Sesuatu yang menarik itu biasanya dimulai dari sifat uniknya. Bukan hanya lain dari yang lain, tapi memiliki esensi yang 'mbeda' dar biasanya. Dalam setiap geraknya sebagai pribadi ia mesti memiliki kepribadian sendiri, tak terpengaruh dengan derasnya arus yang mempengaruhi di sekelilingnya, dalam semua hal. Ciri itu kadang mengemuka sebagai sosok yang aneh tapi nyata dan tentu sulit menemukan orang yang mudah memahami perbedaanya. Sulit pada budaya yang serasi, budaya yang rentan terhadap gerak elastis etika walau ia berada pada masyarakat demokratis sekalipun.
Sebab, nyatanya toleransi adalah sifat agung--kalau boleh dibilang sangat sulit dijangkau--adalah kelanjutan dari sifat harga menghargai pada tataran dasar yang paling rendah. Menghargai bersifat nilai lebih, tapi toleran lebih dari itu. Ada keharusan untuk memahami dan melihat ke dalam yang lebih jauh, untuk masing-masing diri maupun sosok yang diamatinya. Cukup sulit untuk masyarakat yang belum konsentrasi pada pembangunan untuk sisi tersebut.
Jakarta, barangkali adalah latar budaya yang paling pas untuk menggambarkan permasalahan ini. Kelas masyarakat--ini pun kalau setuju diberikan kelas-kelas yang membatasi--semuanya tumplek di kota negara ini. Semua identitas hampir dapat ditemukan di kota megapolitan ini. Status paling rendah, hingga yang memiliki nilai agung, kadang berpadu dan duduk dalam satu ruang yang tak tersadari bahkan terlihat cocok untuk bersanding. Wilayah-wilayah budaya yang tak teramati kadang lahir dan tumbuh subur di Jakarta. Jakarta menjadi unik, dengan sifat yang multidimensi-nya itu. Kalau ada yang menyebut wajar bahwa dengan landas pacu yang bercabang-cabang itu, maka ada pula permasalahan yang bercabang dan berdaun-daun di ujungnya, banyak sekali, maka itu juga adalah keunikan turunan yang tidak semua kota di dunia memilikinya. Jakarta begitu banyak melahirkan spesies baru yang tak terkendali dan terkenali. Mati satu, maka sifat evolusi yang terkandung subur dengan cepat menggantikan dengan hal baru yang sama sekali tak terduga.
Suatu kali, aku naik bus 'diantar' kawan sejalan di tempat duduk sebalahku. Sekonyong-konyong seorang 'aneh'--keanehannya telah ada sejak pertama melihatnya--kemudian menyumbangkan serangkaian monolog kepada kami, penumpang bus. Aku, dan kawan sejalan di sebelah, barangkali juga adalah makhluk sosial, sama seperti yang lain pada saat berhadapan dengan kejenuhan yang menyelimuti kota ini. Jenuh dengan kemalasan, jenuh dengan kreativitas, panasnya dan kesemrawutan tataanya. Berpikir pertama, bahwa sang pengamen adalah kelas masyarakat 'bawah', maaf--pengandaian ini hanya bersifat supaya mudah dalam menggambarkan, tapi bukan esensinya.
Monolog yang ia bawakan juga lain, ada nada kekuatan yang terkandung dari suaranya yang dalam--kontras dengan tubuhnya yang mungil--mirip seperti Sujewo Tedjo. Maaf sekali lagi maaf, perbandinganku ini semata bukan untuk penilaian satu sama lain, sebab memang keduanya adalah pribadi masing-masing. Isi monolognya pun terbilang lain, barangkali untuk telinga yang biasa mendengarkan dendangan lagu pop yang melenakan. Monolognya adala keluhan dari hati sang seniman yang bertugas memberikan pemikiran lewat kreativitasnya sendiri-sendiri.
"Jangan terlalu didengarkan!" pintaku kepada kawan di sebelah kursiku. Maka untuk mengalihkan perhatiannya aku ceritakan padanya tentang golongan-golongan seniman yang secara global terbagi dalam kota kepercayaan masing-masing. Ada penganut rasional, ada yang menganut paham universal. Paham ini, terpampang dengan jelas pada kasus "Prahara Budaya" meminjam kata Taufik Ismail di tahun 65-an. Bentrokan ideologi secara tragis merambah pada adu fisik. Maka kemudian, lumrahnya sebuah kisah, ada yang kalah ada yang menang, dalam satu sutu pandang. Kenapa dalam satu pandang, sebab ternyata, bagi yang kalah, menganggap kekalahan itu buka sebagai kekalahan, tapi sebagai bentuk dari proses menuju 'kemenangan' yang lebih real.
