Drama Perpisahan
Posted on | January 17, 2012 | 17 Comments
Sebuah kisah dari kegiatan saat materi survival Pendidikan Dasar Astacala 20. Para siswa yang berhari-hari melalui medan pendidikan dasar bersama, otomatis membuat rasa persaudaraan semakin kental di antara mereka yang senasib sepenanggunangan. Sampai kemudian satu orang siswa berniat mengundurkan diri dari pendidikan ini karena merasa fisiknya tidak mampu lagi untuk melanjutkan sampai penutupan nanti. Komandan lapangan pun dengan tegas dan berwibawa (lengkap dengan wajah sangar, kejam, dan bengis) memberikan pilihan itu sepenuhnya kepada siswa yang mau mengundurkan diri tersebut. Tak ada ragu-ragu! Maju ya maju. Mundur ya mundur.

Siswa PDA 20
Akhirnya siswa itu pun dengan tekad bulat memutuskan untuk mengundurkan diri. Pada saat upacara pengunduran diri, terjadilah sebuah peristiwa yang dramatis dan mengharukan. Di depan panitia dan siswa-siswa lainnya, oknum siswa yang mengundurkan diri tersebut bercerita bahwa sebenarnya ia masih sangat ingin melanjutkan perjuangan bersama para siswa lainnya, tapi apa daya tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Ia berkata bahwa dengan berat hati ia harus mengundurkan diri meninggalkan teman-teman seperjuangannya. Ia berpesan pada teman-temannya sesama siswa untuk tetap menjaga kekompakan dan bertahan sampai di hari penutupan pendidikan dasar nanti. Bahkan seorang siswa lain yang ingin mengikuti jejaknya untuk ikut mundur dibentak dan dimarahinya saat upacara penutupan itu. Bahwa tidak seharusnya mereka itu mengikutinya untuk mundur. Bahwa mereka yang tersisa masih sehat dan sanggup untuk menyelesaikannya. Dalam keletihan fisiknya, ia berkata dengan berapi-api memberikan semangat kepada teman-temannya.
Dan tak disangka-sangka, tanpa dikordinasi seluruh siswa kompak meneteskan air mata. Menangis terharu. Begitu juga pada beberapa orang panitia, termasuk sang komandan lapangan yang berwajah sangar, kejam, dan bengis. Wajah sang komandan menengadah ke atas. Dan ketika menghadap tegak lurus ke depan, terlihatlah air mata berlinang di pipinya. Duh… Sesangar-sangarnya komandan, ia melankolis juga. Bisa menangis tersedu dalam keharuan.
Tulisan oleh I Komang Gde Subagia
Foto oleh Ayis Nurwita
Comments
17 Responses to “Drama Perpisahan”
Leave a Reply
January 17th, 2012 @ 04:31
komandane kebanyakan nonton sinetron
January 17th, 2012 @ 04:34
cerita dan drama ini tidak berlaku di peradaban , hanya berlaku di hutan !!
komandan kok nangis LOL !!
January 17th, 2012 @ 10:20
Mbacanya aja ikutan terharu..
ada .3GP nya ga?
January 17th, 2012 @ 20:41
apakah ada panitiya yang ngempet ngguyu (ketawa-indo)?
January 17th, 2012 @ 23:14
amayzing!! amaayyziingg!!
January 18th, 2012 @ 00:03
itu Sesuatu yang wajar,Ketika kita kehilangan calon keluarga.
January 18th, 2012 @ 07:52
Sudah lama tidak mendengar cerita ringan tapi berkesan seperti ini. Nice story.
January 18th, 2012 @ 11:56
komandannya nangis atas-bawah…
January 18th, 2012 @ 19:13
3gp nya lebihhh ngenaaa gannn… nice beud tulisannyaaaa
January 18th, 2012 @ 20:11
bang handung nangis, aku juga liat :3
January 19th, 2012 @ 01:33
ck ck, 3gp mulu otak lu nan
January 19th, 2012 @ 05:07
itung2 belajar nuuu… tau sendiri belajar dimulai sedini mungkinnn wakakakak
January 19th, 2012 @ 14:15
upacara mundurnya cukup melankolis, tapi tetep yang paling antagonis 008-AP. wkwkwkwkwk..
January 20th, 2012 @ 09:07
ada yang mangil ane !! atas ane siapa nih ??
January 23rd, 2012 @ 12:13
begini jadinya kalo komandan lapangan mantan kesiswaan.
January 25th, 2012 @ 10:40
wah bener juga ya, ketiga Danlap itu mantan kesiswaan smw, wuahahahahaaa…
January 25th, 2012 @ 14:59
wajah rambo hati rinto kah?