ASTACALA BLOG
|
Dokter Gunung Indonesia yang Prihatin
|
"kita boleh nyasar, sebab dengan tersesat akan menambah pengalaman. Lalu, menembus jalan sesat itu harus dilakukan, sebab kita mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Namun, mati jangan sampai, sebelum kita memanfaatkan akal pengetahuan dan keterampilan kita. Jadi, begitu hilang, pendaki gunung seharusnya memieliki tekad dasar berupa kemauan untuk hidup, bukan sekadar tekad bagaimana meloloskan diri dari lubang ketersesatan,"...
Ini sebuah pengalaman berharga yang harus kita jadikan acuan dalam pendakian. Kadang kita merasa jenuh dan jengkel bila ada orang yang selalu mengingatkan kita tentang safety prosedure, sehingga kita menganggapnya cerewet, sok tahu dll. Padahal sebenarnya apa yg mereka ingatkan itu memang benar adanya. Hanya saja rasa sombong dan percaya diri yg berlebihan yg membuat kita merasa sudah mampu dan kuat untuk melakukannya sendiri. |
|
|
|
Menjaga Alat Navigasi
|
 Dalam suatu kegiatan pendidikan dasar, khususnya pada medan gunung hutan, seringkali penulis menemui kejadian dimana siswa pendidikan dasar tidak bisa melakukan navigasi karena kerusakan atau kehilangan peralatannya. Dan mungkin tidak hanya pada pendidikan dasar saja. Dalam melakukan perjalanan kegiatan alam terbuka, ada kalanya peralatan navigasi yang kita gunakan rentan akan kerusakan. Seperti peta yang basah atau sobek, kompas atau alat tulis terjatuh, protaktor yang hilang, dan sebagainya. Apalagi kegiatannya dilakukan dalam kurun waktu yang lama dan cuaca yang tidak bersahabat. |
|
|
|
Kompas Green Fun Bike 2009
|
Pada Desember ini tepatnya hari minggu tanggal 6 Desember ada satu even besar bagi para pesepeda khususnya pesepeda di kota bandung, yaitu Kompas Jawa Barat Green Fun Bike. Bermula dari ditempelnya poster acara ini di papan tulis sekretariat astacala, maka terbesit niat saya untuk ikut serta dalam even kali ini, disamping ingin refreshing dan menyalurkan hoby ya sekalian untuk berlatih jurnalistik. Seperti kata pepatah “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”. |
|
|
|
Marga Batak
|
 Salah satu dari warisan kebudayaan Suku Batak yang sampai sekarang masih terlestarikan (meski mulai terlupakan oleh sebagian orang) adalah budaya "marga". Ini adalah budaya yang unik, karena tidak semua suku di dunia "secara resmi" punya marga. Beberapa di antaranya bahkan hanya punya "nama keluarga". Marga adalah nama keluarga yang berasal dari nenek moyang, yang akan melekat pada nama belakang pemiliknya. Marga ini akan dibawa sampai akhir hayatnya, dengan kata lain seseorang tidak dapat mengganti marganya sesuai dengan keinginannya. Karena marga adalah sesuatu yang bersifat ikatan darah yang tidak dapat diubah ataupun dihilangkan. |
|
|
|
Adat Dalihan Natolu Suku Batak
|
 Jika mendengar kata "Batak" dalam konteks budaya, apa yang Anda bayangkan? Jika saya yang orang Indonesia dari suku Batak tulen diberi pertanyaan seperti itu, dengan bangga saya akan menjawab Dalihan Natolu! "Dalihan" dalam bahasa Batak memiliki arti harfiah yaitu tungku. Sedangkan "tolu" artinya tiga. Dalam kehidupan tradisional orang Batak, tungku terdiri dari batu alam (batu kali), jumlahnya ada tiga. |
|
|
|
Menyusuri Dago Pakar - Maribaya
|
 Dago Pakar atau yang sebenarnya bernama Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda adalah sebuah kawasan hutan yang masih tersisa di kota Bandung. Terletak di daerah Bandung Utara, taman hutan raya ini merupakan taman hutan raya yang pertama di Indonesia. Diresmikan oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan tanggal kelahiran Ir. H. Djuanda. Sedangkan Maribaya adalah sebuah kawasan wisata terusan Dago Pakar di daerah Lembang yang menyajikan pesona air panas dan beberapa air terjun. |
|
|
|
Memperkecil Resiko Kerusakan dan Korban Gempa
|
|
Belakangan ini, negeri kita sering mengalami musibah gempa bumi. Aceh, Nias, Jogja, Pangandaran, Tasik, dan yang terakhir di Padang. Hal itu tentu membuat kita was-was akan peristiwa yang kemungkinan besar masih mengancam kita yang hidup di wilayah lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.
Namun, disarankan apabila kita mengalami gempa supaya tidak panik dan tetap tenang sambil mencari tempat perlindungan. Ada beberapa cara untuk memperkecil resiko kerusakan dan menghindari korban jiwa atau luka-luka. |
|
|
|
Klungkung, Pusat Kerajaan Bali di Masa Silam
|
Kalau kita berkunjung ke Pulau Bali, pastilah pikiran kita tidak
jauh dengan Pantai Kuta dengan deburan ombak dan para bulenya yang
berselancar. Atau eksotisnya kawasan Ubud yang terkenal dengan berbagai
lukisan dan pemandangan alamnya yang asri.
Beberapa kilometer di daerah Bali Timur, terdapatlah sebuah tempat
bersejarah yang bernama Kerajaan Klungkung dengan keratonnya yang
bernama Semarapura. Kerajaan yang merupakan pusat kerajaan Bali selama
lebih dari 200 tahun di masa silam.
|
|
|
<< Previous Next >>