<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" ><channel><title>ASTACALA.ORG</title> <atom:link href="http://astacala.org/wp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://astacala.org/wp</link> <description>Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Institut Teknologi Telkom</description> <lastBuildDate>Mon, 20 Feb 2012 18:48:41 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>Tebing Cadas Gantung : Potensi Wisata Alam yang Terabaikan</title><link>http://astacala.org/wp/2012/02/tebing-cadas-gantung-potensi-wisata-alam-yang-terabaikan/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/02/tebing-cadas-gantung-potensi-wisata-alam-yang-terabaikan/#comments</comments> <pubDate>Mon, 20 Feb 2012 17:21:19 +0000</pubDate> <dc:creator>bolenk</dc:creator> <category><![CDATA[Berita dan Peristiwa]]></category> <category><![CDATA[Bandung]]></category> <category><![CDATA[Cadas Gantung]]></category> <category><![CDATA[Ciwidey]]></category> <category><![CDATA[Soreang]]></category> <category><![CDATA[Tebing]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3533</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/02/tebing-cadas-gantung-potensi-wisata-alam-yang-terabaikan/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a>Selama ini, para pemanjat di Bandung terbiasa melakukan panjat tebing di daerah Padalarang dan Gunung Batu saja. Ternyata, di salah satu sudut Kabupaten Bandung masih terdapat sebuah lokasi panjat tebing yang cukup menantang untuk kegiatan wisata alam. Nama tebingnya adalah Cadas Gantung. Lokasi olahraga ekstrim ini berada di Desa Cilame, Kecamatan Kuta Waringin, Kabupaten Bandung. [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selama ini, para pemanjat di Bandung terbiasa melakukan panjat tebing di daerah Padalarang dan Gunung Batu saja. Ternyata, di salah satu sudut Kabupaten Bandung masih terdapat sebuah lokasi panjat tebing yang cukup menantang untuk kegiatan wisata alam. Nama tebingnya adalah Cadas Gantung.</p><p style="text-align: justify;">Lokasi olahraga ekstrim ini berada di Desa Cilame, Kecamatan Kuta Waringin, Kabupaten Bandung. Akses menuju lokasi ini sangat mudah karena berada cukup dekat dari Jalan Raya Soreang &#8211; Ciwidey. Bahkan tebing ini terlihat dengan jelas dari lokasi jalan raya tersebut, dengan ciri khas batu berwarna perpaduan antara kuning dan putih.</p><p style="text-align: justify;">Hari Minggu kemarin, 19 Februari 2012, enam orang anggota Astacala melakukan perjalanan ke lokasi tersebut, termasuk mencoba olah raga panjat tebing di lokasi yang masih jarang dijamah oleh para pemanjat. Dalam perjalanan menuju kaki tebing, ternyata banyak hal menarik yang ditemukan. Beberapa di antaranya bahkan terbilang cukup unik.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Kondisi Tebing</strong></p><p style="text-align: justify;">Tebing Cadas Gantung merupakan tebing alam dengan batuan andesit sebagai penyusunnya. Ketinggian tebing ini bervariasi, antara 15 hingga 30 meter. Di tebing ini juga sudah terpasang <em>hanger</em> (pengaman) untuk jalur pemanjatan <em>sport</em>. Sudah ada beberapa jalur <em>sport</em> yang terpasang di lokasi ini. Pada saat ditemui, kondisi <em>hanger-hanger</em> tersebut masih dalam keadaan sangat baik. Tebing dengan lebar sekitar 60 meter ini memiliki bentukan yang tegak (<em>face</em>), dengan <em>overhang</em> (miring) di bagian atasnya. Hal ini membuat  tebing ini seperti mempunyai “<em>kanopi</em>” di bagian atasnya.</p><p style="text-align: justify;">Bagian atas tebing merupakan hutan yang masih terbilang liar. Menurut informasi dari warga sekitar, masih terdapat gerombolan kera yang tinggal di hutan tersebut.</p><p style="text-align: justify;">Tebing ini terbilang cukup jarang dipakai untuk olahraga panjat tebing. Menurut penuturan warga dan Pak RT saat ditemui, tebing ini terakhir kali dipanjat tiga bulan sebelumnya. Dalam setahun, paling hanya sekali atau dua kali saja ada yang datang untuk memanjat tebing tersebut. Hal ini disebabkan kurang dikenalnya tebing Cadas Gantung ini di kalangan pemanjat tebing. Juga kurangnya perhatian dari pihak-pihak terkait guna mengembangkan potensi daerah setempat.</p><p style="text-align: justify;">Salah satu kendala dalam melakukan pemanjatan di tebing ini adalah kondisi lantai (<em>ground</em>) yang berupa sawah. Sehingga setiap <em>belayer</em><em> </em>disarankan untuk memakai pengaman (<em>cowstail</em>).</p><p style="text-align: justify;">Tebing ini menghadap ke arah timur, dengan pemandangan kota Soreang manakala cuaca sedang cerah. Matahari hanya akan terasa di pagi hari saja. Sebelum pukul 11.00 siang, matahari sudah tertutup kanopi tebing.</p><p style="text-align: justify;">Untuk <em>base camp</em>,berhubung di lokasi ini tidak ada lahan kosong untuk mendirikan tenda, dapat menggunakan saung yang berada di tengah sawah, sekitar 30 meter dari tebing. Pemilik sawah dan saung tersebut adalah Pak Maman. Sebaiknya meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan pemanjatan. Beliau orangnya ramah dan baik.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Potensi Wisata : Keunikan dan Keindahan Lokasi</strong></p><p style="text-align: justify;">Tebing Cadas Gantung berada di lembahan sebuah bukit, dengan sawah sengkedan di sepanjang lerengnya. Hal ini membuat pemandangan dari lokasi tebing semakin memberikan ciri khas Jawa Barat yang berbukit-bukit dengan sawah sengkedan di sekitarnya. Suara bising jalan raya hampir tak terdengar sama sekali, padahal lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Jalan Raya Soreang – Ciwidey.</p><p style="text-align: justify;">Hal yang paling unik dari tebing ini adalah adanya “hujan abadi” yang turun dari ujung kanopi tebing. Hujan ini berasal dari mata air dan akar pohon di hutan yang ada di atas tebing.Meskipun cuaca kemarau panjang, ”hujan” ini akan terus ada. Lokasi tetesan air ini hanya beberapa meter saja dari tebing.</p><p style="text-align: justify;">Sekitar 50 puluh meter di depan tebing, terdapat sungai kecil yang dimanfaatkan oleh warga untuk mengairi sawah. Suara air sungai yang gemercik memberikan suasana pedesaan yang alami yang tenang dan teduh. Tepat di sebelah sungai ini, terdapat punggungan bukit yang mengapit lembahan tempat Tebing Cadas Gantung berada. Mungkin hal inilah yang meredam suara bising kendaraan dari jalan raya.</p><p style="text-align: justify;">Beberapa ratus meter kemudian, tepatnya di tepi jalan raya, terdapat Sungai Ciwidey yang mengalir dengan deras. Menurut informasi, sungai ini pernah dipakai untuk olah raga arung jeram. Dan di atas sungai tersebut, terdapat sebuah jembatan tua, bekas kereta api yang telah beralih fungsi menjadi sarana penyeberangan warga. Bagi yang suka fotografi, jembatan ini layak untuk dipertimbangkan. Terlalu sayang untuk dilewatkan.</p><p style="text-align: justify;">Hutan di atas tebing masih liar dan dihuni oleh segerombolan kera. Uniknya, kera-kera tersebut tidak pernah mengganggu tanaman warga di sekitarnya, apalagi sampai mengganggu warga. Kecuali jika diganggu terlebih dahulu oleh manusia. Konon, menurut cerita warga, terdapat kera putih yang menjaga lokasi tersebut. Kera tersebut merupakan kera jadi-jadian yang menjadi penunggu hutan dan Tebing Cadas Gantung. Mungkin kisah inilah yang membuat keberadaan hutan, tebing, dan kera-kera tersebut masih tetap terjaga kelestariannya.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Saran Jika Ingin Melakukan Pemanjatan</strong></p><p style="text-align: justify;">Mengingat lokasi tebing yang dikelilingi sawah, tanpa ada ruang untuk sekedar menggelar alat, persiapkan pengaman dengan baik. Peralatan yang tidak perlu lebih baik ditaruh di saung yang berada di dekat lokasi. Persiapkan alas kaki, seperti sandal jepit atau sepatu <em>boot</em>. Tidak disarankan untuk  menggunakan sepatu biasa.