Perjalanan SAR ke Aceh, Sebuah Cerita dari Bencana Alam Tsunami Aceh 2004


Siang hari kami mencoba memulai mengevakuasi mayat dengan lokasi di Pasar Aceh dan sekitar penjara. Dengan semangat yang masih gegap gemita kami di bawa oleh truk yang lokasi yang berjarak sekita satu setengah kilo dari museum tersebut. Di dekat penjara, di perempatan jalan kami langsung disambut oleh bau mayat yang memualkan perut dari mayat yang dan sampah yang masih bergeletakan di tepi jalan.

Pendahuluan

Aku mengetahui bahwa ada gempa bumi melanda Aceh ketika pada hari Minggu 26 Desember yang lalu sedang berada di Tebing 48 Citatah Padalarang. Ketika itu aku mendampingin pendidikan lanjut Ipoy (AM – 001 – KF). Sambil mengawasi pemanjatan artifisial yang dilakukan oleh Ipoy dan Astaka, aku mendengarkan radio yang tidak lupa kami bawa. Tepat pukul sepuluh pagi ada breaking news yang disiarkan oleh RRI pro dua Jakarta, bahwa ada goncangan gempa di kepulauan Nias dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Berita ini sekilas dan singkat sehingga kami menganggapnya sebagai gempa biasa.

Minggu malam aku sudah berada kembali di Sekre Astacala. Belum ada berkembangan yang cukup berarti dari Aceh. Turki (anggota Astacala yang anak Aceh) memang tidak kelihatan di Sekre. Malam itu kami tidak sempat menonton tv, sebab tv mahasiswa yang berada di BEM yang selama ini sering kami ‘pinjam’ dengan diam-diam tidak bisa diambil karena kuncinya tidak dititipkan lagi di Astacala. Sedang tv Panjoel yang kecil dan hitam putih enggan kami hidupkan lantaran gambar buramnya menjadi lebih  tidak menarik ketimbang diam atau ngobrol ke sana kemari. Barangkali kalau kami menonton tv, beritanya mungkin sudah kami ketahui lebih awal. Dan itu akan lebih menguntungkan sebagai modal awal untuk melakukan tindakan selanjutnya.

Senin, 27 Desember 2004, pagi-pagi sekali aku telah pergi ke Kopma untuk membeli Koran Tempo yang harga mahasiswa. Ada berita menggemparkan di sana. Lebih dari 4000 orang meninggal akibat musibah gempa dan tsunami di Asia. Sebuah angka yang sangat mencengangkan yang baru kali ini aku ketahui. Segera kubaca dengan tuntas mengenai bencana besar ini. Kiamat pasti telah terjadi, pikirku. Tsunami, sebuah kata yang aneh namun pernah aku dengar, ternyata telah ada di tanah dekat kita, Nangroe Aceh Darrussalam dan Sumatera Utara.

Karena tv tidak punya akhirnya kami hanya mendengarkan radio, mencari-cari kalau ada berita yang lebih terbaru mengenai tragedi ini. Benar saja, radio Elsinta Jakarta ternyata menjadi pionir dalam urusan ini. Jaringan dikabarkan terputus sehingga sulit untuk mendapatkan data yang lebih baru dari sana. Untung Elsinta memiliki seorang pendengarnya yang menggunakan telkom Flexi dan dapat menghubungi Jakarta. Darinya diceritakan bahwa Banda Aceh luluh lantak di hantam gelombang tsunami yang mencapai puluhan meter. Banda Aceh, Meulaboh tiba-tiba telah menjadi nama yang begitu populer lantaran sangat sering disebutkan oleh penyiar radio.

Tangis dan ratapan sedih tiba-tiba menyebar dengan cepat. Aku begitu gugup. Apa yang harus dilakukan. Astacala selama ini mensiagakan SAR selama 24 jam, apakah ini bagiannya untuk segera bertindak. Tv Panjoel tak peduli kecil dan buram akhirnya kuhidupkan juga. Kuambil juga bendera merah putih dan kucari tiang bambu bekas ’ingkau’ lalu kudirikan bendera setengah tiang. Turut berduka cita. Di depan SC aku berpapasan dengan Agung–salah satu pengurus BEM–dan kutanyakan apakah telah melakukan pergerakan untuk Aceh. “Kalian punya tenaga, mesitnya lakukanlah apa yang bisa dilakukan” usulku setengah memerintah. Maka hari-hari berikutnya di STT Telkom bersama dengan mahasiswa asal Aceh lainnya, penggalangan bantuan kemanusiaan akhirnya menjadi marak.

Rabu, 28 Desember 2004, Astacala mendapat undangan dari Forum Komunikasi Pecinta Alam Bandung Raya untuk mengadakan pertemuan guna persiapan operasi kemanusiaan di Aceh. Malam harinya aku besama Jabek, Turki, Gapung dan Gepeng datang ke Unikom untuk menghadiri pertemuan kedua–pertemuan sebelumnya pada hari Selasa–itu. Di tengah rapat aku mendapat khabar lain dari kawan-kawan Mapagri bahwa ada anak Binus yang kemarin manjat tebing bersama kami mati akibat terjatuh dari puncak tebing.

Aku tidak terlalu berharap selesai pertemuan itu, namun aku dan Turki menyanggupi untuk menjadi TKB–istilah baru untuk tenaga kerja bencana–yang siap diberangkatkan tanpa sarat. Kendalanya hanya satu tapi paling krusial yakni masalah bisa atau tidaknya mengakses Aceh. Kelihatannya masih terlalu sulit untuk memasuki Aceh berdasarkan kondisi yang ada sekarang, apalagi Aceh masih merupakan daerah konflik.

Kamis, 29 Desember 2005. Ada kecelakaan antara mahasiswa dan tukang becak di dekat pos satpam pintu barat. Mereka terpaksa harus kami larikan ke RS Kartika Asih di M. Toha dengan menggunakan mobil Mbak Dessy dan mobil Ibu Lita, Pembina KSR sebab mobil STTT sepagi itu masih sulit dikeluarkan dengan berbagai alasan.

Ternyata Gepeng dan yang lain juga telah melakukan pergerakan lebih jauh. Dedy, Soleh dan Adrian saat itu juga telah di Terminal Leuwi Panjang menuju Jakarta untuk pergi ke Aceh. Setelah obrolan singkat, akhirnya diputuskan aku, Momesh dan Turki akan berangkat juga ke Jakarta dengan menumpang kendaraan Mbak Dessy. Sempat juga diusahakan meminta surat keterangan dari STT Telkom oleh Astaka. Namun karena terlalu berbelit-belit, akhirnya STT Telkom kami tinggalkan.

Di sepanjang perjalanan menuju Jakarta, khabar dari Radio Elsinta terus kami pantau. Semuanya menceritakan bencana di Banda Aceh, Meulabuh belum bisa diakses. Kami sempat bernafas lega setelah ada himbauan dari Menteri Pemuda dan Olah Raga kepada organisasi pemuda untuk berpartisipasi menjadi relawan bencana tsunami di NAD dan SUMUT. Sebab sebetulnya kami ke Jakarta hanyalah perjalanan tanpa rencana, entah apa yang akan terjadi di sana, yang penting kami akan mencoba menembus Aceh, itu saja.

Kamis Dini Hari, 30 Desember 2004

Hari ini aku mulai menulis lagi. Untuk menandai sebuah petualangan hidup yang aneh dan menakjubkan. Keputusan untuk menjadi relawan penanggulangan bencana gempa dan tsunami di Aceh. Setelah begitu lama waktu, nyatanya selama ini aku hanya diam tanpa bahasa dan kata-kata.

Dari sekretariat Astacala aku bersama Momesh, dan Turki dengan menumpang kendaraan Mbak Dessy berangkat ke Jakarta untuk mencari celah menembus Aceh. Satu tindakan yang cukup nekad sebab hanya berbekal kemauan dan rasa kemanusiaan yang masih tersisa. Awalnya kami hanya memberatkan Turki untuk segera pulang ke Aceh, sebab keluarganya ada di sana. Beberapa hari sebelumnya ia belum bisa mengetahui keadaan keluarganya di Banda Aceh. Mencoba menghubungi lewat telepon, hasilnya semua nihil. Hanya dari radio Elsinta kami dapat memantau perkembangan di Aceh yang sungguh sangat memprihatinkan.

Menjelang Isya, kami tiba di Landasan Udara Militer Halim Perdana Kusuma Jakarta. Di Gerbang utama kami disambut oleh petugas Polisi Militer, basa basi dan menanyakan tujuan lantas menunjukkan kartu tanda pengenal. “Kami mau ke Aceh Pak”. Sampai sejauh ini semua berjalan lancar-lancar saja.

Namun kami ternyata belum bisa berangkat ke Aceh. Setelah tanya ke sana kemari, ada semacam ketidakpastian untuk ke Aceh. Di depan posko bantuan untuk Aceh tertulis “TIDAK MENERIMA PENDAFTARAN PERSONIL”. Kami kebingungan, sebab ketika di Puncak menuju Jakarta, dari Radio Elsinta kami mendengar seruan Menpora Adyaksa Daud agar organisasi kepemudaan di seluruh tanah air mau berpartisipasi menjadi relawan yang siap di berangkatkan ke Aceh. Dari petugas pendaftaran kami mendapat kontak Tanjung Priok. Di Priok setelah di kontak melalui nomor telepon kami mendapat khabar bahwa akan ada keberangkatan pada pukul lima sore besok.

Kami memutuskan untuk tetap bertahan di Halim mencari berbagai kemungkinan untuk berangkat ke Aceh. Ke Priok kami belum tertarik sebab waktu perjalanan yang memakan sampai tiga atau empat hari itupun dalam kondisi normal. Akhirnya malam ini kami akan menginap di Halim.

Makan malam di kantin Halim kami kena charge dengan harga yang selangit. “Gila memang ‘niat baik’ tidak menjadi jaminan untuk mendapat kemudahan, bahkan sebaliknya” gerutuku dalam hati. Ada bantuan pesawat Boing dari Australia untuk mengangkut relawan ke Aceh, namun ternyata pesawat yang mestinya lepas landas hari ini ternyata ditolak, sebab baik bandara Polonia Medan maupun Sultan Iskandar Muda Banda Aceh traficnya sedang penuh.

