::
::
::
::
::
::
::
::
 
 

Diklan VS Jalan-jalan

Apa sih yang kamu inginkan setelah kamu menjadi seorang anggota Astacala? Seorang yang katanya adalah Astacala?
Pertanyaan itu terbersit ketika aku dan seorang saudaraku duduk di depan api unggun kecil yang menyala di malam yang dingin sepi sambil menikmati segelas kopi susu dan sebatang djarum coklat. Aku bercerita kepadanya, kepada hatiku, dan kepada hamparan malam di alam terbuka yang indah itu.
Kurang lebih aku bercerita seperti ini.
...
Ketika aku sudah melewati pendidikan dasar, aku ketika itu menjadi salah satu angkatan terakhir dan sebagai anggota yang termuda merasakan begitu bangganya bisa melewati berbagai medan selama pendidikan dasar.
Astacala, yang sebelum kumasuki kulihat orang-orangnya adalah jago dalam berkegiatan di alam terbuka. Tidak seperti diriku ketika itu yang setiap melakukan perjalanan kebanyakan hanya ecek-ecek.
Tapi, setelah aku menjadi seorang anggota muda dalam diri Astacala, aku bertemu dengan yang namanya kewajiban. Dan entah kenapa semua hal atau kegiatan yang katanya "wajib" itu membuatku sebal. Sekolah. Sekolah. Dan sekolah. Apaan itu? Ketika berbagai waktu dan keinginanku yang lain terbentur dengan yang namanya sekolah. "Kapan kamu mau sekolah?" pertanyaan itu berulang dan berulang aku dapatkan dari Badan Diklat dan Dewan Pengurus yang menjabat saat itu.
Aku sama sekali tidak mengikuti sekolah wajib yang memang diperuntukkan untuk angkatanku. Walaupun ada beberapa yang kuikuti tanpa sebagai peserta pelaksananya. Sebal karena waktuku yang tidak bersesuaian dengan saudara seangkatanku yang lain yang memang tidak pernah ada kuliah. Juga karena jiwaku saat itu yang memang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan Astacala. Dan selain itu, tentu saja yang pasti adalah kata "wajib" dengan berbagai macam aturan di dalamnya. Yang sepertinya semua itu membuatku menjadi tidak nyaman.
Tapi pada suatu hari. Ketika itu, saudara seangkatanku akan melakukan suatu perjalanan. Aku mengikutinya, tapi tidak sebagai kewajibanku sebagai anggota muda. Tapi hanya sebagai jalan-jalanku.
Dalam perjalan itu, banyak hal yang aku peroleh. Kurasakan betapa nyamannya perjalanan itu dengan rencana operasional yang sudah disiapkan oleh saudaraku yang melakukannya. Kunikmati betapa asyiknya orientasi dan analisa medan dalam melakukan perjalanan sehingga setiap posisiku dan target suatu tempat tujuan bisa aku perkirakan. Betapa nikmatnyanya menikmati malam dengan api unggun dan segelas bandrek susu bersama saudara-saudara tercinta tanpa ada beban bahwa aku "diharuskan" untuk melakukannya. Betapa indahnya canda tawa dan olok-olok menghibur di antara kami tanpa melihat berbagai perbedaan usia yang membuatku merasa bisa diterima apa adanya.
Hari demi hari pun berlalu. Perjalanan "jalan-jalan" semakin sering dan semakin menyenangkan bagiku untuk kulakukan. Kusadari dan kurasakan bahwa sedikit demi sedikit ternyata aku telah belajar dari setiap perjalanku. Aku mendaki gunung, membuat api, membuat shelter, berorientasi, menganalisa medan, tapi aku tidak pernah mengikuti yang namanya sekolah atau Diklan Gunung Hutan maupun Orientering. Aku berenang, mendayung, dan mengarungi sungai, tapi aku tidak pernah mengikuti yang namanya Diklan Arung Jeram ataupun ORAD. Aku memanjat dinding maupun tebing, rapeling, mencoba memasang pengaman, memasang top rope, tapi aku tidak pernah mengikuti yang namanya diklan Rock Climbing. Tapi aku menikmati semuanya. Dan aku begitu menikmatinya.
Tapi, kenapa juga sampai saat ini seuntai kata yang namanya sekolah, diklan, atau apalah namanya nanti itu ada? Toh kita bisa melakukan kegiatan tanpa diklan? Tentu saja untuk menjawab semua itu harus kembali lagi kepada apa yang menjadi tujuan kita memasuki dunia Astacala.
Ya, salah satu tujuan tentu saja adalah untuk bisa mendapatkan pengetahuan dan kemampuan berkegiatan di lingkungan alam terbuka. Dewan Pengurus melalui yang namanya Badan Diklat tentu saja mempunyai maksud baik untuk mengadakan yang namanya sekolah atau diklan itu.