</p><p style="text-align: justify;">Berhati-hatilah melangkah, karena jika salah melangkah, dapat merusak pematang sawah. Minimalisir pergerakan sepanjang pematang sawah untuk mengurangi kerusakan. Maklum, Anda sedang bertamu dan tidak bayar.</p><p style="text-align: justify;">Persiapkan payung, khususnya buat kamera. Karena ada hujan abadi di sini.</p><p style="text-align: justify;">Jika menemukan kawanan kera sedang turun dari atas tebing, jangan sesekali mengganggu mereka. Karena menurut penuturan warga, kera-kera tersebut tidak akan mengganggu jika mereka tidak diganggu terlebih dahulu.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Tulisan oleh  Bolenk Astacala</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/02/tebing-cadas-gantung-potensi-wisata-alam-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>4</slash:comments> </item> <item><title>Menikmati Keindahan Danau Gunung Tujuh</title><link>http://astacala.org/wp/2012/02/menikmati-danau-tertinggi-di-asia-tenggara/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/02/menikmati-danau-tertinggi-di-asia-tenggara/#comments</comments> <pubDate>Fri, 17 Feb 2012 13:58:05 +0000</pubDate> <dc:creator>arnand</dc:creator> <category><![CDATA[Kisah Perjalanan]]></category> <category><![CDATA[Danau]]></category> <category><![CDATA[Gunung Tujuh]]></category> <category><![CDATA[Kerinci]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3365</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/02/menikmati-danau-tertinggi-di-asia-tenggara/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-001-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Danau Gunung Tujuh" /></a>Tulisan ini merupakan lanjutan cerita perjalanan sebelumnya bersama Bolenk dan Memet ketika mendaki Gunung Kerinci. Usai mendaki Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh. Danau air tawar ini berada di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi dengan ketinggian 2.010 meter di atas permukaan laut (mdpl). [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tulisan ini merupakan lanjutan cerita perjalanan sebelumnya bersama Bolenk dan Memet ketika mendaki Gunung Kerinci.</p><div id="attachment_3367" class="wp-caption aligncenter" style="width: 494px"><img class=" wp-image-3367    " title="Danau Gunung Tujuh" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-001.jpg" alt="" width="484" height="273" /><p class="wp-caption-text">Danau Gunung Tujuh</p></div><p style="text-align: justify;">Usai mendaki Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh. Danau air tawar ini berada di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi dengan ketinggian 2.010 meter di atas permukaan laut (mdpl).</p><div id="attachment_3372" class="wp-caption aligncenter" style="width: 464px"><img class=" wp-image-3372   " title="Kadus Baru Ulu Jernih" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-0021-600x450.jpg" alt="" width="454" height="340" /><p class="wp-caption-text">Kadus Baru Ulu Jernih</p></div><p style="text-align: justify;">Perjalanan dari Tugu Macan menuju Desa Pelompek hanya berjarak sekitar tiga kilometer yang bisa ditempuh menggunakan angkutan  setempat yang berwarna biru. Setibanya di Desa Pelompek kami menyempatkan diri singgah di rumah Kepala Dusun (Kadus) Baru Ulu Jernih (RT setempat) untuk beristirahat sejenak karena memang perjalanan ke Gunung Kerinci kemarin cukup melelahkan.</p><div id="attachment_3376" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3376 " title="Pemandangan Gunung Kerinci dari Desa Pelompek" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-003-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Pemandangan Gunung Kerinci dari Desa Pelompek</p></div><div id="attachment_3377" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3377 " title="Pemandangan di Sepanjang Jalan Desa Pelompek" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-004-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Pemandangan di Sepanjang Jalan Desa Pelompek</p></div><p style="text-align: justify;">Dari Desa ini kita bisa melihat dengan jelas keindahan Gunung Kerinci, karena memang jarak desa ini cukup dekat dengan Gunung Kerinci. Setiap kali Gunung Kerinci sedang dalam status aktif pastilah penduduk Desa Pelompek ini akan selalu diungsikan.</p><p>Mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Pelompek adalah berkebun dan bertani. Makanan sehari-hari mereka yaitu nasi berlauk kentang dan sambel yang sangat nikmat rasanya. Masyarakat di sana pun sangat ramah. Pemandangan sekitar juga masih sangat alami. Birunya langit, aliran air di sepanjang pinggiran jalan, dan juga warna hijau padi merupakan pemandangan yang sangat langka yang tidak akan kita dapatkan di kota.</p><div id="attachment_3378" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3378 " title="Aliran Air di Sepanjang Pinggiran Sawah" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-005-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Aliran Air di Sepanjang Pinggiran Sawah</p></div><p style="text-align: justify;">Setelah bersinggah dua hari di rumah Pak Kadus kami meneruskan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh. Dari pintu masuk Danau Gunung Tujuh kami dikenakan biaya tiket sebesar Rp 3.000,00 ;ini sudah termasuk biaya asuransi jiwa.</p><p>Untuk mencapai danau kami harus mendaki selama tiga jam dari pintu masuk Gunung Tujuh. Awal pendakian akan terlihat pemandangan Gunung Kerinci dan perkebunan sayur. Setelah itu jalur mulai menanjak dan berakar. Setelah sampai di puncak Gunung Tujuh, kami harus menuruni gunung sekitar sepuluh menit dengan menapaki jalur yang sangat curam dan berakar.</p><div id="attachment_3379" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3379 " title="Pemandangan Danau di Senja Hari" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-006-600x338.jpg" alt="" width="480" height="270" /><p class="wp-caption-text">Pemandangan Danau di Senja Hari</p></div><p style="text-align: justify;">Namun, sesampainya di danau, semua keletihan akan langsung terbayar. Pemandangan danau yang seperti laut ini membuat kami terperangah sesaat. Tidak ada pengunjung selain kami saat kami tiba di danau. Danau yang luas ini serasa seperti danau pribadi milik kami. Meskipun kabut tebal berterbangan di atas danau namun suara gemuruh air terjun dan suara kera sudah cukup melengkapi kepuasan kami saat menapaki Danau Gunung Tujuh ini.</p><p>Sesuai namanya danau ini dikelilingi oleh tujuh gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl). Perkiraan kami di beberapa gunung ini terdapat sumber air, yang menyebabkan air di danau ini tidak pernah habis.</p><div id="attachment_3380" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3380 " title="Mencari Kayu Bakar di Seberang Danau" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-007-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Mencari Kayu Bakar di Seberang Danau</p></div><p style="text-align: justify;">Setelah mendirikan tenda kami berjalan menyusuri danau. Tanpa disengaja kami menemukan sampan milik nelayan, langsung saja kami membawanya ke depan tenda kami. Sampan ini kami gunakan untuk mencari kayu bakar di seberang danau, karena untuk mencari kayu di dataran ini sangat sulit, bahkan ketika kami kembali ke puncak pun kayu bakar masih sulit untuk ditemukan.Hal ini disebabkan vegetasi hutan tropis Taman Nasional Gunung Kerinci yang basah.</p><div id="attachment_3381" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3381 " title="Ikan Pertama yang Kami Dapat" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-008-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Ikan Pertama yang Kami Dapat</p></div><p style="text-align: justify;">Memancing menjadi pilihan kami saat berada di sana untuk dijadikan menu tambahan makanan kami. Benar saja,baru beberapa saat menaruh umpan, Bolenk sudah mendapatkan empat ekor ikan. Meskipun ikannya tidak terlalu besar tapi lumayanlah untuk dijadikan lauk malam ini.