Malam bertambah larut, sebentar lagi aku ingin istirahat, entah di mana. Dari tadi aku begitu banyak menyaksikan ketegangan dan kecemasan yang berada di sekelilingku. Mahasiswa-mahasiswa Aceh yang kesulitan pulang ke Aceh, berita yang simpang siur. Barangkali ini adalah isyarat awal, bahwa di hari-hari kelak lagi, kecemasan dan ketidakpastian akan lebih menjadi-jadi. Entahlah, saat ini biarlah aku tidak memikirkan kejadian selanjutnya.

Kamis, 30 Desember 2004, pukul 06.00: Halim.

Lebih baik saya menulis saja!!

Masih belum jelas apakah kami bisa berangkat ke Aceh atau tidak. Semua serba membingungkan. Dari pihak Bandara kami tahu, bahwa saat ini logistik dan bantuan lebih diutamakan untuk diberangkatkan ke Aceh dari pada personil relawan. Birokrasi di Bandara ini busuk seperti tahi, sia-sia saja dan semua orang mencium baunya. Setiap orang yang kami tanya selalu memberi kuasa dan hak jawab pada orang lain yang tentu juga sulit kami temukan. Kami mungkin seperti bola pingpong. Di lempar ke sana kemari, dengan sebuah keasyikan yang tidak bisa dipahami oleh semua orang.

Di sini, di sekelilingku berdiri dan duduk orang-orang yang di pundaknya berderet pangkat yang tidak ku mengerti. Inikah nasib orang tidak berdaya dan kecil seperti kami? Dan sekali lagi, niat baik tidak berimbangan dengan jalan yang baik pula. Duh Tuhan–untuk terakhir kalinya aku menyebutMu–kenapa kau ciptakan kebingungan pada makhlukmu yang bernama manusia ini?

Kami bertiga terus berusaha mencari cela untuk bisa ke Aceh. Walau ini mungkin tindakan orang yang sangat bodoh untuk pandangan orang waras. Tapi biarlah, semua berjalan dengan keinginan hati yang tidak bisa aku tolak. Ke Aceh, entah apa yang akan aku kerjakan di sana dan apa yang akan terjadi di sana, “Bukan sekarang waktunya untuk memikirkan” kataku dalam hati.

Turki kemungkinan bisa berangkat lebih dulu ke Banda Aceh, sebab ia orang Aceh dan berkat bantuan–entah bagaimana caranya. Katanya atas lobi dari “Om”nya kemungkinan Turki akan menggantikan penumpang yang tidak jadi berangkat ke Aceh. Inilah suasanya yang sejak dulu lama sekali aku benci, meminta bantuan orang lain secara berlebihan, lobi menjadi begitu tercela di mataku sebab ia menjadi representasi dari ketidakberdayaan dan mental sebagai pengemis. Aku memang egois untuk kondisi seperti ini.

14.45: Halim

Hari ini ternyata hebat sekali. Turki dipastikan jadi berangkat ke Aceh, dengan jasa seperti yang kutulis tadi di atas. Momesh yang dari pagi tidak kelihat tiba-tiba muncul dengan kendaraan elf bersama Dedi yang tidak turun dari mobil.

“Turki sudah berangkat beberapa menit yang lalu” kataku.

“Saya juga dapat tempat satu bersama Dedi. Hanya satu” tiba-tiba Momesh mengejutkan. Begitu cepta perkembangan terjadi dan aku menjadi seperti terpedaya dan sendiri. Ah…Tuhan ini memang aneh mempermainkan kejadian dan gejolak seseorang.

Saya mengerti sekarang, rupanya Ia menginginkan aku berjuang sendirian. Setelah berbicara sebentar dan membuat kesepakatan bertemu dengan Momesh di Medan saya mulai mencari ancang-ancang, sekadar rencana agar tidak bengong seperti orang bego di kandang dan dunia yang tidak aku kenali.

Oh ya, tadi pagi aku sempat menjadi wartawan dadakan–katakanlah demiakian, sebab aku memang bukan dan belum wartawan dari media apa pun, kartu persku telah lama raib bersama dompetnya sekali gus, tapi aku masih Masjur juga. Bersama Lativi, Global Tv–yang katanya akan memulai program berita– juga ada TPI serta dari radio-radio aku mengadakan interview dengan pejabat-pejabat Lanud Halim. Dua kali aku berkesempatan untuk melontarkan pertanyaan, semua tentang kemungkinan pemberangkatan relawan ke Aceh.

“Kita sangat mengharapkan banyak relawan yang diberankatkan, karena di sana memang dibutuhkan. Dan sekarang kita sedang menunggung kedatangan pesawat dari Medan untuk mengangkut relawan” ujar petinggi yang saya wawancarai ini–namun sebesar-besarnya mohon maaf karena saya lupa mencatat namanya, sebab memang waktu itu saya berpikir tidak membutuhkan namanya, tapi inilah kenyataannya ternyata saya butuh, memang beginilah kalau bukan wartawan sungguhan he..he. Tapi beginilah kenyataannya, lain di bibir lain pula yang terjadi. Dengan semangat empat lima saya akhirnya menujut ke tempat pendaftaran kemarin. Ternyata di sana masih tertulis sebuah peringatan ”Tidak menerima pendaftaran personil”. Ada apa ini? AKhirnya saya memutuskan untuk mencari cela lain, sambil tetap pura-pura menjadi wartawan agar akses keluar masuk masih tetap lancar–silahkan buktikan, kalau wartawan akses ke sana kemari terbuka lebar.

Sambil mengamati keadaan saya ngobrol dengan Kaptem POM Didik G. di  depan posko Bantuan untuk Aceh. Ia merupakan salah satu saksi mata bencana gempa dan tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 yang lalu. Berikut ini penuturan Kapten POM Didik kepada saya dan beberapa wartawan lain–cerita ini juga disiarkan secara live oleh radio…

“Saya melakukan pemeriksaan pasukan Batalyon 744 di Pelabuhan Malahayati pada tanggal 26 Desember pukul delapan pagi. Pelabuhan ini terletak sekitar 300 meter dari bibir pantai. Pada sekitar pukul 08.15 WIB terjadi gempa yang hebat sekitar sepuluh. Namun setahu saya tidak ada korban jiwa, hanya bangunan-bangunan ada yang retak tapi belum sampai ambruk. Dan setelah itu suasana hening sekali dan tidak ada yang terjadi. Saya melanjutkan upacara pemeriksaan pasukan tersebut.

Sekitar tiga puluh menit kemudian atau sekitar pukul 08.45 terdengar bunyi seperti ledakan namun seperti dari bawah tanah, bunyinya bummmmm, dan tanah yang saja pijak bergetar. Kami semua masih belum menyadari apa yang sedang terjadi saat ini. Hanya saja, kami mengetahui bahwa air laut tiba-tiba menjadi surut, hingga bibir pantai masuk menuju lautan cukup jauh. Penduduk di sana dan anak-anak kemudian mengambili ikan yang bergelatakan akibat air laut surut tersebut. Kebetulan hari itu hari minggu sehingga ada beberapa keluarga yang memang sedang berlibur ke pantai di pelabuhan Malayahati tersebut.

Tiba-tiba saya mendengar teriakan sangat ribut dari arah laut.

“Air naik…air naik…air naik…”

Saya melihat ke arah laut yang agak terhalang dinding pelabuhan di depan saya. Dan saya menyaksikan ombak yang sudah setinggi pohon kelapa. Secara reflek dan ingin menyelamatkan diri, saya dan pasukan yang sedang saya periksa langsung berlari secara serabutan menjauhi laut. Pagar kawat berduri yang menghalangi kami berlari, kami terobos tanpa memikirkan kecelakaan yang akan diakibatkannya. Ketika lari saya sempat menyaksikan seorang ibu-ibu yang menyambar anak kecil yang diam terpaku, namun belum sempat menyelamatkan diri, mereka telah ditimpa oleh ombak besar itu hingga hilang. Saya berhasil mencapai bukit di belakang pelabuhan, walau di sana air sudah sepinggang saya.

Ada sekitar lima atau empat kali ombak susulan setelah ombak besar pertama, tapi tidak sebesar yang pertama itu. Satu anggota pasukan saya hilang”

Demikian cerita dari Kapten Didik G. Ia juga memperlihatkan foto yang sempat ia ambil lewat hp-nya beberapa saat setelah tsunami terjadi.

Siangnya aku terus mencari-cari cela untuk bisa ke Aceh. Hati tetap dihinggapi rasa khawatir yang sangat, perut juga lapar. Lewat PKS, Walubi dan Mapala UI telah ku coba untuk bergabung, tapi tidak berhasil, semunya menolak, dengan alasan tak berdaya dan prosedural. Akhirnya aku menemukan kesempatan untuk menyelinap ke pesawat melewati pengawalan POM Lanud.

Tiba-tiba ada barang penumpang yang ketinggalan. Dengan berpura-pura mengantarkan barang ke Bus Lanud aku memasuki lapangan. Namun seorang POM melihatku lalu bertanya.

“Mas ikut tidak?” katanya dengan mata membeliak curiga.

Entah mengapa aku tidak bisa berbohong saat itu, lalu menjawab. “Tidak Pak, saya hanya mengantar barang penumpang yang ketinggalan” gugup jawabku. Tapi POM itu lengah lagi, dan saya langsung menyelinap ke dalam Bus, namun lagi-lagi aku salah perhitungan, ternyata ia juga naik Bus dan langsung mencerca saya. “Lho Mas ini ikut atau tidak…”

Dan lagi-lagi aku tidak bisa berbohong. “Tidak Pak, saya hanya mau mengambil foto keberangkatan ke Aceh ini…”. Padahal aku tidak membawa kamera apa-apa. Hanya tas lusuh saja.

Di dekat pesawat aku terus memperhatikan sang POM, dan celakanya ia juga memperhatikan gerak-gerikku. Aku tahu, taktikku untuk menyelinap tidak akan berhasil, namun karena sebuah keinginan yang begitu kuat, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko, menyelinap ke dalam pesawat Hercules tersebut. Dan benar saja, ketika saya sudah berada di dalam, Sang POM kembali memergokiku, akhirnya aku menyerah dan digiring keluar Bandara. KTPku diminta, dan aku diinterogasi sebentar di Pos Keamanan.

Kondisiku saat itu sudah menyerah. Ku putuskan untuk segera keluar dari Lanud Halim, dengan seribu perasaan kecewa. Aku ingin pulang ke Bandung. Dan memutuskan untuk membantu dari jarak jauh saja. Saat itu, keputusan hanya membantu mendukung penderitaan rakyat Aceh dari jauh seolah-olah menjadi putusan satu-satunya. Di angkot menuju Terminal Kampung Rambutan aku terdiam, mataku terus mengamati jalanan siang yang panas. Namun itu pasti kosong, dan tanpa arti apa-apa. Di sebuah pasar transit angkot (Pasar Cililitan), aku ingin makan dan mencari Wartel untuk menelpon Sekre dan Gepeng, mengabarkan bahwa aku tidak bisa berangkat ke Aceh.

