Apakah Aku Berada di Mars?

Tanggal 4 Januari 2004 wahana antariksa milik NASA, Spirit, mendarat dengan sukses di permukaan Planet Mars. Selama hampir 90 hari kemudian, robot beroda enam itu mengirimkan ratusan foto beresolusi tinggi mengenai planet yang oleh masyarakat Yunani kuno diberi nama dengan nama dewa perang sesembahan mereka. Dalam beberapa foto tersebut, dengan berlatarkan langit yang terang, permukaan Mars tampak sepi, hanya dipenuhi oleh pasir dan bongkahan batu yang berserakan. Malam ini–saya tidak sedang berada di Planet Mars tentunya, saya sedang terpesona oleh lanskap pemandangan yang memunculkan nuansa tidak asing dengan gambar yang diambil oleh proyek berharga ratusan juta dolar tersebut. Terbentang di hadapan saya, tepat di bawah puncak Gunung Merapi, Pasar Bubrah menampilkan kesan yang sama :  misterius yang tentu saja menggoda.

Cover Photo

Merapi dan Mistisme Pendakian
Ketika akhirnya langkah kaki saya terhenti pada sebuah titik, bukit kecil yang ditandai dengan bangunan monumen–in memoriam, tiada terlihat satu orang pun yang berada di dataran luas di bawah sana. Hanya bunyi angin yang berdesir kencang, membawa serta udara bertemperatur rendah menyaput kawasan puncak Merapi sore itu. Saya berhenti sejenak, bagaimanapun juga dibutuhkan keberanian yang ekstra untuk bermalam sendirian saja di ketinggian seperti ini. Apalagi dengan reputasi Pasar Bubrah yang sedemikian terkenal akan status mistisnya, jelas membuat hati saya mendadak menjadi ciut.

Dataran yang dulunya merupakan bekas kawah purba gunung Merapi ini sering dianggap sebagai salah satu tempat yang wingit. Kabarnya tempat ini merupakan lokasi transaksi jual beli (pasar) makhluk ghaib sekitar gunung, dimana bongkahan batu yang berserakan tersebut adalah meja dan kursi bagi warung warung tak terlihat mereka. Pendaki yang beruntung seringkali bertemu dengan aktivitas ganjil seperti adanya suara riuh tidak jelas ataupun bunyi gamelan yang entah dari mana asal muasalnya. Lokasi sejenis–Pasar Setan, juga tercatat ada di Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Memang dalam hampir semua peradaban di dunia, gunung selalu terkait dengan kepercayaan terhadap keberadaan alam lain, hingga pada akhirnya gunung berubah menjadi lokasi yang disakralkan. Dalam mitologi Yunani, para dewa yang dipimpin oleh Zeus bersemayam dengan tenang di puncak gunung Olimpia. Puncak tertinggi di dunia, Mount Everest, oleh warga Nepal diberikan nama Sagarmatha, berarti  Bunda Semesta, mengacu pada kepercayaan yang menganggap bahwa Mount Everest adalah tempat suci bagi mereka. Di masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, hampir semua gunung memiliki kisah dan legendanya masing masing, terceritakan secara turun menurun hingga saat ini. Beberapa bahkan mengandung muatan kearifan lokal yang berperan besar pada kelestarian lingkungan di sekitar gunung.

Oleh para pendaki yang akan menuju puncak Merapi, Pasar Bubrah sendiri merupakan tempat yang favorit. Lokasinya yang tepat berada di bawah puncak sering menjadi spot untuk mendirikan kemah atau sekedar transit beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum summit attack. Pasca erupsi dua tahun silam, tidak begitu banyak terjadi perubahan di tempat ini. Erupsi 2010 lebih banyak meninggalkan jejak akibatnya di bagian selatan gunung, dan tentu saja di puncak Merapi itu sendiri.

Warna Warni

Setelah hampir tiga setengah jam meninggalkan Basecamp Pendakian New Selo, akhirnya saya tiba di Pasar Bubrah. Kali ini tak ada satu pun teman yang menjadi rekan perjalanan, atas satu dan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Merapi secara solo. Perasaan agak mendebarkan juga mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi saya.

Secara umum, tidak banyak perubahan yang terjadi pada rute pendakian via Selo. Para pendaki langsung dihajar dengan trek yang terus terusan menanjak ke atas. Jalan setapaknya pun terlihat makin jelas. Di masa liburan seperti ini, hampir setiap hari ada saja pendaki yang melakukan pendakian ke Puncak Merapi, sehingga pada akhirnya jalurnya pun makin terlihat. Tidak banyak pendaki yang saya temui siang itu, hanya dua rombongan saja, berasal dari Jakarta dan Solo. Dari mereka saya mendapat kabar bahwa cuaca Merapi selama dua hari ini sangat cerah.

