Menapaki Kerinci, Gunung Berapi Tertinggi di Indonesia

Gunung Kerinci

Setelah pada beberapa bulan sebelumnya terdengar wacana untuk mengadakan pendakian ke Gunung Kerinci, akhirnya pada awal bulan Juli rencana perjalanan ini dapat terealisasikan juga. Ada tiga orang yang saat itu sangat antusias dalam kegiatan pendakian ini, saya, Memet, dan Boleng.

Gunung yang merupakan titik tertinggi di Pulau Sumatra ini terletak di wilayah Kecamatan Kayu, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Gunung yang berketinggian 3.805 mdpl ini terhimpit di antara dua pegunungan yang berada di sisi barat dan timurnya, dengan kondisi kerucut yang paling muda gundul. Gunung Kerinci merupakan gunung dengan kawah tipe strato. Kawahnya terletak di sisi timur laut, merupakan sisa dinding kawah berapi (3655 – 3649 mdpl). Hingga sekarang, kawah yang berukuran 400 x 120 meter ini masih berstatus aktif.

Gunung Kerinci termasuk dalam bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS adalah sebuah wilayah konservasi yang memiliki luas 1.484.650 hektare dan terletak di wilayah empat provinsi, yang mana sebagian besarnya berada di wilayah Jambi. TNKS sendiri merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan di Pulau Sumatra.

Gunung ini menjadi gunung tertinggi di Indonesia di luar pegunungan Irian Jaya. Di sebelah timur terdapat Danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat Gunung Tujuh dengan kawah yang sangat indah dan hampir tak tersentuh oleh tangan manusia. Di tengah TNKS terdapat celah lembah Kota Sungai Penuh, perkebunan kopi, dan Danau Kerinci.

Hari Jumat, 1 Juli 2011 merupakan hari pertama perjalanan kami menuju Gunung Kerinci. Perjalanan kami dari Bandung sampai di titik start pendakian terbilang cukup lancar meskipun beberapa hal dalam rencana perjalanan mengalami sedikit perubahan seperti kami yang ketinggalan kereta api di Lampung.

Ketika sampai di Sungai Penuh, begitu memandang keluar dari jendela mobil travel kami terperangah melihat keindahan Danau Kerinci yang sangat indah. Danau tersebut sangat luas dan megah. Sayangnya kami tidak sempat mampir untuk menikmati keindahan danau tersebut lebih dekat. Di Sungai Penuh, rencana kami hanyalah untuk membeli perbekalan dan logistik saja.

Setelah selesai membeli logistik di Pasar Sungai Penuh, kami langsung berangkat menuju Tugu Macan. Tugu Macan adalah titik start kami menuju Pintu Rimba. Dari Tugu Macan sampai Pintu Rimba sudah tidak ada desa–desa atau pemukiman penduduk lagi, yang ada hanyalah perkebunan dan ladang–ladang penduduk. Di Tugu Macan ini kami dapat melihat keindahan Gunung Kerinci dari kejauhan.

Simpang Tugu Macan

Setibanya di sana, kami menemukan sedikit keanehan, ternyata di daerah kaki Gunung Kerinci ini  mayoritas penduduknya adalah masyarakat asli Jawa, sehingga bahasa kesehariannya pun menggunakan bahasa Jawa. Tak ayal kami sempat tertawa mengetahui hal tersebut, terutama Boleng yang berasal dari Sumatera. Sapi–sapi di sana juga sangat unik, karena warna kulitnya yang beraneka ragam.

Perjalanan dari Tugu Macan sampai Pintu Rimba menempuh jarak yang lumayan jauh, sekitar 3-4 km. Kami memutuskan untuk menempuhnya dengan long march saja, sembari berharap ada tumpangan  truk pengangkut sayur agar bisa menghemat tenaga sebelum memulai pendakian.