Baca juga:   BTB IT Telkom untuk Mentawai dan Merapi (Dari Waktu ke Waktu)

Di sekre, Mbak Uuth yang mengangkat telepon. Dan mengabarkan bahwa akan ada yang ke Jakarta untuk mengantar Hp kepada saya atas perintah Gepeng dan Gapung katanya juga akan ke Aceh juga. Akhirnya saya langsung menghubungi nomor Gepeng. Dan darinya aku mendapat pompaan semangat lagi, serta sebuah pintu kesempatan untuk tetap ke Aceh. Aku kembali bernafas. Dan kembali aku menelpon sekre:

“Mbak Uuth, saya akan lanjut…”kataku yakin.

Gepeng menuyurhku untuk bertahan di Bandara dan menunggu hingga sore, ketika mereka menjemput. Gapung, menurut khabar dari Gepeng juga akan membawa rombongan Land Rover Club.

Dengan pompaan semangat baru, dan setelah sholat dan mengisi perut yang kelaparan, aku kembali ke Lanud Halim walau sebentar kemudian nyasar dan salah angkot, namun akhirnya nyampai juga.

Di Lanud, ternyata pengamanan lebih ketat. Saya yang menunggu di depan Gerbang Penjagaan diusir oleh POM keamanan. “Begini saja, kau tinggalkan namamu. Nanti kalau ada temanmu yang ke sini, saya beritahu bahwa kamu menunggu di pangkalan taksi depan gereja di depan sana” katanya mengusulkan.

Menjelang petang aku menunggu kedatangan Gepeng, dengan sebelumnya memberitahukan bahwa tempat pertemuan berpindah ke pangkalan taksi. Menunggu sekali lagi menunjukan taji, bahwa benar ia sungguh menjemukan.

Malamnya, Gepeng dan Mbak Dessy setelah beberpa berputar-putar akhirnya menemukanku juga yang sudah sangat keletihan dan belum makan malam. Kami akhirnya menuju ke rumah Obelix dan akan berembuk dan menyusun rencana dari sana.

Obelix ternyata telah menyiapkan konsep untuk membuka posko informasi di Aceh dengan menggunakan link ke Telkom Banda Aceh. Dan ia mencoba meminta bantuan adiknya yang DanPom di Makasar. Aku disuruh menemui Praka Tri dan Kapten Arif di Lanud Halim.

Aku tahu, walau ada jalan, namun itu pasti tidak akan mudah. Sebab kemarin aku sudah melakukannya sendiri. Namun aku turuti juga saran dari Obelix. Di rumahnya aku mendapat istirahat yang cukup dan diberi bekal sedikit sekadar bahan untuk survive jika kelak jadi ke Aceh, juga diberikan peralatan mandi yang memang tidak kubawa dari Bandung.

Jumat, 31 Desember 2004.

Pagi sekali, aku diantar ke Lanud Halim oleh Mbak Dessy serta Gepeng, dengan sebelumnya sarapan dulu di rumah Obelix.

Benar ternyata, tidak gampang. Praka Tri masih tidur. Dan Kapten Arif terlalu sibut sehingga membuat segan untuk menegurnya, menyampaikan keinginan untuk diberangkatkan ke Aceh. Kalau aku berani mencoba, kemungkinan memang ia bisa memberangkatkanku ke Aceh. Namun aku memutuskan untuk tidak. Sekali lagi, hati ini berontak untuk tidak mengemis dan meminta kepada orang lain.

Semalam kami sepakat bahwa kalau tidak bisa lewat Lanud Halim, maka aku akan mencoba lewat Metro Tv yang juga membuka kesempatan pengiriman relawan ke Aceh.

Jam sembilan aku sudah meninggalkan Lanud Halim, dengan gumpalan kekecewaan yang sangat dalam. Sempat juga ketemu dengan kawan-kawan dari Four Life (yang mahasiswa kedokteran UKI) yang katanya ada juga yang berangkat ke Aceh. Keluar Lingkungan Lanud aku menumpang Truk yang membawa bantuan untuk Aceh, namun ditolak karena bantuan telah menumpuk. Dari Lanud aku naik taksi menuju Gondangdia, tempat pendaftaran relawan Media Group.

Sesampai di sana, orang-orang yang daftar sangat banyak, kuperkirakan sampai tiga ratus orang. Jam sepuluh aku memasukan form pendaftaranku dan pergi makan mie di depan kantor Media Group tersebut.

Gelombang pertama relawan telah diberangkatkan tadi pagi melalui Tanjung Priok. Sekarang aku sedikit lega, karena kepastikan untuk ke Aceh, sudah mulai terbuka. Tinggal menunggu tes kesehatan dan wawancara. Siang ini aku Jumatan di Masjid Cut Meutia yang berjarak sekitar sekil dari kantor Media Group–seterusnya kusebut dengan gedung Prioritas atau Prioritas saja.

Di Form Pendaftaran aku menuliskan keahlianku adalah P3k, Arung Jeram dan SAR. Aku berharap kemampuanku itu sangat dibutuhkan sekarang, sehingga kesempatan untuk ke Aceh lebih besar.

Di Prioritas aku sempat berkenalan dengan mahasisaw dari Semarang yang juga sedang mencari jalan untuk bisa ke Aceh. Ada juga seorang perawat, dan lagi mahasiswa Gunadarma dari MAPBASE yang pendidikan dasarnya dibantu oleh Astacala beberapa tahun yang lalu. Aku juga memperhatikan ada beberapa cewek yang ikut mendaftar.

Jam setengah dua siang, namaku dipanggil untuk mengikuti tes kesehatan. Dan sepertinya lolos karena selama ini memang saya rutin olah raga, lari sepuluh keliling STT Telkom untuk persiapan Pendas Astacala.

Pukul empat sore diumumkan nama-nama yang akan diikutkan menjadi relawan ke Aceh. Yang lolos tes kesehatan akan diambil delapan puluh orang dan setelah itu seleksi wawancara yang akan memlih tujuh puluh enam sesuai jatah muatan pesaawat. Dan baru kuketahui untuk gelombang kedua ini akan diberangkatkan dengan pesawat Lion Air ke Banda Aceh. Khawatir juga, sebab dari 300-an orang yang cek kesehatan hanya akan dipilih delapan puluh orang.

Aku berbunga-bunga akhirnya, setelah namaku berada diurutan kedelapan dari 80 orang yang terpilih. Aku hanya butuh melewati tes wawancara lagi untuk memastikan diri ikut ke Aceh. Saat pengumuman Gepeng datang bersama Mbak Dessy, Pak Kru, dan Kuyak. Sambil menunggu giliran untuk diwawancara aku sempat diskusi sebentar dengan Gepeng dan Pak Kru, mengenai hasil pertemuan Gepeng dengan anak-anak Mapala UI. Mapala UI saat ini menjadi Pusata Infomasi Nasional Mapala se-Indonesia. jabatan ini pernah juga dipegang oleh Astacala STT Telkom selama dua tahuan yakni tahun 1999 dan tahun 2000. Yang menjadi pertanyaan, apa saja yang telah dilakukan oleh Mapala UI sebagai PIN dalam rangka ikut berpartisipasi pada penanggulangan bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut ini. Sebab ketika tadi aku bertemu dengan kawan-kawan dari mapala-mapala di Semarang dan Jakarta, saat ini kepergian mereka ke Aceh masih bedasarkan inisiatif sendiri-sendiri, dan paling jauh adalah inisiatif dari peguruan tinggi masing-masing.

Di Bandung, walau masih terlihat serampangan memang telah dilakuka beberapa pergerakan yakni pertemuan Forum Komunikasi Mapala Se-Bandung Raya pada hari Rabu, 29 Desember 2004 di Unikom. Dari Astacala yang turut serta pada acara tersebut adalah saya, Jabek, Turki, Gepeng serta Gapung. Dari mereka akan ada operasi ke Aceh namun masih terkendala pada transfortasi ke Aceh.

Selain itu, aku juga ngomong masalah DO. He…he, aku mungkin akan mengikuti jejak dari Pak Kru–salah satu dedengkot Masyarakat Jurnalistik yang saat ini tinggal di Jakarta.

Saat wawancara sederhana, aku menjawab juga dengan seadanya. Sempat khawatir juga, ketika ditanya apakah aku bisa nyetir atau tidak. Tapi biarlah, aku ingin membuktikan, apakah kejujuran yang dibalut oleh kerelaan dapat dikalahkan oleh kebutuhan dan egois yang kadang datang tidak pada waktu dan tempat yang sama. Akhirnya aku menang juga. Namaku masih tetap masuk dalam 76 orang yang akan diberangkatkan ke Aceh pada tanggal 1 Januari 2005 besok. Setelah briefing sebentar untuk persiapan keberangkatan, kami harus berkumpul di Prioritas pukul 12 sebab ada registrasi dan pembekalan bagi relawan.

Malam harinya aku menginap di Warnetnya Macan di Pondok Labu. Di perjalanan aku masih menyaksikan suasana malam tahun baru yang tidak semarak di malam kota Jakarta. Semuanya mungkin sudah sepakat untuk berduka bersama rakyat Aceh yang sedang menderita. Di Warnet karena kecapekan, aku langsung istirahat tidur. Dini hari Kentung datang membawa berbagai perlengkapan yang akan kubawa besok. Perlengkapan yang tersisa hanya sedikit saja, carrier, webbing, dome, kotak P3, dan spritus. Cukuplah untuk digunakan jika di Aceh kelak mengharuskan untuk survival.

Sabtu, 1 Januari 2005

Belum lama terlelap setelah packing barang-barang yang dipinjamkan Kentung, Jabek dan Gimbal datang dari Bandung. Jabek meminjamkan Hp buat komunikasiku di Aceh. Dari mereka aku mendengar khabar bahwa ternyata Gapung tidak jadi ke Jakarta, mungkin ia masih stand by di Bandung.

Pagi setelah Subuh aku sempatkan diri untuk mengirim khabar kepada beberapa orang tentang kepergianku ke Aceh, diantaranya ke milist Astacala, milist Masjur, Student dan kepada AR. Intinya saya minta doa kepada mereka, semoga keinginanku untuk membantu saudara-saudara di Aceh mendapat restu dari Allah, selamat sampai tujuan hingga sampai kembali pulang.

