::
::
::
::
::
::
::
::
 
 

Merahnya Merah, Merahnya ASTACALA

Tahukah kamu, wahai paragraf yang mati. Tahukah kamu, wahai jiwa yang tersenyum dalam sebuah potret. Engkau telah begitu kejam, membuatku rindu dalam dendam, kalian tersenyum seperti meninggalkan diriku....
--------------------------
Selamat datang ke dunia yang baru, teman-teman, kawan-kawan, sodara-sodara, adik-adik, angkatan Jejak Rimba, anggota baru Astacala yang lahir tahun ini.

Pagi ini aku melihat semarak senyum-senyummu, yang serasa impas dengan jerih yang kau dapat saat-saat pendas bersama dan telah berlalu. Aku tidak melihat keletihan pada sorot mata kalian yang suram dan gondrong. Aku tidak melihat penyesalan yang datang di lusuh tubuh dan pakaian yang kau kenakan. Aku melihat merah, slayer kebanggaan dan berharga. Aku melihat ada siluit tulisan yang samar tapi tergambar dalam benak dengan kuat. ASTACALA.

Ranca Upas, tempat bersahaja yang mengandung dinginnya salju, yang menyimpan kedamaian pada jiwa-jiwa pencari. Ya kita kini menjadi pencari, adikku. Pencari segala macam, pencari kehidupan.

Aku kehabisan kata-kata melihat kalian yang berdiri kaku dan bercerita lewat senyum mati dan mematikan dalam potret kebersamaan itu.

Selamat Datang, apakah aku patut mengucapkan kata itu, padahal aku tidak ada bersama denganmu.

Selamat bergabung. Selamat mencari.

Salam dari Bengkulu

Jimi Piter
A-055-AIR