</p><div id="attachment_3383" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3383 " title="Skipper Kami Saat Menyebrangi Danau" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-009-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Skipper Kami Saat Menyeberangi Danau</p></div><p style="text-align: justify;">Hari kedua pun datang. Karena kami penasaran dengan daratan pulau di seberang danau ini, maka kami memutuskan untuk mengarungi danau ini dengan menggunakan sampan yang kami temukan kemarin. Suara gemuruh kera dan hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami ke seberang danau.</p><div id="attachment_3384" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3384 " title="Foto di Depan Rumah Semi Permanen Milik Nelayan Setempat" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-010-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Foto di depan rumah semi permanen milik nelayan setempat</p></div><p style="text-align: justify;">Tak di sangka,setelah tiba, ternyata banyak rumah semi permanen yang sepertinya sering digunakan para nelayan untuk bersinggah. Bahkan ada beberapa rumah yang pintunya masih tergembok. Namun ada pula beberapa rumah yang terbuka.Karena cuaca saat itu hujan sedang turun dengan lebat,langsung saja kami memasukinya untuk berteduh beberapa saat. Setelah empat jam &#8220;pengarungan&#8221; akhirnya kami memutuskan kembali ke tenda.</p><p>Sekitar pukul dua siang kami beranjak pergi dari Danau Gunung Tujuh ini. Dua jam perjalanan kami lalui untuk tiba kembali ke Desa Pelompek. Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali ke Bandung menggunakan bus dari Padang selama tiga hari dua malam.</p><div id="attachment_3385" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3385 " title="Foto Bersama Pak Kadus" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-011-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Foto Bersama Pak Kadus</p></div><p style="text-align: justify;">Cukuplah puas dengan perjalananku yang hampir satu bulan ini. Terima kasih kepada Pak Kadus Ulu Jernih karena telah berbaik hati memberi tempat persinggahan kami selama dua hari.</p><div id="attachment_3386" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3386 " title="Pemandangan Danau di Siang Hari Saat Berkabut" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/dg7-012-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Pemandangan Danau di Siang Hari Saat Berkabut</p></div><p style="text-align: justify;">Suatu kebanggaan bagi negaraku mempunyai danau air tawar tertinggi di Asia Tenggara. Saatnyalah bagi kita, rakyat Indonesia untuk menjaga dan melestarikannya.</p><p><strong>Tulisan oleh Arnan Tri Arminanto</strong><br /> <strong>Foto oleh Tim Pendakian Gunung Kerinci Astacala 2011</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/02/menikmati-danau-tertinggi-di-asia-tenggara/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Ngaleut, Mengenal Bandung Lebih Dekat</title><link>http://astacala.org/wp/2012/02/ngaleut-mengenal-bandung-lebih-dekat/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/02/ngaleut-mengenal-bandung-lebih-dekat/#comments</comments> <pubDate>Wed, 08 Feb 2012 15:27:47 +0000</pubDate> <dc:creator>petong</dc:creator> <category><![CDATA[Serba Serbi]]></category> <category><![CDATA[Bandung]]></category> <category><![CDATA[Dayeuhkolot]]></category> <category><![CDATA[Sejarah]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3494</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/02/ngaleut-mengenal-bandung-lebih-dekat/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/aleut0021-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Foto Bersama Komunitas Aleut di Pendopo Walikota Bandung" /></a>Saya yakin setiap kota mempunyai cerita masa lalu yang unik dan sangat menarik untuk dipelajari. Cerita tersebut perlu dijaga agar kelak kita tidak menjadi generasi yang buta dan lupa akan sejarah. Kota Bandung sebagai salah satu kota yang banyak terdapat cagar budaya yang menyimpan cerita masa lalu yang mengagumkan. Tempat-tempat bersejarah tersebut sering luput dari [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya yakin setiap kota mempunyai cerita masa lalu yang unik dan sangat menarik untuk dipelajari. Cerita tersebut perlu dijaga agar kelak kita tidak menjadi generasi yang buta dan lupa akan sejarah. Kota Bandung sebagai salah satu kota yang banyak terdapat cagar budaya yang menyimpan cerita masa lalu yang mengagumkan. Tempat-tempat bersejarah tersebut sering luput dari mata kita. Mencari tahu tentang cerita yang tersembunyi di balik megahnya bangunan tua, kehidupan sosial yang unik, dan budaya warga Bandung tempo dulu adalah hal yang bisa membuat kita akan semakin menghargai kota dengan cara yang benar.</p><div id="attachment_3500" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3500 " title="Foto Bersama Komunitas Aleut di Pendopo Walikota Bandung" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/aleut0021-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Foto Bersama Komunitas Aleut di Pendopo Walikota Bandung</p></div><p style="text-align: justify;">Sebagai generasi muda, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghidupi kota dengan hal yang bermanfaat. Bentuk dari apresiasi terhadap hal tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan yang &#8216;gaul&#8217; dan bersahabat. Mengenal kota Bandung secara lebih dekat dengan mengenal segala macam yang berhubungan dengan sejarah kota Bandung tempo dulu bisa menjadi pilihan. Telah banyak diceritakan dalam sejarah atau berita tentang indahnya Bandung tempo dulu yang bergelar &#8216;Paris Van Java&#8217; itu. Menarik untuk mencari tahu tentang sejarah dan cerita dibaliknya. Semua itu tentu berhubungan dengan sejarah kehidupan dan cerita masa lalu. Banyak bukti sejarah berupa bangunan tua yang tersebar di sekitar jalan Braga, Jalan Asia-Afrika, seputaran aliran Sungai Cikapundung dan tempat-tempat lain yang menarik untuk ditelusuri.</p><div id="attachment_3502" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3502 " title="Sharing Cerita dan Foto Bandung Tempo Dulu" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/aleut0011-600x450.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Sharing Cerita dan Foto Bandung Tempo Dulu</p></div><p style="text-align: justify;">Akhir januari kemarin, saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan bersama Komunitas Aleut. Komunitas ini memilih mengenal Kota Bandung dengan belajar tentang sejarah dan budaya Bandung dari semua yang telah ditinggalkan dari masa lalu dan membagi pengetahuan kepada sesama penggiatnya. Komunitas ini berdiri sejak 2006 dan kegiatan mingguan mereka adalah menelusuri tempat bersejarah dan berbagi ilmu tentang tempat tersebut ke sesama. Saya sempat &#8216;<em>ngaleut</em>&#8216; (istilah untuk kegiatan Aleut) yang bertemakan tentang bangunan tua di sekitar jalan Asia-Afrika dan bangunan tua di sekitar daerah Cikapundung.</p><p style="text-align: justify;">Dari <em>ngaleut</em> hari itu, saya banyak sekali mendapat cerita dan informasi baru tentang sepenggal sejarah Kota Bandung pada masa lalu. Bagaimana sejarah tentang perpindahan ibu kota, tentang cerita perpindahan Kota Bandung yang dulunya berada di daerah Dayeuhkolot. Bukan hanya cerita awal mula Kota Bandung tapi juga cerita tentang keadaan Bandung di masa penjajahan dan zaman perjuangan kemerdekaan. Mengunjungi beberapa tempat sejarah seperti bekas sel tahanan Soekarno di penjara Banceuy, melihat gedung bekas bioskop zaman Belanda dan mengunjungi Sumur Bandung yang ternyata memang benar adanya.