Jam sembilan pagi, aku ke Prioritas naik KRL menuju Stasiun Gondangdia, turut ke sana juga Jabek dan Gimbal. Di tengah jalan, Gimbal membeli nomor baru untukku. Di Prioritas ternyata ramai sekali walau tidak seramai hari kemarin. Mungkin hari ini telah ada semacam penertiba sehingga tidak serabutan lagi. Dan hari ini ternnyata yang akan cek kesehatan juga dibatasi.

Setelah registrasi dan menyerahkan foto, aku kemudian istirahat ditemani Gimbal dan Jabek. Muka-muka baru yang lalu lalang dihadapanku ternyata tidak seutuhnya baru, ada juga sebagian yang ku kenal baik yang baru maupun lama. Sedikit lebih bangga dari mereka yang baru mendaftar, sebab aku telah lebih dahulu lolos dari pada mereka. Sebuah suasana yang aneh memang, pergi ke tempat yang pasti tidak nyaman, semua masih masih menampakkan kegirangan.

Pembekalan untuk menenangkan diri diberikan oleh Enegi Prana Kasih. Pembekalan untuk menambah ketentraman, dan kesehatan badan dengan olah nafas yang benar. Aku tidak terlalu serius mengikuti wejangan ini, sebab ada semacam pobia yang sulit dilepaskan pada olah raga semacam ini.

Persiapan pemberangkatan ternyata memakan waktu yang cukup lama juga. Aku tergabung dalam kelompok tujuh–entah ada artinya atau tidak, seingatku, aku terlalu sering bertemu dan dipertemukan dengan angka ganjil–bersama sepuluh orang lainnya. Setelah berkenalan seadanya, kami diberikan beberapa fasilitas seperti tas polisi, kaos, topi, sepatu bot, dan id card.

Untuk saat ini aku belum menilai akan kehadiran kawan-kawan baruku ini. Namun sekilas, kebanggaanku yang sempat menyeruak sedikit menurun setelah bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Mudah-mudahan peniliaian ini tidak benar di lapangan.

Jam sembilan malam, kami diberangkatkan ke Bandara Seokarno Hatta dengan Bus. Di sana ada upacara pelepasan oleh  Surya Paloh dan KH Hasyim Muzadi. Di Bandara kami makan malam sebentar sebelum kemudian berkemas untuk pemberangkatan. Sekali lagi kekhawatiranku teradap teman-teman baruku menyeruak lagi.

Sejak kecil aku memang telah mendapat kemampuan untuk menilai karakter seseorang, baik itu dari segi fisik, maupun dari nada dan tata cara bicaranya. Kemampuan ini bagiku pernah menjadi siksaan, sebab ia telah menjadikan semacam poteksi terlebih dahulu terhadap tipe orang tertentu. Ah sudahlah, lebih aku tidak begitu mengenal mereka, sehingga aku tidak terlibat begitu jauh akan sebuah keharusan sesuatu yang sempurna. Resikonya aku harus menghadapi keragaman mereka dilapangan dengan tanpa rasa yang berlebihan.

Ini adalah pengalaman pertamaku pergi dengan pesawat terbang. Selama ini setiap pergi aku biasa naik angkutan serba ekonomi baik itu kereta maupun bus atau kapal laut.

Pesawat yang kutumpangi meninggalkan Bandara Soekarno Hatta tepat pada pukul 02.00 tanggal 2 Januari 2005.

Minggu, 2 Januari 2005

Perjalananku menuju Banda Aceh memakan waktu kurang lebih tiga jam. Di Bandara Sultan Iskandar Muda, ketika aku melihat jam, telah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dari Bandara kami diangkut dengan Truk menuju Museum Negeri Banda Aceh. Saat tiba di Tanah Rencong ini, suasana mencekam telah menyergap kami. Di perjalanan menuju Museum kami melewati kuburan massal korban tsunami, dan bau mayat telah simpang siur di depan hidung kami. Celakanya kami belum dibekali masker untuk menghalangi bau busuk tersebut. Yang bisa dilakukan adalah menahan nafas dan menutupnya dengan kain atau baju.

Di Museum waktu Subuh telah menunggu. Dengan air seadanya kami melakukan sholat berjamaah. Inilah sholat pertamaku di Serambi Mekkah ini. Pagi ini kami istirahat melepas lelah, setelah sejak kemarin keletihan mengurus persiapan keberangkatan di Jakarta. Namun karena terbiasa bangun pagi, akhirnya pukul 07.00 aku telah bangun, cuci muka dan berjalan di sekeliling museum. Rupanya lokasi ini juga terkena imbas gelombang tsunami walau tidak besar. Di dinding museum aku lihat bekas batas air hampir selutut. Sedangkan di jalan dan halaman, sampah-sampah dan tanah lumpur masih belum dibersihkan.

Di depan museum terbentang sungai yang terlihat keruh dan penuh sampah akibat tsunami. Ada juga perahu yang rusak dan pohon-pohon tumbang ikut tebawa arus. Di seberang sungai ada jalan lebar yang dihubungan melalui jembatan besi ke Museum. Agak ke kiri berjarak kira-kira seratus meter, aku melihat berdiri sebuah masjid dengan kubah warna hijau. Di pagi yang cerah, cahaya matahari menyinari dan terlihat cemerlang. Cahaya keemasan mentari pagi, bergabung dengan tenang hijau kubah masjid, menjadikan suasana yang hening pagi itu begitu damai. Belum banyak orang di jalanan, hanya sesekali melintas truk yang mengangkut orang-orang dan sampah. Ternyata keindahan dan kedamaian masih berada di tanah ini, pikirku menyaksikan pagi yang sunyi.

Siang hari kami mencoba memulai mengevakuasi mayat dengan lokasi di Pasar Aceh dan sekitar Penjara. Dengan semangat yang masih gegap gemita kami di bawa oleh truk yang lokasi yang berjarak sekita satu setengah kilo dari Museum tersebut. Di dekat penjara, di perempatan jalan kami langsung disambut oleh bau mayat yang memualkan perut dari mayat yang dan sampah yang masih bergeletakan di tepi jalan.

Dengan komando dari Yoris, akhirnya kami memulai evakuasi mayat. Kami juga didampingi oleh tim medis.

Ada dua mayat dihadapanku dan beberapa teman sekelompok. Mereka terjepit di antara besi pagar sebuah pos penjagaan. Baunya yang aneh telah mengaduk-aduk perutku. Masker yang kubuat tiga lapis ditambah dengan minyak kayu putih serta ditaburi bubuk kopi ternyata tidak mampu menghalangi hawa mayat yang langsung menyengat hidung. Sedikit gentar akhirnya dengan bersusah payah, kami berhasil memasukkan kedua mayat tersebut ke dalam masing-masing satu kantong mayat.

Kami mulai stress, terlihat dari gerakan yang mulai lamban, dan muka-muka yang enggan dari teman-temanku yang akan mengevakuasi mayat yang masih bertebaran. Padahal kami baru mengevakuasi dua mayat saja. Namun ternyata ada juga relawan yang bisa segera lepas dari teror bau tersebut. Dengan dorongan tersebut, kami melanjutkan evakuasi mayat. Di situ juga ada tentara yang juda mengevakuasi mayat di sungai di bawah jembatan. Telah banyak mayat yang mereka kumpulkan dari sana dengan menggunakan bolduser.

Mayat-mayat yang kami masukan ke dalam kantong dikumpulkan berjejer di tepi jalan. Kelompok yang kuikuti berhasil mengevakusi sebelas mayat. Mayat-mayat yang kami temukan sudah mulai rusak. Kulit mereka gampang sekali terkelupas dan cairan di dalam tubuh mereka mengeluarkan bau anyir dan busuk. Pukul empat sore kami menyudahi evakuasi mayat. Di Museum tim medis telah menyiapkan air untuk steriliasasi. Pakaianku yang bersentuhan dengan mayat harus bakar. Dan kami mencuci tangan dengan air berkarbol.

Makan malam aku lewatkan dengan masih membayangkan kejadian evakuasi mayat tadi siang. Bau mayat entah mengapa tidak bisa hilang dan terus terbayang-bayang. Pukul sembilan aku mendapat tugas untuk loading bantuan barang di Bandara SIM bersama 20 orang teman-teman relawan lainnya. Dan kami harus terkejut ternyata barang yang kami jemput adalah satu kontainer yang memilki berat 10 tonan.

Ketika tiba di bandara, pesawat yang mengangkut barang bantuan belum tiba, dan diperkirakan akan tiba pukul setengah tiga pagi. Saya kemudian mencari posko BUMN tempat Momesh, Soleh, Dedi dan Turki setelah sebelumnya bertanya ke posko mahasiswa Unsyiah. Posko BUMN terletak di dalam bandara, dan cukup luas.

Barang yang diturunkan dari pesawat kami pindahkan ke dalam lima truk dan diangkut ke posko barang bantuan Media Group yang menempati gedung Pemuda Pancasila Banda Aceh. Pukul lima subuh kami baru dapat istirahat di Museum setelah sholat subuh terlebih dahulu.

Senin, 3 Januari 2005: Museum Negeri Banda Aceh

Setelah sempat tidur beberapa jam, saya mau sarapan pagi. Namun ternyata nasi sudah habis. Lalu saya memutuskan untuk ke Pendopo di Masjid Darrussalam, berharap di sana masih ada nasi yang masih bisa di makan. Namun dapur umum di sana juga sudah tutup. Sarapan pagi ini aku hanya memakan mie rebus campur telur ayam.

Hari ini kami akan melanjutkan evakuasi mayat di tempat kami kemarin melakukan evakuasi. Dari hasil evaluasi semalam, hari ini akan ada pembenahan mengenai tata cara evakuasi mayat. Evakuator yang bertugas berhubungan dengan mayat hanyat terdiri dari satu orang setiap kelompok dengan menggunakan pakaian khusus yakni, masker, sarung tangan sampai lengan, sepatu bot dan rain coat. Sedangkan yang lain bertugas membersihkan reruntuhan di sekitar mayat, medis dan pencatat mayat. Aku sendiri mendapat tugas mencatat mayat yang berhasil dievakuasi.

Selasa, 4 Januari 2005, Museum Negeri Banda Aceh

Saya lebih banyak istirahat hari ini, setelah semalam kembali melakukan bongkar muat barang di SIM. Di sana saya sempat ketemu Soleh dan Turki. Hari ini, mereka akan dikirim ke Lanmo selama dua hari.