Monologpun berakhir dengan tidak terlalu kami perhatikan, olehku dan kawan sebelah ini. Sang pengamen kemudian menyodorkan kantong tempat sumbangan dari para penumpang. Satu persatu, bergiliran para penumpang bus memberikan sekedar uang recehan, mungkin bukan sebagai bentuk penghargaan, ini mungkin lho... Tepat di kursi kami, aku dan kawan sebelahku ini, kantong yang sedianya ada di tangan kanan untuk disodorkan agar sopan, berpindah ke tangan kiri dengan agak dijauhkan dari hadapanku yang sudah siap memberikan 'uang receh' yang memang telah kusiapkan. Dan sambil 'nyengir', tangan yang sudah kuulurkan ia tampik dengan menjauhkan kantong hitam itu. "Emang enak dicuekin....." katanya sambil berlalu, meninggalkanku dengan muka bengong dan paras berlumuran malu.
"Plakkkkk!!!!!" kepalaku seperti ditampar dengan kekuatan maha dahsyat, dan mungkin bukan kepala, tapi juga isi-isinya. "Busyettt, kok ada pengamen 'sombong' seperti ini" pikirku, sambil mengumpulkan segenap kesadaran yang sempat menghilang.
Jakarta, telah melahirkan anaknya yang baru tepat di depan mataku, menciumkan bau-bau aneh dihidungku yang tak terbiasa dengan aroma sumpek seperti kepadatan Jakarta.
Kalaulah ada yang mau ditarik pelajaran dari kisah ini, maka aku ingin mengatakan, seperti juga telah kukatakan pada teman sebelahku ini. "Kita nyatanya belum menjadi orang yang menghargai keberadaan orang lain, apalagi menghormatinya".
Penghargaan dan penghormatan telah hilang dalam kehidupan masyarakat yang terlalu berkutat pada kebutuhan yang sifanya sangat fisik. Kita, nyatanya belum bisa mendengarkan monolog dari orang-orang di sekeliling kita dengan benar dan memberi apresiasi. Monolog yang sebetulnya adalah cermin ajaib untuk memperlihatkan realitas yang sebenarnya ada dalam masyarakat. Dan monolog itu belum akan usai.
Bus, terus berjalan mengarah pada tujuannya semula, meninggalkanku, kini sendiri, sebab aku yakin teman di sebelah ini telah berpikir di tempat lain. Ingin sekali aku kembali bertemu dengan sang pembawa monolog, dan meminta maaf sedalamnya. Tapi ya itu, waktu tak bisa diulang. Tuhan menderitakan penyesalan kepadaku dalam bentuknya yang sangat unik.
Maka kawanku, mari kita lebih teliti dalam melihat kenyataan di sekitar hidup. Barangkali kita akan menemukan wejangan berharga dari remah-remah keseharian yang semakin terlupakan.
--Tanah Seratus, Juni 2007
untuk para pengamen jalanan : salam hormat untuk kalian
Sebab, nyatanya toleransi adalah sifat agung--kalau boleh dibilang sangat sulit dijangkau--adalah kelanjutan dari sifat harga menghargai pada tataran dasar yang paling rendah. Menghargai bersifat nilai lebih, tapi toleran lebih dari itu. Ada keharusan untuk memahami dan melihat ke dalam yang lebih jauh, untuk masing-masing diri maupun sosok yang diamatinya. Cukup sulit untuk masyarakat yang belum konsentrasi pada pembangunan untuk sisi tersebut.
Jakarta, barangkali adalah latar budaya yang paling pas untuk menggambarkan permasalahan ini. Kelas masyarakat--ini pun kalau setuju diberikan kelas-kelas yang membatasi--semuanya tumplek di kota negara ini. Semua identitas hampir dapat ditemukan di kota megapolitan ini. Status paling rendah, hingga yang memiliki nilai agung, kadang berpadu dan duduk dalam satu ruang yang tak tersadari bahkan terlihat cocok untuk bersanding. Wilayah-wilayah budaya yang tak teramati kadang lahir dan tumbuh subur di Jakarta. Jakarta menjadi unik, dengan sifat yang multidimensi-nya itu. Kalau ada yang menyebut wajar bahwa dengan landas pacu yang bercabang-cabang itu, maka ada pula permasalahan yang bercabang dan berdaun-daun di ujungnya, banyak sekali, maka itu juga adalah keunikan turunan yang tidak semua kota di dunia memilikinya. Jakarta begitu banyak melahirkan spesies baru yang tak terkendali dan terkenali. Mati satu, maka sifat evolusi yang terkandung subur dengan cepat menggantikan dengan hal baru yang sama sekali tak terduga.
Suatu kali, aku naik bus 'diantar' kawan sejalan di tempat duduk sebalahku. Sekonyong-konyong seorang 'aneh'--keanehannya telah ada sejak pertama melihatnya--kemudian menyumbangkan serangkaian monolog kepada kami, penumpang bus. Aku, dan kawan sejalan di sebelah, barangkali juga adalah makhluk sosial, sama seperti yang lain pada saat berhadapan dengan kejenuhan yang menyelimuti kota ini. Jenuh dengan kemalasan, jenuh dengan kreativitas, panasnya dan kesemrawutan tataanya. Berpikir pertama, bahwa sang pengamen adalah kelas masyarakat 'bawah', maaf--pengandaian ini hanya bersifat supaya mudah dalam menggambarkan, tapi bukan esensinya.
