ARTIKEL KAMI
| Avatar, Papua, dan SBY | ||
|
| Renungan untuk Hari Bumi | ||
|
| Tapa Brata Nyepi | ||
Kata "nyepi" sendiri berarti membuat suasana sepi, tanpa kegiatan
"amati karya" , tanpa cahaya "amati geni", tanpa keluar rumah "amati
lelungaan" dan tanpa hiburan "amati lelanguan". Pada saat Nyepi umat
Hindu di Indonesia melakukan semua itu, hal ini sering juga disebut
"tapa brata penyepian". Makna nyepi sebenarnya adalah agar semua umat
Hindu menginstropeksi diri. Perayaan Nyepi bukan sekedar seremonial
tahunan belaka. Bagi umat Hindu, Nyepi merupakan ritual suci sebagai
bentuk pengorbanan kepada Yang Maha Kuasa.
|
||
|
| Menulis Ala J.K. Rowling | ||
‘Menulislah, karena kalau tidak kau akan terlempar dari pusaran sejarah’ ( Pramoedya Ananta Toer).Seorang teman pernah bertanya dan mengingatkanku pada saat bagaimana susahnya memulai sebuah tulisan, teman itu bertanya : "Bagaimana caranya memulai menulis sementara saya tidak tahu apa yang harus saya tulis?". |
||
|
| Wawancara yang Mengubah Segalanya | ||
Kemudian pertanyaan lainnya adalah "Menurut kamu Pecinta Alam itu apa?" Dan saya agak bingung menjawab pertanyaan yang satu ini. Dan apa yang keluar dari mulut saya waktu itu sampai sekarang adalah sudah tidak ingat lagi. Untuk menjadi seorang pecinta alam kamu tidak harus masuk Astacala atau organisasi-organisasi semacamnya. Hanya dengan memulai membuang sampah pada tempatnya, sedikit peduli dengan alam, itu sudah cukup untuk membuatamu menjadi seorang pecinta alam. |
||
|
| Alamku Sayang, Alamku Malang | ||
Alam marah karena tidak dipedulikan. Alam murka karena tidak dijaga. Dan manusia yang akan menanggung kesalahannya kemudian. Banyak yang berkata, manusia tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan, karena masih banyak dari mereka bersusah payah menjaga bumi tempat tinggal mereka agar tidak dihancurkan sesamanya. Tapi jumlah alam yang dihancurkan jauh lebih banyak dari manusia yang mau menjaga mereka! |
||
|
| Bandung di 2009 (Riwayatmu Kini) | ||
|
Rringg... Rrringg... Rriing... Kira-kira begitulah suara tonggeret, yah tidak begitu juga sih suaranya, tapi kira-kira begitu. Yang banyak terdengar di seputaran Bandung dahulu kala. Saya ingat, ketika pertama memasuki Sekolah Dasar alias SD, pepohonan menghiasi seputaran Kota Bandung dan Bandung begitu sejuk. Berjalan kaki pun rasanya tidak begitu lelah, karena udara di sekelilingnya banyak tetumbuhan yang secara biologis menghasilkan oksigen, sehingga bernapas saat berjalan rasanya menyegarkan. Begitu pun suara kendaraan, hanya sesekali motor dan mobil lewat, jalan raya sekali pun. Angkot sih sudah mulai agak banyak, tapi yaah, terkondisikan bahasa mahasiswa mah. Saya ingat sekali, suatu hari pulang les, saya bersama ibu saya sangat sulit mencari angkot, karena jumlah angkot yang tidak begitu banyak, dan kebetulan itu jam pulang kantor. Sopir angkot saat itu pun cukup mentaati peraturan lalu lintas, slengean sedikit ya wajar. |
||
|
| Apakah Kita Sama Seperti Mereka? | ||
|
Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya satwa liar itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya, namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritan-jeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini. Apakah kita bangga dengan kekuasaan kita sendiri sementara kita telah melakukan bunuh diri secara perlahan bersama-sama oleh perbuatan kita sendiri. |
||
|
<< Previous Next >>













