Sebentar lagi waktu berganti. Masih juga kamu menjadi racun di tempat ini. Senyummu datang masuk ke sini. Masih ingatkah kamu dengan niat dan semangatmu ketika bertempur dulu? Ketika aku begitu mengagumimu dan menyanjung akan kehadiranmu. Untuk apa slayer merahmu? Untuk apa seragam hitammu?
Senyummu itu, begitu manis ketika di sini. Omonganmu, begitu membuai ketika di sini. Tingkahmu, begitu hebat ketika di sini.
Tangismu, begitu mengharukan ketika di sana. Diammu, begitu merana ketika di sana. Tarianmu, menjadi hilang ketika di sana.
Dadaku bagaikan dirobek mendengar jawabanmu. Hatiku hancur menerima alasanmu. Walaupun kutahu, kalau memang seperti itu, itu tak bisa dipaksakan. Untuk apa? Tanyaku dalam hati. Sikapmu begitu besar mempengaruhi semangatku di tempat ini. Ibaratnya kehilangan beberapa bagian tubuhku. Walaupun kau secara fisik masih di sini. Ibarat udara yang pengab ketika aku bernafas. Bagaikan racun. Dan walaupun kehadiranmu ibaratnya bagian dari jasad tubuh ini. Sekecil apapun fungsimu. Dan tahukah kamu. Bahwa sikapmu, alasanmu, jawabanmu, dirimu, ... sungguh ... sangat mempengaruhi semangatku. Merobek. Hatiku hancur. Tapi untuk apa? Semua itu memang harus terjadi. Anjing! Dan aku tak bisa menghindari. Aku tak ingin semangatku goyah hanya karena kamu menjadi racun. Walaupun kadang, tak sepenuhnya kamu meracuni. Tapi setiap kali ingin kutanyakan itu padamu. Racun. Anjing! Harga diri. Cinta. Semangat. Tangis. Air mata. Sendu. ASTACALA...!!!
Ingin kuteriakkan lagi. Dan kutanyakan, seburuk apakah pengalaman hidupmu yang paling buruk? Atau seindah apakah pengalaman hidupmu yang terindah? Semuanya berjalan dan mengalir tanpa bisa dihindari. Hanya bisa diperjuangkan untuk menjadi lebih baik. Bukankah itu tetap terlewati. Hatiku hancur. Serupa ketika aku patah hati. Dikhianati. Apakah kamu mengkhianatiku? Dan aku tahu, kamu pasti tak bermaksud seperti itu. Tapi entahlah kenapa digariskan seperti itu.
Maaf. Dan terima kasih juga. Kamu tetap berarti. Hanya saja sedikit menyakiti. Bagiku. Itu saja. Dan, sekali lagi maaf.
Kamu tau kan kalau segala sesuatu memang harus berjalan. Mungkin harus seperti itu. Dan biarkan mengalir. Sampai jauh. Apa adanya. Walaupun aliran itu ada yang tak sempurna. Tapi alurnya memang seperti itu. Tapi kenapa kamu menjadi genangan? Genanganmu membusuk. Menjadi racun untuk aliran yang lain. Kenapa kamu menggenang terus?
Kamu tau kan kalau segala sesuatu itu tumbuh. Dan biarkan segala sesuatu itu tumbuh. Dari muda menjadi dewasa. Dari dewasa menjadi tua. Dan dari tua, entahlah akan menjadi apa. Tapi kenapa kamu tidak tumbuh? Kenapa kamu muda terus?
Untuk apa slayer merahmu? Untuk apa seragam hitammu? Ngapain kamu bangga menyandangnya? Mungkinkah hanya dipakai ketika kamu masih di sini? Setelah itu, merasa tak layak lagi. Sebentar sekali. Hanya segitukah? ASTACALA...!!!
Dan ketika aku menanyakan kembali itu padamu, aku akan tahu, itu akan menghancurkan hatiku. Menggoyahkan semangatku. Aku patah hati.