***

Di Bawah Kaki Merapi

Beberapa saat berdiam diri, tiba tiba dari kejauhan terlihat dua sosok yang sedang bergerak. Saya menghela nafas, seperti mendapatkan keberuntungan karena saya tidak akan bermalam sendirian di Pasar Bubrah. Setelah saling memperkenalkan diri–keduanya berasal dari Kota Ambarawa, kami pun menuju sebuah batu besar di tengah Pasar Bubrah. Di situlah kemah kami akan dirikan. Permukaan di sekitarnya cukup rata, lumayan bersih dari bebatuan

Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan sore itu. Sambil menunggu momen matahari terbenam, kami hanya bercakap dan bertukar pengalaman saja. Di kalangan pendaki, gunung bukanlah hanya sebagai media tempat berpetualang saja, namun juga tempat untuk memupuk rasa persaudaraan. Meskipun baru saja berkenalan, percakapan terasa mengalir begitu saja, tidak terhalang oleh rasa canggung yang biasanya akan mengganggu.

Sunset Moment

Malam Cerah di Pasar Bubrah
“Gubraaakkkkk!!!!” tenda dome saya berguncang dengan keras, angin berhembus tanpa ampun menghajarnya. Saya pun terjaga dari tidur. Saat itu sudah pukul sepuluh malam. Bulu kuduk terasa merinding, hawa dingin begitu menusuk tulang. Walau diselimuti rasa takut, saya terpaksa memberanikan diri keluar dari dome, berniat mengecek kondisinya setelah kejadian barusan. Tak disangka, saya justru melihat pemandangan yang begitu memanjakan mata.

Lightning Dome

Di depan pintu dome saya tertegun, takjub. Malam itu, pada awal bulan Juli yang cerah, muncul dari ufuk timur, hampir membentuk bulat yang sempurna, rembulan bersinar dengan terang. Sementara di bagian latar, langit malam tampak bersih tanpa sedikitpun kehadiran awan. Ribuan, atau bahkan jutaan bintang terlihat gemerlap bertaburan di cakrawala.  Saking terangnya, bahkan tanpa bantuan dari senter, kondisi sekeliling terlihat dengan jelas. Bagai terbius, usai mengambil kamera di dalam dome, saya pun memutuskan untuk berkeliling kawasan Pasar Bubrah.

Perlahan saya menuju ke timur, ke arah puncakan di atas Kawah Mati. Angin berhembus cukup kencang, walau sudah memakai hampir semua pakaian yang saya bawa, terkadang tangan masih bergetar menggigil. Dari tempat saya berdiri, walau samar terselimuti oleh kabut, jauh di sebelah timur, siluet Gunung Lawu terlihat dengan gagah. Di bawahnya, tampak gelap menganga jurang yang berkedalaman ratusan meter ke bawah.

Latar Langit
Bercahaya Biru

Beranjak ke seismograf–instrumen pendeteksi gempa di sisi utara Pasar Bubrah, permukaan datar dari sel surya bangunan tersebut menjadi tripod dadakan bagi kamera DSLR yang dibawa, panorama malam ini terlalu sayang jika dilewatkan dalam ingatan kolektif pribadi saja. Dalam waktu singkat, puluhan frame foto telah mengisi memory card yang terpasang pada Nikon D5100, selaras dengan kedua belah tangan yang mulai terasa kebas oleh hawa dingin yang makin menggigit.

Dari banyak pekerjaan yang bisa digeluti, rasa rasanya fotografer alam bebas adalah salah satu yang paling ekstrim. Saya teringat pada Paul Nicklen, salah seorang fotografer senior National Geographic, bagaimana dalam salah satu penugasannya, dengan mengenakan berlapis jaket tebal dan balaclava melingkari kepalanya, dia harus berhadapan dengan badai salju yang mengamuk demi menunggu datangnya beruang Svalbard yang sedang menjadi objek penugasannya. Selama tiga jam Nicklen duduk terdiam dengan tangan yang hampir membeku, bahkan bulu matanya sampai membeku oleh ktistal es karena suhu yang teramat dingin. Namun bagi seorang fotografer, sepertinya tiap penderitaan akan berbanding lurus dengan kepuasan yang dicapai. Hasil pemotretan mereka telah memberikan khasanah pengetahuan yang luas kepada masyarakat mengenai kondisi alam dan lingkungan.

Summit Attack dan Seluncuran Pasir Berkecepatan Tinggi
Diantara mata yang masih berkunang kunang karena istirahat yang tidak nyenyak, saya merapikan dome sekaligus mem-packing snack dan air minum ke dalam sebuah tas kecil yang akan saya bawa trekking menuju Puncak Merapi. Beberapa saat yang lalu, tepat ketika adzan subuh masih sayup sayup terdengar, saya terbangun oleh dering alarm handphone yang memekakkan telinga. Pukul lima pagi, ketika suasana masih cukup gelap, bergegaslah ke luar dari tempat peraduan tadi malam.

