::
::
::
::
::
::
::
::
 
 

Save the World (Satu Langkah Kecil)

ketika pohon terakhir telah ditebang
dan air terakhir telah diminum
saat itu kita sadar
bahwa uang tak dapat dimakan

Petikan kata itu aku baca pada sebuah papan yang dipasang oleh polisi hutan di suatu gunung yang pernah kudaki. Sederhana memang. Tapi mempunyai arti yang dalam kalau dipikirkan lebih jauh lagi. Atau mungkin hanya sekedar tulisan tak berarti jika kita tak mau ambil pusing. Tapi aku diajarkan untuk membuat semua yang aku miliki dan yang aku alami memiliki arti. Walaupun kecil, semoga selalu memiliki arti.
Ketika aku SD dan SMP, aku mengikuti yang namanya Pramuka. Waktu SMA, aku ikut yang namanya Sispala. Waktu kuliah, aku juga ikut yang namanya Mapala. Organisasi yang mengatakan bahwa dirinya adalah sebagai penggiat alam terbuka, petualang, pembela dan aktivis lingkungan.
Tapi, entah kenapa. Makin banyak aktivis dan pembela lingkungan makin banyak lingkungan yang menangis. Makin banyak aku berkegiatan alam terbuka, makin banyak aku berpetualang, makin banyak aku berkunjung ke suatu tempat, makin banyak aku tahu bahwa tempatku di bumi ini makin menyedihkan.
Penebangan hutan, pencemaran air, udara, sampah, krisis energi. Dan entah apalagi.
Hutanku makin sempit. Sungaiku makin kotor. Udaraku makin pengab. Makin panas. Dan jiwaku makin merana melihat semua itu. Aku kecewa.
Mungkinkah aku bisa bermain-main lagi di gunung, di hutan, di sungai, di tebing, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi.
Atau, jika aku masih diberi kesempatan, untuk memiliki anak, cucu, cicit, dan penerus-penerusku nanti dari orang yang aku cintai, masihkah mereka bisa untuk melihat bahwa bumi ini masih indah. Hutannya masih lebat dengan berbagai tumbuhan menghijau dan beraneka satwa di dalamnya. Sungainya masih mengalir jernih tanpa limbah yang membuat hati enggan dan tanpa banjir di musim penghujan. Tebingnya masih bisa dijamah tanpa ada gangguan mesin-mesin baja yang mengambil batunya atau gedung-gedung pencakar langit yang di kemudian hari akan menggantikannya.
Sering aku berpikir dan kecewa. Melihat banyaknya manusia-manusia bersifat kapitalis berlebihan. Hidup, belajar, dan bekerja tidak lagi untuk keuntungan yang bersifat moral dan cinta kasih antar sesama dan lingkungan tempatnya hidup. Tidak lagi untuk keuntungan yang memberikan tempat bagi manusia untuk hidup berdampingan dan untuk bisa menikmati semua isi dunia dengan cukup. Tidak berlebihan.
Sekarang, di masa ini, dan entah nanti, kapitalisme yang berlebihan banyak kutemui. Hidup, belajar, dan bekerja hanya untuk keuntungan ekonomi belaka. Prinsip dengan waktu yang sedikit untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Tak ayal lagi, semua isi bumi dikuras habis tanpa memperhitungkan kesanggupannya untuk menyediakan gantinya lagi. Tanpa memperhitungkan rezeki penerus di masa nanti. Semua isi bumi digali. Dibabat habis. Dijual. Uangnya ditumpuk berjuta-juta, bermilyar-milyar. Yang sebenarnya semua itu kalau dikelola dengan bijak adalah cukup.
“ Lebih baik memiliki sedikit dan cukup tapi berarti, daripada memiliki banyak tapi tak ada arti.” Andai semua orang mengerti. Kalau cukup dan berarti itu indah. Walaupun aku tak memungkiri kalau aku sering tergoda untuk memiliki banyak dan lebih.
Sebenarnya, aku, kamu, atau kalian bisa untuk tetap menjaga bumi ini. Satu tindakan kecil aja. Sekali lagi, “satu tindakan kecil”. Nggak usahlah terlalu jauh-jauh memikirkan hutan, sungai, atau tebing yang tidak setiap hari akan kita temui sebagai manusia yang hidup dalam gemerlap peradaban kota. Atau memikirkan orang-orang yang berkutat dengan eksplorasi demi uang belaka.
Satu tindakan kecil aja. Setidaknya satu tindakan untuk dirimu sendiri. Atau satu lingkup kecil di sekitarmu. Apa aja. Tidak konsumtif kek. Buang sampah pada tempatnya kek. Tanam pohon kek. Atau kek kek lainnya yang bisa menjaga kelestarian bumi ini.
Satu contoh misalnya. “Buanglah sampah pada tempatnya”.
Mungkin tulisan itu “basi”. Atau mungkin akan ada yang ketawa membacanya. Acuh tak acuh. Peduli amat.
Aku tahu, walaupun aku membuang sampah pada tempatnya, hal itu tidak akan mengurangi jumlah sampah yang merajalela. Tapi, kalau aku berpikir, setidaknya hal itu bisa untuk tidak menambah jumlah sampah yang ada. Atau, minimal lingkungan sekitar kita enak buat dilihat karena sampah-sampah sudah diletakkan pada tempat yang benar.
Dan... sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi ini. Satu langkah kecil aja. Satu langkah yang bisa kau mulai dari dirimu sendiri.
Bayangkan kalau semua orang melakukan suatu langkah kecil untuk tidak membuang sampah sembarangan. Melakukan langkah kecil untuk menanam pohon. Melakukan suatu langkah kecil yang berguna. Melakukan langkah-langkah kecil untuk tidak ikut menambah kerusakan di bumi ini. Dan semua langkah itu disatukan. Mungkin bumi ini akan tetap indah sampai waktunya kelak ia memang harus menutup mata.
Semoga hutanku masih tetap menghijau, airku terus mengalir, udaraku selalu meneduhkan, dan bumiku masih menghidupkan.
Semoga...

Bandung, Agustus 2005