| |
 |
|
Pendakian Gn. Gede-Pangrango 17-20 April 2008 (Cibodas – Gn. Putri)
|
Taman Nasional Gede Pangrango, begitu sering disebut oleh masyarakat. Namun saat tanggal 18 april saat penggambilan surat ijin, ternyata sudah naik derajat menjadi balai konservasi. Pendakian saya ini sebenarnya salah satu tugas teman saya, untuk memenuhi pengalaman sebagai coordinator perjalanan, saat sidang anggota penuhnya. |
|
|
|
Going to Pangandaran
|
|
Pangandaran merupakan wilayah pesisir pantai di bawah pemerintahan Kabupaten Ciamis yang terkenal akan keindahan pantainya. Dan perjalanan iseng saya mencapai ke tempat tersebut. |
|
|
|
Cibareno, Antara Bayah dan Cisolok
|
Sungai Cibareno ini cukup lebar. Kurang lebih dengan lebar lima puluh meter. Di titik awal ini, hujan bertambah deras. Di sebelah kanan sungai ini, terlihat seperti tidak ada jalur yang bisa dilalui. Hanya terlihat tebing yang menghadang. Sedangkan di seberangnya, area persawahan dan ladang penduduk. Tidak bisa diseberangi. Arusnya terlalu deras dan sepertinya cukup dalam. |
|
|
|
Paradise In North Jakarta?
|
Sedikit cerita aja, kita pengen susur pantai di kepulauan seribu. Tepatnya ke pulau Semak Daun, sekalian jalan-jalan juga ngisi liburan kan secara sekarang lagi libur akhir tahun pas-pasan ama libur idul adha + libur natal. Nah kita ngambil jalannya malah pas lagi liburan Idul Adha, jadi mau gak mau yah sholat iednya lewat deh  . |
|
|
|
Menjinakan Gajah, Memperluas Sawit
|
|
Perkenalan yang singkat ternyata sudah cukup mengakrabkanku padanya sebagai tuan rumah dan aku sebagai tamunya. “Kita akan masuk ke PLG. Dari sini sekitar delapan kilo. Tapi sayang, jalannya sudah agak rusak,” ujarnya sambil terus mengendalikan motor di jalan yang berlubang. Jalanan berbatu yang dibangun belasan tahun yang lewat yang kini menghadang perjalananku. Ini kedatangan pertamaku ke taman nasional. Kerikil-kerikil tajam yang berserakan kadang berhamburan dilindas ban roda motor yang kutumpangi. Di jalanan ini, pengendara motor harus lebih barhati-hati untuk melewati medan ini. Sebab selain berbatu tajam, kadang juga harus berhadapan dengan lubang lumpur yang menganga yang membuat laju kendaraan harus sangat pelan dan hati-hati. |
|
|
|
Mengukur Kemampuan Diri Lewat Caving
|
|
Wilayah jangkau para penjelajah goa mania ini, bukan semata di dalam negeri. Bahkan gua di negeri orang pun tak luput dari jamahan mereka. seperti yang diungkapkan Cahyo yang telah menjelajahi ratusan gua baik dalam dan luar negeri mulai gua di Thailand, Sarawak, dan hampir semua karst di Jawa telah dikunjunginya, termasuk wilayah Sulawesi dan Papua. Baginya pengalaman caving paling berkesan adalah ketika menjelajahi gua terpanjang di Maros (Sulsel) dan harus mengarungi sungai bawah tanah yang dalam airnya tidak diketahui lebarnya dan panjangnya berkilo-kilo serta harus mendayung menggunakan tangan. |
|
|
|
Adventure with Friends of Mapasadha
|
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00:02 hari berganti dan waktu terus
saja bergulir tanpa mau menungguku tuk sedikit menikmati hari ini.
Kurang lebih sebulan aku meninggalkan segala bentuk urusan duniawi
perkuliahan, dan mulai besok aku akan mulai tuk menyapanya lagi. Ada
sedikit rasa segan yang menghapiri tubuhku, aku sadar bahwa sebenarnya
aku sedikit kurang percaya diri dengan rutinitas ini lagi, mungkin ini
disebabkan karena salah satu mata kuliah yang paling aku benci akhirnya
berakhir dengan nilai yang sungguh mengesankan, “D” ditambah lagi
dengan bahan Tugas akhir yang sungguh membuatku merasa “ilang piling”.
Akhirnya pada malam ini, dini hari yang sepi aku memutuskan untuk
berbagi kisah perjalananku selama satu bulan terakhir. |
|
|
|
Detik-detik Kengerian
|
|
Detik demi detik kuhitung menunggu waktu tuk turun kedalam lubang sedalam 30 meter...dinginnya malam menemaniku malam itu...dinding entrance gua terlihat rapuh dalam bayangan lilin yang terseok-seok tertiup angin malam...suasana malam itu benar benar BEDA........ |
|
|
|
Misi Jogja
|
Akhir Mei 2006. Ketika kakiku baru melangkah turun keluar dari hutan
pegunungan di Ciwidey, pulang dari mengisi kekosongan di akhir minggu,
ketika sinyal GSM aktif kembali, ketika itu pula beberapa pesan masuk
ke HPku mengabarkan tentang bencana gempa di Jogja.
|
|
|
|
Oleh-oleh dari TWKM
|
Hari ini, kita mulai perjalanan dari sekre. Yang berangkat yaitu :
Jabek dan Vio. Berangkat dari sekre abis magrib, naek motor ke Stasiun
Kordon. Trus kita di sana masih nungguin temen-temen lain dari Mapala
Bandung juga. Akhirnya kereta baru berangkat sekitar jam setengah
delapan malam. Pas di gerbong, kita udah nyusurin gerbong ke gerbong.
Tapi, hasilnya NIHIL!!! Tetep aja kita ga kebagian tempat duduk. Jadi
yah gitu deh... Kita duduk deket pintu KA. Setelah berpegel-pegel ria,
dua jam sebelum nyampe Jogja, kita dapet tempat duduk juga.
|
|
|
<< Previous 1 2 3 Next >> |
| |
|
| |
|
 |
|