Tak seberapa lama berjalan, tibalah kami di depan Pintu Rimba. Titik start pendakian kami ini berada pada ketinggian 1800 mdpl. Masih ada 2000 mdpl ketinggian vertikal yang harus kami tempuh untuk dapat menggapi puncak gunung ini. Saat tiba di sana hari sudah sangat sore, sekitar pukul 15.30 WIB. Kami mulai memasuki hutan sambil mencari lokasi bermalam hari itu. Ketika menemukan daerah tanah datar yang sedikit lapang kami memutuskan untuk langsung mendirikan tenda di tempat tersebut.

Kira-kira setengah jam berjalan, akhirnya kami tiba di Pos 1 dan mendirikan tenda di sana. Kondisi di Pos 1 sangat layak untuk dijadikan lokasi bermalam. Di sana telah disediakan tempat berupa pondok beratap yang masih terawat dengan baik. Langsung saja kami membongkar carier, mengambil doome, dan mendirikannya di sana. Begitu doome telah berdiri, kami pun langsung beranjak mencari kayu bakar untuk membuat perapian malam nanti. Malam harinya, sembari menghangatkan diri, kami mengadakan briefing untuk rencana pendakian besok.

Hari pun berganti. Begitu membuka mata, hawa dingin terasa bagaikan menampar-nampar kulit, seakan memaksa saya untuk bangun lebih pagi. Untungnya tidak lama kemudian perlahan sinar matahari mulai menyinari hutan yang kami singgahi. Tupai, burung hitam, dan sekelompok monyet yang riang berlompatan di dahan-dahan pohon menjadi pemandangan yang tidak bisa kami acuhkan.

Menurut informasi yang kami peroleh dari penduduk, sebulan ini sudah tidak turun hujan. Karena itu kami sedikit khawatir jikalau ternyata sumber air di atas kering. Pagi itu kami sempatkan untuk mencari sumber air. Segera diadakan pembagian tugas. Saya dan Memet mengambil air, Boleng memasak. Ternyata untuk mengambil air, saya dan Memet harus kembali turun ke Pintu Rimba. Tidak hanya itu, setelah bertanya kepada petani di mana lokasi untuk mengambil air, ternyata kami harus menyeberangi ladang yang luas dan memasuki hutan kembali. Kemudian baru turun ke daerah lembahan. “Wah… Pemanasan sebelum mendaki parah banget”, gerutu saya dalam hati.

Pos 1, Tempat Kami Bermalam

Kira–kira dua jam kemudian kami baru kembali ke Pos 1. Langsung saja kami menyantap masakan Boleng. Setelah sarapan selesai, kemudian kami berkemas. Tidak lupa kami memilah-milah barang bawaan apa saja yang perlu ditimbun di pos tersebut. Rencananya setelah dari Gunung Kerinci kami akan melanjutkan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh. Sekitar pukul 09:00 kami memulai perjalanan menuju Pos 2.

Baru sekitar 5 menit berjalan tiba–tiba kaki Memet mengalami kram. Mungkin disebabkan karena saat mengambil air jaraknya terlampau jauh, ditambah lagi sebelum memulai pendakian ia tidak melakukan pemanasan. Terpaksa perjalanan hari kedua ini kami berjalan sangat lambat.

Kami tiba di Pos 2 pukul 10.00. Di sana kami beristirahat sejenak sambil mendokumentasikan lokasi tersebut. Kondisi di Pos 2 hanya berupa dataran lapang beratapkan langit, cukup layak untuk di jadikan tempat mendirikan tenda. Setelah selesai mendokumentasikan Pos 2 kami melanjutkan perjalanan untuk menuju pos berikutnya.

Pukul 11.00  kami tiba di Pos 3. Sama seperti di pos sebelumnya, kami beristirahat sejenak untuk mendokumentasikan Pos 3 tersebut. Kondisi Pos 3 hampir sama dengan kondisi di Pos 1, d isini juga ada pondok peristirahatan. Setelah selesai mendokumentasikan kami melanjutkan kembali perjalanan.

Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 dan pos berikutnya masih belum terlihat. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat yang sedikit lapang untuk makan siang. Perlengkapan masak segera keluar. Dan tak lama kemudian makan siang pun siap dinikmati.

