersih{nl}dari sampah,” ucap Bagus.

Pengetahuan{nl}tentang karakteristik sungai bawah tanah, lanjut Bagus, sebaiknya lebih{nl}ditekankan saat pendidikan dan latihan dasar para penelusur goa.{nl}Mempelajari ilmu-ilmu pendukung dalam speleologi memang tidak menarik{nl}kalau pendekatannya akademis. Ilmu hidrologi akan lebih menarik bila{nl}disampaikan melalui studi kasus musibah banjir di dalam goa.

sumber : http://kompas.com/kompas-cetak/0603/21/jogja/22293.htm

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Sidang Aggota Muda Astacala Agustus 2006

Tepat pada saat perayaan hari Kemerdekaan negara ini yang ke 62, Sidang Anggota Muda Astacala (Sidang AM) dibuka oleh Badan Pendidikan dan Latihan (Badik)...

Mendaki Gunung Abig dari Bandung hingga Garut

Pasca UAS semester genap lalu, Anggota Muda angkatan Duri Samsara telah menyelesaikan Pendidikan Lanjut Gunung Hutan dan SAR. Simak salah satu kisah perjalanan mereka menuju Gunung Abig dari Pangalengan hingga Bayongbong.

Natal di Puncak Salak I

Gunung Salak, siapa yang tak kenal. Informasi gunung ini beberapa kali masuk di media baik cetak maupun elektronik dengan isi berita pendaki hilang di...