Sekolah atau diklan dengan yang namanya jalan-jalan mempunyai perbedaan yang cukup jelas. Diklan dimaksudkan dapat memberikan pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan jalan-jalan. Dan jalan-jalan itu adalah penerapan dari diklan itu sendiri.
Ada sesuatu yang lebih dari diklan itu. Materi ataupun hal-hal penting lain terstruktur dengan baik dan pasti akan didapatkan. Sedangkan dalam jalan-jalan, belum tentu seluruh materi dan hal-hal yang berkaitan didapatkan.
Dalam diklan, ada aturan-aturan dan rencana-rencana operasional tertentu yang dibuat oleh dewan pengurus atau kordinator dan harus dilaksanakan yang biasanya membuat kegiatan menjadi tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Dan tentu saja maksud dari aturan dan rencana-rencana itu juga adalah baik. Yaitu supaya apa yang diinginkan dalam diklan itu tercapai, sesuai dengan maksud dan tujuan pelaksanaannya. Dalam jalan-jalan, aturan-aturan dan rencana-renacana operasional kita buat sendiri dan senyaman yang kita inginkan. Mau bangun jam sepuluh, kemudian ngecamp lagi jam satu siang. Atau mau berlama-lama di suatu tempat yang indah sampai berminggu-minggu. Itu semua terserah kita. Karena kita sendiri yang membuat dan menentukan rencananya.
Dari segi laporan, diklan mewajibkan pembuatan laporan untuk mengetahui sampai sejauh mana materi tersampaikan kepada pelaksananya dan dapat dijadikan bahan acuan serta sumber informasi apabila akan dilakukan suatu kegiatan yang identik. Tetapi kekurangannya, ya kata wajib itu. Dalam jalan-jalan, laporan menjadi "tidak harus", tetapi menjadi "sebaiknya". Sebagian besar dari kita masih malas untuk menyusun sebuah laporan perjalanan. Coba saja kita bayangkan, kalau seandainya kita ingin melakukan suatu perjalanan, ke Gunung Papandayan misalnya, dan tidak ada secuil pun laporan atau informasi yang bisa dijadikan acuan di sekretariat kita, padahal cukup banyak anggota kita yang pernah ke sana? Cukup menyedihkan juga bukan?
Tapi, dari beberapa perbedaan antara diklan dan jalan-jalan itu, kita bisa mengambil hikmah bahwa kita menjadi seorang Astacala adalah seharusnya sesuai dengan Astacala itu sendiri. Pengetahuan dan kemampuan dalam kegiatan alam terbuka kita miliki dan hobi kita untuk jalan-jalan pun terpenuhi. Jangan hanya sekedar bangga memakai seragam hitam dengan bet merah di lengan kanan dan nomor anggota di dada kita, tapi kerjanya hanya tiduran di sekre, nonton tipi, ataupun kulak-kalik game di depan komputer. Atau hanya sekedar lulus pendidikan dasar dan kemudian menghilang dengan tidak jelas. Astacala apaan seperti itu?
Jadi, apa sebenarnya yang kamu inginkan dengan menjadi seorang Astacala? Tujuan kita banyak. Tujuan Astacala pun banyak. Dan yang pasti beragam dan berbeda-beda.
Kita punya kuliah, kita punya keluarga, kita punya teman, kita punya pacar, kita punya banyak hal penting, dan kita punya waktu. Tentu semua peran yang kita jalani ingin berjalan dengan baik.
Jadi apa kesimpulannya terhadap diklan vs jalan-jalan ini? Intinya, salurkanlah hobimu untuk jalan-jalan, karena untuk itulah salah satu tujuan kamu menjadi Astacala. Jejakkan kakimu pada semua gunung di dunia. Arungi semua sungai yang mengalir. Tancapkan semangatmu di puncak-puncak tebing yang menjulang tinggi. Jelajahi ujung-ujung semesta yang belum pernah terjamah. Dan yang pasti, ikutilah diklan sebagai dasar untuk menambah pengetahuan dan kemampuanmu!
...
Malam makin larut. Aku mengantuk. Dan juga, bosan untuk terus bercerita. Aku pun memasuki tenda doome yang hangat di hamparan perkebunan teh yang luas membentang. Di hamparan langit malam bertabur malaikat bintang-bintang. Kemudian tertidur, menikmati indahnya mimpi. Tanpa paksaan, tanpa beban, bahwa aku harus berada dan terdampar di tempat yang indah ini.

Bandung, April 2005