::
::
::
::
::
::
::
::
 
 

Sudut Selatan Yogyakarta



Sudut selatan yogyakarta photo by DELLA SETTIMANA 2004


[ more.. ]


Rumah Kecil di Bawah Matahari

(B. Irawan Massie)

sujujurnya rumah kecil itu tidak pernah di persiapkan secara
cermat sebelumnya. Ia dirampungkan begitu saja dengan cepat
kerna kedua penghuninya telah merasa letih menghitung
peristiwa demi peristiwa yang berguguran di depannya

Setelah dihuni rumah itu pun tak henti-hentinya berbenah diri
dari debu demi debu, dari pasir demi pasir bahkan dari batu-batu
kerikil yang begitu tega telah dilontarkan oleh angin
barat lewat jendela padahal selalu dibiarkannya terbuka
untuk menerima para dewa yang biasanya denga rela datang
berkunjung ke rumah kecil itu
bilama meraka turun ke dunia

setelah seperempat abad lewat maka kita saksikan kembali
sebuah taman yang tertata dengan resik di sekeliling rumah itu.
Berbagai jenis rerumputan dan kembang warna-warni tak
pernah berhenti disiram matahari, masih matahari yang dulu
itu. Meskipun kini telah berangkat menua tapi dengarlah:
swara jantung kedua pohon cemara itu bahkan
semakin menguat setelah bertahan di bawah deraan ratusan musim
yang perangainya terkadang manis di satu saat dan di saat
lain bisa sangat menyakitkan

Di rumah kecil itu memang tidak terlihat sesajen atau pun
kembang setaman sebab penghuninya hanya ingin selalu
mempersembahkan :
Terangnya sinar matahari yang menyusup di sana-sini serta
berbagai kembang zikir yang dirasakannya sangat membawa
ketenangan di batinnya. Bahkan para dewa yang gaib namun
sedari tadi duduk bersamanya itu pun tak letih-letihnya
meniupkan wewangian untuk mengantar dzikir itu ke alam semesta

Rumah itu memang tidak pernah secara cermat dipersiapkan sebelumnya
agar tumbuh dengan sabar mengikuti tafsir surah matahari
tapi mungkin kerna tanpa sengaja letaknya telah tepat
berada di bawaah matahari pagi maka kabar berita yang
sakral itu tak disangka-sangka tiba juga akhirnya kepadanya:
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari....."


May Day

Suatu tim beranggotakan orang-orang terpilih dari berbagai disiplin ilmu dibentuk oleh organisasi perdangan dunia pada tahun 2004 lalu. Diharapkan tim ini akan menemukan solusi menyelamatkan ekonomi dunia (menyelamatkan corak ekonomi kapitalisme).
Di workshopnya, Genewa, Swiss, tim bekerja siang malam memenuhi permintaan yang membayar mereka. Singkirkan apa itu hati nurani dan sebangsanya, tim secara profesional bahu membahu mencari tahu bagaimana "menyelamatkan" dunia ini.

Alhasil, akhirnya pengorder menerima hasil kerja tim ini, berupa sebuah proposal "masa depan". Terlepas dari pendahuluan dan basa-basi, ada sebuah catatn yang cukup membuat kepala merinding.
Corak kapitalisme akan berjalan normal bila penduduk bumi maksimal 5 milyar. Saat ini bumi telah menampung lebih dari 6 milyar manusia. 1 milyar manisia dan penambahannya, yang di Indonesia saja 3 juta pertahun, entah dibuang ke mana. Tapi harus disingkirkan.

Peringatan May Day dan demo-demo buruh pendahuluannya terjadi dan akan terjadi terus tanpa akan bisa menemukan titik temu, atau hanya ketemu di lembaran-lembaran rapi sebuah undang-undang yang dilapangan implementasi "entahlah". Akan jadi penghias layar TV, yang makin lama makin membosankan.

Bukan berarti kapitalisme akan menemui ajal dan diganti system lain. Bukankah yang lain (baca:sosialesme/komonisme) telah meninggalkan catatan-catatn kelam tentang kegagalan.

jadi ?

Ikuti saja apa tim "swiss"???


Save the World (Satu Langkah Kecil)

ketika pohon terakhir telah ditebang
dan air terakhir telah diminum
saat itu kita sadar
bahwa uang tak dapat dimakan

[ more.. ]


Menemukan Diri Kita yang Sebenarnya

“...Berbagi waktu dengan alam,
kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya...”
Begitulah sepenggal lirik lagu Gie yang saat ini seringkali terdengar di televisi atau radio.

[ more.. ]


Diklan VS Jalan-jalan

Apa sih yang kamu inginkan setelah kamu menjadi seorang anggota Astacala? Seorang yang katanya adalah Astacala?
Pertanyaan itu terbersit ketika aku dan seorang saudaraku duduk di depan api unggun kecil yang menyala di malam yang dingin sepi sambil menikmati segelas kopi susu dan sebatang djarum coklat. Aku bercerita kepadanya, kepada hatiku, dan kepada hamparan malam di alam terbuka yang indah itu.
Kurang lebih aku bercerita seperti ini.

[ more.. ]


Dan Kau Astacala

Dan kau bawa aku ke sana
Ke dunia nyata fatamorgana
Kau perlihatkan dari sudut yang berbeda
Membuat hati terbawa
Ke dalam alunan rasa
Aku pun terlena
Terbang tinggi oleh suasana

[ more.. ]


Page :  1 2