Monolog yang ia bawakan juga lain, ada nada kekuatan yang terkandung dari suaranya yang dalam--kontras dengan tubuhnya yang mungil--mirip seperti Sujewo Tedjo. Maaf sekali lagi maaf, perbandinganku ini semata bukan untuk penilaian satu sama lain, sebab memang keduanya adalah pribadi masing-masing. Isi monolognya pun terbilang lain, barangkali untuk telinga yang biasa mendengarkan dendangan lagu pop yang melenakan. Monolognya adala keluhan dari hati sang seniman yang bertugas memberikan pemikiran lewat kreativitasnya sendiri-sendiri.
"Jangan terlalu didengarkan!" pintaku kepada kawan di sebelah kursiku. Maka untuk mengalihkan perhatiannya aku ceritakan padanya tentang golongan-golongan seniman yang secara global terbagi dalam kota kepercayaan masing-masing. Ada penganut rasional, ada yang menganut paham universal. Paham ini, terpampang dengan jelas pada kasus "Prahara Budaya" meminjam kata Taufik Ismail di tahun 65-an. Bentrokan ideologi secara tragis merambah pada adu fisik. Maka kemudian, lumrahnya sebuah kisah, ada yang kalah ada yang menang, dalam satu sutu pandang. Kenapa dalam satu pandang, sebab ternyata, bagi yang kalah, menganggap kekalahan itu buka sebagai kekalahan, tapi sebagai bentuk dari proses menuju 'kemenangan' yang lebih real.
Monologpun berakhir dengan tidak terlalu kami perhatikan, olehku dan kawan sebelah ini. Sang pengamen kemudian menyodorkan kantong tempat sumbangan dari para penumpang. Satu persatu, bergiliran para penumpang bus memberikan sekedar uang recehan, mungkin bukan sebagai bentuk penghargaan, ini mungkin lho... Tepat di kursi kami, aku dan kawan sebelahku ini, kantong yang sedianya ada di tangan kanan untuk disodorkan agar sopan, berpindah ke tangan kiri dengan agak dijauhkan dari hadapanku yang sudah siap memberikan 'uang receh' yang memang telah kusiapkan. Dan sambil 'nyengir', tangan yang sudah kuulurkan ia tampik dengan menjauhkan kantong hitam itu. "Emang enak dicuekin....." katanya sambil berlalu, meninggalkanku dengan muka bengong dan paras berlumuran malu.
"Plakkkkk!!!!!" kepalaku seperti ditampar dengan kekuatan maha dahsyat, dan mungkin bukan kepala, tapi juga isi-isinya. "Busyettt, kok ada pengamen 'sombong' seperti ini" pikirku, sambil mengumpulkan segenap kesadaran yang sempat menghilang.
Jakarta, telah melahirkan anaknya yang baru tepat di depan mataku, menciumkan bau-bau aneh dihidungku yang tak terbiasa dengan aroma sumpek seperti kepadatan Jakarta.
Kalaulah ada yang mau ditarik pelajaran dari kisah ini, maka aku ingin mengatakan, seperti juga telah kukatakan pada teman sebelahku ini. "Kita nyatanya belum menjadi orang yang menghargai keberadaan orang lain, apalagi menghormatinya".
Penghargaan dan penghormatan telah hilang dalam kehidupan masyarakat yang terlalu berkutat pada kebutuhan yang sifanya sangat fisik. Kita, nyatanya belum bisa mendengarkan monolog dari orang-orang di sekeliling kita dengan benar dan memberi apresiasi. Monolog yang sebetulnya adalah cermin ajaib untuk memperlihatkan realitas yang sebenarnya ada dalam masyarakat. Dan monolog itu belum akan usai.
Bus, terus berjalan mengarah pada tujuannya semula, meninggalkanku, kini sendiri, sebab aku yakin teman di sebelah ini telah berpikir di tempat lain. Ingin sekali aku kembali bertemu dengan sang pembawa monolog, dan meminta maaf sedalamnya. Tapi ya itu, waktu tak bisa diulang. Tuhan menderitakan penyesalan kepadaku dalam bentuknya yang sangat unik.
Maka kawanku, mari kita lebih teliti dalam melihat kenyataan di sekitar hidup. Barangkali kita akan menemukan wejangan berharga dari remah-remah keseharian yang semakin terlupakan.
--Tanah Seratus, Juni 2007
untuk para pengamen jalanan : salam hormat untuk kalian


on July 1, 2007, 5:03 pm
BELAJARLAH UNTUK MENGERTI KARNA HANYA ITU YANG DAPAT ENGKAU TAHU. HINGGA SAAT ENGKAU HABIS DAN TERASING SESUNGGUHNYA ENGKAU AKAN TAHU.......