“Kemarin dari kami juga ada yang dikirim ke sana, namun balik lagi karena obak laut sedang besar” kataku mengingatkan Turki dan Soleh.

Pagi tadi aku sarapan sederhana dari dapur umum. Entah mengapa, sekarang ingin sekali aku mempertanya tentang keikhlasan. Barangkali karena aku mulai melihat gejala-gejala yang bertolak belakang dengan niat pada awalnya?

Baca juga:   Memperkecil Resiko Kerusakan dan Korban Gempa

Sekarang kami di sini disebut dengan relawan. Sebuah kata yang cukup agung dan penuh makna keikhlasan. Tapi entahlah, ia kemudian begitu gampang menjadi luntur dan ternoda oleh sifat-sifat manusia yang kadang muncul memang secara tidak sengaja. Keikhlasan ternyata hanya bisa diketahui oleh dan sendiri dan Tuhan saja. Orang lain tentu tidak bisa melihat lebih jauh, paling-paling ia hanya akan menyaksikan imbas dari keikhlasan itu.

Kadang aku juga meragukan penilaianku yang sering datang terburu-buru. Baru beberapa hari di sini, sudah kusaksikan dengan jelas corak watak manusia. Selain dengan bau mayat dan sampah yang berserakan, aku juga akrab dengan kemarahan antar relawan, iri, sakit hati, gampang tersinggung dan semua sifat buruk yang begitu mudah keluar dan meraja lela. Entah setan mana yang sedang berkuasa sekarang ini.

Tim 2, 3 dan empat ditugaskan untuk distribusi barang ke pengungsian, tim satu dikirim ke Meulaboh. Dan aku sendiri bersama kawan-kawan yang lain akan stand by di sini, siang nanti kami akan evakuasi lagi.

Kami mendapat pembagian kaos dari Pemuda Pancasila, namun kaos itu tidak hendak ku pakai dan kujadikan handuk saja, sebab memang aku tidak membawa handuk.

Kamis, 6 Januari 2005

Hahhh, lega juga akhirnya. Kemarin aku tidak sempat menulis sebab baru selesai kerja jam sebelas malam.

Dari pagi sampai siang, kami mengevakuasi mayat bersama dengan Marinir TNI AL. Marinir bekerja lebih cekatan, mereka tidak segan-segan lagi mengangkat mayat-mayat, dan seperti tidak terpengaruh oleh bau. Kami sendiri hanya membantu menjadi tim support, baik itu bagian minum, medis dan mengangkat mayat yang sudah dibungkus dalam kantong mayat ke pinggir jalan.

Bersama 19 orang kawan relawan lainnya, setelah makan siang, aku diperbantukan ke posko PP untuk loading dan mendistribusikan  barang bantuan ke pos-pos pengungsian yang tersebar di sekitar Banda Aceh.

Malamnya aku bersama kelompokku memutuskan untuk tidur di luar gedung aula Museum, sebab masih khawatir dengan gempa yang cukup besar yang terjadi semalam. Semalam, ketika terjadi gempa sempat terjadi kepanikan, semua orang kulihat berlari dan bertabrakan di pintu masuk.

Ketika sedang bertugas di pos PP, ada pertemuan antar relawan dan panitia dari Media Group. Para relawan sudah dapat pulang ke Jakarta pada tanggal 9 Januari 2005 secara bertahap. Tapi aku memutuskan untuk tidak.

Kemarin aku sempat kirim SMS ke Er, tapi belum dibalas juga. Ada juga kerinduan yang tiba-tiba datang entah dari mana, setelah dua hari yang lalu aku mendengar suaranya di telepon. Ah masih terngiang-ngiang suaranya di kupingku. Sayup namun menyenangkan juga. Sayang aku tidak bisa membayangkan bentuk wajahnya sekarang, sebab sudah begitu lama aku tidak berjumpa dengannya. Ada nada marah darinya sebab aku tidak pernah menghubunginya selama ini. Tapi biarlah, ia mungkin sulit mengerti keadaanku saat ini. Menjadi seorang yang liar, bahkan tujuan hidup tidak wajib aku pikirkan saat seperti ini. Aku tidak berharap ia mau memahami, seperti aku juga tidak berharap suatu saat kelak akan bertemu kembali dengannya. Sudah lama kaki ini ku dorongkan untuk berkunjung ke tempatnya, namun ada saja alasan yang lebih baik untuk mengentikan langkah-langkah itu. Biarlah waktu yang kelak akan menjawab, dan aku bahagia dengan suasana seperti ini.

Di sini bagi pengguna layanan Simpati, menelpon gratis. Namun kadang-kadang tidak, sebab ada beberapa rekan relawan yang sempat terkena charge juga.

Malam harinya ternyata gempat tidak datang juga. Ia malah datang pagi ini ketika kami sedang sarapan pagi.

Sarapan pagi ini dengan bubur kacang hijau. Dan jelas saja banyak yang protes, sebab katanya tidak memberikan tenaga. Gempa yang terjadi cukup kencang, gedung museum yang kami diami terlihat bergoyang-goyang.

Kawan-kawanku sudah mulai ada yang terlihat stress. Gejalanya adalah begitu gampang marah dan tersinggung, aku berusaha keras untuk tidak terpengaruh dengan keadaan ini. Sebab pekerjaan memang berat sekali, dan menguras tenaga dan pikiran yang tidak sedikit.

Siang hari, aku melanjutkan membantu Marinir mengevakuasi mayat di sekitar pantai Lampulo. Di sini adalah pemukimam yang cukup elit, namun bangunan-bangunan yang beridiri di sana hampir semuanya rata dengan tanah. Hanya ada sebagian rumah yang masih kelihat utuh. Semua orang kadang-kadang menduga dan curiga. Bencana ini apa karena Tuhan marah, atau memang ini adalah semacam kewajaran dan manusia tidak berhak mempertanyakan penyebabnya.

Mayat-mayat yang masih memiliki identitas diri dicatat dan dilaporkan kepada Satkorlap di Pendopo. Kami sempat juga menemukan mayat berseragam polisi Kapten David yang menjadi komandan Marinir Burma (Pemburu Mayat, sebutan mereka sendiri) kepada pihak kepolisian Banda Aceh.

Jumat, 7 Januari 2005

“He..he..mulai terjadi konflik sesama relawan” demikian aku isi SMS-ku kepada Gepeng. Sebelum itu, memang ada seroang relawan yang sedang disabar-sabarkan oleh teman-teman lainnya karena terbawa emosi. Ada apa gerangan? Pagi-pagi sudah mau berkelahi.

Namanya Benny, relawan yang masuk lewat pintu Lion Air. Ia ditunjuk oleh Bang Yorris (Koordinator Lapangan dari Media Group) menjadi koordinator kelompok relawan. Salahnya, ternyata penunjukan langsung itu tidak melibatkan kami sebagai relawan. Akhirnya, karena caranya mengomando yang kadang membuat kami muak, ia tidak disukai hampir oleh semua relawan.

Manusia, manusia. Kemarahan dan nafsu ternyata selalu menyertainya, kemana dan dimanapun ia berada. Sombong dan egois juga menjadi momok yang sulit dihilangkan dari sifat kemanusiaan kita. Beruntunglah orang yang bisa lepas dari penyakit hati ini. Barangkali ia tidak akan perlu mengalami terapi seperti yang diperagakan oleh relawan Scientology dari Australi yang memberikan cara merelaksasi tubuh. Dan barangkali pula ia tidak memerlukan melakukan olah nafas seperti yang diajarkan oleh kelompok Prana Kasih di Jakarta sebelum berangkat dulu.

Kondisi badan kami mulai menurun, dan pikiran menjadi begitu lelah, sehingga begitu gampang merespon sesuatu secara berlebihan dan diluar kemauan akal sehat. Belum satu minggu kami berada di Banda Aceh, namun watak-watak semua relawan begitu jelas terlihat, tentu ada yang memang ikhlas dan benar-benar menjadi relawan, dan ada juga yang curi-curi kesempatan, ada juga yang tidak mengerti apa yang harus dikerjakan. Ada yang patut dicontoh dan tentu ada yang patut dicemooh.

Sebesar-besarnya selektifitas yang dikehendaki oleh Media Group, ternyata mereka tidak bisa menyelami kedalaman isi hati manusia.

Sabtu, 8 Januari 2005

Hari ini cukup menarik. Evakuasi mayat dilakuka di Asrama Haji Banda Aceh. Di sini, merupakan salah satu lokasi yang menyimpan mayat terbanyak. Sebab pada waktu gelombang tsunami terjadi, calon jemaah haji dan keluarga yang mengantar sedang berkumpul di sini. Kami hanya menemukan beberapa mayat saja, sebab daerah ini rupanya telah disisir terlebih dahulu oleh tim evakuasi lain.

Suasana antara relawan menjadi lebih solid karena masing-masing telah memiliki semacam pemahaman dan pemakluman tersendiri atas keadaan orang lain. Aku memutuskan untuk bergabung dengan tim evakuasi yang di pimpin oleh Sdr. Rozak, karena aku tahu, relawan yang bergabung adalah orang-orang yang suka bekerja. Dan memang telah terbentuk tiga tim dengan pembagian kerja yang berbeda, yakni tim evakuasi, tim pembersihan fasilitas umum dan tim distribusi bantuan ke pos pengungsian.

Hari ini berjalan dengan lebih wajar, setelah kemarin terjadi sedikit ketegangan. Betul, semuanya harus mengerti dan memaklumi semua keadaan yang terjadi saat ini secara wajar. Makan kurang enak, tidur tentu tidak seenak dikasur adalah kondisi yang wajar di saat ini. Adalah menjadi tidak wajar, ketika bantuan sedang ditunggu-tunggu oleh orang lain yang membutuhkan namuan di sini terjadi kondisi yang sebaliknya dan berlebihan. Pemahaman ini yang kadang sulit diberikan kepada semua orang.

Sayang, kondisi hatiku tidak sebagus keadaan sekarang, semalam aku menelpon kembali orang jauh di seberang lautan, dan yang mengangkat ternyata Kakaknya…he..jadi obrolannya lain deh. Padahal aku berharap gema suaranya dapat memompa semangatku yang perlahan-lahan mulai melemah.

Minggu, 9 Januari 2005

Hari ini mungkin adalah hari terberat bagiku, bagi keteguhan yang selama ini kupertahankan. Pihak Media Group memberikan pilihan yang cukup sulit. Pulang hari ini dengan pesawat atau tanggal 31 Januari 2005 dengan kemungkinan naik kapal laut. Aku tidak mau memenuhi pilhan pertama karena aku baru semingga di Banda Aceh ini. Sebab aku juga tahu, tentu untuk itu telah begitu besar  dana yang dikeluarkan, barangkali belum sebanding dengan kerja yang kami lakukan.