</p><p style="text-align: justify;">Semoga dengan adanya komunitas seperti ini membuat semakin banyak warga khususnya warga Bandung untuk bisa menjaga benda peninggalan sejarah. Besar harapan pada pemerintah kota untuk lebih bijaksana dalam menangani tata kota yang semakin hari semakin membuat bangunan tua yang bersejarah semakin terjepit dan tersingkirkan.</p><p><strong>Tulisan oleh Isack Farady</strong><br /> <strong>Foto oleh Isack Farady dan Komunitas Aleut</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/02/ngaleut-mengenal-bandung-lebih-dekat/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>3</slash:comments> </item> <item><title>Buletin Bivak Februari 2012</title><link>http://astacala.org/wp/2012/02/3486/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/02/3486/#comments</comments> <pubDate>Fri, 03 Feb 2012 06:28:12 +0000</pubDate> <dc:creator>gejor</dc:creator> <category><![CDATA[Berita dan Peristiwa]]></category> <category><![CDATA[Bivak]]></category> <category><![CDATA[Buletin]]></category> <category><![CDATA[Majalah]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3486</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/02/3486/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/bivak_februari2012-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Buletin Bivak Februari 2012" /></a>Satu bulan bukanlah waktu yang cukup panjang untuk menyiapkan satu terbitan, namun bukan pula waktu yang cukup pendek untuk tidak melakukan apa-apa. Dengan tuntutan konsistensi terbitan itulah kami berusaha menyiapkan edisi ini dengan lebih matang lagi. Pada edisi ini kami sajikan liputan tentang kegitan rutin kami, dan mungkin di semua organisasi, yaitu kaderisasi. Dalam wujudnya [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3488" class="wp-caption alignleft" style="width: 237px"><img class=" wp-image-3488 " title="Buletin Bivak Februari 2012" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/bivak_februari2012.jpg" alt="" width="227" height="321" /><p class="wp-caption-text">Buletin Bivak Februari 2012</p></div><p style="text-align: justify;">Satu bulan bukanlah waktu yang cukup panjang untuk menyiapkan satu terbitan, namun bukan pula waktu yang cukup pendek untuk tidak melakukan apa-apa. Dengan tuntutan konsistensi terbitan itulah kami berusaha menyiapkan edisi ini dengan lebih matang lagi.</p><p>Pada edisi ini kami sajikan liputan tentang kegitan rutin kami, dan mungkin di semua organisasi, yaitu kaderisasi. Dalam wujudnya berupa Pendidikan Dasar yang telah berlangsung 20 kali, kami mengadakan kaderisasi dengan tujuan merekrut angkatan-angkatan baru dengan visi baru, dengan semangat baru, dan dengan tenaga baru untuk terus berbakti pada alam dan lingkungan, serta memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya.</p><p>Dalam edisi ini Anda juga akan menjumpai kisah perjalanan menuju Danau Kelimutu. Ditambah pula opini mengenai semangat Astacala yang ingin disampaikan oleh salah satu anggota dengan harapan bisa meningkatkan semangat dalam diri anggota. Selain itu, diberikan pula tulisan mengenai bisnis jual beli perlengkapan outdoor disertai tips ketika membeli secara online.</p><p>Mengutip kata bijak penerbitan media, bahwa menerbitkan satu edisi media adalah perkara gampang, yang lebih sulit adalah menjaga konsistensi untuk selalu bertahan dan tetap terbit. Kami akan terus berusaha menerbitkan buletin ini di masa yang akan datang.</p><p>Salam.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/02/3486/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Kisah Konyol dari Gunung Rinjani</title><link>http://astacala.org/wp/2012/01/kisah-konyol-dari-gn-rinjani/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/01/kisah-konyol-dari-gn-rinjani/#comments</comments> <pubDate>Tue, 31 Jan 2012 11:03:42 +0000</pubDate> <dc:creator>bolenk</dc:creator> <category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category> <category><![CDATA[Cinta]]></category> <category><![CDATA[Halle Berry]]></category> <category><![CDATA[Rinjani]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3464</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/01/kisah-konyol-dari-gn-rinjani/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/Halle_Berry_03-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Halle Berry" /></a>Kulitnya hitam manis, elegan, sexylah. Mirip Halle Berry. Ada lesung pipi di senyumnya. Rambutnya hitam bergelombang. Badannya gak gemuk, gak kurus, tapi padat berisi, pas lah. &#8220;Where do you come from?&#8221; aku mulai nanya, beramah-tamah. Tak peduli dengan vocabulary, tenses, grammar, toefl, atau apalah. Bodo amat. &#8220;France&#8221; jawabnya. Lesung pipinya terlihat lagi. Aku terus mencoba bertanya [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3476" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/Halle_Berry_03.jpg"><img class=" wp-image-3476 " title="Halle Berry" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/Halle_Berry_03.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">Halle Berry</p></div><p style="text-align: justify;">Kulitnya hitam manis, elegan, <em>sexylah</em>. Mirip Halle Berry. Ada lesung pipi di senyumnya. Rambutnya hitam bergelombang. Badannya <em>gak</em> gemuk,<em> gak</em> kurus, tapi padat berisi, <em>pas lah</em>.</p><p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Where do you come from?&#8221;</em> aku mulai nanya, beramah-tamah. Tak peduli dengan <em>vocabulary, tenses, grammar, toefl, </em>atau apalah. <em>Bodo amat</em>.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;France&#8221; jawabnya. Lesung pipinya terlihat lagi.</p><p style="text-align: justify;">Aku terus mencoba bertanya ini itu. <em>Cas cis cus</em>. Hanya untuk sekedar melihat lesung pipinya lagi. Aku harus hati-hati, jangan sampai <em>malu-maluin</em>, pikirku.</p><p style="text-align: justify;"><em>&#8220;What your parent&#8217;s origin from?&#8221; </em>Dar!! Kali ini gobloknya keluar juga. Maksudnya, &#8220;<em>bonyok lu</em> aslinya darimana? Kok kulit <em>lu item gitu</em>?&#8221;. Begitulah kira-kira yang kumaksud. Tapi terlanjur, mulut sudah berucap.</p><p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ha?I don&#8217;t understand..&#8221;  </em>jawabnya, pake senyuman yang manis, alami, tanpa pemanis buatan. Aduhai.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Maksudnya apaan mas?&#8221; tanya <em>guide</em>nya yang dari tadi ikut ngobrol.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Aslinya darimana?&#8221; jawabku ke mas <em>guide</em> itu. Disambut dengan senyum, kemudian disampaikan ke cewek bule itu, dengan bahasa yang lebih benar.</p><p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Oh, ya. I see. My parents come from Karibia.You know Karibia?&#8221; </em>senyumnya lagi.</p><p style="text-align: justify;">Imanjinasiku membayangkan Karibia dengan pantainya yang indah, doi jadi gadis pantainya.Yeah.</p><p style="text-align: justify;">***<br /> Topik mulai habis. Sebenarnya bukan habis sih, buat cewek semanis itu <em>gak</em> <em>mungkinlah</em> ada kata habis buat <em>ngobrol</em>.Yang habis cuman koleksi pertanyaan bahasa inggris ku. Sayang sekali.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Ca, lu masih ada rokok gak?&#8221; tanyaku ke Oca.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Masih ada banyak. Garpit yang kalengan. Emang kenapa?&#8221;</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Tawarin ke bule-bule itu. Basa-basi, Ca. Biar makin akrab,&#8221; cengirku.</p><p style="text-align: justify;">Awalnya Oca <em>gak</em> mau.Tapi karena terus dibujuk, leleh juga. Terlalu kalau dia gak mau, jarang-jarang aku bertingkah begini.</p><p style="text-align: justify;">Akhirnya, aku pun menawarkan rokok itu ke mereka. Si cewek turunan Karibia menerimanya. Sambil ngomong <em>&#8220;Thank you&#8221;, </em>senyumnya muncul lagi. Lesung pipinya itu <em>loh</em>.