Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah.....
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Hingga saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat.....
Masih ingatkah kau.....
Lirik lagu Iwan Fals itu tadi pagi terngiang dalam pikiranku. Kala itu terngiang pula diriku di Astacala. Terngiang oleh orang-orang di sini yang katanya adalah saudara.
Membaca offline ini. Aku senang. Ada yang serius, ada yang sekedar mengomentari, ada yang sekedar iseng, ada yang OOT, dan yang lainnya.
Membaca offline yang "Ga ada judul" dan komentar2nya, juga membuatku senang. Semuanya mau berbuka. Walaupun tidak seratus persen. Mungkin.
Di sana dibahas segala rasa yang ada pada kita, terutama di Astacala. Dari sifat, sikap, dan hubungan satu sama lain.
Kalau dari diriku sendiri, semua yang terjadi biarlah terjadi. Biarkan berjalan apa adanya. Kalau memang marah, ya marahlah! Kalau mau sedih, ya sedihlah! Kalau mau tertawa, ya tertawalah!
Jangan paksakan semua keadaan itu harus sesuai dengan keinginan kita. Setiap orang itu sempurna sesuai dengan sempurna di mata kita.
Banyak dan beragam orang-orang di Astacala. Ada Jimbo, yang pastinya kalian tau orangnya bagaimana. Ada Jabek, yang pasti kalian bisa nilai ia bagaimana. Ada Bolot, dengan nilainya sendiri. Ada juga Gimbal, Astaka, Jaki, Momes, Onie, Ipoy, Pok Indun, dan lain-lain yang pasti semuanya beraneka ragam sikap, sifat, dan wataknya. Dan yang pasti ada saya yang ikut meramaikan kehidupan kalian di Astacala.
Kalau semuanya di antara orang-orang itu "baik-baik" saja, sepertinya ga indah lagi.
Bayangkan aja kalo seandainya di dunia ini semuanya adalah merah saja ataupun hitam saja.
Yang pasti, kita semua pandai-pandai saja dalam menjalanai hidup ini. Menjalani Astacala kalian.
Masa dengan kondisi seperti ini saja kita kalah?
Semua tindakan ada di tangan kalian. Di tangan kita masing-masing.
Mungkin, sekarang akan ada yang pergi karena itu.
Mungkin, sekarang malah ada yang bertahan karena itu.
Entahlah.....
Jadi ga tau mau nulis apa lagi.
Ada Uuth.....
Jadi malu
Yach..... mungkin segitu aja
Pokoknya jalani aja hidupmu
Tenang... Tenang... Seperti Karang...
Sebab persoalan bagai gelombang...
Tenang tenanglah...
Tenanglah sayang...
Saudaraku...
Pergilah dengan tenang
Sebab duka sudah tak lagi panjang
Saudaraku...
Pergilah dengan tenang
Sebab duka sudah tak lagi panjang
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| << | >> | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Recent posts
Merahnya Merah, Merahnya ASTACALA
Monolog Itu Belum Juga Berakhir
Dia Yang Tak Pernah Menyerah
Anaking Jimat awaking
Hidupku
Selingkuh
Selamat Berbahagia, Astacala!
Pergi dan Bahagialah (To You that Have Gone)
Tentang Mati
Racun
Merahnya Merah, Merahnya ASTACALA
Monolog Itu Belum Juga Berakhir
Dia Yang Tak Pernah Menyerah
Anaking Jimat awaking
Hidupku
Selingkuh
Selamat Berbahagia, Astacala!
Pergi dan Bahagialah (To You that Have Gone)
Tentang Mati
Racun
Archives
February 2008
June 2007
May 2007
February 2007
December 2006
August 2006
June 2006
May 2006
April 2006
October 2005
September 2005
February 2008
June 2007
May 2007
February 2007
December 2006
August 2006
June 2006
May 2006
April 2006
October 2005
September 2005
Categories
Air Mengalir Sampai Jauh
Berjalan ke Utara Bersama Hembusan Angin
Bunga Mata Air
Dutch East Indies Memorial
Indonesia Tercinta
Kabut Fajar
Air Mengalir Sampai Jauh
Berjalan ke Utara Bersama Hembusan Angin
Bunga Mata Air
Dutch East Indies Memorial
Indonesia Tercinta
Kabut Fajar
Members
Signup
