::
::
::
::
::
::
::
::
 
 

Rumah Kecil di Bawah Matahari

(B. Irawan Massie)

sujujurnya rumah kecil itu tidak pernah di persiapkan secara
cermat sebelumnya. Ia dirampungkan begitu saja dengan cepat
kerna kedua penghuninya telah merasa letih menghitung
peristiwa demi peristiwa yang berguguran di depannya

Setelah dihuni rumah itu pun tak henti-hentinya berbenah diri
dari debu demi debu, dari pasir demi pasir bahkan dari batu-batu
kerikil yang begitu tega telah dilontarkan oleh angin
barat lewat jendela padahal selalu dibiarkannya terbuka
untuk menerima para dewa yang biasanya denga rela datang
berkunjung ke rumah kecil itu
bilama meraka turun ke dunia

setelah seperempat abad lewat maka kita saksikan kembali
sebuah taman yang tertata dengan resik di sekeliling rumah itu.
Berbagai jenis rerumputan dan kembang warna-warni tak
pernah berhenti disiram matahari, masih matahari yang dulu
itu. Meskipun kini telah berangkat menua tapi dengarlah:
swara jantung kedua pohon cemara itu bahkan
semakin menguat setelah bertahan di bawah deraan ratusan musim
yang perangainya terkadang manis di satu saat dan di saat
lain bisa sangat menyakitkan

Di rumah kecil itu memang tidak terlihat sesajen atau pun
kembang setaman sebab penghuninya hanya ingin selalu
mempersembahkan :
Terangnya sinar matahari yang menyusup di sana-sini serta
berbagai kembang zikir yang dirasakannya sangat membawa
ketenangan di batinnya. Bahkan para dewa yang gaib namun
sedari tadi duduk bersamanya itu pun tak letih-letihnya
meniupkan wewangian untuk mengantar dzikir itu ke alam semesta

Rumah itu memang tidak pernah secara cermat dipersiapkan sebelumnya
agar tumbuh dengan sabar mengikuti tafsir surah matahari
tapi mungkin kerna tanpa sengaja letaknya telah tepat
berada di bawaah matahari pagi maka kabar berita yang
sakral itu tak disangka-sangka tiba juga akhirnya kepadanya:
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari....."