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Mas, bisa minta tolong gak? Tapi harus janji ya..&#8221; pintaku lagi ke <em>guide</em>nya.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Boleh. Apaan, mas?&#8221;</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Nanti kalau saya sama temen saya udah turun, tolong sampein salam saya buat cewek ini. Yang hitam manis, turunan Karibia ini. Bilang dia cantik. Saya suka warna kulitnya yang hitam manis dan rambutnya yang bergelombang. Bisa ya mas? Tapi setelah saya turun.&#8221;</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, sip mas. Gampang&#8221;, kata si mas nya. Cengar cengir, tersenyum geli. <em>Sebenernya</em>, aku berani <em>aja ngomong</em> langsung. Tapi bahasa inggrisnya apa ya?</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Ca, kita turun&#8221;, kataku ke Oca yang dari tadi udah cengar cengir <em>nahan</em> ketawa.</p><p style="text-align: justify;">Setelah basa-basi pamitan sama bule-bule itu, kami pun bersiap angkat <em>carier</em>. Pas lagi tahan napas buat angkat carrier, terjadilah insiden itu.</p><p style="text-align: justify;"><em>&#8220;He said to me, he like you. He also said, you are beautifull. But he don&#8217;t know how to say that in English&#8221;,</em> kata si <em>guide</em>nya. Kampret!!</p><p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Oh, ya? Really? Oh,so sweet. Thank you&#8221;</em>, kata si nona darah Karibia itu. Senyumnya senang.</p><p style="text-align: justify;">Mukaku merah padam sambil senyum menahan malu. <em>Gak</em> tau mau bilang apa. Hanya <em>sok</em> sibuk<em> pengen</em> cepat turun.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Sialan lu mas. Ingkar janji&#8221; kataku bercanda ke si <em>guide</em>nya, disambut tawa terbahak. Oca akhirnya ketawa juga,gak bisa nahan lagi. Kampret!</p><p style="text-align: justify;">Akhirnya, aku sama Oca pun jalan. Buru-buru.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo ca. Cepetan. Malu banget nih gw&#8221;.</p><p style="text-align: justify;">Si Oca masih aja ketawa sambil jalan. Puas kayaknya dia.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh kenapa tadi gw gak minta alamat emailnya ya?Waduh..sayang banget nih.Gimana ya?&#8221; kataku lagi. Si Oca malah makin ngakak.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Ah, sialan lu Ca. <em>Seneng banget lw kayaknya ngetawain gw&#8221;</em>, gak jelas. Tawanya mulai reda, mau ngomong kayaknya. Jarang-jarang tuh.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Hahahahaha..minta aja tuh harusnya tadi. Kayaknya si cewek tadi asik-asik aja tuh orangnya. Supel&#8221; kata si Oca, sok pinter. Bikin perasaan makin nyesal. Makin nyiksa. Makin galau.</p><p style="text-align: justify;">&#8220;Iya ya. Harusnya tadi <em>gw</em> minta,tapi kok <em>gak</em> <em>kepikiran</em> ya tadi&#8221;, kataku. Oca ngakak lagi.</p><p style="text-align: justify;">Yah, kesempatan itu sudah berlalu. Tapi, ya sudahlah. Kalau memang jodoh, nanti akan bertemu lagi. Biarlah kisah ini jadi pemanis untuk mengenang perjalanan kali ini. Gunung Rinjani memang selalu punya kejutan untuk setiap pengunjungnya. Lembayung senja pun turun.</p><p style="text-align: justify;">*</p><p style="text-align: justify;"><em>Kusangka cempaka kembang setangkai<br /> Rupanya melur telah diseri ….<br /> Hatiku remuk mengenangkan ini<br /> Wasangka dan was-was silih berganti.</em></p><p style="text-align: justify;"><em>Kuharap cempaka baharu kembang<br /> Belum tahu sinar matahari ….<br /> Rupanya teratai patah kelopak<br /> Dihinggapi kumbang berpuluh kali.</em></p><p style="text-align: justify;"><em>Kupohonkan cempaka<br /> Harum mula terserak ….<br /> Melati yang ada<br /> Pandai tergelak ….</em></p><p style="text-align: justify;">Puisi &#8216;<em>Buah Rindu</em>&#8216; Karya Amir Hamzah</p><p style="text-align: justify;"><strong>Tulisan oleh Oknum Astacala</strong><br /> <strong>Foto Foto Halle Berry Diambil dari <a href="http://www.galawallpapers.net/tag/halle-berry">Gala Wallpaper</a></strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/01/kisah-konyol-dari-gn-rinjani/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>13</slash:comments> </item> <item><title>Sebuah Coretan untuk Direnungkan</title><link>http://astacala.org/wp/2012/01/sebuah-coretan-untuk-direnungkan/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/01/sebuah-coretan-untuk-direnungkan/#comments</comments> <pubDate>Sun, 29 Jan 2012 06:52:12 +0000</pubDate> <dc:creator>bolenk</dc:creator> <category><![CDATA[Astacala Blog]]></category> <category><![CDATA[Astacala]]></category> <category><![CDATA[Kawah Asa]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3445</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/01/sebuah-coretan-untuk-direnungkan/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/S5000220-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Angkatan Kawah Asa, Astacala" /></a>ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!! * * * Oknum yang bertanya itu adalah Singo. Suaranya lantang, tanpa ragu, tanpa basa-basi, tegas, dan jelas. “Apakah mereka layak menjadi saudara kita?” Aku kaget mendengar pertanyaan yang bernada ragu itu. Komandan Latihan dan para panitia pun bingung untuk menjawab, sejenak mereka saling pandang. Setelah semua penderitaan ini, mengapa pertanyaan itu [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><strong>ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!</strong></p><p>* * *</p><p>Oknum yang bertanya itu adalah Singo. Suaranya lantang, tanpa ragu, tanpa basa-basi, tegas, dan jelas.</p><p>“Apakah mereka layak menjadi saudara kita?”</p><p style="text-align: justify;">Aku kaget mendengar pertanyaan yang bernada ragu itu. Komandan Latihan dan para panitia pun bingung untuk menjawab, sejenak mereka saling pandang. Setelah semua penderitaan ini, mengapa pertanyaan itu yang muncul? Aku mengharapkan yang lebih baik.</p><p style="text-align: justify;">Sebelas hari bukanlah waktu yang singkat untuk dilupakan. Setelah melewati <em>long march</em>, materi kelas, praktik gunung hutan, direndam, disiram, dikoprol, dipush up, beberapa hari survival, sampai tidur kalong yang menyebalkan, masih saja dapat pertanyaan itu. Bahkan, di menit-menit akhir penutupan pun, kami masih diminta push up 15 seri, kami masih sanggup. Push up yang tak jelas esensinya apa. Tetapi mengapa harus pertanyaan itu?</p><p>Hari itu adalah hari yang bersejarah buatku, 28 Januari 2007.</p><div class="mceTemp" style="text-align: justify;"><dl id="attachment_3449" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px;"><dt class="wp-caption-dt"><a href="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/S5000220.jpg"><img class=" wp-image-3449 " title="Angkatan Kawah Asa, Astacala" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/S5000220.jpg" alt="" width="480" height="360" /></a></dt><dd class="wp-caption-dd">Angkatan Kawah Asa, Astacala</dd></dl></div><p><strong>* * *<br /> </strong></p><p style="text-align: justify;">Sejak itu, 18 orang resmi menjadi anggota PMPA Astacala IT Telkom. Tak terasa, sudah 5 tahun berlalu sejak hari itu. Tak sedikit yang terjadi selama rentang waktu itu. Seharusnya, waktu yang 5 tahun itu sudah cukup untuk membuat perubahan besar dalam hidup seseorang. Mereka yang dulu berdiri dengan topi rimba dan slayer oranye seharusnya sudah tidak sama lagi, sudah menjadi manusia-manusia yang memiiki jiwa Astacala yang tangguh.