Sedang pilihan kedua mengandung resiko yang besar juga. Pendidikan Dasar Astacala akan memulai praktek Lapangan pada tanggal 27 Januari 2005. Sebagai komandan latihan aku tentu sulit untuk melepas mereka begitu saja.

Namun akhirnya aku bulatkan tekad untuk memilih pilihan kedua, seraya berharap, sebelum tanggal 31 Januari akan ada pemulangan lainnya, walau belum pasti. Yang jelas, ini adalah keputusan saya. Keputusan dalam hidup yang kadang tak jarang meninggalkan rasa kecewa setelahnya, entah itu bagi diri sendiri, bisa juga kekecewaan bagi orang lain.

Inilah pelajaran berharga tentang hidup. Pelajaran yang tidak semua orang dapat menangkapnya. Yakni belajar memberikan pilihan dengan sadar dan bertanggung jawab untuk resiko yang ada dibelakangnya. Penyesalan bukan tidak dihalalkan, namun ia lebih ketika hanya menjadi bumbu hidup saja. Ia harus berani menjawab apabila orang-orang menuntut bahkan menuduhnya sebagai pengecutnya manusia.

Di sini jangan sekali-sekali ada penyesalan.

Senin, 10 Januari 2005

Aku tidak bisa tidur malam ini. Mungkin karena keriuhan yang ditimbulkan oleh kedatangan relawan pengganti yang baru tiba dari Jakarta sebanyak seratus orang orang.

Dapat dipahami keceriaan mereka saat ini sungguh.  Seperti dulu kami juga seminggu yang lalu. Wajar kalau mereka masih mau tidur larut malam, dan obrol  ke sana kemari, berbagi cerita. Tapi lihatlah esok, mungkin suasana seperti ini tidak ada lagi. Sebab esok dan seterusnya, mereka akan akrab dengan bau mayat dan kengeriannya. Bersimbah keringat yang banyak dan tidur tidak lelap, sebab setiap pagi akan dibangunkan oleh gempa bumi.

Atau barangkali aku tidak bisa tidur karena suasana sentimentil dalam hati? Ah entahlah, bukankah aku ingin menadi orang yang kuat, yang tidak tegoyahkan oleh kehendak yang cengeng namun realistis. Merindukan keadaan yang menyenangkan dan membawa kepada kenangan yang indah-indah. Biarlah galau hati ini kusalurkan lewat tulisan ini, barangkali kelak, ia menjadi berguna juga. Susi, kawan baruku menyarankan untuk tidur dengan tanpa bantal saja–bantalan buatan dari lipatan pakaian maksudnya. Namun tidak bisa juga. Kemudian aku mencoba dengan membalik posisi kepala, dan memegang pena dan mulai menulis. Dengan itulah suasana hatiku mulai tenang, dan enak diajak memejamkan mata kemudian.

Aku ingin menuliskan tentang keadaan Banda Aceh malam ini. Ini tidak hanya sebagai semacam tuntutan agar aku menuangkan data dan informasi yang aku dengan dan lihat hari-hari ini menjadi sebentuk karya tulisan yang enak, namun ada sebuah semangat yang lebih dari itu. Sebuah pengabdian pada diri sendiri dan bahkan sebuah pertanggungan jawab.

Tadi pagi, aku main ke Pendopo yang disulap menjadi Media Center dan pusat informasi dan Satkorlak Bencana Aceh. Ada Alwi Shihab yang memberikan penjelasan kepada wartawan mengenai kemajuan penanggulangan bencana Aceh. Terkadang ada juga rasa pesimis di hati saya, sebab setelah lebih dua minggu bencana tsunami ini terjadi, namun belum begit jelas kapan ia akan dapat diprediksi menjadi selesai. Apakah karena bencana ini terlalu besar bagi Indonesia atau mungkin aku sendiri yang tidak mengetahui kondisi dan jalur koordinasi yang sebenarnya.

Satu catatan minus yang dapat kutangkap dari Satkorlak ini adalah amburadulnya koordinasi antara semua pihak yang terlibat, dan di sana sini, semua orang menjadikan pembenaran dan pemakluman atas kekurangan diri sendiri. Aku tidak tahu, kapan evakuasi akan selesai misalnya, aku tak tahu kapan proses hingga siap rehabilitasi selesai, bahkan sekarang aku tidak tahu, kapan akan terus berada di Banda Aceh ini. Setiap hari semuanya bekerja dengan begitu berat, namun terliaht sekali itu hanya berimbas sangat kecil.

Sampai saat ini, Banda Aceh masih porak poranda. Reruntuhan banguan yang berserakan di pinggiran jalan masih belum tersentuh. Tenaga manusia tentu sulit untuk melakukan pembersihan rongsokan ini, dibutuhkan bantuan alat berat yang banyak. Dari Mbak Doni aku mendapat khabar bahwa telah dikirimkan bantuan alat berat ke Aceh, tapi kenapa di sini tidak ada sama sekali?

Bekerja bersama Marinir, aku melihat sebuah efektifitas dalam mengevakuasi mayat. Namun senantiasa saja ada amarah dan arogansi yang mereka miliki ketika bertemu dan berpapasan dengan satuan lain. Brimod dan Polisi adalah bahan ejekan utama mereka yang kadang juga mereka tularkan kepada kami. Inikah pembela negara yang masih saja kalah oleh permusuhan yang sangat bodoh.

Aku yakin Alwi Shihab yang Menkokesra bukanlah orang yang tepta untuk menjadi koodinator penanggulangan Bencana Aceh ini. Sebab. Yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang tahu persis kondisi di lapangan dan orang yang tentu terjun ke sana juga. TNI tentu bukan jawaban yang benar untuk membenahi kondisi ini, tidak juga relawan seperti kami, bukan pula wartawan atau bantuan dari luar negeri.

Orang Acehlah yang mestinya mulai melupakan tragedi dan mengubur kesedihan dan berpikir jernih untuk hari-hari di depannya. Sebab, sebesar-besarnya bantuan dari pihak luar, termasuk pemerintah pusat, ia menjadi tanpa jiwa jika orang Aceh sendiri tidak turun tangan dan masih berdiam diri.

Aku tiba-tiba teringat kepada Turki, Dedi yang orang Aceh. Mereka sekarang bergabung dengan posko BUMN. Syukurlah walau mereka tidak menjadi motor penggerak di sana, namun mereka adalah sebagian kecil dari warga asli Aceh yang turut turun tangan. Oh ya, ketika main di Posko BUMN kemarin dulu, di pintu masuk  tertulis, POSKO BUMN PEDULI, kemudian dibawahnya beberapa lembaga yang turut membantu, dan yang mengejutkan di sana ada tertulis STT Telkom Bandung. Dalam hati aku ingin tertawan, ha…ha…aku teringat Pak Makhmud dan rektorat, aku kecewa atas tanggapan mereka, aku teringat perjuangan dosen-dosen UI yang turut ambil bagian dalam operasi kemanusiaan ini, aku lihat IPB, UII, yang sungguh mungkin lebih banyak berbuat daripada kita–maaf saya berani menyebut kata kita, sebab sebentar lagi, aku bukan bagian dari ‘kita’–STT Telkom.

Selasa, 11 Januari 2005

Bahagia aku hari ini, sebab aku baru menyadari bahwa ternyata hari ini telah 2005. Artinya Tahun Baru telah lewat dan aku sama sekali tidak sempat untuk memikirkannya. Sebagaimana biasa akan bertambahnya waktu, setiap saat kita akan menanyakan perubahan. Apakah aku sekarang telah berubah? Namun aku mungkin orang yang malas menghitung-hitung. Aku lebih ingin pasrah dan tak ingin dipusingkan oleh perhitungan dan anggapan itu. Toh yang lebih tahu adalah diri kita sendiri. Aku lebih suka memendamnya bersama keyakinan yang aku sendiri pemiliknya.

Barangkali selama ini aku lebih sering melawan arus, berdebat dengan banyak orang dan tentu banyak orang yang tak senang, dan itu membutuhkan tenaga yang lebih, energi yang lebih kuat. Perjuangan harus lebih berat, dan jujur saja, aku lebih sering kalah dari pada menangnya. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa aku beruntung telah mengambil sikap itu, sebab seperti kondisi saat ini, aku punya tenaga yang berlebih untuk tidak membuat semacam keonaran yang tidak diperlukan. Aku pun kadang menjadi lebih kuat dalam menghadapi kondisi lebih ekstrim, barangkali hanya itulah untungnya.

Hari ini aku ditunjuk oleh Media Group untuk menjadi fotografer guna mempublikasikan kegiatan para relawan Media Group. Kebetulan memang ia, namun aku harus mengeset ulang anggapanku tentang fotografi yang mendorongku juga untuk membawa serta kamera ke Banda Aceh ini.

Awalnya, bagiku memotret adalah pekerjaan seni, sehingga ada unsur estetika dan etika disitu. Aku terus terang saja belum menjadi wartawan atau fotografer murni, dan barangkali aku tak sanggup untuk disebut seperti itu. Sebab ternyata fotografer media diperlukan untuk bersuara pada orang lain dengan cara yang lebih ringkas, kalau ada evakuasi maka aku harus memotret mayat dalam kondisi yang paling menakutkan. Beda dengan selama ini, aku sama sekali tidak mau memotret mayat bahkan sedikitpun sebab itu tadi, keseraman mayat tentu tidak memenuhi unsur estetik dan etik. Okelah memang jurnalistik memiliki kode etik, tapi seberapa banyak sih wartawan foto yang memperhatikan itu dan menjabarkannya ketika ia bekerja.

Namun aku terima juga tawaran mereka itu, sebab film mereka yang menyediakan satu hari satu roll. Penerimaan ini senantiasa alasan belajar bagiku–mohon maaf karena alasan belajar telah kujadikan sebuah pembenaran untuk hal yang menurutku tidak benar sungguh. Aku kurang dalam pengalaman memotret dalam ruangan dan kebetulan aku tidak membawa peralatan kamera yang lebih lengkap. Lampu blitz tidak kubawa, dan lensa pun hanya satu serta tripot tidak juga. Untuk pemotretan dalam ruangan aku dituntut menggunakan kecepatan lambat dan diafragma yang lebih lebar. Resikonya kemungkinan goyang dan gambarnya menjadi blur, atau underexposur.