Dan ketika aku menanyakan lagi itu padamu, aku akan merasakan, kamu akan menghindar untuk mendengarkan itu. Seperti ada jarak yang memisahkan. Seperti ada tembok yang menutupi keterbukaan, yang biasanya ada, antara aku dan kamu. Jawabannya hanya satu kata. "Nggak!". Hanya satu kata. Atau mungkin dua kata. "Untuk apa?" Hanya dua kata. Tapi begitu menyakiti. Dan kamu pun berusaha untuk melupakan hal itu. Nggak usah diungkit lagi. Walaupun kutahu, kamu tak bermaksud seperti itu. Emang aku siapa? Atau dia itu siapa? Ngapain kamu bangga menyandangnya? Santai aja. Patah hati? Tentu saja. Jika kamu memperlakukannya begitu rupa.
Dan ketika sekarang, saat ini. Ya, saat ini. Saat kamu baca tulisan ini. Dan kamu tau itu sepertinya untukmu. Ada komentar darimu? Nggak? Atau sengaja tak mau kamu mengerti? Udahlah. Nggak usah kamu pikirkan. Santai aja.
Sekian perjalanan kamu lalui. Sekian peristiwa kamu alami. Sekian budaya kamu kunjungi. Sekian cinta kamu arungi. Dan kamu pun mengetahuinya. Segala warna dan perbedaannya di dunia.
Hidup tak perlu ditangisi. Ataupun disesali. Itu kata mereka. Hanya saja perlu untuk dijalani setiap hari dengan sepenuh hati. Aku tak sepenuhnya pernah mengerti. Apakah kamu mengerti?
Kamu tau kan kalau segala sesuatu itu memang harus mengalir. Atau sesuatu itu tumbuh? Tapi kenapa kamu muda terus?
Aku tak menjawab, karena kamulah yang bisa menjawab. Aku tak tahu, karena kamulah yang mengerti. Aku hanya mengarahkan, karena kamulah yang melangkah.
Semoga kamu bisa belajar. Belajar menghargai dari orang yang tidak menghargai. Belajar diam dari orang yang banyak omong. Belajar berarti dari orang yang tak mau berguna. Belajar sabar dari orang yang menyebalkan. Belajar mencintai dari orang yang membenci. Dan belajar mengerti untuk apa kamu di sini.
ASTACALA...!!!
Bandung, Februari 2006
Senyummu itu, begitu manis ketika di sini. Omonganmu, begitu membuai ketika di sini. Tingkahmu, begitu hebat ketika di sini.
Tangismu, begitu mengharukan ketika di sana. Diammu, begitu merana ketika di sana. Tarianmu, menjadi hilang ketika di sana.
Dadaku bagaikan dirobek mendengar jawabanmu. Hatiku hancur menerima alasanmu. Walaupun kutahu, kalau memang seperti itu, itu tak bisa dipaksakan. Untuk apa? Tanyaku dalam hati. Sikapmu begitu besar mempengaruhi semangatku di tempat ini. Ibaratnya kehilangan beberapa bagian tubuhku. Walaupun kau secara fisik masih di sini. Ibarat udara yang pengab ketika aku bernafas. Bagaikan racun. Dan walaupun kehadiranmu ibaratnya bagian dari jasad tubuh ini. Sekecil apapun fungsimu. Dan tahukah kamu. Bahwa sikapmu, alasanmu, jawabanmu, dirimu, ... sungguh ... sangat mempengaruhi semangatku. Merobek. Hatiku hancur. Tapi untuk apa? Semua itu memang harus terjadi. Anjing! Dan aku tak bisa menghindari. Aku tak ingin semangatku goyah hanya karena kamu menjadi racun. Walaupun kadang, tak sepenuhnya kamu meracuni. Tapi setiap kali ingin kutanyakan itu padamu. Racun. Anjing! Harga diri. Cinta. Semangat. Tangis. Air mata. Sendu. ASTACALA...!!!