</p><p style="text-align: justify;">Namun demikian, semangat, ambisi, dan obsesi akan petualangan menakjubkan yang kurasakan sekarang masih sama dengan 5 tahun lalu. Berbagai kegagalan silih berganti sudah dialami. Ekspedisi Sumatera, Ekspedisi Tebing Sepikul, pendakian Gunung Slamet dan Argopuro, pendakian 5 puncak di 5 pulau, sampai tidak lulusnya beberapa orang adik dalam Sidang Anggota Muda adalah bukti nyata banyaknya kegagalan yang kualami. Masih banyak lagi kegagalan yang lain. Tak ada catatan bagus yang bisa membuatku puas atau tersenyum bangga. Sementara gletser di Cartenz mulai mencair, tak mau menunggu.</p><p>Sudah lima tahun, tapi aku belum puas dengan pencapaian yang ada.</p><p><strong>* * *</strong></p><p>Sebuah pertanyaan : setelah masuk Astacala, apa yang seharusnya diperoleh?</p><p style="text-align: justify;">Hanya sedikit referensi tertulis di Astacala yang bisa memberikan jawabannya. Salah satunya ada di Anggaran Dasar. Dalam Anggaran Dasar Astacala, dituliskan bahwa tujuan Astacala adalah <em>”</em><em>untuk melaksanakan Peran Perguruan Tinggi sebagai pusat pengembangan dan penelitian ilmu pengetahuan, tempat pengabdian masyarakat serta tempat mendidik manusia agar mempunyai jiwa yang jujur, bertanggung jawab, percaya kepada diri sendiri, bersusila, mempunyai keseimbangan mental dan fisik, penuh pengabdian kepada masyarakat, mempunyai jiwa korsa serta bijaksana</em><em>”.</em></p><p style="text-align: justify;">Selain itu, juga dituliskan “<em>bertujuan turut serta meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang  Maha Esa, mengembangkan kepribadian anggota hingga tumbuh rasa percaya kepada diri sendiri, berani menghadapi kenyataan, cinta tanah air dan mempererat rasa persaudaraan di antara sesama anggota pada khususnya dan pada masyarakat tanpa membedakan suku, ras, golongan, agama, dan kepercayaan masing-masing</em><em>”.</em></p><p style="text-align: justify;">Sudahkah hal itu tercapai? Sudahkah setiap anggota Astacala memiliki jiwa itu? Sudahkah pendidikan dasar yang beradu sangar, kehidupan sekretariat yang berat, dan perjalanan panjang yang mengharu-biru itu membuat kita menjadi lebih baik?</p><p><strong>* * *</strong></p><p>Mereka yang sudah 5 tahun atau sudah selesai dari kampus ini,seharusnya sudah memiliki itu. Setidaknya sebagian.</p><p><strong>ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!</strong></p><p><strong>* * *</strong></p><p><em>Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa</em><br /> <em>Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui</em><br /> <em>Apakah kau masih selembut dahulu</em><br /> <em>Memintaku minum susu dan tidur yang lelap</em><br /> <em>Sambil membenarkan letak leher kemejaku</em><br /> <em>Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih</em><br /> <em>Lembah Mandalawangi</em><br /> <em>Kau dan aku tegak berdiri</em><br /> <em>Melihat hutan-hutan yang menjadi suram</em><br /> <em>Meresapi belaian angin yang menjadi dingin</em><br /> <em>Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu</em><br /> <em>Ketika kudekap</em><br /> <em>Kau dekaplah lebih mesra</em><br /> <em>Lebih dekat</em><br /> <em>Apakah kau masih akan berkata</em><br /> <em>Kudengar detak jantungmu</em><br /> <em>Kita begitu berbeda dalam semua</em><br /> <em>Kecuali dalam cinta</em></p><p><strong>Tulisan oleh Bolenk Astacala</strong><br /> <strong>Foto dari Dokumentasi Astacala</strong><br /> <strong>Puisi dari OST Gie &#8211; Cahaya Bulan</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/01/sebuah-coretan-untuk-direnungkan/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>5</slash:comments> </item> <item><title>Drama Perpisahan</title><link>http://astacala.org/wp/2012/01/drama-perpisahan/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/01/drama-perpisahan/#comments</comments> <pubDate>Mon, 16 Jan 2012 21:10:45 +0000</pubDate> <dc:creator>gejor</dc:creator> <category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category> <category><![CDATA[Astacala]]></category> <category><![CDATA[PDA 20]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3434</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/01/drama-perpisahan/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/P1060106-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Siswa PDA 20" /></a>Sebuah kisah dari kegiatan saat materi survival Pendidikan Dasar Astacala 20. Para siswa yang berhari-hari melalui medan pendidikan dasar bersama, otomatis membuat rasa persaudaraan semakin kental di antara mereka yang senasib sepenanggunangan. Sampai kemudian satu orang siswa berniat mengundurkan diri dari pendidikan ini karena merasa fisiknya tidak mampu lagi untuk melanjutkan sampai penutupan nanti. Komandan [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah kisah dari kegiatan saat materi survival Pendidikan Dasar Astacala 20. Para siswa yang berhari-hari melalui medan pendidikan dasar bersama, otomatis membuat rasa persaudaraan semakin kental di antara mereka yang senasib sepenanggunangan. Sampai kemudian satu orang siswa berniat mengundurkan diri dari pendidikan ini karena merasa fisiknya tidak mampu lagi untuk melanjutkan sampai penutupan nanti. Komandan lapangan pun dengan tegas dan berwibawa (lengkap dengan wajah sangar, kejam, dan bengis) memberikan pilihan itu sepenuhnya kepada siswa yang mau mengundurkan diri tersebut. Tak ada ragu-ragu! Maju ya maju. Mundur ya mundur.</p><div id="attachment_3437" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3437 " title="Siswa PDA 20" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/P1060106-600x450.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Siswa PDA 20</p></div><p style="text-align: justify;">Akhirnya siswa itu pun dengan tekad bulat memutuskan untuk mengundurkan diri. Pada saat upacara pengunduran diri, terjadilah sebuah peristiwa yang dramatis dan mengharukan. Di depan panitia dan siswa-siswa lainnya, oknum siswa yang mengundurkan diri tersebut bercerita bahwa sebenarnya ia masih sangat ingin melanjutkan perjuangan bersama para siswa lainnya, tapi apa daya tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Ia berkata bahwa dengan berat hati ia harus mengundurkan diri meninggalkan teman-teman seperjuangannya. Ia berpesan pada teman-temannya sesama siswa untuk tetap menjaga kekompakan dan bertahan sampai di hari penutupan pendidikan dasar nanti. Bahkan seorang siswa lain yang ingin mengikuti jejaknya untuk ikut mundur dibentak dan dimarahinya saat upacara penutupan itu. Bahwa tidak seharusnya mereka itu mengikutinya untuk mundur. Bahwa mereka yang tersisa masih sehat dan sanggup untuk menyelesaikannya. Dalam keletihan fisiknya, ia berkata dengan berapi-api memberikan semangat kepada teman-temannya.</p><p style="text-align: justify;">Dan tak disangka-sangka, tanpa dikordinasi seluruh siswa kompak meneteskan air mata. Menangis terharu. Begitu juga pada beberapa orang panitia, termasuk sang komandan lapangan yang berwajah sangar, kejam, dan bengis. Wajah sang komandan menengadah ke atas. Dan ketika menghadap tegak lurus ke depan, terlihatlah air mata berlinang di pipinya. Duh&#8230; Sesangar-sangarnya komandan, ia melankolis juga. Bisa menangis tersedu dalam keharuan.