Begitu santap siang selesai, kami melanjutkan kembali pendakian. Setelah sekian lama berjalan, kira–kira pukul 15.00 akhirnya kami tiba di Shelter 1. Shelter 1 berada di ketinggian 2.500 mdpl. Shelter 1 ini sangat khas untuk bisa dikenali. Di sini kita dapat melihat pohon besar di tengah tanah yang lapang. Shelter ini merupakan pos di mana ada suatu pondok yang hanya tinggal kerangka besinya saja. Lokasi ini merupakan medan yang terbuka dan bisa memandang ke arah Desa Kersik Tuo.

Saat tiba di sana kami bertemu dengan orang yang sedang turun dari Puncak Gunung Kerinci. Karena kondisi kaki Memet yang tidak  kunjung membaik, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Shelter 1 ini. Setelah doome didirikan, seperti biasa kami langsung beranjak untuk mencari kayu. Waktu baru menunjukan pukul 16.00 ketika semua pekerjaan telah selesai ditangani.  Sambil menunggu waktu makan malam, kami pun bersantai ria. Tak disangka kami kembali melihat tupai dan burung hitam yang telah kami jumpai di Pos 1 tadi pagi.

Hari mulai gelap, angin pun mulai menghempaskan udara dinginnya ke kulit kami. Langsung saja kami merapat ke api unggun untuk menghangatkan diri sembari briefing untuk perjalanan esok hari. Menurut informasi yang kami dapat, perjalanan hanya tinggal beranjak ke Shelter 2, lalu ke Shelter 3,  setelah itu langsung summit attack. Untuk bermalam di Shelter 3 juga menurut informasi yang kami dapat terlalu riskan, karena jika doome kurang kuat, bisa–bisa doome kami terbang terbawa angin. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Shelter 2 saja untuk perjalanan esok hari. Baru pada malam harinya kami akan melakukan summit attack guna memburu panorama matahari terbit dari gunung berapi tertinggi di Indonesia ini.

Keesokan paginya, lagi–lagi suhu dingin membangunkan kami dari lelapnya tidur. Untungnya api pada saat itu masih menyala sehingga kami bisa segera menghangatkan suhu badan kami. Entah kenapa saat itu lagi-lagi saya melihat tupai dan burung hitam yang hinggap di dahan pohon di samping doome kami. Kedua hewan ini seolah mengawal perjalanan kami menuju Puncak Kerinci. Begitu sarapan selesai kami mulai berkemas dan melanjutkan perjalanan kembali. Target perjalanan hari ini hanya menuju Shelter 2, kira kira membutuhkan waktu 4 jam.

Pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan hari ini lebih cepat dibandingkan perjalanan yang kemarin dikarenakan kondisi kaki Memet yang sudah membaik. Jalur pendakian kali ini sudah mulai menampakkan keganasannya. Jalur yang kami lalui merupakan tangga dengan tinggi mencapai lutut dan paha.  Setelah menempuh 3 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Shelter 2.

Jalur Perjalanan

Ketinggian di Shelter 2 tepat 3.000 mdpl. Angin di tempat ini benar–benar menusuk kulit. Tempat untuk mendirikan tenda berada di sebelah kiri, kira–kira berjalan turun 10 meter. Tempat mendirikan tenda di Shelter 2 sungguh luas, ditambah di shelter ini sudah ada pondasi besi yang bisa di gunakan sebagai sekat antar doome. Kita juga bisa mengisi air di shelter ini. Berjalan sedikit ke arah lembahan kita dapat menemukan sungai.

Doome telah didirikan, makanan pun sudah siap santap, dan kami pun langsung menyantapnya dengan lahap. Karena malam ini kami akan melanjutkan perjalanan di malam hari, maka dari siang sampai sore hari kami hanya beristirahat.

Setelah beres–beres makan malam, kami pun langsung berkemas dan memulai pendakian. Tepat pukul 22.00 kami memulai perjalanan summit attack. Kami berangkat sangat awal untuk mengantisipasi jikalau kaki Memet mengalami kram lagi.

