Menyimak Pesona Rahasia Gunung Padang

Berawal dari liputan koran Kompas edisi Sabtu, 3 Maret 2012 yang bertajuk “Menyelamatkan Bukti Cinta di Gunung Padang”, itulah untuk pertama kalinya saya mendengar tentang Gunung Padang. Antusiasme terhadap situs Gunung Padang yang menurut perkiraan sudah ada sejak tahun 1500 – 2500 SM semakin meningkat. Hal ini menjadi menarik karena sudah begitu banyak Indonesia tertinggal dalam mempromosikan dan memperkenalkan kekayaan alam khususnya peninggalan budaya yang kita miliki. Banyak yang tidak tahu mengenai keberadaan Gunung Padang sebagai situs megalitik, bukan hanya untuk orang luar tapi juga orang Indonesia. Saya tidak ingin ketinggalan tentang cerita yang satu ini. Benarkah situs itu begitu tua seperti yang dikabarkan? Bagaimana kondisinya saat ini di tengah ramainya perbincangan dan perdebatan tentang Piramida Sadahurip. Apakah kita sedang demam dengan kenyataan bahwa kita memiliki sebuah peradaban yang lebih tua yang tidak kita dan dunia ketahui?

Gunung Padang banyak berdatangan pengunjung dan warga, terutama di akhir pekan

Hari berikutnya di Taman Kota SMU 3 Bandung, saat tengah berkumpul dengan Komunitas Aleut yang hari itu baru menyelesaikan telusur sejarah perjalanan pendidikan kota Bandung masa kolonial, muncullah sebuah rencana. Seperti keinginan yang tersambut, di saat saya sedang mengumpulkan cerita dan berencana ke sana sendiri dan (sedang) mencari teman untuk ke sana. Komunitas ini punya hajatan ke Gunung Padang sebagai agenda minggu berikutnya. Rasanya saya tidak punya alasan untuk tidak ikut serta.

Setelah semua berkumpul, Minggu 11 Maret 2012 pagi kami berangkat ke Gunung Padang dengan menyewa bus kecil. Tidak kurang dari 3 jam rasanya kami sudah tiba di daerah perkampungan dengan pemandangan sawah di perbukitan dan lahan perkebunan khas warga Cianjur. Berdasarkan pembagian letak administratif situs Gunung Padang berada di Kampung Gunung Padang dan Kampung Cipanggulan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Situs Gunung Padang memiliki luas 4,5 hektar dan berada pada ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Perjalanan menuju situs ini disuguhi oleh pemadangan perkebunan warga dan hutan produksi dengan jenis kayu Sengon (Albizzia chinensis). Ada pula di beberapa tempat yang merupakan arel perkebunan teh. Kami tiba tengah hari dan langsung menuju ke pintu masuk Gunung Padang yang berjarak tidak terlalu jauh dari di areal parkir. Sekedar informasi tambahan, bahwa untuk mencapai areal parkir ini masih bisa ditempuh menggunakan mobil keluarga walaupun banyak tikungan tajam dan hanya sebagain jalan yang sudah teraspal.

Pos informasi dan pos jaga Gunung Padang

Tampak batu-batu berwarna gelap lumut yang disusun tidak rata namun terlihat rapi bertingkat. Susunan batu itulah yang dijadikan tangga naik yang cukup melelahkan. Kemiringan antar tiap anak tangga dirasakan cukup memeras keringat. Perlahan beberapa dari kami tetap menapak naik walau napas sudah memburu. Pemandangan sekitar yang begitu hijau dan desiran angin membuat rasa lelah terbayar di antara keringat yang mengucur. Kami tiba di teras pertama dengan pemandangan Gunung Gede tertutup awan di kejauhan. Teras pertama adalah dataran yang lebar dan terbuka dengan rumput hijau terhampar rapi. Di sini saya mulai melihat berbagai batu berwarna gelap terhampar begitu banyak dengan berbagai ukuran yang diantaranya memiliki kemiripan dan dimensi yang sama besar. Batuan yang secara kasat mata berbentuk seperti balok es itulah yang selama ini menjadi perbincangan hangat para peneliti, ahli sejarah, tim arkeolog, dan geoglog Indonesia. Banyak pemuda-pemudi yang duduk santai di atas batu sambil bersenda gurau dan menikmati suasana, menurut penjaga situs pada malam hari dari bukit ini adalah tempat yang sangat indah untuk melihat bintang dan Gunung Gede di balik kabut malam. Entah karena alasan itu atau sekedar mencari wangsit di Gunung Padang terkadang ada pengunjung yang di antaranya sampai rela bermalam di situs ini. Saya tidak tahu pasti tujuan mereka, namun bisa dipastikan hawa dan angin malam hari di sini sudah tentu sangat menggingit.