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Tulisan oleh I Komang Gde Subagia</strong><br /> <strong>Foto oleh Ayis Nurwita</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/01/drama-perpisahan/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>17</slash:comments> </item> <item><title>Cerita Sarung Bag</title><link>http://astacala.org/wp/2012/01/cerita-sarung-bag/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/01/cerita-sarung-bag/#comments</comments> <pubDate>Mon, 16 Jan 2012 20:08:45 +0000</pubDate> <dc:creator>gejor</dc:creator> <category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category> <category><![CDATA[Astacala]]></category> <category><![CDATA[PDA 20]]></category> <category><![CDATA[Sarung Bag]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3420</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/01/cerita-sarung-bag/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/sb2-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Cerita Sarung Bag" /></a>Sehari menjelang pemberangkatan praktik lapangan besar Pendidikan Dasar Astacala 20, kegiatan siswa pendidikan dasar adalah melaksanakan packing perlengkapan yang diawasi oleh panitia. Saat itu, tersebutlah seorang siswa yang bertubuh kecil mungil sedang packing sebuah sarung bag yang memancing perhatian salah seorang panitia. Seperti yang umum diketahui oleh para penggiat alam terbuka khususnya di kalangan Astacala, [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sehari menjelang pemberangkatan praktik lapangan besar Pendidikan Dasar Astacala 20, kegiatan siswa pendidikan dasar adalah melaksanakan packing perlengkapan yang diawasi oleh panitia. Saat itu, tersebutlah seorang siswa yang bertubuh kecil mungil sedang packing sebuah sarung bag yang memancing perhatian salah seorang panitia.</p><div id="attachment_3431" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class=" wp-image-3431 " title="Cerita Sarung Bag" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/sb2-600x400.jpg" alt="" width="480" height="320" /><p class="wp-caption-text">Cerita Sarung Bag</p></div><p style="text-align: justify;">Seperti yang umum diketahui oleh para penggiat alam terbuka khususnya di kalangan Astacala, sarung bag adalah dua buah sarung yang dijarit untuk disambung menjadi satu di mana salah satu ujungnya ditutup yang nantinya berfungsi sebagai kantong tidur. Nah, apa yang menjadi menarik adalah sarung bag yang dibuat oleh siswa tersebut hanya terbuat dari satu sarung. Tentu saja ketika melihat hal tersebut si oknum panitia melakukan koreksi dan menjelaskan panjang lebar tentang sarung bag yang harusnya terbuat dari dua buah sarung, yang kemudian si panitia meminta si siswa ini memperbaiki sarung bag miliknya. Si oknum siswa ini pun membantah dan menjawab bahwa satu sarung saja cukup untuknya sebagai sarung bag. Mau bukti? Sambil tersenyum polos, si oknum siswa ini pun masuk ke dalam satu sarung tersebut. Entah memang tubuh siswa yang kecil mungil atau memang sarungnya yang kepanjangan, hasilnya sarung tersebut memang bisa menelan seluruh tubuhnya. So, sarung bag yang katanya terbuat dari dua sarung pun terbantahkan. Akhirnya, tinggal si kakak panitia yang garuk-garuk kepala tidak bisa menyanggah alasan si siswa. Oalah&#8230;!!!</p><p><strong>Tulisan dan Foto oleh I Komang Gde Subagia</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/01/cerita-sarung-bag/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>20</slash:comments> </item> <item><title>Pendidikan Dasar Astacala 20</title><link>http://astacala.org/wp/2012/01/pendidikan-dasar-astacala-20/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/01/pendidikan-dasar-astacala-20/#comments</comments> <pubDate>Mon, 16 Jan 2012 15:00:42 +0000</pubDate> <dc:creator>Ilfan Firqad</dc:creator> <category><![CDATA[Berita dan Peristiwa]]></category> <category><![CDATA[Astacala]]></category> <category><![CDATA[Lembah Hujan]]></category> <category><![CDATA[PDA 20]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3411</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/01/pendidikan-dasar-astacala-20/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/P1060227-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Angkatan Astacala, Lembah Hujan" /></a>Pendidikan Dasar Astacala (PDA) 20 yang merupakan tahapan awal yang harus dilalui seorang calon anggota Astacala telah selesai dilaksanakan dan ditutup pada tanggal 15 Januari 2012 lalu. Pendidikan dasar ini merupakan suatu proses regenerasi untuk menyamakan persepsi antara calon anggota dengan Astacala, tentang keorganisasian Astacala, kepecintaalaman dan kegiatan alam terbuka. Sehingga diharapkan setelah melalui tahapan [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pendidikan Dasar Astacala (PDA) 20 yang merupakan tahapan awal yang harus dilalui seorang calon anggota Astacala telah selesai dilaksanakan dan ditutup pada tanggal 15 Januari 2012 lalu. Pendidikan dasar ini merupakan suatu proses regenerasi untuk menyamakan persepsi antara calon anggota dengan Astacala, tentang keorganisasian Astacala, kepecintaalaman dan kegiatan alam terbuka. Sehingga diharapkan setelah melalui tahapan ini mereka yang lulus akan mempunyai persamaan visi dan misi yang sama dalam satu wadah Astacala.</p><div id="attachment_3413" class="wp-caption aligncenter" style="width: 496px"><img class=" wp-image-3413  " title="Angkatan Astacala, Lembah Hujan" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/P1060227-600x450.jpg" alt="" width="486" height="365" /><p class="wp-caption-text">Angkatan Astacala, Lembah Hujan</p></div><p style="text-align: justify;">PDA 20 ini dibuka pertama kali untuk pendaftaran pada tanggal 7 November 2011 sampai dengan 18 November 2011 di Kampus IT Telkom dengan jumlah siswa terdaftar adalah 49 orang. Sejak tanggal tersebut seluruh siswa mengikuti rangkaian acara pendidikan dasar seperti tes fisik, latihan fisik, dan materi kelas tentang kegiatan alam terbuka dilakukan secara rutin. Dari tes fisik diharapkan panitia mampu mengukur tingkat kemampuan dan peningkatan kondisi fisik siswa pendidikan dasar, sedangkan latihan fisik ditujukan untuk meningkatkan kondisi fisik tersebut. Untuk materi kelas sendiri adalah sebagai media agar semua teori kepecintaalaman dapat disampaikan oleh instruktur supaya para siswa pendidikan dasar mampu menguasai semua teori tersebut sebelum mempraktikannya langsung di lapangan.</p><p style="text-align: justify;">Pada tanggal 10 &#8211; 11 Desember 2011, dilaksanakan pula Praktik Kecil Navigasi Darat di area Perkebunan Teh Riunggunung, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Jawa Barat dengan jumlah siswa yang ikut adalah 30 orang. Dilaksanakan pula Praktik Kecil Navigasi Darat Susulan untuk 2 orang siswa di lingkungan kampus IT Telkom pada tanggal 1 Januari 2012. Kegiatan navigasi darat ini bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa PDA dalam praktik penggunaan peta dan kompas serta menganalisa medan. Disisipi juga materi gunung hutan berupa pembuatan camp, api, dan belajar menggunakan berbagai peralatan gunung hutan.</p><p style="text-align: justify;">Namun seiring perjalanan waktu jumlah siswa sedikit demi sedikit mulai berkurang menjadi 28 orang sampai kegiatan puncak yang berupa praktik lapangan besar yang dimulai pada hari Jumat tanggal 6 Januari 2012. Dengan materi pertama long march atau perjalanan panjang yang dimulai dari titik start di Dusun Cikakak, Desa Mekarwangi, Jawa Barat. Siswa pendidikan dasar melakukan perjalanan panjang sekitar 15 km lebih selama dua hari ke titik awal materi gunung hutan di tepian hutan yang masuk ke dalam kawasan Gunung Wayang di Desa Mekarwangi, Kecamatan Sindangkerta. Selama perjalanan long march, keadaan cuaca cerah dan panas terik. Selama perjalanan Long March ini siswa masih bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan, namun ada beberapa siswa yang terkena sedikit cedera kaki ringan. Untuk materi gunung hutan dilaksanakan selama empat hari dengan menyusuri lembahan, mendaki punggungan Gunung Tilu dan Gunung Tambakruyung di Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat. Di sesi Gunung Hutan ini siswa mulai benar-benar merasakan kondisi hutan di pegunungan yang dingin yang mengharuskan mereka benar-benar mempraktikan kemampuan navigasi darat, pembuatan camp dengan ponco, dan membuat api unggun. Tiga hari setelah itu, masih di sesi materi Gunung Hutan, para siswa diberikan materi pembuatan bivak alam. Keesokan harinya setelah para siswa sarapan pagi, dilakukan pembegalan terhadap logistik siswa PDA yang merupakan tanda dimulainya materi Survival atau bertahan hidup dengan perlengkapan seadanya. Di materi Survival mereka dididik untuk memanfaatkan makanan-makanan yang didapat langsung dari alam dan membuat trap. Jumlah siswa PDA masih bertahan 28 orang sampai hari pertama materi Survival ini. Di hari-hari materi ini mulailah turun hujan deras mulai dari siang hari sampai malam harinya. Di sinilah baru benar-benar mental siswa dididik dan ditempa oleh keadaan alam, beberapa dari mereka sudah terlihat lelah fisik dan mental yang mengakibatkan 2 orang siswa dinyatakan tidak dapat lagi melanjutkan perjuangan mereka sampai akhir.