Ingin kuteriakkan lagi. Dan kutanyakan, seburuk apakah pengalaman hidupmu yang paling buruk? Atau seindah apakah pengalaman hidupmu yang terindah? Semuanya berjalan dan mengalir tanpa bisa dihindari. Hanya bisa diperjuangkan untuk menjadi lebih baik. Bukankah itu tetap terlewati. Hatiku hancur. Serupa ketika aku patah hati. Dikhianati. Apakah kamu mengkhianatiku? Dan aku tahu, kamu pasti tak bermaksud seperti itu. Tapi entahlah kenapa digariskan seperti itu.
Maaf. Dan terima kasih juga. Kamu tetap berarti. Hanya saja sedikit menyakiti. Bagiku. Itu saja. Dan, sekali lagi maaf.
Kamu tau kan kalau segala sesuatu memang harus berjalan. Mungkin harus seperti itu. Dan biarkan mengalir. Sampai jauh. Apa adanya. Walaupun aliran itu ada yang tak sempurna. Tapi alurnya memang seperti itu. Tapi kenapa kamu menjadi genangan? Genanganmu membusuk. Menjadi racun untuk aliran yang lain. Kenapa kamu menggenang terus?
Kamu tau kan kalau segala sesuatu itu tumbuh. Dan biarkan segala sesuatu itu tumbuh. Dari muda menjadi dewasa. Dari dewasa menjadi tua. Dan dari tua, entahlah akan menjadi apa. Tapi kenapa kamu tidak tumbuh? Kenapa kamu muda terus?
Untuk apa slayer merahmu? Untuk apa seragam hitammu? Ngapain kamu bangga menyandangnya? Mungkinkah hanya dipakai ketika kamu masih di sini? Setelah itu, merasa tak layak lagi. Sebentar sekali. Hanya segitukah? ASTACALA...!!!
Dan ketika aku menanyakan kembali itu padamu, aku akan tahu, itu akan menghancurkan hatiku. Menggoyahkan semangatku. Aku patah hati.
Dan ketika aku menanyakan lagi itu padamu, aku akan merasakan, kamu akan menghindar untuk mendengarkan itu. Seperti ada jarak yang memisahkan. Seperti ada tembok yang menutupi keterbukaan, yang biasanya ada, antara aku dan kamu. Jawabannya hanya satu kata. "Nggak!". Hanya satu kata. Atau mungkin dua kata. "Untuk apa?" Hanya dua kata. Tapi begitu menyakiti. Dan kamu pun berusaha untuk melupakan hal itu. Nggak usah diungkit lagi. Walaupun kutahu, kamu tak bermaksud seperti itu. Emang aku siapa? Atau dia itu siapa? Ngapain kamu bangga menyandangnya? Santai aja. Patah hati? Tentu saja. Jika kamu memperlakukannya begitu rupa.
Dan ketika sekarang, saat ini. Ya, saat ini. Saat kamu baca tulisan ini. Dan kamu tau itu sepertinya untukmu. Ada komentar darimu? Nggak? Atau sengaja tak mau kamu mengerti? Udahlah. Nggak usah kamu pikirkan. Santai aja.
Sekian perjalanan kamu lalui. Sekian peristiwa kamu alami. Sekian budaya kamu kunjungi. Sekian cinta kamu arungi. Dan kamu pun mengetahuinya. Segala warna dan perbedaannya di dunia.
Hidup tak perlu ditangisi. Ataupun disesali. Itu kata mereka. Hanya saja perlu untuk dijalani setiap hari dengan sepenuh hati. Aku tak sepenuhnya pernah mengerti. Apakah kamu mengerti?
Kamu tau kan kalau segala sesuatu itu memang harus mengalir. Atau sesuatu itu tumbuh? Tapi kenapa kamu muda terus?
Aku tak menjawab, karena kamulah yang bisa menjawab. Aku tak tahu, karena kamulah yang mengerti. Aku hanya mengarahkan, karena kamulah yang melangkah.
Semoga kamu bisa belajar. Belajar menghargai dari orang yang tidak menghargai. Belajar diam dari orang yang banyak omong. Belajar berarti dari orang yang tak mau berguna. Belajar sabar dari orang yang menyebalkan. Belajar mencintai dari orang yang membenci. Dan belajar mengerti untuk apa kamu di sini.
ASTACALA...!!!
Bandung, Februari 2006