Target kerja pertamaku adalah evakuasi mayat bersama marinir. Oh ya, aku juga pernah berkenalan dengan seorang marinir yang kebagian tugas sebagai fotografernya. Biasa, kalau sama-sama memiliki hobi yang sama, akhirnya mudah klop. Awalnya aku malu-malu memperlihatkan Canon AE-1 ku, namun ternyata ia mengenalnya juga, sebab dulu ia juga punya. “Ini kamera yang sudah sangat lama” katanya. Dan diantara relawan sendiri ada satu orang lagi yang suka fotogafi. Namanya Sophan. Aku berkenalan beberapa hari yang lalu di Gedung PP. Kulihat ia membawa sebuah tas kamera, dan ternyata isinya memang kamera manual yang lebih baru dari punyaku. Ternyata ia kenal dengan Kentung. Ia anak didiknya Kentung di Jakarta, dan pernah memberikan materi Kepencitaalaman dengan menggunakan diktat Astacala.

Baca juga:   Bersantai di Ujung Sumatera

Tiba-tiba Surya Paloh disertai oleh Hasyim Muzadi, Zainuddin MZ dan rombongan datang ke lokasi kami melakukan evakuasi. Langsung saja aku melakukan pemotretan gaya wartawan. Kebetulan memang banyak wartawan yang juga ikut rombongan itu. Lumayan juga, hari ini menghabiskan satu roll film isi 36.

Rabu, 12 Januari 2005

Hari ini aku bertugas mengambil foto di Rumah Sakit Jiwa, tempat yang akan dijadikan sebagai Trauma Center oleh Media Group dengan dukungan penuh dari WHO.

Di sana, datang juga rombongan dari WHO yang diikuti BBC TV, bersama mereka aku melakukan beberapa pemotretan, namun aku harus kecewa, ternyata kameraku error, putaran filmnya tidak wajar. Dan benar saja setelah dicetak, hanya beberapa film saja yang berhasil. Di sini rombongan kami sampai pukul empat sore.

Hari ini Banda Aceh bertamu oleh hujan yang cukup deras, begitu juga di RSJ ini. Sambil menunggu hujan reda supaya bisa pulang ke Museum kami ngobrol dengan ‘penghuni’ rumah sakit jiwa ini. Aneh tapi nyata, kami begitu lebur dalam obrolan di bawah hujan sore itu. Seorang pasien ternyata bisa memainkan gitar. Kami sadar kami sedang berhadapan dengan orang yang jiwanya sedang sakit. Namun itu sama sekali tidak mengurangi kehangatan yang kadang kami sulit mengerti. Kami atau mereka yang kini sudah gila.

Sama juga ketika kami megepel lorong-lorong rumah sakit. Ini perbuatan gila atau bukan? Sebab ketika kami selesai mengepel dan jalannya sudah diblokir, tetap saja ada pasien yang lewat sambil kadang-kadang tersenyum kepada kami. Hingga beberapa kali kami harus mengepel, dan sepertinya itu akan kotor lagi sebelum kering dan bersih untuk digunakan esok pagi.

Hujan mulai mereda pada jam empat lewat. Kami mulai meninggalkan rumah sakit menuju bagian depan. Di depan ada sebuah mobil milik PT Pos yang baru datang. Aku terkejut ternyata dua penumpang yang berada di kursi depan adalah Soleh dan Momesh. Langsung saja ketika mereka melihatku, kupanggil mereka.

Semalam ternyata mereka pernah ke RSJ ini mengantar pasien RSJ yang ditemukan di Bandara SIM.

Ketika gelombang tsunami yang hari minggu 26 desember yang lalu, kamar pasien RSJ ini dibuka untuk memberikan kesempatan kepada mereka menyelamatkan diri. Dan sekarang pasien yang kembali baru mencapai seperempatnya, demikian keterangan yang kudapat dari Dokter RSJ. Jadi wajar kalau ternyata ada pasien yang sampai ngelayap ke Bandara SIM.

Dari Momesh dan Soleh aku dapat kabar bahwa mereka akan pulang pada tanggal 14 Januari 2005. Aku sendiri kukatakan kemungkinan tanggal 31 Januari. Namun kalau ada pemulangan relawan sebelum itu aku akan ikut kataku kepada mereka. Aku juga meminta tolong kepada mereka kalau ada kesempatan aku ingin pulang bersama mereka.

Hujan sudah reda, kami memutuskan untuk mulai bergerak ke gerbang, menemui salah satu koodinator dari Media Group. Ternyata truk yang dijanjikan untuk menjemput belum datang juga.

Tujuan kami adalah RS Zainal Abidin yang letaknya tidak jauh dari RSJ, sebab truk akan menjemput di sana. Namun ketika jalan, kami memutuskan untuk menumpang mobil pemadam kebakaran yang kebetulan lewat. Mungkin sopir itu sudah tahu atau entah karena apa, akhirnya kami dapat menumpang mobil itu dengan bergelantungan di samping dan belakang mobil.

Pukul lima aku sampai di Museum. Ada khabar dari teman bahwa akan ada pemulangan pada tanggal 15 Januari. Sebelum mandi, aku nitip untuk juga didaftarkan kepada Susi, teman sekelompokku.

Jumat, 14 Januari 2005

Maaf, kemarin tidak sempat nulis. Dan aku menyesal, karena begitu banyak kejadian yang telah lewat, dan aku tidak sempat mencatat.

Kemarin aku ke Posko Pemuda Pancasila. Ada tugas tambahan menyambung pipa mesing air. Aku dibutuhkan untuk memasuki sumur. Ternyata webbing yang disiapkan oleh Kentung di Jakarta kemaring berguna juga.

Aku menggunakan pengaman seadanya, untung sumurnya tidak terlalu dalam. Harus beberapa kali aku memasuki sumur karena airnya juga belum jalan. “Sifat mesing air begitu, aklau ada sedikit saja pipa yang bocor, airnya tidak akan naik” kata Pak Iwan, relawan teknisi.

Ada perkembangan terbaru dari Media Group bahwa kepulangan relawan diundur menjadi tanggal 16 Januari. Tak apalah, toh aku masih memiliki beberpa pekerjaan yang belum kukerjakan.

Hari ini aku diajak keliling lokasi bencana di Banda Aceh oleh Dave, warga negara Australia yang tinggal di Malaysia. Di sini ia membantu membanung sanitasi bagi para relawan. Ia mengajakku berkeliling Banda Aceh untuk mengambil foto-foto lokasi bencana untuk laporan pribadinya. Ia memiliki tiga roll film ProImage 36 dan semuanya diserahkan kepadaku karena ia tidak bawa kamera.

Kami berkeliling dengan nyarter becak–motor dengan tambahan tempat duduk di samping kirinya–dari pagi hingga siang. Di tengah-tengah perjalanan aku sering memberhentikan becak untuk mengambil gambar. Ada pasar yang porak porangda, ada bangunan beton yang tinggal pondasinya. Ada besi  baja yang tersisir seperi rumput yang disapu oleh ombak. Kadang-kadang aku juga memasukan Dave sebagai bagian dari objek fotoku.

Inilah bedanya dengan orang Indonesia. Orang kita, kalau ketahuan akan difoto, maka ia akan segera pasang aksi dan bergaya paling maksimal yang ia punya. Kadang-kadang aku paling benci dengan kondisi pemotretan seperti ini, sebab ia akan mengurangi kesan alami yang mestinya tampil dalam bingkai sebuah foto. Tidak dengan Dave, ia malah terlihat tidak pernah pura-pura ketika aku memasukannay di bagian puing-puing reruntuhan yang kuambil gambarnya. Ini cukup baik untuk menampilkan kesan alami dan bukan dibuat-buat.

Kami berkeliling hingga hampir pukul sebelas setelah sebelumnya sempat mampir ke Pendopo. Di sana Dave mendatangi beberapa posko guna memberitahukan bagi para relawan untuk dapat melakukan sterilisasi di pancuran yang telah ia buat. Aku tahu, di sini fotoku tidak bisa maksimal sebab di dalam ruangan, sedang peralatan kameraku sangat terbatas.

Untuk kedua kalinya aku Jumatan di Masjid Baiturrahman. Dan kali ini, jamaahnya lebih ramai. Datang juga Wapres Jusuf Kalla yang hari itu memberikan sumbangan untuk rehabilitasi Masjid Baiturrahman. Aku langsung pulang–sama juga dengan banyak jamaah lain–ketika Pak Jusuf memberikan sambutan. Bukan apa-apa, tapi perut memang sudah begitu lapar, mana mau mendengarkan sambutan pejabat yang lebih sering sangat membosankan.

Aku kembali ikut tim Evakuasi bersama dengan Dave yang ingin diambil gambarnya ketika sedang berhadapan dengan mayat. Evakuasi kali ini di dekat pantai—mohon maaf karena aku terlalu sulit mengingat sebuah nama daerah, apalagi di Aceh, yang penyebutannya terdengar aneh bagi telingaku. Mayat-mayat yang kami temukan hampir semuanya telah rusak. Ada yang mulai menjadi tengkorak, aku berpikir ternyata cepat sekali proses penguraian sel tubuh yang telah mati ini. Baunya walau masih menyengat, namun mungkin hidungku sudah mulai terbiasa.

Aku teringat dengan Pak Rozak. Koordinator relawan untuk bagian Evakuasi. Ia adalah satu dari relawan yang paling sering berhubungan dengan mayat. Pernah satu hari, kami sangat sulit menemukan mayat dalam satu area evakuasi, akhirnya ia turun tangan dengan membuka masker penutup hidung dan mencium di sekitar bangunan yang runtuh. Dan memang berhasil, “Di sini pasti ada mayat. Aku mencium baunya” katanya. Akhirnya satu-satunya mayat yang kami dapatkan dikerubungi seperti menemukan rejeki nomplok yang datang tiba-tiba.

Di lokasi ini aku mendapat satu lembar album prangko yang sudah kotor. Aku ambil lembaran itu untuk menambah album prangko koleksi yang juga aku dapatkan ketika melakukan evakuasi di sekitar penjara Banda Aceh beberapa hari yang lalu. Buku itu aku temukan di reruntuhan banguan yang sudah tidak ketahuan bentuknya. Buku album prangko dengan sebuah nama tertera di dalamnya. Mungkin ia salah satu dari korban tsunami ini. Awalnya aku rahu untuk mengambil buku itu, sebab takut salah dan berdosa. Namun hati seperti memerintahkan lain. Biarlah, barangkali arwahnya–jika memang ia sudah meninggal–akan senang jika kesukaannya itu ada yang menyelamatkan. Toh buku ini juga tidak memiliki nilai materi yang berarti. Aku tidak takut akan resiko yang akan terjadi, entah itu gangguan dalam mimpi atau apalah sejenis itu yang sebetulnya aku kurang percaya.