Sungguh gila jalur kali ini. Dari Shelter 2 ke Shelter 3 ini jalurnya benar–benar ganas. Tangganya benar–benar tinggi, tak jarang tangganya ada yang mencapai dada kami, sungguh kewalahan kami menghadapi jalur ini. Apalah jadinya ini jika kami berjalan di siang hari, sudah pasti kami akan menjadi sangat desperate melihat jalur tracking yang sungguh “menyenangkan”.

Satu jam kemudian kami telah tiba di Shelter 3. Tempat setinggi 3351 mdpl ini merupakan batas vegetasi antar hutan dan pasir–pasir. Di sini terdapat papan pengumuman yang berisikan larangan membuat rute baru dan informasi mengenai lintasan pasir dan cadas. Terdapat lapangan yang luas di shelter ini. Di sini kita bisa mendirikan tenda asalkan memenuhi persyaratan untuk bisa didirikan disini, yaitu doome yang kuat dan sehat. Karena di sini angin bertiup sangat kencang serta suhu yang dingin. Menurut informasi, kita dapat menemukan air yang letaknya satu punggungan di sebelah kiri kalau menghadap ke puncak.

Dari shelter ini atap dunia dapat terlihat sangat jelas. Bulan dan bintang menjadi obat kelelahan kami sewaktu mendaki, sungguh indah melihat langit malam itu. Sayang kamera kami tidak mampu mengabadikan keindahan langit saat itu. Di shelter ini Puncak Kerinci sudah dapat terlihat. Menurut perkiraan kami saat itu, paling lama 2 – 3 jam lagi kira–kira kami akan mencapai puncak. Tapi karena waktu masih menunjukan pukul 23.00 kami pun memulai perjalanan ke puncak dengan sangat lambat. Kami sadar bahwa kami berangkat terlalu awal.

Lintasan selanjutnya untuk menuju puncak yaitu berupa jalan berpasir dan batuan cadas. Jalurnya seperti jalur tikus yang tanahnya dalam, seperti selokan besar. Seringkali kami berpindah–pindah jalur karena jalurnya buntu. Di sini kami harus sangat ekstra hati–hati karena jalurnya yang licin, sehingga kita akan dengan mudah tergelincir, ditambah dengan adanya kabut yang datang. Untuk mengulur waktu, kami mendaki hanya pada saat badan sudah terasa sangat dingin. Bahkan saat kami semakin mendekati ke puncak, kami hanya berjalan sekitar 5 menit, kemudian beristirahatnya sampai 30 menit. Begitu tersiksa rasanya.

Saat berada di ketinggian kurang lebih 3.600 mdpl, kami memutuskan untuk berhenti karena jika meneruskannya mungkin akan terasa sangat berbahaya karena bau asap belerang yang semakin tajam. Ditambah waktu pada saat itu masih menunjukan pukul 02.30. Sembari menunggu matahari terbit, kami berlindung di selokan besar yang jalannya berkelok agar terhindar dari hembusan angin. Di sini kami mengeluarkan trangia untuk membuat kopi panas, sungguh nikmat rasanya air panas yang saya minum saat itu, ditambah pemandangan saat itu sangat indah, pemandangan kumpulan–kumpulan lampu kota yang berjauh–jauhan saat itu terlihat seperti kota kepulauan. Terlihat juga jauh di langit sana sering kali halilintar mengeluarkan kilatnya. Wah, benar–benar indah bintang saat itu. Seringkali kami melihat bintang jatuh, bahkan kami sempat berkhayal membuat pola rasi rasi bintang karya kami sendiri.

Karena udara yang sangat dingin, kami pun sempat tertidur. Namun tak lama kemudian kami langsung terbangun karena suhu yang amat sangat dingin. Bahkan sempat berulang kali saya melihat Memet badannya bergetar–getar kedinginan.

Pukul 04.30 langit sudah mulai terlihat kebiru-biruan tua. Kami memutuskan untuk beranjak melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dengan badan bergetar–getar kedinginan saya mulai berjalan selangkah demi selangkah. Kami berjalan sangat hati–hati karena jalan semakin datar tetapi tetap menanjak. Setelah satu jam berjalan tibalah kami di puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia ini. Hembusan angin dingin dan rasa lelah kami hilang secara tiba–tiba. Pemandangan lautan awan pun menjadi pemandangan awal yang terlihat sangat indah.

