::
::
::
::
::
::
::
::
 
 

Menemukan Diri Kita yang Sebenarnya


“...Berbagi waktu dengan alam,
kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya...”
Begitulah sepenggal lirik lagu Gie yang saat ini seringkali terdengar di televisi atau radio.
Mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan. Banyak orang yang suka mendaki gunung. Terlepas dari makna mendaki gunung itu sendiri, banyak pula orang yang tidak tahu apa yang ia cari ketika mendaki gunung. Apakah hanya sekedar bisa mencapai puncak atau ada hal lain yang ada dalam pendakian itu. Kalau kita bisa mengambil hikmah dan melakukan hal-hal yang positif dalam mendaki gunung, sebenarnya kita bisa melihat lebih tentang kita dan realita di sekitar kita.
Keberhasilan dalam mendaki gunung membuat kita bisa melihat hidup ini secara lebih realistis. Mendaki gunung adalah kesempatan untuk menaklukkan tantangan, yang hadir sekaligus dengan tanggung jawab, tekanan, dan harapan.
Stacy Allison, seorang wanita Amerika pertama yang mencapai puncak Everest, pegunungan Himalaya. Dalam kata-kata yang tertuang dalam bukunya Beyond the Limit, ... to look beyond the ordinary and to transcend myself (www.geocities.com) Di balik apa yang kita kerjakan, lihat dan pandang ke atas, dan kita akan menemukan sesuatu yang baru. Kita akan mengenali siapa diri kita dan kekuatan kita yang sesungguhnya setelah kita menaklukkan puncak-puncak gunung yang semula nampak menakutkan.
Sama seperti Stacy, kita pun dapat mendaki puncak-puncak gunung untuk menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya. Mungkin gunung itu tidak hadir secara fisik, tetapi masih banyak gunung-gunung lain yang dapat membantu kita menemukan siapa diri kita dan seberapa jauh kita dapat mengaktualkan potensi kita yang sesungguhnya. Banyak studi yang membuktikan, bahwa kematangan pribadi seseorang justru dibuktikan setelah orang itu berhasil membuktikan kemandiriannya saat mengalahkan berbagai tantangan. Sebaliknya, orang yang sering bergantung adalah orang yang lari bila menghadapi masalah. Dengan kata lain, keberhasilan menjawab tantangan akan menentukan kualitas pribadi kita.
Seperti imbauan Stacy, lihatlah ke atas, keluar dari rutinitas, pandanglah, dan ternyata ada gunung yang harus didaki, masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi lebih baik. Merasa tidak puas dan ingin berbuat lebih baik lagi adalah kata kuncinya. Ternyata tantangan itu ada di mana-mana, tanpa perlu kita mencari-cari, apalagi menciptakan! Barulah ketika kita berhasil mengerjakan itu semua, kita akan menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Dan yang menyejukkan hati, tidak ada kata terlambat untuk memulai ini semua. Tinggal mau atau tidak!

Tulisan ini juga bersumber dari Julia Suleeman Chandra (www.geocities.com)

Bandung, September 2005
Posted by  
on December 30, 2007, 9:01 am