Siluet Pagi

Dari sisi utara, terdengar suasana yang cukup ramai. Para pendaki terlihat mulai berdatangan. Rupanya mayoritas dari mereka adalah wisatawan luar negeri yang bertujuan mendaki untuk menikmati momen sunrise Merapi. Bergabung bersama mereka, saya menangguhkan rencana summit attack terlebih dahulu.

Sesaat kemudian, di ufuk timur langit mulai merekah. Seberkas sinar terang mulai terpancarkan, pekat malam mulai bergradasi menjadi kemerahan. Dari batas horizon, perlahan kirana mulai menampakkan ujudnya, tinggi dan makin tinggi. Lalu akhirnya pun membulat dengan sempurna.

Sunrise Moment

“Pemandangan yang indah ya.” kata salah seorang mereka kepada saya dengan terbata. Agak kaget juga mendengarnya berbicara dengan bahasa Indonesia.

“Can you speak Indonesia?” tanya saya kepadanya.

Just a little, sedikit sedikit bisa.” tukasnya sambil tertawa.

Dari percakapan kami kemudian, rupanya dia memang sudah sering ke Indonesia. Berulang kali berwisata kali ke Pulau Bali, namun baru pertama kali ke Jogjakarta. Di tempat asalnya, Prancis, Indonesia memang sangat terkenal dengan keindahan Pulau Dewata nya.

***

Ketika matahari tampak sudah mulai meninggi, saya pun meninggalkan tempat tersebut menuju sisi kiri dari bagian kaki kerucut puncak merapi. Dari hasil survey dan pengamatan kemarin sore, disitulah trekking menuju puncak akan saya mulai.

Sebenarnya tidak ada petunjuk terhadap rute trekking menuju puncak. Kerucut dari kubah puncak Merapi terlihat curam dan sangat rapuh–sedikit guncangan dari dalam gunung dan sepertinya bisa menyebabkan terjadinya longsoran. Patokan yang bisa diambil adalah melalui bebatuan yang terlihat besar dan sudah menguat. Bagaimanapun juga, salah memilih pijakan dapat berakibat fatal. Merayap pada bebatuan dengan laju yang perlahan, rute pendakian ke puncak terasa mengerikan.

Sekitar empat puluh menit kemudian, sampai juga saya di bagian terakhir etape pendakian Merapi. Puncak Merapi sungguh berbeda bila dibandingkan sebelum Erupsi 2010. Tak ada lagi tanah lapang yang dulu bisa digunakan sebagai upacara bendera, pun dengan Puncak Garuda yang telah runtuh. Hanya seujung tanah sebagai tempat berpijak di pinggiran kawah yang menganga lebar, lebih lebar daripada kawah yang sebelumnya. Asap belerang yang kuning terlihat mengepul ke atas, jauh di bawah sana, gunung ini masih beraktivitas, sejenak beristirahat dan menghimpun tenaga.

Jalur Menanjak
Puncak Merapi

Melihat ke bawah, para pendaki mulai tampak berbaris bergerak menuju puncak. Berlawanan dengan mereka, saya justru sedang memilih jalur turun mana yang akan dilalui. Mengambil jalur yang berbeda dari rute naik, saya bergerak ke arah timur, pada bagian berpasir yang tidak terdapat pendaki yang melintas.

“Srooooooookkkkkkkkkk”, suara sepatu bergesekan dengan permukaan pasir terdengar nyaring di telinga. Adrenalin mulai pekat mendominasi rasa. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi saya merosot dalam seluncuran pasir yang berpuluh puluh meter tingginya, meninggalkan kepulan debu yang tertinggal di belakang. Seperti peluncur salju, saya bergerak zig-zag kiri dan ke kanan, mengendalikan laju badan yang semakin kencang saja. Lima menit kemudian, dengan nafas yang masih terengah, saya telah sampai di Pasar Bubrah kembali.

***

Sinar matahari mulai terasa membakar kulit, udara terasa panas tanpa angin yang berhembus. Saya berhenti sejenak, menolehkan kepala untuk yang terakhir kali. Batu batu besar berserakan terpapar jelas, dengan jurang yang dalam di kedua bagian sisi, bersanding dengan kerucut curam yang terpasang dengan megah di belakangnya. Saya menghela nafas, Pasar Bubrah masih saja tampak penuh misteri.

Jogjakarta, Juli 2012
Tulisan dan Foto oleh Anggafirdy

  • 59

    Great photos!

    btw, lokasi campnya sama dengan kami dulu,
    minus tenda dome

    ups, menyebut kata “dulu”

  • @jendBedulz

    like this lah potonya dan juga
    sensasi muncaknya yg “joss” bgt.
    mengingatkan kunjungan septembter ’11 kemarin

  • @59 : Memang lokasi favorit berarti mas.
    Tapi kalo kemarin ga pake dome, merinding semaleman jadinya. 😀

    @Bedul : yang dari semeru puas banget ni sepertinya.

  • Mantap Marmut! 🙂

  • Gepeng

    mantap bro!!!

    viva ASTACALA!!!