Di Puncak Gunung Kerinci

Puncak Kerinci ditandakan dengan kibaran bendera merah putih yang berada pada tiang besi yang tertancap dengan kuat.  Bersyukur perjalanan berjalan dengan sangat lancar. Terlihat di kejauhan pemandangan Gunung Tujuh dan bukit–bukit di sekitarnya. Kawah aktif pun terlihat masih memuntahkan asap–asap belerangnya. Tidak dapat diprediksi seberapa tebal muntahannya. Namun sangat disayangkan pemandangan matahari terbit yang kami impikan terhalang oleh kabut dan awan tebal. Sedikit kecewa rasanya, tapi ya sudah lah. Pemandangan lautan awan, pemandangan langit secara horizontal, pemandangan Danau Kerinci dari kejauhan, dan pemandangan Gunung Tujuh cukup mengobati kandasnya pemandangan matahari terbit saat itu. Memet pun dengan cepat langsung bertayamum dan melakukan shalat di puncak gunung berapi tertinggi di indonesia itu.

Kawah Gunung Kerinci

 Sudah hampir tiga  jam kami mendokumentasikan pemandangan indah di puncak gunung tertinggi itu. Kami menunggu pemandangan Samudra Hindia yang menurut informasi dapat terlihat dari puncak gunung ini. Namun karena tebalnya awan dan asap belerang, impian itu pun menjadi kandas. Ya, apa boleh buat. Indahnya pemandangan saat itu membuat saya merasa betah, dan ingin berlama–lama di sana. Tapi karena suhu udara yang sangat dingin, ditambah rasa lapar yang menggila akhirnya kami memutuskan untuk turun.

Perjalanan turun berjalan lancar tanpa halangan. Saat kami turun melewati selokan besar, batuan cadas, dan pasir yang merupakan jalur treking, makin terlihat jelas pemandangan sekeliling jalur ini yang sungguh teramat sangat indah pemandangannya. Kota-kota di bawah gunung terlihat seperti pulau-pulau kecil, mirip dengan semboyan negara kita yaitu negara kepulauan. Hingga sampai pada akhirnya kami melewati Tugu Yudha. Pada saat summit attack tadi malam kami tidak melihat tugu tersebut karena gelap.

Saat melewati jalur Shelter 3 ke Shelter 2 (tempat kami meninggalkan barang), kami terpesona oleh pemandangan jalur yang bentuknya seperti lorong. “Wow!!!”, batinku tak jua berhenti mengaguminya.

Sebelum turun, kami memutuskan bermalam lagi di Pos 1 karena melihat kondisi tubuh yang lelah dan hari yang sudah mulai beranjak gelap. Sungguh kami sangat menikmati perjalanan saat itu, hutan yang masih lebat dan pemandangan hewan–hewan yang sering kami jumpai. Apalagi jika mengetahui kenyataan bahwa gunung yang kami daki ini merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia, makin bangga saja hati ini rasanya. Hehehe… Sayangnya, tidak seperti beberapa gunung di Pulau Jawa yang sudah tersentuh segi komersilnya, di Gunung Kerinci ini tidak ada yang menjual suvenir dan aksesoris. Melayang sudah keinginan kami untuk membawa  buah tangan seperti baju, stiker, dan gelang–gelang.

Menikmati Pemandangan dari Punggungan Kerinci

Senang bisa menikmati keindahan tempatmu Gunung Kerinci. Semoga tetap terawat dan terjaga keindahanmu.

Tulisan oleh Arnan Tri Arminanto
Foto oleh Tim Pendakian Gunung Kerinci Astacala 2011

7 Comments for “Menapaki Kerinci, Gunung Berapi Tertinggi di Indonesia”

Mol

says:

Maaf sebelumnya….foto di pos 1 bukannya Pos 2? Atau sdh bergeser? April 2011 kami juga melakukan pendakian di kerinci dan sempat memotret pos 2 dan kondisinya persis seperti yg di photo ini… makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *