Hentikan “Perkosaan” Alam

Related Articles

Tak  dapat  kita mungkiri  bahwa  salah satu  kejahatan yang hingga  kini masih  sulit  untuk dituntaskan  adalah  aksi perambahan  hutan.  Setiap hari, ratusan  bahkan ribuan  hektar  hutan gundul  akibat  penebangan secara liar. Sudah  saatnya  alam dipandang  sebagai  sahabat yang harus  diperhatikan, dilindungi, dan  dilestarikan. Semua  elemen  masyarakat harus  mengubah  cara  berpikir bahwa  alam  ada bukan  untuk  diperkosa, tetapi  untuk  dicintai kehidupannya.

* * *

Jika kita cermati, sebenarnya bencana yang selalu saja terjadi di negeri ini, lebih merupakan akibat dari kesalahan dalam pelaksanaan pembangunan (‘’malpraktik’’ pembangunan). Pembangunan yang digembar-gemborkan oleh pemerintah sejak era orde baru, ternyata tidak menghasilkan kesejahteraan, kemakmuran, apalagi keadilan sosial bagi masyarakat banyak. Belakangan ini kita justru menemukan permasalahan yang jauh lebih pelik dan dahsyat dibandingkan persoalan yang ditemukan pada masa lalu. Pembangunan, kemajuan ilmu pengetahuan, hingga keperkasaan teknologi saat ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan kerusakan bumi yang terjadi saat ini. ‘’Malpraktik’’ pembangunan telah menggiring manusia pada ancaman maut.

* * *

Lihat saja, laut tak ubahnya tempat sampah raksasa, tempat membuang segala limbah industri-industri besar. Hutan telah habis ‘’diperkosa’’ oleh manusia. Tak pelak, kita harus menerima ‘’upah’’ dari penggundulan ini, yakni terjadinya perubahan besar-besaran iklim di tingkat global, terjadinya pemanasan global hingga mengakibatkan terjadinya kekeringan sumber-sumber air bersih. Di Indonesia, yang notabene dikenal sebagai ‘’negara paru-paru dunia’’, karena banyaknya hutan, saat ini sangat sulit untuk menemukan hutan yang masih perawan. Semuanya telah diintervensi oleh keganasan watak serakah manusia.

Maka tak terlalu berlebihan jika kemudian muncul cibiran bahwa kita tidak layak lagi menerima peran sebagai salah satu negara penjaga paru-paru dunia. Sungguh wajar jika kita selalu mendapat banjir setiap datang musim hujan, karena hingga kini tak terlihat upaya kongkret untuk menghentikan praktik perusakan hutan secara liar.

Semua pihak hanya berpikir dengan kebutuhan jangka pendek masing-masing, tanpa memikirkan masa depan bumi dan masa depan anak cucu generasi yang akan datang. Kepentingan sesaat atas kekayaan, ternyata mampu membutakan kita akan keluhuran alam yang harus dipelihara, dilindungi dan dipenuhi kebutuhannya untuk tidak dihancurkan. Sikap hidup berfoya-foya menjadi salah satu sumber kehancuran alam secara tidak langsung. Karena kebutuhan hidup yang berbiaya tinggi akan membuat orang tidak memikirkan lagi masa depan alam, namun malah mengeruk energinya untuk memuaskan keinginan sesaat.

Perambahan Hutan

Tak dapat kita mungkiri bahwa salah satu kejahatan yang hingga kini masih sulit untuk dituntaskan adalah aksi perambahan hutan. Setiap hari, ratusan bahkan ribuan hektar hutan gundul akibat penebangan secara liar. Padahal semua kita mahfum, bahwa hutan adalah salah satu penunjang eksistensi kehidupan di muka bumi ini. Jika hutan rusak, maka simbiosis kehidupan akan terganggu.

