Orang sering bertanya pada ku. Kenapa naik gunung? Kenapa memanjat tebing? Kenapa masuk gua? Kenapa berenang di sungai deras? Kenapa..kenapa..kenapa?
Mulanya tak bisa kujawab pertanyaan demi pertanyaan itu. Tapi akhirnya ku jawab juga. Kukatakan, "Mungkin karena hubungan yang tercipta antara tuhan, alam dan manusia yang mampu dijalin olehnya". Hmmm...Hmm..Hm...H...Halaaah.. Entahlah, jawaban seperti apa ini. Sungguh filosofis, tapi jujur saja ku akui itu adalah salah satu bualan terindah yang pernah kubuat. Jujur saja lagi kukatakan sekarang, sungguh menderita rasanya ketika berjalan ditengah kabut dan dingin hujan badai itu, sambil berjuang melawan rasa letih dan ngantuk yang mampu membunuh. Sungguh mengerikan rasanya menggantungkan nyawa pada sehelai tali tipis 10.5 mili, ditengah kasarnya tebing batu atau kegelapan dimensi ruang dalam di bawah kaki ini. Sungguh menyesakan dada, saat tubuh diputar gulungan air berjuta kubik dalam derasnya sungai tak berujung yang mampu menghantarkan setiap nafas pada akhir hembusan.
Jadi saat kamu tanyakan lagi, kenapa..kenapa..kenapa...lalu apa yang kira - kira kan kujawab ? Karena memang tak bisa kugambarkan padamu tentang damainya jiwaku karena hangat yang diberikan bara didepan api yang kubuat ditengah menggigilnya tubuh ini sore tadi. Padahal alam di luar sana sedang mengamuk dengan badai atau udara dingin menusuk tulang. Karena memang tak mungkin untuk membuatmu mengerti tentang makna waktu dan berharga nya keyakinan yang kurasakan sejenak tiba - tiba, ditengah kepanikan saat nyawaku bergantung pada keputusan beberapa detik lagi. Karena memang tak mampu ku ceritakan padamu, tentang mimpi seorang anak manusia yang hanya ingin hidup dengan harapan sederhana dan tanpa rasa takut. Saat ini, semua itulah yang mampu membawaku selalu mencoba mengerti tentang perjalanan hidupku, memahami dan menerimanya apa adanya.
Lihatlah siklus jiwa kita, ia hidup lalu mati lalu hidup lagi. Dan tadi malam, dalam sunyinya hutan dan ditemani hangat nya api ini, aku teringat dengan mati. Dan saat ini, tiba - tiba aku begitu merindukan mati. Bukan karena tak bersyukur atas nafas yang kuhirup lalu kuhembuskan sekarang, tapi karena itulah yang terindah dari apa yang mampu disuguhi kehidupan. Dan bukankan setelah itu aku akan hidup lagi? Karena kuingin matiku membawa harapan tentang kamu pada Sang Khalik dalam hidupku nanti.
Seperti yang Soe pernah katakan.., "Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur." Aku ingin tersenyum dalam matiku, seperti yang pernah kamu katakan untuk ku lakukan. Di tengah dingin badai yang memberikan sensasi rasa hangat dan damai. -......... -
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| << | >> | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Recent posts
Merahnya Merah, Merahnya ASTACALA
Monolog Itu Belum Juga Berakhir
Dia Yang Tak Pernah Menyerah
Anaking Jimat awaking
Hidupku
Selingkuh
Selamat Berbahagia, Astacala!
Pergi dan Bahagialah (To You that Have Gone)
Tentang Mati
Racun
Merahnya Merah, Merahnya ASTACALA
Monolog Itu Belum Juga Berakhir
Dia Yang Tak Pernah Menyerah
Anaking Jimat awaking
Hidupku
Selingkuh
Selamat Berbahagia, Astacala!
Pergi dan Bahagialah (To You that Have Gone)
Tentang Mati
Racun
Archives
February 2008
June 2007
May 2007
February 2007
December 2006
August 2006
June 2006
May 2006
April 2006
October 2005
September 2005
February 2008
June 2007
May 2007
February 2007
December 2006
August 2006
June 2006
May 2006
April 2006
October 2005
September 2005
Categories
Air Mengalir Sampai Jauh
Berjalan ke Utara Bersama Hembusan Angin
Bunga Mata Air
Dutch East Indies Memorial
Indonesia Tercinta
Kabut Fajar
Air Mengalir Sampai Jauh
Berjalan ke Utara Bersama Hembusan Angin
Bunga Mata Air
Dutch East Indies Memorial
Indonesia Tercinta
Kabut Fajar
Members
Signup