</p><p>Akhirnya pada hari kesepuluh, PDA 20 ini ditutup di Bumi Perkemahan Rancaupas, Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat. Upacara penutupan dilakukan di lapangan rumput yang luas di mana pegunungan Ciwidey terlihat jelas dengan cuaca yang cerah dan panas terik. 26 orang siswa yang tersisa menamakan angkatan mereka sebagai Lembah Hujan. Menurut mereka, Lembah Hujan berarti walaupun hujan terus mengguyur mereka saat mereka sedang berada di lembah, mereka tetap bertahan melaksanakan proses yang mereka jalani, menjadi seorang Astacala, menjadi seorang manusia yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang lebih baik, menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara, serta alam dan lingkungan.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Tulisan oleh Ilfan Firqad</strong><br /> <strong>Foto oleh Ayis Nurwita</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/01/pendidikan-dasar-astacala-20/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Selamat Datang Angkatan Baru</title><link>http://astacala.org/wp/2012/01/selamat-datang-angkatan-baru/</link> <comments>http://astacala.org/wp/2012/01/selamat-datang-angkatan-baru/#comments</comments> <pubDate>Mon, 16 Jan 2012 12:25:52 +0000</pubDate> <dc:creator>jimipiter</dc:creator> <category><![CDATA[Astacala Blog]]></category> <category><![CDATA[Lembah Hujan]]></category> <category><![CDATA[PDA 20]]></category><guid isPermaLink="false">http://astacala.org/wp/?p=3402</guid> <description><![CDATA[<a href="http://astacala.org/wp/2012/01/selamat-datang-angkatan-baru/"><img align="left" hspace="5" width="120" height="120" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/lh2-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Angkatan Lembah Hujan, Astacala" /></a>Langkah-langkah itu begitu berat, limbung dan kaku. Tatapan mereka begitu layu, seperti tak kuat menahan lelah. Rambut kusut dan baju yang penuh lumpur, seperti ingin membagikan cerita, sepuluh hari penuh perjuangan, penuh derita dan pengalaman yang barangkali berlum pernah dan tak pernah ada dalam benak mereka. Tas carrier yang tak seberapa berat itu seperti menggelantung [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Langkah-langkah itu begitu berat, limbung dan kaku. Tatapan mereka begitu layu, seperti tak kuat menahan lelah. Rambut kusut dan baju yang penuh lumpur, seperti ingin membagikan cerita, sepuluh hari penuh perjuangan, penuh derita dan pengalaman yang barangkali berlum pernah dan tak pernah ada dalam benak mereka. Tas carrier yang tak seberapa berat itu seperti menggelantung kuat di pundak-pundak kaku dan lemah itu. Ada yang berusaha menguat-nguatkan diri dengan berdiri lebih tegak, tapi lebih banyak yang menunduk lesu, badan gagah itu sudah tak ada, wajah ceria khas anak muda itu sudah lenyap seketika. Hanya lewat sepuluh hari saja.</p><div id="attachment_3404" class="wp-caption aligncenter" style="width: 514px"><img class=" wp-image-3404  " title="Angkatan Lembah Hujan, Astacala" src="http://astacala.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/lh2-600x400.jpg" alt="" width="504" height="336" /><p class="wp-caption-text">Angkatan Lembah Hujan, Astacala</p></div><p style="text-align: justify;">Di kaki yang dingin dan sepatu yang basah, aku berdiri di hadapan mereka, mencoba menerawang apa yang ada dalam benak-benak itu, apa yang ada dalam gelora mereka. Tiba-tiba selintas masa lalu menyilang di pikiranku. Sembilan tahun yang lalu, di tempat yang sama dan dalam posisi yang sama, aku berdua saja berdiri seperti mereka. Mungkin tak ada beda, tapi mungkin juga ada banyak bedanya.</p><p style="text-align: justify;">Keletihan, kata orang, jika digabungkan dengan banyak keletihan, maka ia akan menghadirkan sakit tak terangkat. Sebaliknya, semangat jika dirangkum dari berbagai semangat, walau itu sedikit, mampu memberikan efek sehat yang tiada terkira. Sedikit semangat bisa menjelma menjadi segunung harapan jika ia mampu disinergikan dengan tepat. Tak peduli berapa letih tubuh yang menyanggahnya itu.</p><p style="text-align: justify;">Buktinya, ketika sedikit demi sedikit mereka menyadari bahwa pagi itu adalah akhir dari jerih dan derita mereka, mata-mata itu mulai bercahaya. Seperti sepercik api, ia menyebar, membesar dan sanggup menghanguskan segala.</p><p style="text-align: justify;">Tubuh yang semua lemah, perlahan bangkit, kepada yang semula menunduk pelan dan pasti menegak. Dan semuanya demikian.</p><p style="text-align: justify;">Mereka kemudian mengusulkan sebuah nama untuk diri mereka, Lembah Hujan. Sebuah nama yang menurut mereka adalah perlambang yang tepat untuk penderitaan dan kerja keras mereka, sepuluh hari yang lewat.</p><p style="text-align: justify;">Ketika giliranku berbicara, entah kenapa kata-kata yang sempat menggaung dalam pikiran itu tidak keluar. Ini sebetulnya yang ingin ku katakan : “Hei, anak muda, tidakah kau sadari, bahwa 10 hari itu hanya sedikit, tapi kalian sudah kalah. Dan dari sepuluh hari itu, tak ada yang kalian dapat, kecuali letih dan lelah, kecuali derita dan sedikit sesal”</p><p style="text-align: justify;">Dalam bayanganku itu, aku melihat mereka menunduk seperti malu pada kenyataan, bahwa sebetulnya mereka bisa tak kalah, kalau saja mereka mampu memberi semangat pada diri mereka sendiri, kalau saja mereka bisa menghidupi semangat itu.</p><p style="text-align: justify;">Lalu kulanjutkan begini “Lihatlah, ketika mengetahui derita yang kalian anggap perjuangan itu segera berakhir, semangat kalian seperti lahir lagi. Kenapa kalian tertipu? Kenapa kalian kalah oleh keletihan yang bisa dilawan?”</p><p style="text-align: justify;">Sepuluh hari yang telah lewat itu, hanyalah awal yang sangat singkat. Hanya uji tak layak untuk melihat, apakah kalian adalah benar dan tahu apa yang hendak kalian masuki? Astacala hanya sebuah tempat, untuk kemudian menjadi rumah bagi mereka yang mengklaim diri mereka sebagai manusia yang sadar alam, sadar lingkungan.</p><p style="text-align: justify;">Aku sebetulnya ingin berbicara tentang lingkungan yang semakin rusak oleh ulah manusia, oleh tindakan yang menjadi bagian dari keseharian kita. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tak pernah keluar. Mulutku menjadi kaku.</p><p style="text-align: justify;">“Selamat datang, angkatan baru. Jangan sia-siakan slayer merah yang baru tersemat di lehermu itu. Merah itu sederhana, tapi ia perlambang untuk semangat Astacala. Ia tak mati, dan tak akan pernah”</p><p style="text-align: justify;">Maka dari itu jagalah.</p><p style="text-align: justify;">Kata-kata itu akhirnya tak pernah muncul, persis ketika aku ingat sebuah pepatah, alamlah guru yang terbaik.</p><p style="text-align: justify;">Lembah Hujan, biarlah mereka berdiri dari langkah mereka sendiri. Biarlah mereka lahir dari sesuatu yang mereka anggap sebagai rahim ibu mereka sendiri. Biarlah mereka memahami Astacala, ketika mereka sanggup untuk menghuni tempat itu dengan cara dan kesadarannya sendiri.</p><p style="text-align: justify;"><strong>Tulisan dan Foto oleh Jimi Piter</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://astacala.org/wp/2012/01/selamat-datang-angkatan-baru/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>7</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: basic

Served from: astacala.org @ 2012-02-23 04:03:15 -->