Ironisnya, perambahan hutan masih terus berlanjut. Mulai dari yang sembunyi-sembunyi hingga yang terang benderang di depan mata. Akibatnya, negara mengalami kerugian milyaran bahkan trilyunan rupiah. Sekalipun beberapa kali aksi penangkapan dilakukan, toh itu ternyata belum maksimal untuk menghentikan aksi-aksi seperti ini. Para oknum penebang hutan, seolah-olah adalah orang yang kebal hukum.

Sebagaimana yang kita lihat selama ini, belum pernah kita lihat langkah kongkret pemerintah dalam mengatasi masalah utama dari penyebab kerusakan hutan. Para aktor perambahan hutan yang berhasil ditangkap, masih terbilang dengan jari. Rakyat dan pemerintah belum memiliki sudut pandang dan asumsi yang sama. Bagi negara-negara berkembang, semisal Indonesia, masalah kerusakan hutan memang cukup dilematis. Penuh dengan pertarungan antara kepentingan, kebutuhan dan tuntutan. Pertarungan yang paling tajam berada di sekitar pilihan pengutamaan; antara pemenuhan kepentingan ekologis daripada kepentingan ekonomis, atau sebaliknya.

Dari kenyataan empirik, sebagaimana yang selama ini terjadi, kepentingan ekonomis lebih sering mendominasi. Kemenangan kepentingan ekonomis inilah yang kemudian melempangkan jalan bagi aksi-aksi pengeksploitasian sumber daya hutan secara terus-menerus. Dengan alasan ekonomis, maka sekelompok orang, tentu dengan bantuan oknum-oknum pejabat, lalu menebang hutan tanpa mempertimbangkan aspek-aspek ekologisnya.

Mengubah Paradigma

Bencana sudah sering terjadi. Sudah terlalu sering kita disentuh oleh ‘’tangan’’ Tuhan. Mungkin ini adalah bagian dari kenyataan yang harus dihadapi oleh seluruh warga bangsa ini sebagai upah dari setiap perilaku nakal dan kinerja menyimpang yang selalu kita lakukan.

Saat ini, sikap, paradigma, serta perilaku sehari-hari semua elemen masyarakat menjadi kata kunci hancur tidaknya ekologi bumi. Jika alam masih saja dipandang sebagai objek yang harus dieksploitasi, dikriminasi, serta boleh diperkosa hak-haknya untuk hidup, maka kehancuran total tinggal menunggu waktu saja.

Sudah saatnya alam dipandang sebagai sahabat yang harus diperhatikan, dilindungi, dan dilestarikan. Semua elemen masyarakat harus mengubah cara berpikir bahwa alam ada bukan untuk diperkosa, tetapi untuk dicintai kehidupannya. Merusak alam dan hutan adalah merusak kehidupan, yang secara mendasar dan jangka panjang sesungguhnya adalah merusak diri sendiri yang merupakan bagian dari alam. Karena itu, kini, sudah saatnya untuk melestarikan ekosistem alam, terutama hutan. Jika tidak, maka bencana akan selalu mengancam bahkan akan selalu menjadi tumpangan maut untuk merenggut korban berikutnya. []

Penulis : Sulis Styawan, Ketua Kajian Sosial Budaya Zaara-Hayat 806  Yogyakarta Studi S1 FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Sumber : Bali Post Online, Edisi 13 Juli 2006

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Pulau Banyak, Gugusan Pulau-Pulau Perawan Tak Berujung

Tak hanya Raja Ampat yang memiliki gugusan pulau-pulau kecil. Jauh di ujung barat Indonesia, terdapat gugusan pulau-pulau kecil nan eksotis yang tak kalah memesonanya dengan Raja Ampat.

Melintas di Bawah Hutan Hujan Ciwidey

Sambil membetulkan ikatan penguat backpack di punggung, saya melepas pandang dan mengamati kondisi sekitar. Awan mendung tampak menggantung, menghias langit yang terlihat sedang murung....

Aku Ingin : Feminisme dan Nasionalisme

Hari ini bertepatan pada 21 April 2016. Bicara tentang sejarah, 137 tahun silam lahir seorang anak di tengah-tengah keluarga bangsawan. Ia adalah Raden Ajeng...