Batuan tua yang berwarna kehitaman tergeletak dengan bebagai posisi di antara rumput hijau. Jika dilihat dalam skala pandangan mata akan terlihat acak tak beraturan. Namun dari sebuah buku berbahasa sunda yang saya lihat, ternyata tumpukan batu ini mempunyai pola bentuk tertentu. Terlihat seperti ada sebuah jalur dari pintu masuk yang diawali dengan batu berdiri (menhir) terlihat seperti jalur naik menuju ke tingkat di atasnya. Ada pula beberapa tumpukan batu yang terlihat dipagari oleh batu dan sebuah pintu masuk. Menurut penjelasan dan sudut pandang juru pelihara situs Gunung Padang saya peroleh informasi bahwa ada pola dari tumpukan batu yang menyerupai jalur anak tangga antar terasnya. Setiap teras menunjukkan tingkatan pemujaan di mana pada tingakatan tertinggi yaitu pada teras ke-5 terdapat sebuah batu menyerupai tempat duduk yang dianggap sebagai tempat pemimpin dari kegiatan pemujaan tersebut.

Pada hari libur dan akhir pekan Gunung Padang banyak berdatangan pengunjung dan warga dari luar kota Cianjur

Seperti sudah banyak diceritakan pada artikel lain bahwa situs gunung padang memiliki 5 tingkatan atau teras yang menjadi simbol dari tingkatan akan pemujaan sesuatu. Untuk setiap teras memiliki cerita tersendiri, namun saya tidak berkompeten untuk menyimpulkannya karena selain masih kurang referensi dan data juga karena masih begitu banyak berita simpang siur tentang cerita dan keterangan tentang situs ini dari sisi kepercayaan masyarakat dan hasil penelitian keilmuan modern. Sebagai gambaran lain dari situs ini adalah tumpukan batu menjadi sebuah perhatian yang sangat menarik bagi saya pribadi, karena banyak cerita di balik itu semua. Rasa kagum dan penasaran pun muncul tentang keberadaan batu-batu ini di tengah bukit di antara hutan. Mengapa harus di bukit ini, mengapa pula harus di Gunung Padang. Ada beberapa versi cerita, baik dari warga setempat maupun hasil penelitian ilmiah. Menurut kepercayaan warga setempat ini adalah tempat nenek moyang terdahulu dalam memuja Yang Agung. Bedasarkan secara keseluruhan teras mengarah pada Gunung Gede yang berjarak kurang lebih 25 km di barat laut. Dari hasil penelitian mengatakan bahwa batu yang terdapat di sana adalah jenis batuan andesit dari aktivitas vulkanik 12 hingga 3 juta tahun lalu.