Mayat yang berhasil kami kumpulkan sebanyak tujuh puluah enam. Dan kami kemudian meninggalkan lokasi evakuasi ini.

Aku tiba-tiba kangen untuk segera ke posko Museum. Ingin bertemu seseorang. Susi. Setelah berkenalan yang membuat kami akrab adalah kesamaan. Ia sudah bersuami dan sekarang menjadi relawan Indonsiar yang mendarat di Meulaboh setelah seminggu melakukan perjalanan darat. Darinya aku tahu, bahwa ia dan suaminya ternyata mantan aktivis–kalau boleh kusebut demikian–yang kadang-kadang sekarang masih aktiv dalam mengorganisir demonstrasi buruh di Jakarta.

Susi, teman baruku. Awalnya aku tertarik karena ia adalah satu dari empat relawan perempuan yang berangkat ke Aceh bersama dengan kami. Sayang ia tidak satu kelompok awal denganku. Ya ini, mungkin sekali lagi adalah kesalahan, menilai seseorang hanya dari pandangan pertama yang kadang masih sangat kurang. Namun aku yakin ia adalah salah satu dari perempuan-perempuan yang unik. Kalau tidak, mana mungkin ia mendaftar menjadi relawan.

Di Banda Aceh, aku lebih sering memperhatikannya dari jarak jauh, sebab aku tidak ingin sesuatu yang lebih terjadi. Sesuatu yang selama ini kuat aku hindari tapi dirindukan untuk dilakukan. Aku semakin kagum ketika melihat ia tersinggung ketika salah satu relawan berusaha menggodanya. Hebat pikirku, ketika ia berkata ”Aku tidak suka lelaki yang sering menggodaku…”. Aku tidak tahu, ternyata ia telah bersuami.

Setelah kepulangan pertama para relawan, ternyata Susi memutuskan untuk bertahan. Aku belum tahu sebabnya. Entah karena apa, aku kemudian jadi satu kelompok dengannya. “Buat apa aku pulang, kalau suamiku masih di Meulaboh…”, aku pernah mendengar ia berkata seperti itu entah  kepada siapa.

Sebagai awal perkenalan, kuberikan ia sebuah cerpen karya Puthut EA yang baru saja kubaca di Kompas Minggu yang kami dapat dari Media Group–nggak tahu, kok koranya malah Kompas?. Ketika ia selesai membaca cerpen itu, “Itu bagus Mbak, tapi untuk orang yang sudah bersuami…” kataku, dan ia tersenyum.

Hari-hari berikutnya kami menjadi lebih akrab, lebih karena kami telah sering banyak mengobrol. “Dulu aku dekat dengan LMND Bandung” kataku. Ia adalah salah satu buruh pabrik kemudian  lebih sering bercerita tentang dirinya yang juga suka demo di Jakarta. Perkenalan dengan suaminya yang juga seorang aktivis mahasiswa yang sering membantu para buruh, begiku terdengar sangat romantis.

Dari rasa suka, perasaanku kepadanya cenderung kepada rasa hormat. Salut atas sikapnya dan jalan hidup yang barangkali tidak ia pusingkan. Ternyata ada juga perempuan seperti dia.

“Bagi sebagian aktivis, perempuan lebih berposisi sebagai penghalang dari pada sebagai teman…” kataku pada satu obrolan. Ia hanya tersenyum, entah memahami atau entah malah menuduhkan telah salah sama sekali.

Selama di Posko Museum, aku baru menyadari bahwa obrolanku yang paling nyambung adalah dengannya.

***”Iya cerpennnya memang bagus..” katanya menanganggapi pernyataanku.

“Penulisnya dulu juga adalah aktivis dari LMND” kataku menambahkan.

***

Dan malam kemudian menghinggapi bumi. Aku di dalamnya kini lebih berharga, karena masih ada saja teman ketika engkau sedang sendirian. Teman adalah sejatinya manusia yang kita tidak ingin berpisah denganya. Maka segera kupahami atas kerinduanku untuk bertatap muka dengannya. Mudah-mudahan ini bukan perselingkuhan baginya, juga buatku. Dan tak perlu ada penyesalan seperti yang digambarkan oleh Puthut EA dalam cerpennya yang pernah kubaca.

Ada SMS dari Bejat bahwa ia sudah berada di Meulaboh. “Hati-hati di sana banyak berkeliaran GAM. Aku pulang hari ini” balasku.

Sabtu, 15 Januari 2005

Hari ini mungkin kerja terakhirku sebagai relawan dan fotografer. Sebab nanti malam kami akan pulang ke Jakarta. Hari ini kami yang akan pulang hanya diijinkan kerja sampai tengah hari.

Akibat rasa masih berhutang dengan pihak media untuk memberikan foto-foto yang bagus, aku ikut tim Evakuasi lagi hari ini. Aku juga dibekali dengan sebuah Handycam. Prinsipnya mirip dengan pengambilan foto dengan kamera, hanya saja ini hasilnya adalah gambar bergerak. Artinya aku sedikit terbantu dalam menyampaikan flot waktu yang ada dalam gambar. Dengan tuntutan aku harus memberikan gambar yang menyatakan waktu yang sedang berlangsung, dengan mengambil matahari pagi atau suasana yang sedang berbicara.

Berbeda dengan foto, ia berbicara sebagai satu kesatuan, baik itu waktu maupun komposisi standar yang harus dikandungnya. Memakai Handycam, selaian karena juga sudah pernah ketika membuat film di Masjur dulu, ternyata lebih mudah menggunakannya.

Hari ini aku ditemani Bendahara relawan Media Group yang baru beberapa hari lalu datang. Ia ingin ikut karena ingin merasakan bagaimana suasana Evakuasi. Namanya Evo, tapi ada juga yang memanggilnya Evi, entah kenapa. Cepat sekali aku akrab dengannya. Ia orang Lampung, adik dari Mbak Yoska yang mengkoordinir keberangkatan relawan Media Group ini. Awal kenalku dengannya karena kepadanyalah aku meminta film.

Di lapangan–dekat Unsyah–kami bertemu dengan TNI AD, tentara Malaysia, dan Brimob. Di sini aku berjanji untuk membuat foto-foto yang bagus. Sebab hari ini adalah hari terakhirnya, walau aku mungkin tidak akan melihat hasilnya.

Pasukan ditarik ke posko Museum setelah jam satu siang. Aku juga sempat menyaksikan satu mayat yang sudah rusak. Ketika ada relawan yang mengangkatnya, kepalanya lepas. Banyak juga mayat yang tubuhnya sudah tidak utuh. Oh ya, semalam juga bergabung relawan dari Unibraw Malang.

Sepengetahuanku selama berada di Banda Aceh ini relawan yang berasal dari Malang cukup banyak juga. Ada dari Mahameru, Brawijaya dan independent. Selain itu, yang juga sering berpapasan adalah relawan dari Pemda Jogja, Bogor. Yang tidak pernah kelihatan adalah yang dari Bandung—sebagai institusi resmi.

Pukul sembilan malam kami yang akan pulang diangkut dengan truk ke Bandara SIM. Gerimis dan hujan menyambut kami di Bandara.

Aku menyempatkan diri mampir ke Posko BUMN. Ternyata di sana masih ada Dedi dan Soleh.

“Lho katanya tanggal 14 sudah pulang” kataku.

“Nggak jadi. Momesh dan Turki pergi ke Long. Kita bikin pos di sana. Mereka kemarin naik heli” terang Dedi.

Pesawat akan tiba di SIM nanti jam setengah tiga.

Minggu, 16 Januari 2005

Relawan yang akan menggantikan kami telah tiba dari Jakarta. Wajah mereka terlihat masih segar dan penuh semangat. Kuperhatikan ada juga temannya Balok yang kemarin ketemu di Prioritas.

Setengah tiga pagi, kami mulai menaiki pesawat Lion Air. Aku duduk di bangku paling depan bersama Susi. Di sebelah kanan, Dave ternyata ikut pulang ke Jakarta juga. Ia berjanji untuk mengirim foto hasil jepretanku kalau sudah dicetak.

“Apakah nanti dengan layanan Pos akan sampai? Atau nanti aku akan titip ke ABK-ku yang sering ke Bandung” katanya. Kuberikan alamatku di Bandung. Sekretariat Astacala.

Pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul lima pagi. Kami akan dilepas langsung dari Bandara menuju rumah masing-masing. Setelah dibriefing sebentar oleh koordinator pemulangan relawan, kami kemudian diberi amplop. Ini sebetulnya tidak aku duga, aku tidak tahu berapa jumlahnya. Jumlahnya baru kuketahui ketika tiba di Bandung kembali. Lumayan buan makan sebulan.

Di Bandara tiba-tiba terjadi suasana perpisahan yang cukup kentara. Untuk ada tanggal 4 Pebruari 2005, rencanyanya Media Group akan memanggil semua relawan mereka, katanya akan diberi piagam. Sayang aku tidak bisa datang, sebab tanggal tersebut aku tentu masih di hutan bersama siswa-siswa Pendas Astacala.

“Aku titip kepadamu sajalah. Kalau nanti ada piagam kamu yang ambil dan kirim ke alamatku” pintaku kepada Susi.

Aku kembali ke Prioritas terlebih dahulu untuk mengambil carrier Kentung yang dulu kutitipkan di pos Satpam. Gepeng yang ku minta untuk mengambil ternyata tidak berhasil. Di perjalanan aku di stop seseorang karena ia tahu aku relawan Media Group dari baju yang kupakai. Ia kemudian memintaku untuk bercerita pengalamanku di Banda Aceh, kebetulan karena disana adalah warung, sambil makan aku kemudian bercerita kepadanya seadanya.

Di Gedung Prioritas aku ketemu dengan Satpam yang dulu kutitipi barang. Syukurlag carriernya ternyata masih aman. Aku sedikit tersanjugn di depan mereka, sebab mereka begitu menaruh hormat kepada relawan seperti kami. Dari Prioritas aku ke Gambir, kemudian naik kereta ke Bandung.

Di kereta aku ngobrol pajang lebar dengan seorang Ibu yang keluarganya ada yang tinggal di Aceh.

Inilah kuakhiri kisahku. Semata-mata tidak bermaksud melebih-lebihkan. []

Oleh Jimi Piter