Situasi situs megalitikum Gunung Padang kini menjadi lebih ramai khususnya pada hari libur. Jumlah pengunjung cenderung meningkat dari segi jumlah dan frekuensi kedatangan. Sejak awal tahun 2012, menurut petugas penjaga pintu masuk, jumlah pengunjung dalam satu bulan bisa mencapai 6000 sampai 7000 orang. Dibandingkan dengan beberapa tahun lalu jumlah ini sangat signifikan, dahulu tempat ini hanya banyak dikunjung pada akhir pekan, tapi belakangan ini hampir setiap hari ada pengunjung yang datang. Pada hari libur banyak pengunjung berasal dari luar kota, sementara pemuda-pemudi dan warga Cianjur yang sekedar berwisata juga kerap berdatangan pada hari biasa. Dengan biaya masuk Rp 1000,00 per orang dirasa cukup murah untuk sebuah wisata budaya sejarah mengingat keindahan alam dan panjangnya cerita yang terdapat dibaliknya.

Pemerintah daerah setempat terlihat sudah mulai menaruh perhatian terhadap situs ini, terlihat dari pemugaran di areal sekitar situs termasuk lahan parkir dan pintu masuk yang terlihat masih baru. Pos jaga dan pusat informasi juga masih terlihat baru dan terurus. Pada areal utama situs di teras ke 5 bahkan terdapat sebuah bangunan yang mirip seperti gazebo bertingkat untuk berkumpul yang juga baru dibangun. Perihal masih ada saja pengunjung yang suka mencoret batu atau vandalisme dan membuang sampah sembarangan memang sangat disayangkan, mengingat pentingya menjaga keaslian dari batu baik dari segi bentuk, tata letak dan juga kebersihan. Hal yang sudah sepatutnya kita sebagai pengunjung untuk menjaga guna penelitian dan penelusuran lebih jauh tentang situs ini. Kembali lagi peran dan kesadaran pengunjung sangat dibutuhkan, karena sangat tidak mungkin mengandalkan juru pelihara dan penjaga kebersihan situs ini untuk menjaga warisan nenek moyang kita yang sudah berumur sangat tua ini.

Masih banyak jalan rusak yang belum diaspal juga menjadi kendala tersendiri dalam hal akses menuju ke Gunung Padang. Walaupun plang nama dan arah menuju ke situs ini ada dibeberapa tempat namun akan sangat membantu jika diimbangi dengan pembangunan jalan yang baik. Terdengar seperti angin segar saat ada wacana bahwa salah satu jalur kereta api bersejarah di Tanah Jawa khususnya Jawa Barat akan kembali difungsikan. Jalur kereta api Cianjur yang melewati stasiun Lampegan akan dijadikan salah satu jalur transportasi menuju ke situs ini. Wacana untuk mengaktifkan kembali stasiun Lampegan adalah hal yang harus disambut serius oleh Pemerintah Cianjur dan pihak terkait selain menghidupkan kembali jalur kereta api juga akan sangat membantu membangkitkan ekonomi rakyat sekitar. Mengingat kendala transportasi menjadi salah satu kendala utama dalam proses promosi dan akses situs megalitikum Gunung Padang. Tentu saja jika pemerintah dan masyarakat semua ikut membantu memperkenalkan pada dunia luar bahwa di Indonesia khususnya daerah Cianjur juga memiliki peninggalan zaman prasejarah yang bisa dibanggakan tentu ini akan memperlihatkan kekayaan budaya yang kita miliki. Bahwa jauh hari sebelum Indonesia lahir dan kebudayaan modern hadir, tanah Nusantara kita sudah memiliki nenek moyang yang memiliki sebuah budaya yang khas. Penelitian serius dan lebih mendalam tentunya masih sangat dibutuhkan untuk mengetahui itu semua karena tugas kita bukan hanya menikmati tapi juga mencari tahu.

Tulisan dan Foto oleh Isack Farady

Referensi :
[1]. Menyelamatkan Bukti Cinta di Gunung Padang, Koran Kompas edisi 3 Maret 2012, oleh Cornelius Helmi Herlambang.
[2]. Gunung Padang Posisi Harmoni Bumi dan Langit, Awang H. Satyana.
[3]. Blog Komunitas Aleut, http://aleut.wordpress.com.
[4]. Catatan pribadi penulis dari perjalanan ke Gunung Padang bersama Komunitas Aleut, 11 Maret 2012.